10 Hal yang Bisa Kamu Lakukan di Pontianak, Kalimantan Barat [Part 3]

Ah, baru saja jatuh cinta dengan kota ini karena sungai dan kopinya, gue sudah harus meninggalkan Pontianak hari ini. Masih ada beberapa tempat yang belum disambangi, dan gue nggak tahu apakah semuanya akan terkejar hari ini. Kalau jalan-jalan domestik gini, gue emang cenderung santai sama itinerari. Bisa dapet semua, puji Tuhan, kalau nggak juga nggak apa-apa.

Setelah sarapan dan mandi yang — seperti biasa — kesiangan, gue menunggu Yonky di depan Hotel HARRIS Pontianak untuk melanjutkan petualangan. Puji syukur banget, pihak hotel memperbolehkan gue untuk late check-out pada malam hari, jadi gue nggak perlu repot-repot packing dan bawa-bawa tas hari ini 😬😬😬


Keraton Kadriyah dan Masjid Jami

Inilah tujuan pertama kami hari ini, dua tempat yang kemarin hanya gue lewati dengan mobil dan kapal motor. Selepas melewati Jembatan Tol Kapuas, kami berbelok ke kiri memasuki jalan kampung. Perumahan padat dan kanal-kanal yang mengalami pendangkalan mengisi pemandangan di kedua sisi jalan.

Istana Keraton Kadriyah, Pontianak

Tiba di depan Keraton Kadriyah, kami harus menelan rasa gondok karena ternyata keraton sedang ditutup. Pihak kesultanan rupanya sedang menjalani masa berduka karena meninggalnya sang sultan, sehingga keraton ditutup untuk umum. Saat itu pun sedang berlangsung sebuah acara di keraton, yang gue duga semacam sembahyangan untuk sang sultan.

Kecewa dengan keraton, kami lalu segera berpaling kepada Masjid Jami.

Kalau bukan karena nilai sejarahnya, Masjid Jami mungkin hampir nggak ada bedanya dengan masjid-masjid kampung pada umumnya. Ukurannya juga tidak besar. Berbalut warna kuning cerah yang identik dengan warna khas suku bangsa Melayu dengan aksen warna hijau toska, Masjid Jami tampil anggun dengan mempertahankan desain arsitektur adatnya.

Masjid Jami Pontianak

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, begitu nama lengkapnya, adalah masjid tertua di kota Pontianak. Peletakan masjid ini konon berdasarkan tembakan meriam dari sang sultan. Tembakan pertama menjadi tempat dibangunnya keraton, sementara tembakan kedua menjadi lokasi berdirinya masjid.

Yang unik dari Masjid Jami ini adalah hampir seluruh bangunannya terbuat dari kayu belian. Seperti masjid-masjid tradisional lainnya, Masjid Jami Pontianak juga tidak berkubah. Sebagai gantinya, masjid memiliki atap berundak empat dengan atap kedua yang memiliki jendela-jendela kaca kecil. Atap masjid yang dulunya dari rumbia kini sudah digantikan dengan atap sirap.

Masjid Jami Pontianak, tampak samping

Melihat masjid dan istana di tepi sungai ini, gue lantas menyandingkan Pontianak dengan Bangkok. Di Negeri Gajah Putih sana, Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun juga terletak di tepi sungai. Sama seperti di Bangkok, istana dan masjid di Pontianak ini juga dapat diakses dengan jalur darat dan air. Bedanya, perahu di Bangkok sudah terintegrasi dengan BTS (semacam MRT), Pontianak belum, hehe. But someday, it surely will

Baca kisah-kisah perjalanan gue di Bangkok di sini.


Kampung Beting

Meninggalkan sepeda motor di parkiran di depan Masjid Jami, kami memasuki Kampung Beting melalui sebuah jalan kecil di samping masjid. Setelah menyusuri gang sempit dan rumah-rumah panggung, kami kemudian tiba di sebuah kanal yang membelah perkampungan.

Gapura Selamat Datang di Kampung Beting, Pontianak

Sirnalah bayangan gue untuk naik perahu kecil menyusuri kanal, menyapa warga lokal yang melongok ramah dari lubang jendela rumahnya. Kanal mengalami pendangkalan hingga tak mampu lagi dilalui perahu. Beberapa sampah rumah tangga modern berserakan. Perahu-perahu teronggok dalam hening. Beberapa bagian kanal yang masih digenangi air dimanfaatkan untuk tambak kecil-kecilan. Untungnya, beberapa lukisan dinding sedikit memberi warna untuk Kampung Beting.

Kampung Beting mengingatkan gue dengan perkampungan di sepanjang Sungai Musi, Palembang. Dua kota ini sama-sama dijuluki “Venice of The East”karena kanal-kanalnya yang (dulu) cantik saling silang di pemukiman penduduk. Namun, kemajuan jaman yang tidak dibarengi dengan pendidikan membuat warga mengambil tindakan yang kurang tepat untuk sampah-sampah rumah tangga mereka. Bungkus plastik, kaleng bekas, botol minuman, dan sampah lainnya menumpuk di bawah kolong-kolong rumah warga.

Perjalanan gue di Palembang dapat dibaca di: sini.

“Kolam Ikan” di kanal Kampung Beting Pontianak

Menyusuri Kampung Beting Pontianak melalui jalan selebar satu meter

Salah Satu Mural di Kampung Beting Pontianak

Perahu-Perahu yang Kesepian di Kampung Beting Pontianak

Kampung Beting Penuh Warna

Melalui tulisan ini, gue menaruh harap kepada pemerintah setempat untuk memperhatikan kawasan tepi sungai ini. Tak hanya melakukan pembersihan atau revitalisasi, namun juga penyuluhan kepada warga agar kebersihan yang tercipta terjadi secara berkelanjutan.

Menyusuri Sungai Kapuas (Lagi)

Dalam perjalanan kembali menuju sepeda motor, kami melewati sekumpulan bapak-bapak dengan perahunya yang tertambat di tepi sungai. Seorang bapak menawarkan sesuatu kepada kami, yang lalu dibalas Yonky. Sejenak mereka terlibat dalam sebuah percakapan tawar menawar, seiring dengan langkah kami yang mendekat. Semenit kemudian, kami sudah duduk di dalam sebuah perahu kecil — disebut klothok kalau di Palembang — yang mengarah ke Sungai Kapuas. Ongkos Rp 60.000,00 pun kami sepakati untuk sebuah tur singkat dengan perahu motor.

Bro, gue takut! 😰😰😰

Dermaga Kecil di Tepi Sungai Kapuas

Saat melalui jembatan inilah perhatian kami teralihkan

Perahu motor ini memiliki dinding yang rendah. Seperti bisa oleng kapan saja dan tenggelam dalam kedalaman Sungai Kapuas yang lebar. Gue duduk di ujung depan perahu dengan kedua tangan memegang kedua sisi dinding perahu. Gue nggak berani terlalu banyak bergerak dan terus membisu sepanjang perjalanan, kecuali bila memang dipanggil.

Gue menyibukkan diri dengan mengambil foto ini dan itu, sementara Yonky terlibat percakapan akrab dengan bapak perahu. Perlahan, gue mulai sedikit tenang dan berani duduk tanpa berpegangan, mengamati pemandangan yang tersaji di kiri dan kanan. Sedikit berbeda dengan kapal besar yang kami naiki kemarin sore, kali ini kami berada lebih dekat dengan warga.

Meriam di Tepi Sungai Kapuas

Naik Perahu di Panas Terik

Saat-saat paling mendebarkan adalah saat perahu tiba di bawah Jembatan Tol Kapuas, lalu berputar melawan arus untuk bergerak ke arah titik keberangkatan. Mendekati titik keberangkatan, perahu “menyeberang” sungai lagi melawan arus. Perahu merapat ke dermaga kecil, dan gue menghembuskan nafas lega.

Lebih Dekat dengan Perkampungan Tepi Sungai Kapuas

Anak-Anak Sungai Kapuas yang Berbahagia

Di Ujung Perahu

Rupanya perjuangan belum selesai, karena gue butuh bantuan bapak perahu untuk melompat keluar dari perahu. Gue susah mendapat keseimbangan saat berdiri di atas perahu. Hahahahahaha malu-maluin jadi cowok!!!


Che Hun Tiaw dan Es Krim Petrus

Karena masih cukup kenyang dengan sarapan di Hotel HARRIS Pontianak, gue meminta Yonky untuk membawa gue ke tempat makan dengan menu ringan. Dia memilihkan warung Che Hun Tiaw. Lokasi tepatnya ada di Jalan Waru, di situ ada beberapa warung Che Hun Tiaw yang berderet. Jalannya tak terlalu besar dan tak terlalu ramai, tidak bertrotoar, namun diapit oleh pepohonan.

Che Hun Tiaw Khas Pontianak

Che Hun Tiaw adalah sebuah sajian yang menyegarkan di tengah teriknya kota Pontianak. Bubur kacang merah, semacam cincau bernama Tio Ciu, bongko, gula merah, diguyur dengan kuah santan dan serutan es yang menggunung. Bahkan buat beberapa orang, Che Hun Tiaw bisa mengenyangkan!

Warung Es Krim Petrus, Pontianak

Usai dari Che Hun Tiaw, Yonky membawa gue ke Es Krim Petrus. Duh, anaknya submisif banget ya, dibawa ke mana aja mau 😀

Dinamakan Es Krim Petrus karena warungnya berada di depan SMP-SMA Petrus. Jika Che Hun Tiaw hanya berupa warung sederhana pinggir jalan, maka Es Krim Petrus ini udah agak lebih besar, menempati teras rumah pemiliknya yang sudah generasi ketiga. Ada konter untuk memesan dan beberapa set meja kursi. Tempatnya sendiri menurut gue agak kurang nyaman karena jenis atap yang kurang cocok. Ada kipas angin besar yang berputar untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman, tapi tetep, menurut gue Warung Es Krim Petrus ini sebaiknya sedikit mengubah tata letak agar warung terasa lebih adem.

Es Krim Petrus ini rameee banget! Hampir semua pengunjungnya adalah keluarga-keluarga Tionghoa yang mungkin sedang menikmati hari libur. Selain es krim, warung ini juga punya banyak cemilan dan ada Chai Kwe juga, meski nggak terlalu enak hehe. Tapi, es krimnya sendiri juara! Gue memilih es krim dengan toping cokelat yang manis dan pahitnya berpadu dengan pas. Isinya? Nah, ini yang unik, Es Krim Petrus ini berisi kacang merah, rumput laut, dan cincau. Seporsi Es Krim Petrus untuk gelas kecil harganya Rp 8.000,00.

Karena ada kegiatan, petualangan di Pontianak hari ini harus jeda terlebih dahulu. Sembari menunggu Yonky kembali siap, gue menggunakan waktu buat packing dan menikmati enaknya kamar Harris Room di saat-saat terakhir. Ah, rasanya berat harus meninggalkan kamar Hotel HARRIS Pontianak yang nyaman ini…

Menjelang waktu janjian selanjutnya, cuaca berubah kurang bersahabat dan menumpahkan guyuran hujan deras ke seisi kota. Sementara itu, masih ada Rumah Betang dan Museum Kalimantan Barat yang belum gue sambangi. Ketika hujan akhirnya reda dan Yonky tiba di hotel, waktu sudah tanggung untuk menuju dua tempat itu, sehingga gue hanya meminta Yonky mengantar ke pusat oleh-oleh.

Di tempat oleh-oleh, gue hanya membeli lempok durian, manisan lidah buaya, dan 2 bungkus kopi Pontianak. Dalam perjalanan kembali ke hotel, gue mampir ke sebuah rumah makan pecinan yang menjual menu Nasi Campur. Tiga hari di Pontianak, gue belum sekalipun menjajal kuliner “haram”-nya, hehe. Lumayan buat bekal makan malam saat menunggu di Boarding Room.

Akhirnya, inilah akhir perjalanan gue di Pontianak selama 3 hari, 22-24 April 2017. Sekitar pukul 18:00, gue diantar oleh pihak Hotel HARRIS Pontianak menuju Bandara Internasional Supadio. Driver-nya sama dengan driver yang menjemput kedatangan gue hari Sabtu lalu. Dalam perjalanan, abang yang nggak gue tahu namanya itu bercerita, hanya orang-orang tertentu yang dapat memasuki Kampung Beting. Daerah itu memang dikenal sebagai daerah kriminal, seperti tempat peredaran narkoba, sehingga orang asing yang berkunjung akan dicurigai.

Spot Berfoto di Bandara Internasional Supadio, Pontianak

Mendengar ceritanya, gue bersyukur kunjungan kami ke Kampung Beting berjalan dengan aman dan nyaman. Sebagian besar warga malah tampak biasa saja, tetap melakukan keseharian mereka, meski memang ada satu dua orang yang melihat penuh selidik. Entah kami yang beruntung atau memang budaya Kampung Beting yang sudah lebih terbuka, namun yang pasti, penyertaan Tuhan ada pada kami.

Baca seluruh tulisan gue soal Pontianak:

Pontianak, Sebuah Perjalanan Impulsif

10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat (Bagian 1)

10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat (Bagian 2)

Menginap di Hotel HARRIS Pontianak, Enak…

Sampai jumpa kembali, Pontianak. Terima kasih untuk 3 hari yang menakjubkan ini! Kelak, gue akan singgah lagi di tanahmu untuk bertamu ke Singkawang, atau menembus batas hingga Brunei. Keep learning by traveling

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *