4 Prinsip Gue Saat Traveling, Kamu yang Mana?

“Kamu mau gajian ya? Royal banget hari ini,” celetuk Ara saat kami sedang bersantap siang di sela-sela waktu transit kami, di sebuah restoran peranakan yang letaknya di ujung ruang tunggu Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

“Oh, nggak beb. Aku memang begini kalau lagi traveling,” jawab gue, yang lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar. 

Ketika sedang melakukan perjalanan, gue nggak akan banyak berpikir untuk hal-hal yang berhubungan dengan kenyamanan dan kesehatan. Atau kalau dengan bahasa gue sendiri, “Menjaga mood.”

Salah satu manifestasi yang mungkin paling terlihat adalah urusan mencari makan, selain transportasi dan tempat bermalam. Jadi, inilah prinsip-prinsip gue saat traveling


Royal Saat Traveling

Gue nggak akan sungkan merogoh kocek berkali-kali lipat dari anggaran sehari-hari bila saat itu memang kondisinya hanya tempat makan itulah yang paling sesuai kriteria (dari segi menu, tempat, dan jarak). Dalam konteks ini, Ara saat itu mungkin heran gue memilih tempat makan seharga Rp60 ribuan per porsi, belum termasuk pajak-pajak lainnya. Total biaya yang kami keluarkan hampir Rp200 ribu. Tempatnya memang nyaman, dengan pemandangan pesawat terbang yang lepas landas atau mendarat. Tapi kalau soal rasa, gue nggak akan komentar 🤣

Saat work-from-cafe seharian di Jogja, habis Rp200 ribuan

Gue juga sering bangun siang atau bangun di tengah hari saat traveling di luar negeri, karena memang gue membutuhkannya. Apa nikmatnya sebuah perjalanan bila suasana hati memburuk karena lapar dan mengantuk?

Pun dengan urusan transportasi dan akomodasi. Kalau memang harus naik taksi ratusan ribu rupiah untuk jarak hanya beberapa kilometer, jadilah. Kalau memang harus menginap di hotel bintang 5 hanya untuk melepas lelah semalam karena hanya itulah satu-satunya hotel yang ada, jadilah juga. 

Itu juga mengapa gue menghemat yang bisa dihemat dalam keseharian. Supaya nanti saat melakukan perjalanan, bahkan sesederhana saat memanjakan diri dengan ngopi di akhir pekan, gue nggak akan pusing dengan harga.

Bermalam di Gas Inn Braga saat transit di Bandung, bukan endorse

Gue juga ingin menanamkan pada diri bahwa, “I can afford that.” Gue mampu membelinya, tidak apa-apa gue membelinya. Bukan ingin memaksakan kemampuan diri, tapi lebih ke membangun/mempertahankan kepercayaan diri. 

Bagaimana menurut kalian, oke nggak sih berprinsip kayak gini? Siapa lagi nih yang kayak gue?


Perjalanan adalah Tujuan

Prinsip traveling berikutnya destinasi adalah perjalanan itu sendiri. Kalimat ini sudah gue renungkan berkali-kali, menyelidiki diri sendiri apakah ada satu destinasi khusus (dalam artian tempat wisata, bukan kota/negara) yang memang sengaja gue tuju. Tapi ternyata nggak ada. 

Berjalan kaki menyusuri Jiefang Road, Sanya, Hainan
Mengamati kesibukan kota Sanya, Hainan

Prinsip ini membuat gue lebih berbesar hati ketika ada satu atau lebih destinasi yang tak tersambangi. Atau bila realita tak sesuai ekspektasi. Atau bila agenda tak berjalan sesuai rencana yang sudah ditentukan. Jadi, meski gue adalah seorang planned traveler yang sudah menyiapkan itinerary dan kisaran budget sebelum melakukan perjalanan, gue tetap terbuka dengan setiap perubahan atau kejutan. Contohnya di tahun 2015, gue nggak jadi masuk Grand Palace Bangkok karena harga tiket masuknya kemahalan, naik 2 kali lipat dari info di Lonely Planet. Padahal, Grand Palace adalah objek wisata wahid di Bangkok.

Karena itulah, momen paling berharga dalam sebuah perjalanan, adalah perjalanan itu sendiri. Berhasil tiba dengan selamat di negara/kota tujuan aja udah bersyukur banget.


Live Like A Local

Prinsip inilah yang membuat gue mengagungkan transportasi umum di dalam setiap perjalanan gue ke luar negeri. Mau transportasi berbasis rel atau jalan aspal, gue antusias. Paling semangat lagi kalau ada railway transit system, seperti metro/subway, MRT, LRT, tram, kereta komuter, monorel, dsb. Antusiasme ini sudah gue tuangkan ke dalam beberapa ulasan transportasi umum di dalam blog ini, yang terbaru adalah pengalaman naik kereta cepat di Hainan dan MTR di Hong Kong.

Genting Highland, Malaysia. Makanya buat gue, city tour atau eksplor kota aja udah cukup dan seneng banget!

Mampir ke depan Hong Kong Disneyland hanya demi bisa cobain kereta MTR Pink Line

Prinsip ini juga berpengaruh soal pemilihan tipe akomodasi. Saat melakukan perjalanan ke luar negeri, gue biasa menginap di hostel. Selain lebih murah, gue juga bisa punya kesempatan buat ngobrol bahkan kenalan dengan sesama backpacker. Apalagi, hostel jaman sekarang udah banyak yang instagrammable juga, contohnya Space Boutique Hostel di Yangon, Myanmar. 

Gue bahkan nggak segan-segan menginap di rumah warga lokal melalui Couchsurfing, hahaha. Pengalaman ini gue coba di tahun 2015 dalam rangkaian perjalanan di 3 negara, Thailand-Kamboja-Vietnam. Rasanya seru banget dan nagih! Selain bisa semakin merasa menjadi warga lokal, gue juga seneng punya temen-temen baru dari berbagai negara. 

Well, gue memang pengen bisa tinggal di sebagian besar negara yang ada di dunia. Minimal, gue bisa mengunjungi negara-negara itu tidak sebagai turis, tapi entah untuk bisnis atau pendidikan, supaya bisa lebih punya kesempatan untuk menjelajahi sisi-sisi yang tak terlihat sebagai turis. 

Bersama Paul, host gue di Bangkok, cowok Thailand tulen

Hasil sebagian tes kepribadian menyatakan gue adalah seorang extrovert, atau lebih tepatnya ENFJ. Tapi kata Ara, gue ini introvert yang extrovert. Di kost dulu atau kontrakan sekarang, gue suka membiarkan pintu kamar setengah terbuka, atau duduk-duduk ngopi di bangku luar. 


Setiap Kota Punya Sesuatu

Gue nggak suka ketika ada wisatawan yang bilang, “Ngapain ke sana? Di sana mah nggak ada apa-apa.” Padahal, selain tiap orang punya ketertarikan yang berbeda, menurut gue setiap kota pasti “ada apa-apanya”.

Prinsip ini yang membuat gue ingin mengunjungi setiap negara di dunia. Nggak ada negara yang nggak menarik. 

Gimana, adakah yang berbagi pandangan yang sama dengan gue? Otherwise, gimana prinsip atau gaya kamu saat traveling

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published.