9 Momen Penerbangan Pagi Paling Berkesan

Saat gelap belum tersingkap dan matahari pagi masih bersembunyi, derap langkah kakiku memecah sunyi. Dengan memanggul tas di punggung dan tangan terlipat dalam balutan jaket, aku menunggu datangnya pengendara ojek daring. Beberapa detik setelah ia sampai, kami lalu melaju menerabas dinginnya kota Bandung dengan rasa kantuk yang masih menggantung.

Yak, kira-kira seperti itulah rutinitasku ketika harus mengejar penerbangan pagi.

Salah satu momen yang selalu kunikmati dalam perjalanan-perjalananku adalah momen berangkat ke bandara pagi-pagi buta. Letupan sukacita itu sudah mulai kurasakan sejak sibuk mengepak barang bawaan pada malam harinya. Tak seperti beberapa pejalan lainnya, aku sama sekali nggak masalah dengan rutinitas berkemas ini. Because in every packing, there is a new place waiting.

CAKEEEPPP!

Ya udah. Karena belum ada perjalanan baru juga, sekarang aku mau ajak kalian para travelearners untuk bernostalgia bersamaku dalam kumpulan momen mengejar penerbangan pagi.


Momen berangkat ke bandara pagi-pagi buta rupanya sudah kualami sejak penerbangan perdana. Hari Senin pagi-pagi di bulan Oktober, aku terbangun di dalam kamar rekan perjalanan yang bertempat tinggal di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Aku lupa tepatnya jam berapa, mungkin jam 4 atau 5 pagi. Ya, untuk menghindari keterlambatan di hari H, aku memilih untuk berangkat ke Jakarta dari hari Minggu siang dan menginap semalam di rumah Exel.

di sini untuk cerita lengkapnya.


Diiringi gaung adzan subuh yang berkumandang di bulan puasa, aku dan Aji naik motor dari kost-nya di bilangan Cawang menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Semalam sebelumnya, aku tiba di Jakarta Timur dengan travel Baraya, yang lalu dijemputnya dengan sepeda motor. Nggak ada transportasi langsung dari Bandung menuju Bandara Halim.

Perjalanan kali itu juga istimewa. Pertama kalinya naik Citilink, pertama kalinya naik pesawat dengan rute domestik, pertama kalinya ke luar pulau selain Bali, dan pertama kalinya terbang dari Bandara Halim. Sampai sekarang juga belum terbang/mendarat lagi dari/di Halim.

Fajar merekah di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Aku nggak menyangka Jakarta ternyata bisa dingin juga, seperti pagi itu. Aku sampai di bandara saat fajar bahkan belum merekah, tempat-tempat makan masih menutup pintunya rapat-rapat. Aku harus puas sarapan dengan Pop Mie dan kopi hitam sachet seharga total Rp40.000,00 dari satu-satunya kedai yang buka di depan gedung bandara. Tapi, beberapa lama kemudian, aku dihadiahi dengan panorama langit jingga saat terbit matahari.

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Aku tak sendiri kali ini, meski belum bertemu dia sang pemilik hati. Malam itu, aku dan Dicky terpaksa bermalam di dalam dinginnya Arrival Hall Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2. Untuk pertama kalinya, aku ngemper di bandara. Sah jadi backpacker! Dicky berangkat dari Palembang, sehingga KLIA menjadi titik pertemuan kami untuk menjelajah 3 negeri.

Keesokan paginya, aku berjalan gontai dengan lingkaran hitam dan kantung mata sebagai tata rias alami menuju ruang tunggu penerbangan internasional. Aku memang nggak bisa tidur kalau bukan di atas tempat dengan alas yang proper, kecuali ngantuk banget hehe. Jadi semalaman, aku cuma tidur-tidur ayam sambil glundang-glundung nggak jelas di atas salah satu bangku umum.

Sekarang, bangku-bangku ini sudah disingkirkan di KLIA2

Pengalaman serupa kembali kualami saat harus balik ke Bandung via KL setelah liburan dari Myanmar (2017), Phuket (2018), dan Hong Kong (2019). Semua dengan AirAsia, LCC satu ini menyediakan jadwal keberangkatan ke Bandung pagi-pagi. Begitu mendarat di Bandung, aku tinggal naik ojek ke kantor hihihi. Tapi yang paling merana adalah saat baru balik dari Myanmar itu. Jaketku hilang di Yangon! Dan nggak ada jaket lainnya, jadi harus bertahan di dalam dingin dan kerasnya bangku umum KLIA semalaman.

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Dengan dibonceng naik motor oleh teman kost di bawah guyuran hujan, aku tiba di picking-up point Cititrans Pasteur, Bandung, untuk keberangkatan ke Bandara Soekarno-Hatta jam 01:15 dini hari. Begitu selesai memberikan pertolongannya, Tinus segera berkendara kembali ke kost dan aku masuk ke dalam ruang tunggu.

Mendekati waktu keberangkatan, sebuah pikiran tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kepala. “Dompet gue ada di mana ya?”

Aku meraba-raba saku belakang celana, saku samping, saku jaket, sampai mengobrak-abrik isi tas, namun hasilnya nihil. Hatiku mencelos. Dompetku ketinggalan!

Meski didera panik, namun aku tetap tampil tenang. Aku mencoba menghubungi Tinus dengan segala cara, tapi nggak ada respon. Kayaknya dia udah tenggelam di dalam lautan mimpi. Saat itu, aku merasa nggak punya pilihan selain tetap berangkat sesuai jadwal, pasrah dengan sebagian lembar SGD yang ada di dalam tas.

Padahal kalau sekarang dipikir-pikir, sebenarnya saat itu aku punya pilihan. Aku bisa pulang dulu ke kost, ambil dompet, lalu kembali ke tempat travel. Memang ada kemungkinan tiket yang sudah aku pesan akan hangus, tapi mungkin juga dari pihak Cititrans nggak masalah sama sekali kalau aku ikut keberangkatan berikutnya. Kalau pun aku berangkat dengan jadwal berikutnya pun, aku yakin tetap masih ada cukup waktu untuk check-in dan boarding.

Memasuki Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta

Jadi pagi itu, aku lebih memilih untuk menahan lapar sampai siang menjelang, lalu late breakfast dengan secangkir kopi hitam panas dan comot beberapa biji french fries yang dibeli peserta opentrip-ku di Hello Kitty Café, Changi International Airport. Sungguh, perjalanan ini adalah salah satu momen yang nggak akan kulupakan seumur hidup. Kecuali aku amnesia. Konyol.

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Perjalanan menuju Myanmar via Kuala Lumpur ini aku lakukan bareng Ricky, travelmate yang berkenalan melalui Facebook. Pagi-pagi sekali, aku terbangun di kamar apartemennya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Pengalaman bermalam di apartemen Ricky membuatku teringat dengan masa-masa aku bekerja di sebuah perusahaan ritel nasional di awal 2014 lalu.

Kami berangkat ke bandara dengan naik taksi online. Tahun sebelumnya, aku pernah berangkat ke Bandara Soetta dengan naik bus DAMRI Bandara dari Mangga Dua Square. Saat itu aku berangkat ke KL bareng koh Donny, teman Couchsurfing dari Jakarta.

Yangon International Airport, Myanmar

Ricky adalah teman ketiga baru yang menjadi rekan perjalananku setelah Dicky (2015, dia nyamber aku dari blog) dan Exel (2013, kenal di thread Backpacker Indonesia).

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Dini hari itu aku juga nggak pergi sendiri. Mas Fendi, yang empunya akun @hotelhunter_indonesia, sudah menunggu di FOX Harris Bandung City Center yang berdiri di Jalan Jawa. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, kami nggak macem-macem kok, apalagi dia juga udah ada travelmate-nya sendiri.

Jadi setelah tiba di hotel tengah malam, tidur-tidur ayam barang 2-3 jam, kami sudah harus bangun lagi untuk naik travel menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bener, cara paling efisien adalah ketemu di picking-up point karena letaknya udah deket banget dari kost-ku. Tapi karena mas Fendi ini dari luar kota dan navigasinya nggak terlalu bagus, jadi dia minta dijemput di hotelnya, dan kuturuti.

Maskapai Malaysia Airlines di bawah langit mendung KLIA

Masih ada setengah hari ketika kami akhirnya tiba di Terminal 3 Bandara Soetta, wkwkwk. Entah kenapa aku pagi banget pesen travel-nya, mungkin karena parno telat. Kami sarapan, duduk-duduk, foto-foto, tiduran di flatbed, jajan, muter-muter, apa pun yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa bosan. Ini juga jadi salah satu perjalanan yang nggak akan kulupakan karena aku berangkat dalam keadaan nggak enak badan.

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Aku meringis dan merapatkan bibir di dalam mobil travel pagi itu, susah payah menahan gejolak untuk buang hajat. Saat itu sekitar jam 7 pagi, waktu biasanya aku menunaikan panggilan alam di kost. Tapi saat itu, aku masih terjebak di tengah jalan tol dan rest area sudah lewat beberapa menit lalu.

Seharusnya, aku nggak lama lagi sampai di Bandara Soekarno-Hatta karena travel-ku sudah berangkat dari sekitar jam 4 pagi. Namun kemacetan dari para penglaju di hari Rabu membuat perjalanan membengkak menjadi lebih dari 5 jam! Setibanya di Terminal 2 Bandara Soetta sekitar jam 9:30 pagi, aku buru-buru ngacir ke toilet terdekat dan puji Tuhan lagi dalam kondisi kosong.

Thai Lion Air di Don Mueang International Airport

Saat itu, Oktober 2018, adalah winner trip-ku ke Bangkok dan Pattaya sebagai Juara 1 Vizitrip Blog Competition. Selain aku, ada pemenang kategori vlog, Reza, yang juga sama-sama dari Bandung dan berangkat dari picking-up point yang sama 2 jam setelah aku berangkat. Guess what, dia sampai di bandara hanya beberapa menit dari waktu aku tiba. C’est la vie

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


Ah, aku kesal pagi itu cuma bisa menikmati indahnya momen terbit matahari dengan hanya dari mata kepala, tanpa sempat diabadikan dalam bidikan kamera. Saat itu, aku dan abang driver ojol sedang melintas di sisi landasan pacu bandara. Cahaya keemasan baskara bersinar hangat, merayap di atas langit biru yang menjadi atap bentang pegunungan bumi priangan.

Setelah sukses check-in di Bandara Internasional Husein Sastranegara, langkahku menuju immigration security point dan boarding room terhenti karena… AKSESNYA MASIH DITUTUP! Jujur, selama ini kukira bandara internasional tuh selalu beroperasi 24 jam, tapi ternyata enggak. Bahkan yang sekelas bandara Bandung pun masih ada jam tutupnya.

Bandara Husein Sastranegara Bandung pagi itu

Tiba di dalam boarding room, tak ada yang lebih nikmat dari menikmati sarapan yang diakhiri secangkir kopi panas, lalu dilanjutkan dengan boker di toilet bandara. Men, aku sampe boker 2 kali pagi itu.

Baca di sini untuk cerita lengkapnya.


November 2019, untuk pertama kalinya aku bermalam di Bandara Internasional Changi, Singapura. Walaupun Changi lebih ramah untuk kaum rebahan dari KLIA, tapi aku sebetulnya jauh dari kata “tertidur”.

Aku mendarat tengah malam di Singapura setelah drama yang melelahkan dari Bandung. Ceritanya bisa dibaca di sini. Kaus kakiku basah karena kehujanan dan kebanjiran. Jadi, di salah satu bangku di depan ruang tunggu, aku melepas sepatu dan kaus kaki agar mereka bisa sedikit bernafas. Di sela-sela transit, waktu juga kugunakan untuk menukar Chinese Yuan di money changer, check-in untuk penerbangan selanjutnya, dan sarapan pagi-pagi karena lapar!

Selain penerbangan-penerbangan di atas, tentu masih ada lagi beberapa penerbangan pagi lainnya yang nggak kuceritakan. Ada yang karena lupa prosesnya (misalnya penerbangan Jakarta – Kualanamu dengan Garuda Indonesia tahun 2016), ada juga yang karena nggak ada cerita istimewa.

Penerbangan pagi yang paling baru adalah Jakarta – Palembang pada bulan Januari dan Maret 2020 lalu yang ceritanya bisa disimak di: Review Penerbangan Jakarta – Palembang. Sementara buat kamu yang tertarik dengan momen berangkat pagi-pagi buta ke stasiun kereta api di luar negeri, bisa baca di: Cerita Perjalanan Naik High Speed Railway di Hainan China.

Sanya Railway Station, Hainan, at early morning

Kamu gimana, suka dengan momen berangkat ke stasiun/bandara pagi-pagi buta juga? Ceritain dong salah satu pengalaman yang berkesan buat kamu di kolom komentar.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *