Asyiknya Jalan Kaki Keliling Kota Salatiga

Setiap kota memiliki keunikannya sendiri, tak terkecuali kota-kota di Indonesia. Itu sebabnya gue selalu bersemangat untuk melakukan city tour. Bukan berkunjung ke tempat-tempat wisatanya, tapi sekedar jalan kaki mengelilingi kota. Menyambangi sentra konsentrasi massa, pusat kuliner dan tongkrongan anak muda, hingga bertransaksi bersama warga lokal di pasar tradisional. Mengamati bagaimana kondisi jalanan di kota itu, trotoarnya, public space-nya, bangunan-bangunan historis, gedung-gedung modern, hingga kawasan pemukimannya. Semua itu memberi gue kepuasan tersendiri, sementara mereka yang berjiwa turis mungkin berpikir: “Ngapain sih jauh-jauh cuma buat motret jalanan?”

Hari Minggu siang ini, demi menghilangkan rasa bosan, gue memutuskan untuk beranjak dari nyamannya kasur kontrakan kawan-kawan saya di Salatiga, lalu keluar untuk bertualang mengelilingi kota. Kebetulan, tadi pagi saat gue bareng temen-temen di sini, kami melalui beberapa kawasan yang membuat gue tertarik (yang sebelumnya belum pernah gue lewatin). Gue yang tadinya cuma pengen muter-muter di kawasan UKSW dan Tamansari, jadi punya rute baru untuk eksplor kota siang ini.

Perjalanan gue dimulai dari titik yang menjadi pusat denyut kota Salatiga, Bunderan Tamansari. Terdapat sebuah taman di pusat bundaran ini, sementara pusat perbelanjaan terbesar di kota Salatiga — Mal Tamansari alias Ramayana — berdiri di salah satu garis lingkarnya. Patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda berdiri gagah di sudut yang lain, menghadap sebuah jalan dengan nama yang sama. Sementara itu, patung Jenderal Sudirman dengan pose andalannya berdiri di sudut yang lain.

Mal Tamansari ini sebenarnya agak kurang tepat sih disebut mal, karena isinya cuma Ramayana doang. Ini udah gedung pusat perbelanjaan terbesar loh, hehe. Nggak ada bioskop di kota pegunungan ini. Warga Salatiga yang mau nonton film di bioskop, ya harus mau ke Solo, Jogja, atau Semarang.

Dari bunderan Tamansari ini, gue masuk ke kawasan Tamansari Shopping Center, sentra belanja di kota Salatiga. Toko-toko, warung-warung, dan pedagang kaki lima berjajar di sepanjang Jl. Jend. Sudirman ini. Trotoarnya luas, dari keramik, dan nggak berdesak-desakan kayak di Malioboro. Mau cari apapun, ada di sini: baju-baju, alat rumah tangga, peralatan elektronik, hingga warung-warung makan.

Di jalan ini jugalah terdapat Hotel Grand Wahid, hotel terbesar dan termegah di Salatiga. Tapi meski titelnya terbesar dan termegah, rate-nya cuma empat ratus ribuan aja semalem. Murah banget untuk ukuran hotel kayak gitu 🙂

Sampai di ujung Jl. Jend. Sudirman yang bersistem satu arah ini, gue menemui sebuah pertigaan. Gue ambil arah kanan, masuk ke Jalan Sukowati. Ternyata, sama seperti di Bali, Jl. Sukowati ini juga menjadi kawasan pusat oleh-oleh di kota Salatiga. Toko-toko yang menjajakan oleh-oleh berderet di sepanjang jalan yang tidak terlalu lebar dengan trotoar yang nyaman ini. Tak disangka, di antara jajaran toko-toko itu, berdiri sebuah klenteng yang sangat menarik perhatian dengan guyuran warna merahnya dan menara yang menjulang tinggi.

Melalui Jl. Sukowati, gue akhirnya sampai di Lapangan Pancasila — semacam alun-alun yang menjadi pusat konsentrasi massa di kota Salatiga. Lapangan ini dikelilingi oleh Gedung DPRD Salatiga, Kantor Walikota Salatiga, Markas Polres Salatiga, dan Masjid Raya Kota Salatiga. Jalan di sekitar lapangan bersih, hijau, dengan trotoar yang luas dan rapih. Beberapa warung makan berkerumun di sisi Masjid Raya, di samping sebuah taman bermain mini.

Meninggalkan Lapangan Pancasila dan melalui Jl. Adi Sucipto, gue menemukan sebuah public space lain yang menarik: Jalan Kartini. Jalan ini mengingatkan gue banget dengan Orchard Road di Singapura. Bukan karena sama-sama merupakan kawasan belanja, tapi karena sama-sama memiliki trotoar yang sangat luas.

Trotoar di sepanjang Jl. Kartini ini sangat luas. Bahkan untuk beberapa meter, trotoarnya dibagi menjadi trotoar bawah dan trotoar atas. Bangku-bangku disediakan di sepanjang trotoar, agar warga dapat duduk santai di bawah naungan pohon-pohon yang rindang. Ada juga beberapa shelter lebar yang dapat digunakan untuk nongkrong-nongkrong. Tidak hanya itu, beberapa penjual jasa sewa sepatu roda dan otoped menggelar lapaknya di sepanjang trotoar. Anak-anak, bahkan ada juga orang dewasa, melesat hilir mudik dengan sepatu roda atau otoped yang disewa dengan harga Rp 10.000,00 (sepatu roda) atau Rp 15.000,00 (otoped) per jam. Udah puas banget segitu!

Akhirnya, selepas kawasan Kartini yang asyik ini, gue kembali ke kawasan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang berada di wilayah Jl. Diponegoro. UKSW adalah satu-satunya universitas di kota Salatiga. Kampusnya juga nggak terlalu gede, mungkin sekitar tiga atau empat kalinya luas satu fakultas UNPAD. Kawasan lokalitas UKSW semarak dengan warung-warung dan cafe-cafe ala mahasiswa. Makanannya enak dan murah banget loh! Nanti gue ceritain di post selanjutnya 😀

Salatiga pertama kali gue kunjungi pada tahun 2008, saat gue melakukan tes seleksi sebuah program beasiswa (yang puji Tuhan lolos). Lalu selama beberapa tahun kemudian, gue mengunjungi kota ini beberapa kali untuk keperluan retret atau camp yang menjadi bagian dari program beasiswa itu. Jadi, Salatiga adalah salah satu kota yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup gue. Satu hal yang membuat kota ini berkesan adalah: kota Salatiga ini bersih, hijau, sejuk, dan tenang (eh, itu lebih dari satu ya?). Recommended buat kalian yang ingin menyepi, tapi tetep nggak mau jauh-jauh dari pusat peradaban.

Aku akan merindukan “saudara-saudara”-ku di kota ini… 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *