Belajar Sejarah di Museum Ranggawarsita, Semarang

Lepas dari Klenteng Agung Sam Poo Kong yang mulai ramai dikunjungi wisatawan, gue melanjutkan perjalanan #SemarangEkspres kali ini menuju Museum Ronggowarsito, atau Ranggawarsita.

Kata Google Maps, jarak dari Klenteng Sam Poo Kong ke museum ini hanya 2.5 kilometer saja. Karena setiap hari gue juga udah terbiasa pulang kantor dengan berjalan kaki selama 20 menit (bahkan kadang bisa pulang pergi jalan kaki full!), gue cukup pede dengan jarak 2.5 kilometer itu. Gue bahkan pernah jalan kaki dari Serangoon Road hingga Marina Bay, Singapura, pulang pergi!!!

*plis bilang “Wow”*

*makasih*

Dari Klenteng Sam Poo Kong, gue ambil arah kiri, masuk ke Jalan Pamularsih. Ya, Museum Ranggawarsita ada di Jalan Pamularsih. Jalannya tidak bertrotoar, sepertinya ini daerah pinggiran, dan NANJAK! Yah, emang nggak tajam-tajam amat sih, tapi dipadukan dengan hawa kota Semarang yang panas lembab, well… dalam sekejap gue pun mandi di tengah jalan. Mandi keringat!

5 menit, 10 menit, 15 menit, museum tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ya iyalah, wong museum, mana punya hidung.

 

Takut kebablasan, gue masuk ke dalam sebuah jalan kampung, mencari-cari mangsa untuk ditanya-tanya. Nyaris tak ada bangunan publik terbuka (warung makan, minimarket, dsb) atau tempat hiburan di Jalan Pamularsih. Pejalan kaki pun sedikit.

Dari seorang simbok-simbok, gue dikuatkan bahwa memang gue harus tabah menjalani hidup sebagai seorang jomblo belum sampai di Museum Ranggawarsita. Masih harus jalan terus, sampai menemukan sebuah pertigaan, lalu belok kanan. Di sini gue akhirnya sadar, bahwa ternyata selama ini insting pengukuran jarak gue itu salah! Satu kilometer itu lebih jauh daripada yang gue kira.

Museum Ranggawarsita berdiri di ujung Jalan Pamularsih, di sudut sebuah bunderan. Cuaca panas terik membuat gue melangkah cepat-cepat masuk ke dalam museum.

Fasad Museum Ranggawarsita

Fasad Museum Ranggawarsita

Patung kuda dan penunggangnya, entah siapa penunggang itu.

Patung kuda dan penunggangnya, entah siapa penunggang itu.

Gue melenggang masuk menghampiri meja depan. Seorang wanita, entah masih gadis atau sudah janda, duduk di belakang meja dan menyambut dengan senyuman. Gue berharap disambut dengan sepiring lumpia dan segelas es teh Thai sebetulnya *ngelunjak*

Tiket masuk Museum Rangga Warsita adalah Rp 4.000,00 saja. Alamat yang tertera pada karcis adalah Jalan Abdulrahman Saleh no. 1. Pengunjung diwajibkan meninggalkan tas di dalam loker terbuka yang disediakan di lobi tersebut. Gratis kok.

Ngomong-ngomong, siapa sih Ranggawarsita ini? Raden Ngabehi Rangga Warsita, biasa disingkat R. Ng. Rangga Warsita, adalah seorang pujangga dan sastrawan kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1802. Nama aslinya adalah Bagus Burhan, anak dari Mas Pajangswara (keturunan Kesultanan Pajang), sementara ibunya sendiri adalah keturunan Kesultanan Demak. Beliau diangkat sebagai cucu oleh Panembahan Buminoto (adik Pakubuwono IV), lalu akhirnya menjabat sebagai Carik Kadipaten Anom (1819). Pada tahun 1845, beliau diangkat sebaga pujangga Kasunanan Surakarta. Selain mahir dalam bidang sastra, R. Ng. Ranggawarsita juga konon mampu meramal. Salah satu mahakaryanya adalah Serat Kalatida, yang memperkenalkan istilah “Jaman Edan” kepada masyarakat.

Informasi selengkapnya dapat dibaca di laman Google masing-masing. Mari kembali kepada kenyataan *sigh*

Berbelok ke kanan setelah lepas dari lobi, gue memasuki sebuah ruangan besar berisi koleksi batu-batuan, fosil, dan benda-benda arkeologi dari jaman prasejarah. Ada batu alam (natural stone), batu mulia (gem stone), fosil binatang purbakala, dan benda-benda rumah tangga zaman prasejarah. Gue nggak bisa bercerita banyak tentang koleksi-koleksi tersebut karena gue bukan ahli arkeologi, ahli geologi, atau ahli cintalogi, so let the pictures talk.

Memasuki ruang pameran Museum Ranggawarsita

Memasuki ruang pameran Museum Ranggawarsita

Koleksi bebatuan dipamerkan di dalam etalase kaca

Koleksi bebatuan dipamerkan di dalam etalase kaca

Memasuki ruangan selanjutnya, kali ini dipamerkan koleksi bersejarah dari zaman kerajaan-kerajaan, seperti: arca, replika candi, prasasti, perabotan kerajaan, hingga replika kapal.

Prasasti yang dipamerkan

Prasasti yang dipamerkan

Ruangan selanjutnya berisi benda-benda kebudayaan, seperti: keris, senjata-senjata, pakaian adat, alat musik tradisional, dan macam-macam wayang. Yang menarik, selain wayang orang dan wayang golek yang sudah banyak dikenal, gue juga menemukan wayang Yesus Kristus yang menceritakan tentang kelahiran-Nya ke dunia.

Ruangan terakhir yang gue masuki diisi dengan benda-benda replika kehidupan pada zaman kerajaan.

Ada banyak hal yang dapat gue pelajari dari Museum Rangga Warsita. Sayang, beberapa bagian tidak mendapat cukup pencahayaan sehingga terlihat suram, tidak elok difoto, dan banyak nyamuknya 😦

Buat kamu yang suka dengan sejarah, bebatuan, dan budaya, Museum Ranggawarsita ini adalah sebuah destinasi menarik! Excuse the mosquitos. Jika lebih banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini, pasti perawatan dan pelayanannya akan lebih baik. Don’t let the museums die. Apalagi, Museum Ranggawarsita adalah museum terbesar untuk skala provinsi. Pengunjung bisa menggunakan jasa pemandu yang ada jika mau.

Kembali ke dalam lobi, gue menanyakan tentang angkutan umum menuju Hotel Neo Candi, Jalan S. Parman no. 56. Mbak-mbak front-desk lantas melemparkan pertanyaan gue kepada seorang petugas museum yang lain. Bapak-bapak itu memberitahu bahwa ada bus yang bisa langsung mengantarku sampai di depan hotel, cukup naik persis di depan museum. Namun interval kedatangan bus agak renggang. Ya sudah, daripada dua kali ngangkot, atau naik taksi, atau naik ojeg, gue naik bus itu aja.

 

Ternyata bener lho, busnya lambretta!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *