Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar

Akhirnya, setelah gagal menjejakkan diri di bumi Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam, pada April 2017, thetravelearn akhirnya berhasil menancapkan sauhnya di The Land of Gold — Myanmar. Meski hanya 3 hari, dan meski hanya mengunjungi Yangon, namun gue tetap antusias dengan perjalanan #SuperTrip yang ketiga ini. Jadi, izinkan gue memulai cerita perjalanan ini dengan sesuatu yang akan kamu temui begitu mendarat di bekas jajahan Inggris ini: Yangon International Airport (Bandara Internasional Yangon).

Karena Myanmar masih menjadi destinasi anti-mainstream bagi wisatawan Indonesia, maka sebagian tulisan tentang Myanmar ini akan gue tulis dalam bahasa Inggris. Tergantung dengan siapa yang menurut gue lebih membutuhkan informasi itu. Untuk tulisan pertama seputar bandara ini, gue mau membagikannya for my Indonesian fellow travelers 😀

Baca juga: Selayang Pandang Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2


Kode untuk Yangon International Airport adalah RGN, yang merupakan abreviasi dari nama lama Yangon: Rangoon. Bandara ini memiliki 3 terminal. Yang digunakan untuk penerbangan internasional, dan yang terbesar, adalah Terminal 1. Di Terminal 1 inilah, dengan maskapai penerbangan AirAsia, gue mendarat dan lepas landas.

Kesan pertama begitu mendarat di bandara ini adalah: biasa saja. Gue dan para penumpang berjalan memasuki bandara melalui garbarata, lalu menyusuri sebuah selasar yang dilapisi penutup lantai berwarna cerah yang empuk. Cukup elegan lah. Selasar atau lorong itu diapit oleh dinding kaca, dengan bagian kiri merupakan Ruang Tunggu (Boarding Room) untuk para calon penumpang.

konter check-in bandara yangon

papan petunjuk bandara yangon dalam bahasa inggris dan myanmar

Sayangnya, lalu lintas kurang diatur dengan baik. Saat kami masih berada di dalam lorong, ada satu Gate yang membuka pintunya dan membiarkan calon penumpang menyeberang lorong memasuki garbarata. Nggak ricuh sih, tapi kurang rapih aja.

Baca Juga: Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng


Oke, bagian ini harus gue tulis dan harus gue beri judul yang sangat-sangat jelas karena ini adalah hal yang krusial bagi orang Indonesia! Gue mendarat di Bandara Internasional Yangon dengan perut mulas setelah menyantap karipap dan secangkir kopi hitam panas di dalam pesawat AirAsia. Usai menuntaskan hajat, gue baru sadar bahwa toilet ini nggak dilengkapi dengan semprotan untuk pantat. Ada tisu, tapi nggak ada tong sampah. Rasanya pengen koprol aja nggak sik?

Nggak, Gie. Cuma pengen teriak panik aja sambil muterin tiang listrik.

Urinor-nya akan mengalirkan air secara otomatis setelah kita selesai membuang air. Keran wastafel juga akan menyala otomatis saat kita menempatkan telapak tangan di bawah lubang keran. Sabun juga menetes otomatis dengan cara yang sama. Secara umum, toiletnya cukup bersih dan cukup terfasilitasi, melihat adanya toilet khusus untuk kaum disabilitas (orang kurang upaya) atau orang tua.

toilet pria bandara yangon

urinor bandara yangon toilet pria

wastafel bandara yangon toilet pria

Terus gimana gue menuntaskan urusan percebokan di Bandara Yangon ini? Soal itu, cukuplah hanya gue dan Tuhan yang tahu hahahahaha.

Baca Juga: Bandara Kualanamu Medan Dalam Bidikan Kamera


Imigrasi Yangon International Airport lengang saat itu. Sebagian besar penumpang AirAsia rupanya adalah warga lokal Myanmar sendiri. Paspor dicap bersamaan dengan Immigration Form yang sudah kita isi. Warga Negara Indonesia diperbolehkan mengunjungi Myanmar tanpa visa hingga 14 hari. Ingat, 14 hari aja.

Kalau nggak salah, cuma ada 3 Belt ukuran sedang untuk bagasi di Arrival Hall, jadi nggak akan susah menemukan barang-barangmu.

Keluar dari Arrival Hall, gue disambut dengan sebuah aula memanjang tempat sopir taksi dan warga lokal yang mengenakan longyi berkerumun. Ada beberapa konter Money Changer, ATM, dan gerai SIM Card lokal. Gue pun menukarkan sisa Malaysian Ringgit untuk Myanmar Kyat, sementara lembar-lembar USD sudah tersimpan rapi di dalam tas.

duty free shops di bandara yangon

duty free shops di bandara yangon

Ada 2 penyedia jasa telekomunikasi utama di Myanmar: Ooredoo dan Telenor. Gue memilih opsi pertama yang juga udah lebih familiar, hehe. Ada banyak paket yang ditawarkan dan semuanya murah-muraaahhh! Gue memilih paket SIM Card perdana seharga 4500 Kyat (kurang lebih Rp 45.000) yang udah terisi internet 2GB 4G, masa aktif 1 bulan, namun tanpa telfon. Petugas di gerai SIM Card bisa berbahasa Inggris, tapi logatnya susah dipahami hehe.

Baca Juga: Menjejak Bandara Silangit, Siborong-Borong


Salah satu kekurangan Yangon International Airport adalah aksesibilitas. Ada bus kota, tapi harus 1 kali transit. Mempertimbangkan koper, petugas dan warga yang nggak bisa berbahasa Inggris, dan sistem jaringan yang kurang baik, rasanya nggak disarankan buat naik bus dari bandara ke pusat kota untuk orang yang baru pertama kali menjejak Yangon. Maka, mau nggak mau, taxi is our best bet.

Tarif taksi dari bandara Yangon ke pusat kota biasanya 10 USD, tapi gue berhasil nawar sampai 9 USD aja. Biasanya, mereka akan membuka harga di angka 12 USD, daaannn yang pertama kali kami jumpai di Arrival Hall bukanlah sang sopir sendiri, tapi orang lain yang dibayar untuk mencarikan penumpang. Sebelum kami masuk ke dalam taksi, bapak-bapak itu menadahkan tangan meminta tip. Huft.

Sebaliknya, tarif taksi dari pusat kota ke bandara Yangon sedikit lebih murah. Dari hostel gue di kawasan Sule Pagoda, ada taksi yang membuka penawaran dengan hanya 8.000 Kyat (8 USD aja). Gue tawar, dan sepakat di harga 6.000 Kyat, tapi taksinya nggak pakai AC sih. Perjalanan dari bandara Yangon ke pusat kota dan sebaliknya biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit dengan lalu lintas normal. Kalau macet, seperti yang gue alami dalam perjalanan menuju pusat kota Yangon hari Jumat pagi itu, lama tempuh bisa mencapai 1 jam bahkan lebih!

Terus gimana dari Yangon ke kota-kota lainnya di Myanmar seperti Bagan dan Mandalay? Soal ini, kamu bisa beli online di Bookaway. Bus, kereta api, van, bahkan kapal ada semua!


Nah, kalau kesan pertama pada saat kedatangan (18/08/2017) adalah biasa-biasa aja, bandara Yangon akhirnya berhasil memikat gue saat penerbangan kembali ke Kuala Lumpur (20/08/2017). Setelah melalui Security Check Point, gue langsung tertumbuk pada sebuah gerai makan cepat saji yang familiar dengan warna merah itu: KFC. Ada KFC di bandara Yangon!

Selain KFC, ternyata bandara Yangon ini juga punya The Coffee Bean and Tea Leaf, Burger King, Thai Express, dan beberapa tempat makan lainnya. Selain itu, setidaknya ada 2 gerai MyNews.com (jaringan convenience store Malaysia) dan sebuah gerai Myanmar Convenience Store. Jadi, jangan khawatir sama isi perut kalau belum diisi sebelum berangkat ke bandara.

mynews.com di bandara yangon

thai express dan burger king di bandara yangon

cafe craft di bandara yangon

the coffee bean and tea leaf di bandara yangon

kfc di bandara yangon

gong cha di bandara yangon

Ah, gue jadi nyesel udah nuker semua Kyat dan USD ke Ringgit, kelaperan di bandara deh…


Di luar dugaan, Yangon International Airport rupanya punya ruang-ruang tunggu yang lega dan eye-catching! Kursi-kursi diguyur dengan warna-warna cerah yang berbeda-beda, di atas pelapis lantai empuk yang berbalut skema warna kebumian. Untuk keberangkatan kembali ke KLIA, gue ada di Gate 8. Ruangan itu dilengkapi dengan colokan listrik, TV, dan dispenser gratis dengan gelas.

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

Oh iya, bandara Yangon juga punya Duty Free Shops yang cukup menggoda dengan potongan harganya.

Dari rentang 10, gue memberikan nilai 7 buat bandara ini. Yangon International Airport sudah dirancang dengan nyaman, luas, modern, dilengkapi fasilitas memadai (tempat makan, ATM, Money Changer, gerai SIM Card). Kekurangannya, ya itu tadi, they should have  a better toilet, providing water to splash our butt. Oh, dan tentu saja, providing a rail based public transportation that connects to city center would be great! Jadi, kapan kamu mampir ke Yangon? 😀

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *