Bertamu ke Lawang Sewu, Semarang

Malam pertama (juga terakhir) gue di Semarang pada edisi jalan-jalan kali ini harus dicukupkan dengan: muter-muter di Terminal Terboyo untuk memesan bus balik ke Bandung, menerabas jalanan kota Semarang yang banjir karena guyuran hujan deras, nunggu temen di depan Kantor Pos Johar sambil ngangkring di tengah rintik hujan, dan makan Nasi Goreng Babat di… Simpang Lima. Gagal sudah rencana untuk kulineran di Warung Semawis, Pecinan.

Esok paginya, gue bangun dengan tekad untuk mengunjungi semua destinasi wisata di Semarang dalam satu hari! Syukurlah, salah seorang temen gue yang tinggal di Semarang, sebut saja Sulis (tanpa Hadad Alwi) berbaik hati menemani gue untuk berkeliling kota seharian. Blessed you, girl!

Setelah check out terlalu dini dari Hotel Neo Candi, gue langsung bergerak menuju titik pertemuan — Halte BRT Tugu Muda. Akhirnya, bisa juga mencicipi transportasi publik anyar di kota Semarang ini. Semalam saat menuju Terminal Terboyo, gue naik bus kota  biasa karena lebih dulu datang. Interiornya sama persis dengan TransJakarta atau TransJogja. Ukurannya ada yang kecil seperti TransJogja, ada juga yang lebih panjang seperti derita jomblo akut TransJakarta. Bedanya, nggak ada petugas apapun di halte BRT Trans Semarang, penumpang membayar ongkos kepada petugas yang berjaga di dalam bus. Yah, jadi nggak ada mbak-mbak yang bisa digodain selama nunggu bus 😦

Tujuan pertama hari itu, 3 Januari 2015, adalah Lawang Sewu dan Simpang Tugu Muda. Ya, Lawang Sewu adalah destinasi wajib dan utama kalau jalan-jalan ke Semarang. Tiket masuknya Rp 11.000,00.

Bangunan Lawang Sewu memiliki 3 gedung utama: gedung A dan B yang sama-sama besar, dan gedung C yang lebih kecil. Ada pula gedung D yang lebih kecil lagi. Sayang, saat itu Gedung A Lawang Sewu sedang ditutup untuk pemugaran, jadi kami berdua nggak bisa masuk ke dalam. Padahal di dalam gedung A itulah ada ornamen mosaik yang indah.

Lawang Sewu dibangun dengan gaya art-deco. Warna putih membalut seluruh dindingnya yang memiliki lebih dari 429 bukaan pintu. Ya, jumlah pintunya memang bahkan tidak sampai setengah dari 1.000. Yang membuat gue semangat, ternyata Lawang Sewu tadinya adalah kantor pusat perusahaan kereta api Belanda bernama Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS) Maatshcappij yang dibangun pada tahun 1904. Usianya udah lebih dari seabad!

Nah, fungsi awal gedung ini pada mulanya emang nggak aneh-aneh, digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api baik-baik. Barulah saat pendudukan Jepang pada 1942, pembuangan air di bawah gedung disulap menjadi penjara bawah tanah. Ada penjara berdiri, ada penjara jongkok, tahanan dibiarkan mati di dalam penjara karena kehabisan oksigen atau kedinginan terendam air terus menerus. Hiiihhh!

Lawang Sewu juga menjadi saksi atas pecahnya Pertempuran Lima Hari yang terjadi pada 15-20 Oktober 1945. Kala itu, Jepang enggan meninggalkan Semarang sehingga perang pun terjadi dengan pemuda lokal. Oh, sekarang gue tahu kenapa ada Monumen Tugu Muda di kota ini.

Bangunan Lawang Sewu telah mengalami pemugaran. Maka, penampilannya saat ini sudah jauh lebih bersih dan kinclong dibandingkan dengan saat masih beken sebagai tempat uji nyali sebuah acara televisi swasta. Bahkan baru beberapa langkah memasuki kompleksnya, gue sudah terpesona dengan bangunan lavatory (toilet) yan cantik!

Lalu, setelah cukup berfoto-foto di plaza (lapangan lebar di tengah kedua sayap bangunan), kami masuk ke dalam Gedung C (Museum). Kami mempelajari tentang sejarah gedung Lawang Sewu itu sendiri, perjalanan kereta api di Semarang dan Indonesia, mengamat-amati potret blueprint Lawang Sewu yang ditampilkan, hingga memperhatikan material-material bangunan Lawang Sewu yang dipamerkan di dalam kotak-kotak kaca.

Lawang Sewu, atau yang bernama asli Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan NIS yang memerlukan bangunan yang lebih luas dan lebih berfasilitas untuk bekerja. Stasiun Semarang (Samarang, saat itu) sudah tidak dapat mengakomodasi kebutuhan mereka. Rancangan gedung dipercayakan kepada duo arsitek asal Belanda, Prof. Jacob f. Klinkhamer dan B.J. Quendag.

Jalur yang pertama kali dibangun oleh NISM adalah jalur Kemijen – Tanggung (Semarang) sepanjang 26 km. Lalu pada 18 Februari 1870, NISM membangun jalur kereta api Semarang – Solo – Yogyakarta. Jadi, terlihat ‘kan betapa Semarang dan Lawang Sewu itu sendiri adalah saksi perjalanan kereta api di Indonesia.

Tapi, memasuki Gedung B Lawang Sewu, juga tak banyak yang disajikan. Kami berdua berjalan menyusuri lorong demi lorong, memasuki ruang-ruang besarnya yang menyapa dengan kehampaan. Penjual cinderamata yang menggelar lapaknya pada salah satu lorong itu sedikit memberikan percik kehidupan. Meski, tak elok juga sebenarnya, mengambil tempat yang gue rasa kurang pas.

Sedikit terhibur dengan adanya pameran fotografi kereta api yang mengisi kekosongan sebuah ruangan. Setidaknya ada yang dilihat, ada yang dibaca, ada yang dinikmati.

Bagian gedung selanjutnya lebih berisi. Ada foto-foto dan peninggalan-peninggalan NISM lainnya, miniatur-miniatur, replika kereta api, hinga video perjalanan sejarah kereta api di Semarang. Lorong-lorongnya tampil lebih dramatis dengan sentuhan warna hitam dan oranye yang disandingkan dengan dominasi warna putih.

Kami lalu berjalan keluar mengitari Gedung A yang saat itu sedang ditutup karena renovasi. Konon, akan dibuat cafe dan fasilitas penunjang hiburan lain di dalam untuk semakin menghidupkan Lawang Sewu. Yah, asal nanti pengunjungnya tetap memperhatikan kebersihan dan kerapihan aja sih. Tahu sendiri ‘kan gimana manner wisatawan domestik?

Sebuah lokomotif teronggok di depan Gedung A Lawang Sewu, bersebelah-sebelahan dengan sebuah monumen, menjadi spot favorit untuk berfoto bareng atau berfoto selfie. Tapi tetep sih, titik selfie wahid di Lawang sewu ini adalah di tepi Monumen Tugu Muda yang berada tepat di depan Lawang Sewu.

Cheers! 😀

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *