Blogger / Vlogger Tukang Minta Gratisan? Baca Dulu 5 Hal Ini.

Oke, ini sebenernya adalah topik yang udah sangat basik di kalangan blogger, vlogger, buzzer, influencer, dan kaum sejenisnya. Kami ini memang kaum yang suka disirikin, karena terkesan hidup foya-foya bahagia di atas nestapa kaum papa. Udah ada banyak blogger yang mencurahkan isi hati dan pikirannya menanggapi hal ini, supaya muggle-muggle itu faham bahwa blogger, vlogger, dan influencer itu nggak seenak yang dikira.

Nah, karena topik ini kembali mencuat dan diperbincangkan khalayak ramai setelah drama penolakan sebuah hotel berbintang kepada seorang Youtuber (kedua belah pihak ada porsi kesalahan masing-masing), lalu kebetulan gue juga belum pernah bikin tulisan semacam ini, maka izinkanlah diriku untuk mengingatkan 5 hal yang sebaiknya dirimu-dirimu fikirkan sebelum nyinyirin influencer.

 

Kami Sukses Melalui Waktu

Biasanya, influencer (blogger, vlogger, instagrammer) itu disirikin karena bisa dapet gratisan ini itu, dari sekedar makan gratis, nginep gratis di hotel berbintang, sampai terbang gratis ke pelosok Indonesia bahkan mancanegara. Gengs, kesuksesan itu diperoleh setelah berjuang bertahun-tahun. Menurut ngana yang sering dapet gratisan itu blogger kemarin sore?

Di masa-masa awal membangun personal branding, kami keluar duit sendiri buat review hotel, review tempat makan, review tempat wisata. Tujuannya buat portofolio dan membangun massa (baca: follower, fans, subscriber). Baru setelah itu, brand-brand di luar sana menemukan kami dan mengajak kami bekerjasama karena dipandang cocok dengan produk barang atau jasa mereka.  Nggak jarang juga kami sendiri yang mengajukan penawaran kepada hotel, online travel agent, maskapai penerbangan, dan pebisnis lainnya yang sekiranya bisa menyokong kegiatan kami, atau sekedar menambah portofolio.

Mungkin ada beberapa di antara kamu yang bingung kenapa suatu perusahaan mau ngasih gratisan buat blogger, vlogger, dan instagrammer ini. Pemerintah aja mbayar, ngapain mereka gratis? Ini tahun 2018, bung. Yang harus diperhatikan perusahaan bukan cuma sales (penjualan), tapi juga marketing (pemasaran). Sales dan marketing itu berbeda, tapi memang saling berkaitan, karena pemasaran yang jitu akan mendongkrak penjualan.

dari kiri ke kanan, belakang ke depan: mas arie, jose, mbak pungky, mbak noe, uni dzalika, gue

Strategi sales memikirkan bagaimana sebuah produk barang atau jasa laku keras dibeli konsumen, strategi marketing memikirkan bagaimana sebuah brand — barang atau jasa — diterima oleh masyarakat. Diawali dengan membangun awareness (kesadaran akan adanya produk itu), lalu knowledge (konsumen mulai mengetahui fitur-fitur unggulan suatu produk), hingga akhirnya preference (konsumen mulai menjadikan suatu produk sebagai jujukan) dan diakhiri dengan pembelian.

 

Kami Sukses dengan Modal

Coba ngana renungkan, apa aja yang dibutuhin — yang keliatan dan yang nggak keliatan — buat bikin 1 review post di Instagram, blog, atau Youtube? Pertama, harus ada kamera. Kameranya juga bukan kamera asal-asalan, tapi DSLR, mirrorless, atau minimal action camera deh. Kedua, harus ada smartphone mumpuni buat update di media sosial dan (3) personal computer buat nulis di blog. Personal computer dan smartphone butuh (4) listrik, (5) pulsa, atau kuota internet.

Selain itu, nulis itu nggak gampang, butuh (6) keterampilan menulis dan (7) tenaga buat nulis, kadang bahkan butuh mood yang baik. Oh iya, kamera aja nggak cukup kalau kami nggak bisa pakenya, jadi kami juga harus menguasai (8) kemampuan fotografi. Biar tampilan visualnya makin cakep, kami seringkali harus (9) memoles lagi hasil foto dan video kami dengan aplikasi atau software editing, yang artinya kami juga harus menguasai kemampuan desain grafis amatir. Kadang kami juga harus keluar modal lagi buat (10) mempromosikan konten Instagram, Youtube, atau blog kami. Modal kami juga masih harus keluar lagi buat bayar tagihan (11) hosting dan (12) domain supaya nggak kadaluwarsa.

Hampir kelupaan, kami juga harus punya bermacam-macam (13) tas sesuai kebutuhan, dari tas kecil atau daypack / bodypack, koper, sampai carrier atau backpack. Harganya ratusan ribu rupiah bahkan sampai jutaan.

 

Kami Sukses dengan Capek

Jangan pikir kami cuma ena-ena aja. Saat review hotel, kami nggak bisa leha-leha bobok manja doang terus asik jalan-jalan kayak kalian. Jangan pikir foto yang kamu lihat di feed Instagram itu dihasilkan dari sekali jepret. Kami harus berkali-kali jepret, pencet-pencet pengaturan kamera, dan mengambil foto dengan berbagai gaya sampai didapat hasil foto yang kami mau. Itu baru 1 spot, kami masih harus mengambil foto lainnya di area lobi, ruang makan, tampilan luar, dan fasilitas-fasilitas komplemen lainnya kayak kolam renang, rooftop bar, ruang rapat, spa & massage, business corner, dan sebagainya. Makin gede hotelnya, makin susah dan ribet review-nya.

Saat diajak jalan-jalan gratis, istilahnya familiarization trip atau disingkat famtrip, kami harus mau digiring dari satu titik ke titik lainnya, beralih dari satu acara ke acara lainnya. Asal ente tau aja, famtrip itu lebih capek daripada jalan-jalan sendiri karena agenda yang padat dari pagi-pagi (gue bahkan bangun lebih pagi dari hari-hari ngantor gue) sampai larut malam. Udah capek ngikutin kegiatan, kami masih harus tetep foto-foto, bikin video, dan update di media sosial saat itu juga!

Saat diundang ke suatu acara, kami capek ngetik cepet sambil membagi pikiran antara memantau acaranya (entah itu seminar, talkshow, atau festival) sambil update di media sosial. Kami harus tetep ambil foto dan video, memastikan kebenaran informasi yang mau di-update, ditambah mention atau hashtag yang bener sesuai permintaan penyelenggara acara. Di sini, kami harus bisa membuat sebuah hashtag menjadi trending topic, minimal ­10 besar di Indonesia. Selain ngetwit sendiri, kami juga biasa saling reply dan retweet supaya memperbesar engagement di media sosial.

3 bidadari mau mandi di kolam

Oh, capek kami masih belum berakhir. Kami masih harus capek ngedit foto, render video, dan nulis. Jangan pikir kami semua udah full time blogger atau vlogger paripurna. Gue misalnya, masih harus membagi waktu dengan kerjaan kantor yang rutin tiap hari. Malah kayaknya yang full time influencer itu lebih capek lho.

Sampai di sini, masih berpikir blogger / vlogger, seleb tweet, dan instagrammer yang suka dapet gratisan itu enak?

 

Kami Sukses dengan Jaringan

Sebelum punya nama dan sukses diikuti ribuan akun, seorang influencer harus berjejaring dengan sesama influencer lainnya. Ini karena klien kadang nggak punya banyak waktu atau daya buat nyari sendiri influencer yang sesuai buat produk atau kegiatannya, jadi mereka biasanya hanya bakal minta rekomendasi dari influencer yang mereka tau atau dari perusahaan serupa.

Supaya bisa berjejaring dengan baik, kami harus dapat membawa diri di hadapan orang-orang yang belum kami kenal — baik di dunia maya maupun saat bertemu tatap muka. Harus berani ngenalin diri, ngajak ngobrol, dan menawarkan diri kayak, “Kak kalau ada acara kayak gini lagi boleh ajak-ajak aku ya.” Beberapa bahkan punya kartu nama buat dibagikan ke sesama influencer. Nggak semua orang bisa berjejaring dengan baik kayak gini lho.

 

Kami Sukses dengan Konsisten

Kami bekerja dengan diri kami sendiri. Nggak ada kontrak kerja, nggak ada atasan, nggak ada tempat kerja permanen. Kami bisa sewaktu-waktu berhenti ngeblog, nggak lagi ngevlog, atau menonaktifkan berbagai akun media sosial. Tapi kami harus tetep update meski nggak lagi ada kerjaan dari klien sekalipun. Supaya SEO blog kami nggak turun, supaya nggak di-unfollow massal di Twitter atau Instagram, dan nggak di-unsubscribe di Youtube.

Menulis bisa dipelajari. Fotografi, editing gambar, videografi, juga bisa dipelajari. Tapi komitmen itu kami tentukan sendiri.

 

Sebelum gue tutup, ada satu hal lagi yang mau gue sampaikan. Kalau kamu berpikir bahwa blogger, vlogger, dan Instagrammer gratisan itu selalu bikin review yang dibagus-bagusin, kamu salah — eh, nggak sepenuhnya benar ding. Gue dapet gratisan tapi review gue tetep jujur, kekurangan tetap gue sampaikan di dalam tulisan. Itu mah gimana penyampaian kita aja, shay. Supaya maksudnya tetap tersampaikan tanpa menjatuhkan pihak klien, contoh: “Lokasi hotelnya memang jauh dari pusat kota, tapi deket sama tempat A dan tempat B. Jadi buat kamu yang mau ke kota ini buat ke tempat A sama tempat B, hotel ini cocok buat kamu.”

Akhir kata, gue mau bilang buat rekan-rekan sesama influencer, baik itu blogger, vlogger, atau Instagrammer. Yang udah sering dapet gratisan, nggak usah sombong. Yang masih bayar sendiri, juga nggak usah merasa sok paling netral, paling idealis, dan memandang rendah mereka yang dapet gratisan. Kita semua sahabat dan saudara. Masing-masing orang memiliki rejeki masing-masing, dan Barter Review ini adalah jalan rejeki Tuhan untuk sebagian umat-Nya.

atas: kang ipin dan kang arfi
bawah: selfie bareng kakak-kakak blogger bandung sebelum liputan

Baca Juga: Top 100 Travel Blogger Indonesia

Akhir kata (lagi), sama halnya kayak kamu yang nggak suka dibilang, “Enak ya kerja di perusahaan itu, gajinya gede,” padahal kamu mumet jungkir balik mikirin kerjaan. Atau kamu ibu rumah tangga yang dikatain, “Enak ya jadi ibu rumah tangga, di rumah aja bebas,” padahal kamu capek jiwa dan raga menghadapi kerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya. Begitu pula kami blogger, vlogger, dan Instagrammer. Pekerjaan yang tampak ena-ena bagimu, sesungguhnya kami lakukan dengan perjuangan dan pengorbanan.

Tulisan ini bukan keluhan, juga bukan ungkapan kemarahan, hanya ingin menyampaikan apa yang selama ini mungkin kamu belum tau. Terima kasih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *