Cerita Corona: Perjalanan yang Batal, Kecemasan, dan Work From Home

Senja di Bandung dari depan kamar kost

Gue sama sekali nggak menduga, bahwa di usia gue yang belum genap berkepala 3 ini, gue mengalami sebuah pandemi yang sekarang menggoncang dunia. Berawal dari China, lalu negara-negara Asia Timur, Asia Tenggara, hingga sekarang Eropa dan Amerika Utara, Corona Virus Disease (COVID-19) telah memaksa ratusan juta orang di dunia untuk melakukan #socialdistancing, #workfromhome, karantina diri, bahkan hingga lockdown atau karantina wilayah, agar mereka #dirumahaja.

Gue nggak nulis artikel ini buat membahas tentang apa itu virus corona dan bagaimana cara mencegahnya. Bukan, bukan. Gue jauh dari berkapabilitas untuk menulis itu semua. Gue hanya mau cerita bagaimana seorang traveler dan travel blogger di Bandung ini menghadapi itu semua. Curahan hati, tumpahan pemikiran, dan pengalaman nyata adalah isi tulisan ini.

Jadi duduklah tenang, siapkan minuman hangatmu, dan mari kita berbincang bersama membagi kekhawatiran. Untuk yang lebih suka mendengarkan, cerita ini juga bisa disimak di:


Perjalanan yang Dibatalkan dan (Sepertinya) Akan Dibatalkan

Kekacauan pertama yang gue alami dari wabah ini adalah perjalanan ke Manila yang terpaksa gue batalkan pada bulan Februari 2020 lalu. Gue membeli tiket pulang-pergi Jakarta – Manila dengan harga promo Cebu Pacific Airways beberapa bulan sebelumnya.

Ternyata gue salah.

Virus Corona semakin hebat menyerang negara-negara di dunia, dengan Eropa menjadi episentrum barunya. Di Italia, misalnya, tercatat lebih dari 28.000 kasus dan lebih dari 3.400 pasien meninggal per 19 Maret 2020 (sumber: CNN Indonesia). Jumlah ini nyaris menyalip angka kematian corona di China, dan sangat mungkin bila dalam beberapa hari ke depan malah berhasil mengungguli China. Negara spaghetti ini pun resmi memberlakukan lockdown atau karantina wilayah, diikuti Polandia, El Salvador, Irlandia, Spanyol, Denmark, Filipina, Lebanon, Perancis, Belgia, Selandia Baru, dan yang terbaru adalah negara tetangga Malaysia. Termasuk China, seluruhnya ada 13 negara, baik lockdown seluruhnya atau wilayah tertentu.

Kasus corona di Malaysia meroket hingga angka 900, terbanyak di Asia Tenggara. Indonesia yang semula pongah tak akan terpapar corona, akhirnya pecah telor saat 2 warga dikonfirmasi positif COVID-19, dan kini angkanya melonjak melebihi 300 kasus. Kasus kematian di Indonesia adalah yang tertinggi, yaitu 25 orang atau sekitar 8%. Ngeri!

Hingga 20 Maret 2020, sudah 160 negara di dunia terpapar virus ini dengan lebih dari 144.000 kasus!

Kumparan

Situasi yang jauh memburuk ini membuat gue harus siap bila perjalanan ke Singapura dan Malaysia pada akhir April 2020 juga terpaksa dibatalkan. Yang bikin nyesek adalah, tiket keberangkatannya gue beli dengan menukar seluruh AirAsia BIG Points gue yang udah dikumpulkan dengan susah payah bertahun-tahun. Ribuan poin itu gue redeem pada akhir tahun 2019 lalu karena sebagian di antaranya akan hangus.

Bahkan rencana mudik ke Jogja pada tanggal 20 Mei 2020 pun terancam batal. Gue udah beli sepasang tiket berangkat dengan kereta api eksekutif Turangga. Gue berharap, corona sudah reda saat lebaran, minimal kita sudah lebih aman bepergian. Namun, keputusannya gue serahkan kepada Allah. Jika tahun ini kita harus lebaran dalam kondisi karantina diri, tentu akan menjadi lebaran yang nggak akan terlupakan, ‘kan?


Sakaw Traveling dan Staycation

Perjalanan terakhir gue (yang bener-bener traveling, bukan sekadar jalan-jalan tipis ke kota sebelah), adalah ke Hainan, Tiongkok, pada awal November 2019 lalu. Dalam setahun, rata-rata gue traveling jauh 2 kali. Jadi, kalo November adalah trip terakhir, maka wajar sekarang gue lagi sakaw traveling karena seharusnya gue ngetrip lagi dalam 1-2 bulan ke depan.

All Sedayu Hotel Kelapa Gading (akhir Februari) dan Favehotel Palembang (awal Maret), bener-bener belum ada rencana lagi. Belum ada hotel yang menawarkan staycation atau menerima penawaran gue. Perhotelan memang jadi salah satu industri yang terpukul hebat di wabah virus corona ini. Mereka banting harga gila-gilaan karena sepi pengunjung, jadi wajar kalo concern mereka saat ini adalah hard selling, bukan soft selling atau digital marketing. Gue pribadi masih tetap merasa aman dengan staycation di hotel, tapi gue juga nggak mau bayar sendiri karena lagi nggak banyak duit. 😂😂😂

Okinawa yang di ujung selatan, pokoknya ke Jepang.


Masa-Masa Work from Home (WFH)

Hari Jumat malam, sebelum pengumuman resmi dari pemerintah, kantor gue sudah memberlakukan Work from Home (WFH) sejak Senin (16/3). Kantor juga sebisa mungkin menunda perjalanan dinas atau pekerjaan lapangan, kecuali memang nggak bisa ditunda karena menyangkut keinginan klien.

rice cooker kecil dan toaster roti?

Sementara itu, gue yang tadinya mau mudik juga mengurungkan niat setelah membaca himbauan dari pemerintah. Bener juga, gue bisa terpapar virus corona saat berada di tengah stasiun, bandara, kereta api, atau pesawat. Andai gue bisa mudik, tentu gue bisa menghemat pengeluaran dan nggak perlu cemas soal makanan. Tapi, demi keselamatan keluarga, gue nggak mau mengambil risiko itu.

Maka Sabtu tengah malam itu, jelang pergantian ke hari Minggu, gue bolak-balik buka online shop dan order kompor portable, teko listrik, dan sepaket peralatan masak. Tadinya juga mau beli rak atau meja, tapi gue tunda karena menyesuaikan sama anggaran. Sekitar jam 2 pagi, barulah gue bisa tidur dengan tenang.

Kompor portable, teko listrik, peralatan masak, dan bahan makanan yang gue beli 😂

Esok paginya, ibadah hari Minggu di gereja hanya diisi oleh 44 jemaat dari yang biasanya mencapai hingga 100 orang lebih! Pastor memang meniadakan sekolah minggu dan menghimbau bayi, balita, dan anak-anak nggak ke gereja dulu. Maka, ibu-ibu pun ikut nggak ke gereja untuk mengurus anak. Gereja gue memang didominasi jemaat milenial yang lahir di dekade 1980-an hingga 1990-an. Pastor juga mengumumkan bahwa minggu depan ibadah ditiadakan, diganti dengan ibadah online di IGTV, hingga waktu yang nggak ditentukan.

Setelah ibadah, gue yang tadinya ragu, dimantapkan dengan perkataan pastor buat―belanja stok makanan. Ragu kenapa? Ragu kalo gue hanya overreacting. Gue beli bahan makanan secukupnya untuk persediaan di masa-masa kritis, gue pilih yang bisa bertahan meski nggak dikulkas, seperti: mi instan (jelas), sarden dan makanan-makanan kaleng lainnya, spaghetti instan dan semacamnya, roti, minyak goreng, sambal botolan, Boncabe, dan gas butana buat kompor. Total harganya hampir Rp250.000,00. Beberapa hari kemudian, gue juga belanja lagi buat roti, mentega, meses, beberapa Fitbar, dan pisang.

Barang-barang yang gue beli online tiba secara bersamaan di hari Selasa, memaksa ibu kost untuk bolak-balik naik turun ke kamar gue di lantai 3. Hatur nuhun pisan, ibuuu. Maaf merepotkan.

Selama hari-hari #workfromhome, gue masih sesekali beli makanan di luar, tapi hanya di 4 warung makan langganan gue dalam radius 100 meter. Gue secara berkala mencuci tangan dan minum air putih hangat. Puji Tuhan, ada temen yang minjemin modem wifi dan pengeluaran buat kuotanya bisa di-reimburse kantornya. Gue jadi nggak terlalu cemas lagi soal internet.

Terus gimana rasanya kerja di rumah? Boseeennn dan pegeeelll. Bosen, karena sebenernya kerjaan gue itu nggak terlalu banyak dan bergantung pada kinerja anggota tim yang lain. Pegel, karena gue nggak ada meja dan kursi kerja yang proporsional, makanya gue harus duduk lesehan seharian. Lutut gue sampe terasa agak sakit saking kelamaan lesehan dan keseringan duduk-berdiri duduk-berdiri. Kalo bulan depan masih kerja di rumah, gue mau beli meja dan kursi kerja deh biar lebih nyaman di rumah.

Bayangkan di kamar kayak gini seharian!

Selain kerja, gue ngapain aja? Yang rutin adalah workout kecil-kecilan (ciyeee), Netflix-an, Youtube-an, dan mantengin Twitter. Udah lama gue nggak mantengin Twitter kayak gini lagi. Kadang-kadang gue bersih-bersih kamar dan cuci piring gelas saat diperlukan. Terus buat menunjang WFH yang berlangsung lebih lama, kantor mewajibkan karyawan buat install Hadirr, aplikasi buat absen karyawan secara remote, wkwkwk.


Kesimpulan dan Harapan

Sebuah cuitan di Twitter berkata, “Bumi sedang beristirahat. Kita adalah virusnya, dan corona adalah vaksinnya.” Omongannya ada benarnya. Berkat corona, polusi udara jadi jauh berkurang. Berkat corona, kita jadi jauh lebih menjaga kebersihan. Berkat corona juga, Nugi tiap hari push-up, planking, dan scissoring hehe.

Kalo kamu kesal karena corona menghalangimu beribadah berjamaah, kesal karena corona mengacaukan bisnis dan agendamu, jadikan pengingat bahwa―di atas semuanya―Tuhan adalah Sang Penentu, Dia adalah Sang Maha Kuasa. Jadikan corona sebagai pengingat untuk mensyukuri kebersamaan. Jika nanti Ramadan dan lebaran harus dijalani dengan kesendirian, jadikan pengingat bahwa fokus ibadah adalah Tuhan, bukan Jemaah apalagi tempat.

Gue mohon banget buat temen-temen di Pulau Jawa yang sekarang masih bebal dan bodo amat, please stay home! Di rumah aja, nggak usah ke mana-mana kecuali yang deket dan penting. Nggak usah kumpul atau nongkrong-nongkrong dulu. Para petugas medis di rumah sakit udah nggak pulang-pulang demi kita, mari kita bantu mereka dengan tetap di rumah, jangan sampai kita nambah beban buat mereka.

(Masih) langit Bandung yang dibingkai lembayung senja

Semoga, corona berlalu di pertengahan tahun. Semoga vaksin atau obatnya segera ditemukan. Semoga lekas sembuh untuk para pasien positif dan PDP. Ayo kita gotong royong agar semua tertolong.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *