Cerita Tentang 7 Kereta Bandara di Asia Tenggara

With Tuan Vu, a fellow Quoran from Vietnam

Gue sangat antusias saat mendarat di sebuah bandara yang baru pertama kali gue jajaki. Dari titik memijakkan kaki hingga sampai di bagian transportasi umum, gue mengamati sebanyak mungkin hal, mengambil foto sudut-sudut yang menarik atau penting untuk diketahui, dan nggak jarang gue berjalan sedikit (atau sangat) melenceng dari jalur yang seharusnya karena tertarik dengan sudut-sudut bandara.

Makanya, gue biasanya kasih estimasi waktu minimal 2 jam dari waktu gue mendarat sampai akhirnya berangkat ke pusat kota. Nggak jarang baru 3 jam kemudian gue cabut kalau ada banyak hal menarik di bandara atau… gue nyasar.

Moda transportasi bandara apa pun menarik buat gue, entah itu bus (yang modern ya, bukan omprengan) atau kereta api. Tapi berhubung gue adalah seorang rail enthusiast, maka di tulisan ini gue akan membahas kereta-kereta bandara di Asia Tenggara + Hong Kong.


Sebagai kota termaju di Asia Tenggara, gue memang selalu menempatkan segala sesuatu tentang fasilitas negara kota ini di urutan pertama, hehe. Kereta yang menghubungkan Bandara Changi dengan pusat kota Singapura bukanlah kereta khusus bandara, namun MRT (mass rapid transit). Lebih tepatnya lagi adalah East West Line atau jalur hijau.

Ini memang bukan MRT Green Line yang dimaksud, tapi kurang lebih seperti inilah keretanya. Ini adalah MRT North East Line (Purple Line)

Jalurnya panjang membentang dari Tuas Link di ujung barat hingga Pasir Ris di ujung timur. Di Stasiun Tanah Merah jalurnya bercabang 2, di mana cabang kedua berakhir di Bandara Changi. Makanya, perjalanan dari dan menuju Changi selalu harus transit di Tanah Merah. Tenang, transit-nya nggak perlu jalan kaki apalagi naik turun tangga. Cukup berganti kereta ke peron di sebelahnya. Jangan salah peron dengan naik yang ke arah Pasir Ris.

Karena MRT, maka fasilitas dan interior keretanya sama aja dengan kereta MRT lainnya: bangku panjang berhadapan yang dipisahkan oleh lorong untuk penumpang berdiri. Tapi, stasiun MRT di Terminal 3 Bandara Changi megah dengan langit-langit tinggi dan pintu peron otomatis. Tiket bisa dibeli di mesin, loket, atau dengan Singapore Tourist Pass (STP) / EZ Link Card yang bisa dibeli di bandara.

Baca lebih lanjut di: Memahami Transportasi Publik Singapura


Berbeda dengan Changi, Kuala Lumpur International Airport punya kereta bandara yang mewah bernama KLIA Ekspres―ditulisnya memang gitu ya, sesuai pengejaan bahasa Melayu. Harganya sesuai kualitasnya dong, MYR 55 saja atau sekitar Rp200.000 untuk rute KLIA – KL Sentral yang hanya ditempuh dalam 20 menit!

Interiornya elegan dengan kursi penumpang yang disusun berbaris 2-2, onboard wifi, dan colokan listrik. Tiket biasanya dibeli di loket petugas, gue belum pernah coba beli dari mesin. Kalau ada kartu Tap ‘N Go (TnG) atau Rapid Pass juga bisa dipakai.

Ada 2 layanan yang disediakan: KLIA Ekspres dan KLIA Transit. Bedanya, KLIA Transit berhenti juga di Stasiun Salak Tinggi, Cyberjaya/Putrajaya, dan Bandar Tasik Selatan (terhubung dengan Terminal Bersepadu Selatan). Selain itu, KLIA Ekpsres juga menjadi moda transportasi penghubung KLIA1 – KLIA2.

KLIA Ekspres di Stasiun KLIA2, diambil tahun 2014

Fun Fact:

Ongkos total KLIA – Cyberjaya/Bandar Tasik Selatan/Salak Tinggi – KL Sentral dengan KLIA Transit ternyata lebih murah daripada ongkos KLIA Ekspres langsung ke KL Sentral! Bisa dicoba buat kamu yang mau naik kereta ini tapi mau sedikit berhemat. Ingat, kamu harus keluar peron dulu dan beli tiket lagi di stasiun transit, ya.

Baca lebih lanjut di: Memahami Transportasi Publik Kuala Lumpur


Hong Kong International Airport (HKIA) ini juga punya kereta bandara yang mirip-mirip dengan KLIA Ekspres, tapi gue lupa apakah ada wifi juga. Harganya juga sama-sama Rp 200ribuan. Bedanya, Hong Kong Airport Express berhenti di Stasiun Tsing Yi, Kowloon, baru Hong Kong.

Fun Fact:

Kalau mau sedikit ngirit, beli tiket Airport Express sampai Tsing Yi, terus lanjut ke Kowloon/Hong Kong/stasiun lanjutnya dengan MTR hehe.

Di dalam Hong Kong Airport Express MTR train
Peron kereta di Bandara Hong Kong

Tiket bisa dibeli di loket, bisa juga dengan kartu MTR Travel Pass atau Octopus Card. Gue lupa apakah ada mesin tiket. Waktu itu gue naik dengan MTR Travel Pass yang gue beli online di KKDay. Yang gue suka dari kereta bandara Hong Kong ini adalah perjalanannya. Karena Hong Kong adalah sebuah kepulauan, akan ada momen-momen kereta menyeberang di atas laut atau melintas di sisi laut.

Baca lebih lanjut dengan klik di sini atau di sini.


Gue sedih karena kereta bandara Jakarta ini kemungkinan jadi kereta bandara yang paling sepi penumpang di Asia Tenggara, bahkan lebih sepi dari KLIA Ekspres. Nggak cuma warga lokal yang juga belum antusias, tapi turis asing pun. Kemungkinan karena petunjuknya kurang jelas, atau masih minimnya informasi dalam bahasa Inggris. Gue udah berusaha nulis artikel dwibahasa di sini.

Harganya Rp70.000,00. Bisa dibeli langsung di mesin tiket (hanya menerima kartu debit/kredit dalam negeri), beli online di OTA seperti Traveloka, atau beli online di website/aplikasi Airport Rail Service. Selain dapet sedikit potongan harga, tiket yang dibeli di Traveloka juga berlaku untuk satu hari, bebas pilih jam keberangkatan. Eh, ini review jujur, bukan paid promote.

Kereta Bandara Soekarno-Hatta di Stasiun BNI City (Sudirman Baru)
Di dalam Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Walaupun desain eksteriornya kurang… sophisticated, tapi interiornya lumayan. Ada USB Port di setiap kursi yang ditata berbaris 2-2. Kekurangan lain dari kereta ini adalah waktu tempuh yang kurang cepat, 50 menit. Kereta berhenti di Stasiun Batu Ceper, Duri, BNI City, dan Manggarai.


Sebelum Jakarta, ARS atau Railink sudah lebih dulu memulai layanannya di Sumatera Utara, menghubungkan Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang dengan Stasiun Medan. Harganya memang mahal, Rp100.000,00 (kalau belum naik di hari Senin), tapi gue lebih suka desain eksterior dan interior ARS Medan ini daripada ARS Jakarta!

Gue baru sekali naik kereta ini, itu pun tahun 2016 hehe. Jadi monmaap gue nggak banyak inget tentang pengalaman dengan Railink Medan.

Kereta Bandara (Airport Railink Service) Kualanamu, Sumatera Utara
Peron kereta Railink di Bandara Kualanamu

Sayangnya, transportasi umum di kota Medan belum berkembang baik. Jaringan bus kota yang BRT-like pun belum ada, jadi langkah kita kayak terhenti di Stasiun Medan dan harus beralih ke taksi/ojek/bentor/angkot/kendaraan pribadi. Palembang dan Jogja sudah lebih baik.


Hampir sama dengan Singapura, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang pun dilayani oleh rapid transit system, tepatnya LRT. Walaupun, yah tentu saja… servisnya belum bisa dibandingkan hehe.

LRT Palembang di Stasiun Bandara SMB II

Jalur LRT di Palembang menjulur dari Bandara SMB II hingga DJKA, melalui Stasiun Ampera dan Jakabaring. Ongkos LRT dari/ke bandara adalah Rp10.000,00. Murah meriah memang! Tiket bisa dibeli di loket atau menggunakan kartu, nggak ada mesin tiket. Dari gedung Bandara SMB II, stasiun LRT terhubung dengan jembatan pejalan kaki yang bisa diakses dengan eskalator dan lift.

Kereta berangkat setiap 20 menit sekali. Waktu segitu harusnya nggak akan terlalu terasa, andai stasiunnya sejuk ber-AC. 😂😂😂

Baca lebih lanjut di: Review dan Panduan LRT Palembang


Stasiun bandara dan kereta bandara (practically) pertama Indonesia ada di Jogja. Stasiun Maguwo berdiri persis di depan bangunan Bandara Internasional Adisucipto, bahkan mungkin bisa dikatakan terhubung. Stasiun ini dilayani oleh semacam kereta komuter bernama Prambanan Ekspres yang menghubungkan bandara ke pusat kota Yogyakarta, Solo, bahkan Kutoarjo.

Kereta Prambanan Ekspres (Prameks) di Stasiun Yogyakarta

Harganya murah bangeeettt, Rp8.000,00. Tapi ya keretanya “begitu”, hehe. Susunan kursinya seperti MRT/LRT/KRL, versi lebih “hangat”. Sebenernya fine-fine aja kalau pas cuacanya enak, tapi kalau pas panas terik, beuh… cobaan berat. Untung dari Maguwo ke Yogyakarta nggak terlalu lama.

Terus gimana dengan bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA)? Syukurlah keretanya udah jauh lebih nyaman dengan harga Rp15.000,00. Untuk sementara, kereta belum menghubungkan langsung YIA dengan Stasiun Yogyakarta, masih harus transit di Stasiun Wojo yang terhubung ke YIA dengan minivan DAMRI. Semoga jalur kereta dari Stasiun Wojo ke YIA segera jadi, ya.

Kereta Bandara YIA di Stasiun Jogja

Baca lebih lanjut di: Pengalaman Naik Kereta Bandara Baru Yogyakarta


Bangkok, Phnom Penh, Solo, dan Padang juga punya kereta bandara. Sayangnya, 4 kali ke Bangkok gue belum pernah cobain Airport Rail Link-nya Bandara Suvarnabhumi karena gue selalu mendarat/terbang di/dari Bandara Don Mueang.  Kereta bandaranya Phnom Penh, Kamboja, juga belum coba, tapi lihat foto-fotonya sih keretanya pendek dengan model lawas.

Kereta bandara di Solo dan Padang (Minangkabau International Airport) memakai armada yang sama dengan Kereta Bandara YIA. Mungkin INKA memang membuat satu trainset secara massal untuk beberapa kereta bandara sekaligus, hehe. Jadi walaupun gue belum bisa kasih review-nya di sini, semoga fasilitas keretanya udah terbayang. Untuk Solo, lebih tepatnya gue belum coba rute langsung dari/ke Bandara Adi Sumarmo, baru sampai Stasiun Solo Balapan karena waktu itu jalur dan stasiun bandaranya belum jadi. Baca lebih lanjut di sini.

Di Manila, stasiun terdekat dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA) adalah Stasiun Baclaran yang dilalui oleh jalur LRT-1. Sementara itu, Bali berencana membangun LRT bawah tanah dari Bandara Internasional Ngurah Rai hingga Kuta. Can’t wait!


November 2019, gue udah siap cobain Haikou Suburban Railway yang menghubungkan Bandara Internasional Meilan dengan pusat kota Haikou, Hainan. Sayangnya mesin tiket hanya tersedia dalam aksara Hanzi Tionghoa dan gue gagal terus. Sekarang gue baru kepikiran, kenapa gue nggak coba masuk dulu ke dalam stasiun? Siapa tau ada loket petugas di dalem.

Rencananya, tulisan ini akan terus gue perbaharui dengan kereta-kereta bandara yang gue coba kemudian. Minimal banget daftar kereta bandara di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur bisa gue lengkapi di sini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *