Drama Perjalanan ke Hainan China

Pernah ketinggalan pesawat? Atau kereta? Sebagai seseorang yang biasanya disiplin waktu, gue nggak pernah ketinggalan kereta. Gue malah udah biasa duduk anteng di ruang tunggu stasiun sekitar 30-45 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta. Namun perjalanan dari Bandung menuju Hainan bulan lalu ternyata menorehkan pengalaman baru dalam riwayat perjalanan gue. Gue ketinggalan kereta, dan seharusnya juga udah bakal ketinggalan pesawat!

Namun sebelum gue menceritakan lebih detil tentang drama perjalanan itu, gue mau cerita sedikit tentang alasan gue memilih Hainan dan bukannya Beijing, Shanghai, atau Guangzhou. Btw, buat kamu yang lebih suka mendengarkan daripada membaca, cerita perjalanan ini juga bisa kamu simak di podcast Spotify gue di bawah ini.


Sampai sekitar bulan Februari 2019 lalu, nama “Hainan” nggak pernah muncul di dalam kepala sebagai salah satu destinasi impian traveling gue. Gue bahkan nggak tahu ada daerah bernama Hainan di Cina, padahal gue suka banget makan Nasi Hainan di Singapore. Kalau bicara jalan-jalan ke Cina, yang terpikir di benak gue adalah Beijing, Shanghai, Guangzhou, Guilin, Kunming, atau Tibet. Sampai akhirnya, gue mendapat kabar bahwa sebuah agen travel ternama di Indonesia, HIS Travel, menggelar kompetisi blog dengan hadiah paket perjalanan ke Hainan.

Karena merasa punya minat yang pas, gue memutuskan buat berpartisipasi dalam lomba itu. Saat itu gue memang benar-benar sedang banyak ngepoin Cina, jadi gue merasa gue akan bisa menulis dengan hati untuk kompetisi ini. Akhirnya terciptalah sebuah tulisan tentang Hainan yang cukup panjang, komprehensif, banyak dikomentari, dan membuat gue cukup optimis. Sayangnya, ekspektasi gue ternyata meleset jauh dari kenyataan karena gue nggak memenangkan juara apa pun dalam lomba ini, hahaha.

Tulisannya bisa dibaca di: 7 Tempat Menarik yang Instagrammable di Hainan

Selama beberapa bulan, gue diamkan kekalahan dan tulisan itu. Sampai suatu hari, saat gue memeriksa statistik blog secara berkala, gue mendapati fakta bahwa tulisan gue tentang Hainan itu ternyata laris dibaca. Kroscek yang gue lakukan di mesin pencari Google dengan mode incognito pun mengatakan hal serupa. Bahkan ada yang sampai DM gue di Instagram buat nanya-nanya tentang Hainan. Saat itulah, gue berkata kepada diri sendiri, “One way or another, gue harus ke Hainan!”

:hero::hero:


Singkat cerita, gue sakit batuk berdahak, radang tenggorokan, dan demam dari hari Selasa. Rabu merasa mendingan, tapi sayangnya hari Kamis malam kondisi gue drop lagi. Kemungkinan gara-gara kecapekan karena seharian gathering perusahaan dari pagi sampe malem. Batuk-batuk gue jadi sering lagi, demamnya naik lagi, tenggorokan terasa tercekat, dan suara gue pun berubah. Melihat kondisi tubuh sendiri yang seperti itu, gue udah pasrah, “Kalo besok gue nggak lebih baik, gue akan batalkan trip ke Hainan ini.”

:ill::ill:

Ternyata, besok paginya kondisi gue membaik. Gue udah nggak meriang, suara gue berangsur back to normal, dan badan gue terasa lebih bugar. Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, gue buru-buru packing dengan tas seadanya karena backpack 60L kotor dan belum sempet di-laundry. Sekitar jam 13:00, gue berobat ke klinik di deket kantor supaya dapet resep obat dari dokter. Pas balik lagi ke kantor, gue udah nggak fokus kerja. Gue sibuk print out seluruh bukti pemesanan pesawat terbang dan hotel, sibuk mencatat nama-nama tempat yang mau gue tuju dalam aksara Cina, dan sibuk repacking.

Jam 15:00, gue udah siap buat cabut dari kantor dan memesan ojek online ke Stasiun Bandung. Saat itulah hujan deras turun mengguyur Bandung.


Karena hujan deras, dua GoCar yang udah gue order harus gue cancel karena jarak mereka terlalu jauh. I’m sure the minute they arrive here, my train would have been departed for minutes. Lalu gue beralih ke GoRide, dan gue nggak dapet-dapet driver. Mulai panik, gue samperin salah satu temen kantor gue buat pake akun Grab-nya. Puji Tuhan dapet GrabBike. Jam 15:30 kurang, sang driver tiba di kantor setelah gue minta buru-buru padahal dia mau neduh dulu sampe hujan reda.

Bersama babang GrabBike, gue menerabas derasnya hujan dan banjir dalam naungan mantel hujan yang nggak sepenuhnya melindungi tubuh gue. Ingat, saat itu gue lagi sakit, hahaha. Sepatu gue basah kuyup, bagian bawah celana gue juga udah basah, padahal itu celana jins dan gue mau naik kereta api ber-AC. Meski gue nggak minta untuk ngebut, tapi gue bisa melihat usaha si driver untuk menyampaikan gue secepat mungkin di stasiun.

Jam 15:50, gue mendarat di Stasiun Bandung. Gue tersenyum kecut, tapi masih mencoba memeriksa kode booking dan berharap keretanya belum jalan. But you know what? KERETA GUE MALAH HARUSNYA JAM 14:45, BAMBAAANGGG. Bukan jam 15:45. Gue ngakak di dalam hati menertawakan kebodohan diri sendiri. Ini adalah pertama kalinya gue salah mengingat jadwal kereta. Mungkin karena sakit dan persiapannya buru-buru, jadi otak gue sengklek sedikit.

:noooo::noooo:

Di tengah hiruk pikuk Stasiun Bandung, gue berdiri terdiam di depan mesin cetak boarding pass, sibuk dengan pikiran sendiri. “Ini udah mau jam 16:00. Kalo naik travel juga udah nggak akan kekejar, sekitar jam 21:00 gue bakal baru sampe, malah ada kemungkinan juga baru nyampe jam 22:00. Padahal pesawat gue jam 21:55,” pikir gue saat itu. Maka akhirnya, gue melangkah menghampiri loket tiket pembelian go-show, berharap masih ada kursi yang tersisa di jadwal kereta berikutnya.

PUJI TUHAN ADAAAAAA!!! Walaupun kursi ekonomi dan ditempatkan di baris lorong, tapi gue berhasil berangkat ke Stasiun Gambir dengan jadwal keberangkatan jam 16:10. Gue relakan tiket kereta api Argo Parahyangan Eksekutif yang harus hangus terbuang karena keteledoran sendiri.

:sigh::sigh:

Haleluya badan gue nggak drop sepanjang perjalanan dengan kereta api. Jam 19:30 kurang, gue tiba dengan selamat di Stasiun Gambir. Gue langsung order GoRide begitu kaki menjejak di lantai peron, didn’t wanna lose any single minute. Yes, dapet driver, dan lokasinya juga udah di luar Stasiun Gambir. Sayangnya, driver ini nggak paham lokasi. Dia bilang dia ada di pintu belakang deket Indomaret Point, deket Monas, di depan pintu masuk mobil. Gue udah berbaik hati dengan berjalan kaki menghampiri lokasi yang menurut gue adalah benar, tapi sesampainya di sana gue malah bingung. Lalu gue sadar, kalo kedua ujung Stasiun Gambir memang sama-sama ada Indomaret Point-nya.

Gue lalu berjalan kembali ke bagian tengah Stasiun Gambir. Melalui sambungan telfon, gue dengan agak emosi minta driver untuk menjemput gue di pintu keluar pejalan kaki, yang ada tulisan STASIUN GAMBIR, yang dikerumuni oleh puluhan driver ojol. Kurang jelas apa coba? Namun dia bingung. Detik berikutnya setelah sambungan telfon terputus, dia cancel order. Ya udah bagus, gitu aja, tapi 10 menit gue yang harusnya bisa buat jalan ke stasiun kereta bandara jadi terbuang.

:ngamuk::ngamuk:

Untungnya langsung dapat driver kedua dan lokasinya juga udah deket Stasiun Gambir. Gue pun capcuuusss ke Stasiun BNI City. Namun mendekati Stasiun KRL Sudirman, gue bingung kenapa driver-nya malah muter lewat Grand Indonesia. Jadi, jalan yang menghubungkan Stasiun KRL Sudirman dan Stasiun BNI City sekarang ditutup untuk kendaraan, cuma buat pejalan kaki. Nah, si bapak driver muter-muter lewat Grand Indonesia, belak-belok di jalan kampung, cuma buat “sekadar” menyampaikan gue persis di depan bangunan Stasiun BNI City. Sekian menit terbuang buat muter-muter. Kalo gue tau bakal kayak gitu, gue akan lebih memilih turun di depan Stasiun Sudirman, lalu jalan bentar ke Stasiun BNI City. Jalannya dikit banget elah, 1-2 menit kali. Si bapak harusnya nanya dulu ya.

Gue udah beli tiket kereta bandara Soekarno-Hatta via Traveloka. Tiketnya bisa dipake buat jadwal mana pun di hari yang udah kita atur saat booking, penukarannya dilayani di meja petugas. Men, kereta bandaranya baru berangkat jam 20:21, lalu sampe di bandara jam 21:07, sementara pesawat 21:55. Bayangin deh gimana perasaan gue saat itu.


Pesawat jam 21:55, sampai bandara jam 21:07. Belum acara jalan ke stasiun skytrain bandara Soetta, belum perjalanan skytrain-nya, belum perjalanan dari stasiun skytrain ke konter check-in. Padahal teorinya, konter check-in ditutup 45 menit sebelum jadwal penerbangan.

Namun entah kenapa tak ada dorongan menyerah malam itu. Begitu kereta bandara berhenti di Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan pintu terbuka, gue langsung lari ke stasiun skytrain! Sampe di peron skytrain, pas banget ada kereta yang kemudian dateng. Setelah skytrain sampai di Stasiun Terminal 2, gue lari-lari lagi menuju gedung terminal yang sekarang sudah terhubung dengan skybridge. Duh, padahal udah membayangkan mau foto-foto dulu di skybridge ini buat review, siapa sangka gue ternyata harus melalui jembatan itu dengan langkah terburu.

Sampai di gedung terminal 2, gue masih harus lari-lari lagi ke konter check-in Jetstar karena ujung skybridge ada di bagian keberangkatan domestik. Tapi gue nggak sendiri. Dari sejak turun kereta bandara, ada dua anak muda lainnya yang sama-sama lari tunggang langgang. Kami bertiga salip-salipan, dua cowok dan satu orang cewek. Kadang lari penuh semangat, kadang jalan menggeh-menggeh. Umur memang nggak bohong, mana udah nggak pernah lari pula. Ternyata kami bertiga mengejar satu penerbangan yang sama.

:evilsmirk::evilsmirk:

Walaupun secara teori udah nggak bisa check-in dan layar di konter check-in juga sudah berbunyi, “Tutup”, ajaibnya kami bertiga masih diterima check-in dooong! Puji Tuhaaannn. Saat lagi nunggu giliran―cowok Chinese di depan, mbak-mbak di tengah, gue paling belakang―gue sempet towel mbak-mbak itu dan ngomong, “Kita sama.” Sayangnya dia cuma bilang dengan nada datar, “Iya.” Entah karena capek, atau emang nggak terlalu suka ngobrol sama orang baru. Padahal gue berharap minimal salah satu dari mereka bisa jadi temen ngobrol sih, hehe.

Selesai check-in, gue lalu lari-lari ke boarding room. Belum bisa tenang kalo belum masuk boarding room, cuy! Setelah sampai di dalam, ealah ternyata gue masih bisa duduk-duduk lumayan lama, tau gitu tadi jalan aja wkwkwk. Jadi, penerbangannya memang sedikit delay, tapi delay yang menyelamatkan.


Hal pertama yang gue lakukan setelah mendarat adalah mencari ATM DBS dan money changer. Fyi, Jetstar mendarat di Terminal 1 Bandara Changi Singapura. Puji Tuhan, di area transit ada ATM DBS dan money changer yang terletak sebelah-sebelahan. Ternyata bener kata temen gue, money changer Changi beroperasi 24 jam. Jadi gue tarik uang 50 SGD dari ATM DBS, lalu gue tukar ke Chinese Yuan (CNY) di money changer UOB. Gue udah nggak peduli bagus enggaknya nilai tukar mata uangnya. Yang penting gue nggak datang ke Cina dengan tangan kosong, men! Untung gue ada rekening DBS, jadi nggak ada biaya administrasi saat tarik tunai di DBS Singapura.

ATM DBS dan money changer 24 jam di Terminal 1 Bandara Changi

Nah, pas terbang dari Jakarta ke Phuket via KL dan dari Bandung ke Macau via KL beberapa bulan sebelumnya, gue sama sekali nggak keluar imigrasi. Jadi setelah mendarat, gue langsung move ke boarding gate penerbangan selanjutnya. Maka saat mendarat di Changi dini hari itu pun, gue pikir juga gue nggak perlu keluar imigrasi. Makanya habis kelar urusan duit, gue dengan santainya tidur-tiduran di salah satu bangku panjang tanpa lengan kursi yang banyak berjajar di depan boarding room.

Sekitar jam 4 pagi, gue hampiri konter transit yang biasa ada di setiap terminal Bandara Changi. Eh, ternyata petugas konter bilang kalo gue harusnya keluar imigrasi dan check-in di departure hall. Kepala gue langsung maknyeeesss, karena bakal mepet kalo saat itu harus keluar imigrasi terus masuk lagi. Untungnya, mbak-mbak itu terus menambahkan, “Atau bisa juga di konter 4.” Thanks God, meski harus sedikit jalan kaki, tapi minimal gue nggak harus keluar masuk imigrasi. Jadi dalam satu terminal memang ada beberapa konter transit.

Salah satu area duduk di Terminal 1 Bandara Changi

Di salah satu bangku inilah gue bermalam di Terminal 1 Bandara Changi

Setelah gue inget-inget, kondisi gue malam itu memang berbeda dengan saat gue ke Phuket dan Macau. Penerbangan Jakarta – Phuket via KL itu adalah connecting flight resmi dengan Malaysia Airlines. Dari sejak check-in di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, gue udah dikasih 2 boarding pass: Jakarta-KL dan KL-Phuket. Lalu pas Bandung – KL dan KL – Macau, semuanya naik AirAsia dan gue udah web check-in. Sementara di Changi saat itu, maskapainya beda dan gue juga nggak web check-in. Jadi wajar kalo gue memang perlu keluar imigrasi dulu.

Singkat cerita, gue bisa check-in di area transit saat itu, tapi next time gue harus lebih cermat dan memastikan segala sesuatunya. Selesai check-in, karena laper, gue beli makan di tempat favorit gue di Terminal 1: Killiney Kopitiam. Seperti biasa, antriannya panjang, tapi gue rela nunggu demi harganya yang murah dan kopinya yang enak. Kali itu gue pesen nasi kari ayam dan kopi-C panas (as usual). Ternyata nasinya banyak banget, hahaha. Total harganya di kisaran 7 SGD.

Cerita saat pertama kali cobain Killiney Kopitiam bisa dibaca di: Pengalaman Makan Murah di 7 Tempat Singapura


Sekitar jam 5:30 pagi, gue bergerak masuk ke boarding room untuk menyambut penerbangan ke Haikou, Hainan, dengan maskapai Scoot. Silakan klik untuk baca tulisan berikutnya di: [Flight Review] SCOOT Singapore – Hainan + Panduan Transportasi Bandara Meilan

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *