Flight Review: Malaysia Airlines Economy Class Jakarta-Kuala Lumpur-Phuket

Buat gue, traveling itu nggak cuma sekadar sampai di tempat tujuan, tapi juga bagaimana gue mencapainya dan menikmati perjalanan itu. Nah, terbang dengan bermacam-macam maskapai penerbangan adalah salah satu cara gue menikmati perjalanan itu. Meskipun gue ini tergolong budget traveler yang sumber dananya juga masih terbatas, gue nggak serta merta jadi fans berat AirAsia. Bosen tauk ke mana-mana naik AirAsia mulu.

:evilsmirk::evilsmirk:

Puji Tuhan, sederet maskapai penerbangan𑁋nasional maupun internasional𑁋sudah gue jajal sejak pertama kali mengudara di tahun 2013. Mereka adalah Jetstar (ini malah jadi maskapai pertama yang gue coba), Tiger Airways, Lion Air, Malindo Air, Citilink, Nam Air, Sriwijaya Air, Batik Air, Garuda Indonesia, dan Garuda Indonesia Explore. (Silakan klik link-link tersebut buat baca tulisan perjalanan gue bersama maskapai terkait, itu bukan link ke web maskapai kok) Tapi emang iya, sih, yang paling sering gue naiki adalah AirAsia. Makanya, gue seneng banget ketika bulan Mei 2018 kemarin gue bisa naik maskapai national carrier sekelas Malaysia Airlines.


Proses Pemesanan Tiket Maskapai Airlines

Pengalaman baru ini tergolong salah satu perjalanan mendadak seperti yang udah biasa gue lakukan dalam beberapa bulan terakhir, hahaha. Kalau nggak salah, tiket penerbangan baru dipesan sekitar sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Rute yang gue beli adalah rute Jakarta – Phuket via Kuala Lumpur. Kenapa Phuket? Kenapa juga tiba-tiba Malaysia Airlines? Karena lagi promo, shay! Rute Jakarta – Phuket cuma Rp700.000,00. Gokil, kan? Rute lain yang lebih murah ada, sih, tapi gue udah pernah ke sana.

Jujur, proses pemesanan ini lumayan drama. Wacana perjalanan ke Phuket muncul dari ajakan mas Fendi melalui private message di WhatsApp. Kami sempat bingung menentukan tanggal perjalanan, karena gue nggak mau cuti cuma buat ke Phuket. Well, Phuket nggak pernah masuk travel bucket list gue, mending cutinya gue tabung buat long trip ke negara-negara yang baru. Mas Fendi pun mendukung supaya perjalanan dilakukan tanpa mengganggu hari kerja gue.

the tail of malaysia airlines aircraft, don’t ask me what the type of aircraft is

Sialnya, tiket hari Sabtu (19 Mei 2018) atau hari Jumat malamnya nggak ada yang Rp700rb, paling murah Rp900ribuan. Sementara mas Fendi nunjukkin screenshot bahwa tiket seharga Rp700rb itu masih ada. Kami berdua sama-sama cek di Traveloka. Gue cek di website resmi Malaysia Airlines pun, hasilnya sama. Gue bingung, apa mungkin Traveloka menunjukkan harga dan jadwal berbeda untuk maskapai dan hari yang sama pada user yang berbeda?

Baca Juga: Traveloka, Sang Penolong Kaum Jomblo Geografis

Akhirnya, gue minta mas Fendi yang melakukan pemesanan buat kami berdua. Pemesanan pun selesai dilakukan, mas Fendi mengirimkan email berisi tiket elektronik. Lalu setelah gue buka… gue akhirnya paham kenapa harga yang kami lihat bisa beda. We were looking on different dates! Tiket yang mas Fendi pesan adalah tiket keberangkatan pada hari Jumat, 18 Mei 2018, jam 12:15, yang artinya gue harus mengajukan cuti. Beberapa hari kemudian, gue memberanikan diri menghadap COO (Chief Operating Officer) gue, menjelaskan situasi dan kondisinya dengan perasaan bersalah dan nggak enak. Puji Tuhan, permohonan cuti dikabulkan.

:sweating::sweating:


Perjalanan Menuju Malaysia Airlines

Sebenernya, dengan jadwal penerbangan pukul 12:15, menurut gue masih sangat aman kalau kami berangkat hari Jumat pagi selambat-lambatnya jam 5 atau bahkan 6 pagi. Tapi karena mas Fendi agak was-was kalo telat, akhirnya hari Kamis malem gue udah nyamperin dia yang lagi ngamar di Hotel FOX Harris City Center, Bandung. Setelah tidur sebentar yang nggak nyenyak, jam 2 kami udah cabut naik taksi online ke pool Lintas Shuttle BTC karena gue udah book keberangkatan ke Bandara Soekarno-Hatta jam 3 pagi.

Seperti yang udah gue duga, perjalanan dari Bandung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta berjalan dengan sangat lancar. Sekitar jam 6 pagi, kami udah dropped di Terminal 3 di mana maskapai Malaysia Airlines kami akan berangkat. Masih ada waktu sekitar setengah hari sebelum boarding, gue nggak kebayang harus ngapain selama itu di bandara. Gue capek, ngantuk, dan kedinginan. Dari semalam, gue udah bersin-bersin dan hidung tersumbat, suhu badan juga udah agak anget.

:ill::ill:

airside of terminal 3 | soekarno-hatta international airport

taking a short rest on a flatbed | soekarno-hatta international airport

Baca Juga:Skytrain, Connecting The 3 Terminals of Soekarno-Hatta International Airport Jakarta

Gue dan mas Fendi nunggu dengan ngopi-ngopi di Starbucks, foto-foto terminal, duduk-duduk di bangku departure hall, check-in, sampai akhirnya masuk ke dalam boarding gate. Dalam kondisi ini, gue bersyukur boarding gate di T3 Bandara Soekarno-Hatta letaknya jauh dari departure hall. Lumayan buat membunuh waktu. Nah, di sisi lorong pejalan kaki boarding gate ini ada beberapa flatbed yang lumayan nyaman buat tidur atau tiduran. Oke, nih, buat mengistirahatkan punggung sejenak.


Penerbangan ke Phuket Bersama Malaysia Airlines

Seperti yang udah gue sebutkan sebelumnya, gue udah pernah naik Garuda Indonesia, Malindo Air, dan Batik Air. Ketiganya adalah maskapai full service yang menghadirkan fasilitas in-flight magazine, in-flight meals, dan in-flight entertainment. Tapi, pada beberapa penerbangan Malindo Air yang gue coba, nggak ada fasilitas in-flight entertainment. Hal yang sama rupanya terjadi pada penerbangan MH716 Jakarta – Kuala Lumpur yang gue coba.

Menyiasati ketiadaan in-flight entertainment, panduan keamanan ditampilkan melalui layar-layar mungil yang terdapat di bawah kompartemen (overhead storage). Layar-layar tersebut dapat dilipat saat nggak dibutuhkan, ditata pada setiap beberapa baris kursi. Sayangnya gue nggak ambil banyak foto selama penerbangan, gue fokus ngerekam dengan smartphone (yang file-nya pun kemudian terhapus padahal belum di-backup). Niatnya, sih, mau bikin flight review kayak akun Youtuber djundjunganque, FlightTravels. Apa daya gue cuma punya smartphone, kamera Canon EOS 1000D lawas gue nggak mendukung fitur video recording, jadi proses perekaman berjalan agak ribet dan nggak sebagus yang diinginkan. Selain itu, saat berjalan memasuki kabin, seorang flight attendant cowok meminta gue buat nggak melakukan kegiatan recording.

the unsatisfying in-flight meals to Kuala Lumpur | Malaysia Airlines

simple yet satisfying in-flight meals to phuket | malaysia airlines

Selain nggak adanya in-flight entertainment, gue juga kecewa dengan in-flight meals pada penerbangan MH716 ini. Paket makanan terdiri dari nasi putih, ikan, sayur kubis tahu, dilengkapi dengan kacang asin dan air mineral dalam gelas. Nasi dan tahunya terasa kering, I really didn’t enjoy my in-flight meals. Bahkan sampai ada beberapa gumpalan nasi kering. Frozen food di minimarket aja nggak gini-gini amat, lho.

:wtf::wtf:

Kekurangan terakhir yang mau gue highlight adalah flight attendant-nya nggak ada yang bening. Usianya juga nggak muda lagi.

in-flight entertainment from kuala lumpur to phuket | malaysia airlines

cabin view | malaysia airlines

Sementara itu, penerbangan Kuala Lumpur – Phuket dengan nomor MH790 pukul 17:51 cukup berhasil mengembalikan mood. Selain kabin yang lebih modern, dilengkapi in-flight entertainment, dan flight attendant yang goodlooking, in-flight meals-nya pun lebih berkualitas. Sayangnya karena hanya penerbangan singkat selama 1 jam, makanannya hanya berupa snack: chicken sandwich, roti manis, kacang asin (tetep), dan air mineral dalam botol kemasan 330 ml. Biar pun cuma roti, tapi rasanya enaaakkk dan bahan-bahannya lebih berkualitas gitu. Paket hiburan dalam penerbangan MH790 ini hadir dengan headphone (nggak boleh dibawa pulang, ya) dan remote control. This is how a full service flight should be.

Untuk membaca panduan bandara Phuket, baca saja: Menyapa Phuket International Airport, Thailand


Kesimpulan: Layakkah Menggunakan Malaysia Airlines?

Malaysia Airlines adalah salah satu anggota OneWorld, sebuah aliansi maskapai penerbangan yang beranggotakan American Airlines, British Airways, Cathay Pacific, Finnair, Iberia, Japan Airlines, LATAM Airlines, Qantas, Qatar Airways, Royal Jordanian, S7 Airlines, dan Sri Lankan Airlines. Berdasarkan World Airline Awards 2017 yang digelar oleh SKYTRAX, Malaysia Airlines ada di urutan 31, jauuuhhh dari Singapore Airlines (ke-2), Garuda Indonesia (ke-10), dan Thai Airways (ke-11). AirAsia aja ada di urutan 26.

transit di klia, i was having flu

Dari obrolan bareng temen-temen sesama traveler, Malaysia Airlines ini emang udah nggak sebagus dulu. Sejak 2 kali insiden kehilangan pesawat, pamornya turun. Maskapai ini pun menggelar banyak promo buat mendongkrak penjualan. Sebagai imbasnya, pelayanan pun sedikit dikurangi untuk menyeimbangkan neraca pemasukan dan pengeluaran. Tapi ini bukan fakta akurat, ini cuma asumsi kami aja. Yang punya cerita atau data lain soal maskapai ini, boleh banget share di kolom komentar.

Namun, mengesampingkan berbagai fakta dan asumsi di atas, terbang bersama Malaysia Airlines tetap menjadi pengalaman yang layak dicoba buat kamu para aviation fans. Yang harus dilakukan adalah membandingkan harganya dengan maskapai lain di tanggal dan rute yang sama. Kalau harganya sama atau hanya sedikit lebih mahal dari maskapai low cost, ambillah, kayak rute Jakarta – Phuket seharga Rp700.000 ini. Kalau mahal-mahal, takut kecewa sama servisnya aja, sih.

Seluruh cerita perjalanan gue di Phuket bisa dibaca di sini.

the flight was not really crowded | malaysia airlines

malaysia airlines aircraft and the rain started to pour | KLIA

Thanks for reading, ya. Semoga di kesempatan berikutnya, gue bisa share pengalaman terbang bersama Singapore Airlines, Thai Airways, atau Vietnam Airlines𑁋yang namanya disebut terakhir ini juga punya promo menggiurkan, misalnya Jakarta – Hanoi seharga Rp800.000.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *