[Flight Review] SCOOT Singapore – Haikou (Hainan) + Panduan Transportasi Umum Bandara Meilan

Mendarat di Haikou Meilan Airport dengan Scoot

Setelah mengalami drama bertubi-tubi―naik ojek menerabas hujan deras, ketinggalan kereta, lari-lari di bandara, sampai nyaris gagal transfer penerbangan―akhirnya gue berhasil duduk anteng di dalam maskapai SCOOT dengan nomor penerbangan TR118 yang akan menerbangkan gue dari Singapura hingga Haikou, Hainan, Republik Rakyat Cina. Klik di sini kalo kamu belum menyimak cerita sebelumnya.

Sebelumnya, gue mohon maaf karena jelang akhir tahun blog ini hanya dipenuhi tulisan-tulisan review hotel dan jadi kehilangan karakternya. Biar bagaimana pun, thetravelearn.com adalah sebuah blog perjalanan. Namun medio Oktober-November kemarin gue menerima banyak tawaran hotel review sehingga lanjutan cerita perjalanan ini jadi lama tersendat.

Oke, kembali ke cerita perjalanan gue di Hainan.

Penerbangan SCOOT TR-118 gue dari Singapura ke Haikou

Karena ini adalah penerbangan perdana gue ke Hainan, maka saat reservasi tiket pesawat Scoot secara online, gue sengaja memilih kursi di samping jendela dengan nomor 9A. Nggak apa-apa deh harus bayar 8 SGD, yang penting bisa dapet konten yang bagus. Gue sendiri memang sudah terdaftar sebagai member Scoot dan Singapore Airlines Group, jadi gue juga bisa mengumpulkan miles dari setiap penerbangan yang gue ambil.


Gue melakukan tindakan yang tepat dengan memilih kursi samping jendela di sisi kiri. Karena ini adalah penerbangan pagi jam 6:25, maka sesaat setelah badan pesawat terangkat ke angkasa, gue dihadapkan dengan semburat kemerahan yang tergores di garis cakrawala. Gradasi warna biru, toska, hingga jingga tampil memanjakan mata, seperti menjadi hadiah untuk pemuda itu yang letih karena drama.

Mengangkasa saat terbit matahari bersama pesawat SCOOT

Menit berikutnya, pesawat melayang di atas lapisan awan yang bentuknya menyerupai salju yang melapisi daratan dengan gumpalan-gumpalan halusnya.

Ketika berkas-berkas cahaya matahari pagi merangsek masuk ke dalam kabin melalui celah jendela pesawat, gue membuka on-board meals yang juga sudah gue pesan secara online. Rasa hangatnya dan cahaya keemasannya membuat gue melambungkan syukur kepada Yang Kuasa atas salah satu momen sarapan ternikmat sepanjang masa.

Gue memesan paket Nasi Lemak with Chicken Rendang seharga 17 SGD. Makanan datang dengan didampingi cokelat Aalst dan air mineral 330 ml. Nasi lemaknya disajikan dengan potongan daging ayam, telur rebus, dan teri kacang yang diguyur dengan kuah kental khas rending. Nggak ada masalah untuk rasa, porsi, dan kesegaran. Cokelatnya juga enak. Air mineralnya segar, dinginnya pas!

Nasi Lemak dengan Ayam Rendang | Maskapai SCOOT

Anyway, gue nggak menemukan ada kopi saat memesan on-board meals, jadi gue kira Scoot memang nggak menyediakan menu kopi panas. Ternyata setelah buka-buka isi buku menu Scoot Cafe, ada beberapa kopi yang bisa dibeli langsung saat penerbangan. Jadi mungkin next time saat kembali terbang dengan Scoot, gue mau beli makanan secara langsung agar bisa memesan kopi. Makanan apa pun nggak masalah, yang penting kopi. Syukur-syukur kalau kemudian Scoot menyediakan pilihan kopi dalam paket kombo pre-flight meals.

Ini bukan pertama kalinya gue terbang dengan Scoot. Pertemuan perdana terjadi pada tahun 2013 dengan rute Singapura-Jakarta saat Scoot masih bernama Mandala Tiger Air. It was my second flight of my entire life. Tahun 2015, gue terbang dengan Tiger Air untuk rute Ho Chi Minh City – Singapura. Saat gue mengambil rute Jakarta-Singapura pada November 2018, nama Scoot sudah resmi digunakan. Di tahun yang sama, gue menjadi salah satu blogger yang diundang menghadiri press release dari Scoot untuk peluncuran rute penerbangan Jakarta-Berlin.

SCOOT in-flight magazine, safety modul, and SCOOT cafe catalogue

Sebagai sebuah low cost carrier dan saat itu hanya melayani penerbangan pendek (Singapura-Haikou ditempuh hanya dalam waktu 3.5 jam), pesawat yang digunakan adalah pesawat Airbus 320 (A320) dengan konfigurasi tempat duduk 3-3 dan satu lorong. Ada in-flight magazine yang menarik dibaca untuk mengusir rasa bosan selama penerbangan.

Nah, tapi kalo buat penerbangan jarak jauh (mungkin minimal 5 jam) seperti rute Taipei-Seoul, Scoot menggunakan pesawat berbadan besar Boeing 787 Dreamliners dengan konfigurasi kursi 3-3-3 dan dua lorong. Ah, ingin sekali mencoba pesawat besar karena seumur-umur belum pernah. Jadi ternyata nggak hanya maskapai full service yang punya pesawat seperti itu, tapi juga LCC.

Pesawat SCOOT dari Singapura bersiap mendarat di Haikou

Mendekati Haikou, langit diisi dengan lautan awan yang bergumpal-gumpal tebal dalam berbagai rupa. Entah karena gue yang jarang duduk di jendela atau memang pengaruh geografis, rasanya gue baru pertama kali itu melihat fenomena awan seperti itu.

Pesawat perlahan menurunkan ketinggian, awan tersibak, dan gue menikmati panorama kota Haikou dari ketinggian. Dari atas, Haikou tampak hijau dan berbukit-bukit. Gue juga melihat Sungai Nandu (南渡江) yang membelah kota, airnya bermuara ke Teluk Qiongzhou (琼州海峡) yang memisahkan Hainan dengan daratan utama Cina. Ngomong-ngomong, Hainan adalah provinsi terkecil dan paling selatan dari Republik Rakyat Cina.

Roda pesawat menjejak landasan, dan mata ini tak berhenti membeliak ingin tahu ke berbagai penjuru, mengamat-amati daratan baru. Halo, Haikou. Akhirnya bertemu juga denganmu…


Bandara Internasional Haikou berada di distrik Meilan, di bagian tenggara kota. Dari media yang gue baca di lini masa, bandara ini sudah menorehkan prestasi membanggakan. Jadilah sederet bayangan tercipta di angan-angan. Tapi, terkadang harapan memang tak sesuai kenyataan.

Kiri: petunjuk arah di depan bandara
Kanan, atas: formulir imigrasi, bawah: aula kedatangan

Bayangan bandara yang megah dan besar itu luruh sesaat setelah kaki melangkah keluar badan pesawat. Nggak ada garbarata. Kami naik bus yang sudah disediakan untuk mencapai gedung bandara. Jaraknya juga hanya beberapa puluh meter.

Memasuki gedung bandara, gue kembali “kecewa” melihat ruang imigrasi yang seuplik. Ini adalah langkah-langkah yang gue lakukan:

  • Mengisi Immigration Card
  • Memindai (scan) jari-jari di mesin yang disediakan
  • Melalui tabung pemindai tubuh
  • Menghadap loket imigrasi dengan membawa paspor + visa, kartu imigrasi, dan kertas struk dari mesin pemindai jari.

Sama sekali nggak ada komunikasi dengan petugas di loket imigrasi.

Setelah berjalan melalui area klaim bagasi, tiba-tiba gue sudah berada di aula kedatangan. Gue mengamati kondisi sekitar, dan syok karena sama sekali nggak ada tempat makan atau bahkan sekadar minimarket. Hanya ada area duduk di ruang memanjang, tourism information center, dan toilet. Di depan sana udah keluar gedung bandara.

Udah? Gini doang, nih? Ini mah cuma kayak Bandara Macau! Bandara Husein Sastranegara Bandung aja nggak gini-gini amat, masih ada banyak tempat makan dan vendor komersil lainnya.

Lobi Terminal Internasional Bandara Meilan Haikou, Hainan

Akhirnya gue cuma boker (eh, ini penting lho diceritain), duduk-duduk sebentar buat mengaktifkan modem wifi dari JavaMifi, merespon semua notifikasi media sosial dan chatting, lalu menghampiri mbak-mbak tourism center. Iya, nggak ada watergun atau bidet di toilet, jadi gue cuma pake tisu yang disediakan. Oh, I’m fine with that.

Gue udah tau kalo Bandara Haikou ini terhubung dengan stasiun kereta cepat dan kereta komuter, tapi gue nggak melihat petunjuk arah untuk mengakses stasiun, makanya gue harus bertanya ke petugas tourism center. You know what? Mbak-mbak itu nggak bisa bahasa Inggris! Dia menyodorkan mesin penerjemah seukuran kalkulator sebagai jembatan kami berkomunikasi. Ini kocak banget, baru kali ini gue ketemu petugas tourism center yang nggak bisa bahasa Inggris.

Mbak-mbak Hainan Tourism Center yang nggak bisa bahasa Inggris

Free Shuttle Bus di Haikou Meilan Airport

Tapi ya sudah, gue mendapatkan informasi yang gue butuhkan. Gue berjalan keluar gedung, lalu naik free yellow shuttle bus menuju Domestic Terminal Haikou Meilan International Airport. Karena merupakan lajur satu arah, jadi bus harus mengambil rute memutar untuk menuju terminal domestik. Tapi kalo kamu mau jalan kaki, tinggal ambil arah kiri sejauh 800 meter. Kadang bus itu memang agak lama.


Begitu tiba di depan gedung terminal domestik Bandara Haikou, mata gue langsung menangkap keberadaan mesin-mesin tiket kereta di bagian kanan pintu masuk. Di seberang mesin-mesin itulah akses menuju Meilan Railway Station untuk naik kereta cepat dan kereta komuter Haikou Suburban Train. Yay, agenda pertama di Hainan bakal langsung bersentuhan dengan kereta lokalnya!

Mesin tiket kereta komuter Haikou Suburban Train

Pintu masuk ke dalam Meilan Railway Station, Haikou Airport

Hasil gambar untuk haikou suburban train

Padahal keretanya keren kayak gini

Namun semangat gue surut seketika karena ternyata… NGGAK ADA OPSI BAHASA INGGRIS DI MESIN. Xianying. Gue tetap berusaha mencoba dengan seni menerka-nerka. Biasanya, mesin tiket kereta itu punya alur yang sama untuk pembelian tiket. Oh iya, trik ini juga harus dibantu dengan cek nama stasiun tujuan gue, Haikou East, dalam aksara kanji. Hampir semua proses berhasil gue lalui hingga tahap terakhir yang sepertinya adalah tahap pembayaran. Mesinnya nggak terima cash, dan semua kartu bank gue juga nggak ada yang bisa masuk.

Gue menyerah, lalu berjalan lesu masuk ke dalam gedung bandara. Makan dulu sanah.

Begitu melalui pintu, seorang petugas langsung sigap berdiri dan menghalangi langkah selanjutnya. Badan sama mukanya sih imut-imut, tapi tatapan matanya tajam dan suaranya tegas.

“Where you going?”

“I want to eat,” jawab gue sambil menggunakan bahasa tubuh.

“Are you sick?”

Sebenernya pengen gue iyakan, tapi gue jawab, “No.”

“What do you want to eat? Burger?”

“Anything.”

Mas-mas itu lalu menunjuk ke arah restoran-restoran berada dan membuka partisi untuk gue lewat. Bahasa Inggrisnya bagus lho, baik grammar maupun pengucapannya. Ternyata orangnya helpful juga, hehe.


Begitu melihat bagaimana isi terminal domestik itu, gue berseru di dalam hati, “Naaahhh, ini baru bandara yang bener! Luas, modern, bersih, elegan, dan ada tempat makan.” Gue nggak habis pikir kenapa terminal internasional bisa sesederhana itu sementara terminal domestik sebagus ini. Kesannya kayak masih belum serius menggarap pasar wisatawan asing.

McD at Domestic Terminal, Haikou Meilan Airport

Haikou Meilan Airport’s Domestic Terminal, ada Burger King di sebelah kanan

Kiri: modem wifi JavaMifi in action!
Kanan: kopi panas 29 CNY di McCafe

Kali itu gue memilih nongkrong di McCafe. Cuma sanggup beli secangkir cappuccino panas tanpa makanan karena harganya aja udah 29 CNY. Yang penting udah bisa nukerin duit.

Selesai memuaskan jiwa dengan kopi, gue berjalan keluar gedung, lalu menyeberangi jalan yang lebar menuju Ground Traffic Center (GTC). Mungkin GTC ini mau difungsikan sebagai bangunan multifungsi seperti KL Sentral di Malaysia karena ada bagian ber-AC seperti mall dan bagian yang seperti tempat parkir bawah tanah. Tapi area komersilnya masih sepi, jadi gue langsung bergerak ke area terminal bus.

Dari informasi yang diberikan oleh pihak hostel melalui email, dari bandara gue bisa naik bus K4 lalu turun di perhentian Dadao Road. Ongkosnya 6 CNY atau sekitar Rp12.000,00. Puji Tuhan, Google Maps masih berfungsi baik dan ada passenger announcement (PA) di dalam bus. Meski PA-nya juga hanya bahasa Mandarin, yang penting ada informasi nama halte berikutnya. Berkat 2 teknologi itu, gue berhasil turun di halte yang benar. Terima kasih, Tuhan dan JavaMifi.

Berjalan keluar menuju Ground Traffic Center

Terminal bus di GTC Bandara Haikou

My K4 bus from Haikou Meilan Airport to Banana International Youth Hostel

Perjalanan dari bandara hingga ke hostel memakan waktu sekitar 1 jam, jadi ongkos 6 CNY itu terbilang murah banget. Kalo dihitung-hitung, dari mendarat sampai akhirnya tiba di hostel, gue butuh waktu lebih dari 4 jam! Sejauh ini, inilah momen kebingungan terlama saat mendarat di bandara. Namun, justru momen-momen kayak gini yang membuat gue semakin candu untuk belajar dalam perjalanan. So, keep learning by traveling, dan tunggu cerita selanjutnya.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *