Gempor di Singapore #12: Uncle White Ice Cream di Chinatown

Agak terlambat kami sampai di stasiun Chinatown, gara-gara petugas imigrasi yang ribet dan membuat kami harus menunggu bus Causeway Link selanjutnya dengan waktu yang agak lama. Kami keluar dari stasiun MRT, bergabung dengan keramaian orang-orang etnis Tionghoa dalam sebuah pusat perbelanjaan merakyat, semacam ITC versi bersih dan tanpa bau-bau aneh yang sulit diungkapkan.

Kios-kios makanan memenuhi tempat itu, menebar aroma Chinese food yang menggoda perut. Mengabaikan itu semua (padahal juga lagi laper), kami berjalan ke arah pintu keluar. Sebuah kuil kecil yang ditempatkan di salah satu sudut pusat perbelanjaan sempat menarik perhatian gue. Setiap orang melaluinya sambil memberikan salam hormat dengan menangkupkan kedua tangan, atau mengucapkan serentetan doa singkat kepada sang dewa. Gue udah siap jepret dari depan, namun Al buru-buru mengingatkan untuk mengambil posisi yang lebih sopan. Agak ke samping misalnya. Gue manut aja sih, daripada nanti kenapa-napa.

Gue seneng banget ketika akhirnya menemukan bapak-bapak penjual es krim gerobak yang ngetem di depan pusat perbelanjaan. Ehem, sebenernya bukan gue yang nemuin, tapi Al. Dia udah berdiri persis di samping kami berdua, tapi gue nggak nyadar. Ini dia, Uncle White Ice Cream yang selama ini gue idam-idamkan di Singapore.

Uncle White Ice Cream ini adalah sebuah es krim balok berwarna putih, atau mendekati putih (tergantung rasa yang dipilih), yang disajikan dengan dijepit di antara dua lembar wafer tipis. Ada banyak banget varian rasanya, gue sendiri memilih yang vanilla. Packaging-nya juga bersahaja banget, cuma dibungkus dalam sebuah kantong plastik bening berukuran kecil. Cara makannya, ya tinggal dimakan aja sih, pelan-pelan ehehe. Sebatangnya cukup ditebus dengan sekeping koin 1 SGD, jajanan enak murah meriah di Singapura.

Wan Wan Emoticons 30

Sayang banget kami nggak bisa eksplor Chinatown lebih jauh karena harus buru-buru ke bandara. Axall harus belanja beer dulu di sana, memenuhi permintaan temen-temennya (dan dirinya sendiri). Kami buru-buru kembali masuk ke dalam stasiun MRT, dan memilih Changi International Airport sebagai destinasi kami. Sedih banget kunjungan gue ke Singapore harus segera berakhir 😦

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *