Ini Dia Serunya Berkunjung ke Bangkok National Museum!

Mengkombinasikan antara bahasa isyarat dan bahasa dewa, ibu-ibu kondektur bus 524 itu memberitahu bahwa kami sudah sampai di Thanon Khaosan (Khaosan Road). Meski bukan merupakan sebuah bus rapid transit system seperti TransJakarta, namun bus-bus kota di Bangkok tertib menaikkan dan menurunkan penumpang di bus stop.

Khaosan Road tampak biasa saja saat siang hari. Hanya sebuah jalan yang tak terlalu lebar, diapit dengan bangunan-bangunan seukuran rumah yang difungsikan sebagai toko, kedai, hostel, atau 7-eleven. Setelah membeli makanan dan minuman dari 7-eleven untuk pengganjal perut, gue dan Dicky lalu berjalan kaki menuju Bangkok National Museum yang harusnya terletak tak jauh dari Khaosan Road.

 

SUPERTRIP 2 Episode 2: Ini Serunya Berkunjung ke Bangkok National Museum!

 

Berjalan kaki menjauhi Khaosan Road yang masih tenang, kami melalui sebuah pertigaan besar dan berjalan memutar hingga mencapai Sanam Luang — semacam alun-alun kerajaan yang rapi, dikelilingi dengan trotoar yang luas dan bersih. Sempat mencoba masuk ke National Gallery yang juga berada di sekitar tempat itu, namun kami urungkan karena tiket masuknya yang sama mahal dengan tiket masuk National Museum. Yah, namanya juga budget traveler, harus pinter-pinter milih pacar objek wisata.

Tiba di Bangkok National Museum, kami disambut dengan sebuah kompleks bangunan bergaya arsitektur tradisional ala Thai. Rupanya, setelah dicari tahu, National Museum ini memang menempati lahan Istana Wang Na, garda depan Grand Palace, yang dibangun untuk sang putra mahkota pada 1782.

The Palace of The Front ini menjadi tempat tinggal dari 5 Viceroy (deputy king), semacam pangeran atau putra mahkota yang biasanya dipilih dari saudara raja. Ke-5 Viceroy tersebut adalah:

  • Viceroy Maha Surasinghanat (1782-1803)
  • Viceroy Maha Senanurak (1809-1817)
  • Viceroy Maha Sakdi Polsep (1824-1832)
  • Deputy or Second King Pinklao (1851-1865)
  • Viceroy Wichaichan (1868-1865)

Bangkok National Museum diresmikan oleh King Rama V, yang pada mulanya difungsikan untuk menyimpan dan memamerkan koleksi pribadi dan koleksi dari sang ayahanda, King Rama IV (Raja Mongkut). Saat itu, pada 1887, Raja memindahkan Royal Museum yang sebelumnya berada di Paviliun Concordia (di Grand Palace) ke eks Istana Wang Na.

Akhirnya pada 1926, Raja Prajadhipok (Rama VII) secara penuh memfungsikan Istana Wang Na sebagai National Museum of Bangkok.

Biaya masuk untuk Bangkok National Museum adalah 200 THB, sekitar Rp 80.000,00 pada saat itu, 1 THB setara dengan 400 IDR. Tiket dapat dibeli di sebuah pos kecil di sudut kiri depan kompleks. Backpack kamu yang segede bagong bisa dititipkan di situ, karena tidak diperbolehkan membawa tas ke dalam museum. Kamera? Boleh. Malah, banyak yang foto-foto di dalam museum. Padahal, dari cerita dan artikel terdahulu, katanya nggak boleh bawa kamera di dalam museum. Hm, mungkin pihak museum berubah pikiran.

Museum dibagi ke dalam beberapa gedung yang masing-masing memiliki temanya sendiri-sendiri.

Kami memulai eksplorasi kami dari gedung paling depan, Sivamokhaphiman Hall yang difungsikan sebagai Gallery of Thai History. Gedung ini memuat koleksi-koleksi bersejarah dari era Sukhothai hingga Rattanakosin, dari Lanna hingga Bangkok kemudian. Di ruang pamer pertama ini, ada banyak patung-patung Buddha dan dewa-dewi dengan berbagai pose, wayang / boneka-bonekaan, topeng, dan artefak-artefak lainnya. Spot yang paling instagrammable buat foto-foto! #salahfokus

Tepat di samping Gallery of Thai History, berdiri reception hall bernama Phra Thinung Phutthaisawan (biasa disebut Kapel Phutthaisawan) yang kini difungsikan sebagai sebuah kapel Buddhist. Di dalamnya terdapat tiruan Phra Singh Buddha yang berada di tengah altar.

Beralih ke bagian yang lebih dalam, kami menemukan sebuah bangunan berwarna bergaya ala Tionghoa yang dibalut dengan warna merah pucat. Namanya adalah Tam Nak Daeng, warna dan gaya arsitekturnya tampak mencolok di tengah kungkungan bangunan-bangunan ala Thai di sekitarnya.

Menunda eksplorasi kain di Temporary Exhibition Gallery yang saat itu sedang dikerumuni segerombolan turis, gue meneruskan langkah hingga mencapai ruang pamer Royal Funeral Chariots yang ada di tepi utara kompleks. Royal Funeral Chariots ini menempati sebuah bangunan modern dengan langit-langit yang tinggi, dilengkapi dengan beberapa kipas angin besar di dalamnya.

Di sini dipamerkan kereta-kereta kencana dan atribut royal lainnya yang dipergunakan untuk pemakaman keluarga kerajaan. Gue terpana dengan balutan emas yang selalu ada di setiap kendaraan istana itu, dekorasi ukirnya yang detil, membayangkan betapa megah dan agungnya prosesi pemakaman keluarga kerajaan. Untungnya ada video dokumentasi di tengah ruangan, jadi gue nggak perlu berlama-lama dan lebay-lebayan mengimajinasikan sendiri bagaimana jalannya pemakaman itu. Maklum, daya imajinasi tingkat tinggi.

Lepas dari Royal Funeral Chariots, gue masuk ke gedung 4, Praphat Phiphitthaphan Building, yang menyimpan artefak-artefak Lanna, Sukhothai, Ayutthaya, hingga Rattanakosin yang sebagian besar berupa patung-patung Buddha dalam berbagai pose. Tapi bagian ini seperti setengah ditinggalkan. Satu-satunya pengunjung di dalamnya adalah gue, yang wira-wiri di antara ruang-ruang yang belum sepenuhnya tertata rapi.

Baca Juga: Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

Nggak berlama-lama, gue lalu keluar dan berjalan mengitari kompleks melalui bagian belakang yang terbengkalai. Ada perpustakaan dan kedai-kedai sederhana yang sedikit memberi geliat kehidupan.

Gue kemudian memasuki Issara Winitchai Hall Temporary Exhibition Gallery, yang sebenarnya merupakan bagian dari Gedung 5. Namun sayang bagian-bagian lain di belakang tidak dibuka. Di sini dipamerkan kain-kain tradisional Thai dari beberapa provinsi dan suku.

Wah, rupanya motifnya serupa dengan batik atau motif-motif kain tradisional lainnya di Indonesia. Sepertinya, motif-motif seperti itu memang lazim ditemukan di daerah-daerah Asia Tenggara. Serupa, namun tak sama. Saat gue coba cermati, motif baju adat Thai ini cenderung menonjolkan bentuk-bentuk persegi dan siku dengan warna-warna senada — merah, oranye, coklat, maroon, dsb.

Temporary Exhibition Gallery jadi tempat pamer terakhir yang gue eksplor di Bangkok National Museum. Keliling museum itu capek, broh! Mata dan isi kepala sudah merasa cukup menikmati koleksi yang ada.

Bangkok National Museum wajib kamu masukkan ke dalam agenda jalan-jalan kamu di Bangkok. Lokasinya sangat strategis, berada di sisi Sanam Luang, di depan Grand Palace. Dapat dicapai dengan bus kota Bangkok yang nyaman, misalnya jalur 82. Harga tiket masuknya setara dengan apa yang disajikan, ruang-ruang pamer berada dalam keadaan bersih dan segar, dilengkapi papan informasi dalam bahasa Thai dan bahasa Inggris. Kalau pun kamu nggak terlalu tertarik dengan sejarah dan budaya, Bangkok National Museum tetap worth a visit karena koleksinya yang mengagumkan! Museum ini digadang-gadang sebagai yang terlengkap di seantero Thailand, bisa bikin selfie dan fotografi kamu makin ngehits!

 

Gue lalu bertemu Dicky di depan Rumah Merah. Kami lalu bergegas keluar dan melanjutkan perjalanan menuju Grand Palace yang tinggal sejengkal saja di bawah mendung yang sudah menggantung. Sampai kemudian langkah kami dihentikan dengan turunnya hujan yang memaksa kami untuk mencari tempat berteduh.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *