Kejadian-Kejadian Apes Saat Traveling

Namanya juga hidup. Apes itu udah biasa, termasuk saat traveling. Gue juga nggak bebas dari kejadian-kejadian apes yang gue alami saat traveling, padahal gue adalah orang yang prepared dan main aman. Nggak ada yang tau musibah yang akan kita alami di masa depan, hanya Tuhan dan Doctor Strange yang tau.

So, without a further do, let the story begins…


Gue mulai dari kejadian yang menurut gue paling ngenes. Insiden ini terjadi bulan Agustus 2017 lalu di Yangon, Myanmar. Saat itu, gue baru saja turun dari bus kota di halte dekat Sule Pagoda bersama satu orang travelmate gue. Kami berjalan kaki menuju Bogyoke Market sambil sesekali memperhatikan Google Maps di smartphone sebagai petunjuk arah. Saat itu, kondisinya gue cuma bawa satu sling bag kecil Eiger, nggak bawa kamera.

Chauk Htat Gyi Yangon! Gara-garanya, sweater-nya gue lepas karena mau difoto terus gue taroh gitu aja di pagar pembatas di dalam kuil. Gue kelupaan, dan baru sadar saat kami udah sampe jalan raya. Gue buru-buru balik ke kuil, dan sweater gue udah nggak ada. Udah dicari keliling kuil dibantu petugas keamanan kuil, tapi tetep nggak ketemu.

Malamnya, gue meringkuk kedinginan saat bermalam di KLIA1 karena gue nggak bawa jaket atau sweater lainnya.


Ini baru banget kejadian bulan Mei 2019 lalu. Jadi, saat gue di dalam bus dari Macau ke Hong Kong dan niatnya cuma mau hapus satu foto yang menurut gue jelek, gue malah hapus satu album dong karena gue pikir gue udah buka file fotonya. Ternyata gue nggak sadar kalo foto itu jadi thumbnail album kamera, secara dia foto terbaru.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dan KLIA. Gue udah install beberapa aplikasi buat balikin foto, tapi nggak ada yang berhasil. Tentu saja, foto-foto selfie seharian di Macau yang udah susah payah diambil pake tripod juga lenyap.


Kita mundur semakin ke belakang yok, kejadian ini gue alami pada Juli 2016. Saat itu, gue dan peserta open trip mau nonton ladyboy cabaret show di Mambo Cabaret. Kabaret ini memang nggak populer, makanya harganya lebih murah. Sialnya, taksi yang kami naiki ini ngerjain kami. Cerita lengkapnya bisa disimak di podcast karena panjang banget.

Simak juga podcast gue lainnya hehe

Pertama, cara berkendaranya nggak nyaman banget, nggak smooth kayak naik angkot. Kedua, entah dia udah niat dari awal atau karena melihat celah kami yang nggak hafal tujuan kami, tapi kami diputer-puterin nggak jelas. Dia bilang, “Oh iya, emang jalannya nggak ke sini sih, tapi karena kalian suka banget pake Google Maps jadi saya ikutin aja.” Ngeselin bangeeettt! Bahkan setelah kami udah sadar dia kerjain pun, dia masih berusaha muter-muter.

Pertunjukkan ladyboy di Mambo Cabaret, Bangkok
Tergoda bujuk rayu syaiton nirozim

Long story short, pertunjukkan kabaretnya keren banget. Saat penonton berjalan keluar, para ladyboy yang tadi manggung berdiri berjajar di depan pintu keluar. Mereka mengulurkan tangannya, dan gue adalah salah satu penonton yang tergoda bujuk rayu iblis itu. Detik berikutnya, gue udah berada di antara 2 ladyboy dengan seorang cowok pemain kabaret yang fotoin kami. Eh ternyata bayar dong! Gue terpaksa kasih THB 100 yang ada di saku.


Gue nggak tau gimana penyakit kambuhan lainnya, tapi asma adalah penyakit kambuhan yang nggak enak banget. Meski cuma sedikit sesak, tapi udah nggak bikin nyaman ngapa-ngapain, termasuk tidur sekali pun. Sialnya ini terjadi saat gue ke Phuket pada April 2018 lalu.

Naik tuk-tuk bareng di Phuket

Gue udah nggak sehat sejak awal, pilek dan meriang, yang ternyata tentu saja jadi lebih parah di hari berikutnya. Hari ketiga, asma gue fix kambuh. Udah minum obat persediaan, tapi nyaris nggak ngefek. Padahal gue harus jalan kaki naik turun tanjakan buat nganterin temen gue ke jalan raya, balik lagi ke homestay, terus check-out dan ke kota karena harus naik bus ke bandara Phuket. Apesnya lagi, 2 travelmate gue udah cabut ke Krabi.

Pas ke Palembang Januari 2020 lalu asma gue juga kambuh parah saat dini hari di Bandara Soekarno-Hatta dan malam berikutnya di hotel. Setelah gue periksa ke rumah sakit bulan berikutnya, ternyata gue kena bronkhitis akut wkwkwk.


Kejadian apes pun pernah gue alami di negeri sendiri. Saat itu Agustus 2016, gue sewa bentor (becak motor) dari Masjid Raya Medan ke Istana Maimun, sarapan, beli oleh-oleh, terus ke Stasiun Medan. Sesingkat dan sedekat itu, nggak sampe setengah hari, coba cek di Google Maps. Gue habis dari Danau Toba dan berniat menghabiskan waktu setengah hari buat city tour di Medan.

Hampir aja gue lupa kejadian apes ini. Jaraknya yang deket dan frekwensinya yang sering bikin ke Jakarta itu nggak terasa kayak traveling. Tapi tetep aja, Jakarta adalah kota di luar Bandung yang berjarak lebih dari 3 jam perjalanan kereta api. Kejadiannya paling baru, bulan Januari 2020 kemarin saat gue ada hotel review job di All Sedayu Kelapa Gading.

Terjebak banjir di Kelapa Gading, Jakarta Utara | Januari 2020

Gue lalu tertatih-tatih jalan kaki menerabas banjir lebih dari 1 km ke stasiun LRT Jakarta. Celana, bagian bawah tas, bahkan sepatu gue udah basah karena sempat nggak sengaja lepas dari genggaman. Gue nggak berhasil cegat satu mobil pun, dan udah nggak ada kendaraan Dishub yang lewat. Padahal saat jalan kaki ke Cititrans, ada beberapa mobil yang nawarin.

Mendekati stasiun LRT, gue mampir beli sandal di Indomaret. Gue naik LRT sampe stasiun terakhir di Velodrome, ganti baju dan cuci tangan-kaki di toilet stasiun, lalu transfer ke busway. Gue turun di halte Dukuh Atas, lalu jalan kaki ke pool Xtrans. Puji Tuhan masih ada satu travel terakhir. Telat dikit aja, gue mungkin harus nginep semalam di Jakarta.


Di luar itu, masih ada beberapa kejadian not-so-nyesek lainnya yang gue alami saat traveling. Di antaranya adalah kartu ATM yang kelupaan di Bandara Soekarno-Hatta dan kartu kamar hotel di KL yang jatuh di tempat makan (thanks God abangnya lihat dan nyimpen). Air minum dan benda cair lainnya yang disita di bandara entah udah berapa kali hahaha.

Kalo kamu, ada kejadian apes aja yang kamu alami? Share di kolom komentar yak. Meski ngeselin, tapi mari kita keep learning by traveling~

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *