Kesengsem Lasem #3: Menikmati Alam di Pantai Caruban dan Watu Congol

Aku tak pernah tahu bahwa Lasem juga memiliki obyek wisata alam, seperti Pantai Caruban dan Watu Congol yang kami kunjungi saat itu. Ulasan blogger seputar Lasem biasanya hanya berputar-putar di antara Lawang Ombo, Omah Candu, dan bangunan-bangunan tua lainnya.

Obyek wisata Pantai Caruban kami kunjungi pada hari Sabtu sore, 20 Mei 2017. Sebelum mencapai pantai, kami melalui Pasarean Mbah Nyai Ageng Maloko Caruban.

pemakaman nyai ageng maloko caruban, lasem

Menurut cerita masyarakat, Nyai Ageng Maloko adalah anak pertama dari Sunan Ampel dengan nama asli Siti Syari’ah. Ketiga adiknya ialah Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Nyi Ageng Manila (istri Sunan Kalijaga, sama sekali taka da hubungannya dengan asal muasal kota Manila, Filipina, hehe).

Siti Syari’ah, sama seperti keluarganya yang lain, adalah seorang muslim yang taat. Ia dinikahkan dengan Wiranagara, putra dari Adipati Lasem yang bernama Wirabraja. Wiranagara, yang bukan seorang muslim, harus melakukan 3 syarat untuk dapat menikahi Siti Syari’ah. Pertama, ia harus membaca kalimat syahadat (yang artinya dia harus memeluk Islam), ia tak boleh melarang istrinya mengajar agama, dan ia harus menyediakan tempat khusus untuk pengajaran Islam istrinya. Maka, dibangunlah Gedung Mulyo di Dukuh Caruban.

pintu masuk komplek pemakaman nyai ageng maloko caruban, lasem

komplek makam nyai ageng maloko caruban, lasem

Setelah ayahnya mangkat, Wiranagara kembali ke Lasem untuk menduduki posisi Adipati Lasem yang baru. Ia memerintah selama 5 tahun dan wafat pada 1479. Anaknya adalah seorang putri, dan anak keduanya meninggal dunia, maka kepemimpinan diambil oleh Nyai Ageng Maloko sendiri.

Nyai Ageng Maloko akhirnya wafat pada usia 39 tahun, atau 11 tahun setelah ia menjabat sebagai Adipati Lasem. Makamnya berada di dalam cungkup paling tinggi, di titik paling utara.

pantai caruban, lasem

pantai caruban di lasem yang berpasir putih

butuh pelampung? ada di pantai caruban, lasem

Lepas dari makam, sebuah pantai nan landai dengan pasir putih kekuningan menyambut kami. Ombaknya tenang, setenang pepohonan rindang yang memayunginya.

Ah, sayang sekali aku datang dalam balutan celana panjang dan sepatu, dan terlalu malas untuk berganti baju saat itu. Beberapa menit pertama, aku hanya duduk di sebuah bangku bambu, sebelum akhirnya menghampiri Mbak Nova, mbak Lala, dan Zaim yang sedang berfoto di garis ombak terluar.

jelang sunset di pantai caruban, lasem

sunset dari bangku di pantai caruban, lasem

matahari tampak semakin kecil di pantai caruban, lasem

Sunset di Pantai Caruban tetap cantik seperti sunset-sunset di tempat lain. Paduan warna biru dan jingga mengisi langit, mengelilingi sang surya yang tampak sebesar kelereng di ufuk barat. Seiring dengan akhir tahtanya di langit hari itu, berakhir jugalah petualangan kami menyusuri Lasem hari itu.

 

Esok paginya, aku terbangun dengan kantuk berat yang membebani kelopak mataku, menggantung di kantung mataku. Mungkin sekitar pukul 4 pagi, atau 4:30, yang jelas tubuhku belum mendapat cukup istirahat. Menempuh perjalanan semalam suntuk dari Bandung ke Lasem, tanpa tidur nyenyak, lalu langsung disibukkan dengan itinerari trip dari pagi hingga malam.

Baca cerita sebelumnya: Klenteng Poo An Bio dan Rumah Oma Opa

berjalan menuju watu congol lasem

yang artinya: bunga tebu yang dibelai angin, kau dan aku tinggal kenangan

kholid zaim in action

Jika bukan karena open trip, aku akan memilih bangun siang semauku. Atau memperlonggar itinerari hari sebelumnya agar aku dapat tidur lebih awal dan bangun pagi-pagi buta dengan segar bugar. Pada akhirnya, aku mengalahkan egoku, memaksa tubuhku bangkit dari ranjang, menyeret kakiku menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci muka dan menggosok gigi. Dengan kaos oblong dan celana pendek di atas lutut yang lebih pas dikenakan di rumah, aku siap bertualang hari ini!

Obyek wisata Watu Congol rupanya berada tak jauh dari homestay kami. Kami tinggal berkendara terus ke atas melalui jalan raya (yang hanya memiliki dua lajur, khas jalan di desa-desa) di depan rumah, lalu berbelok ke kiri, masuk jalanan berbatu dan beraspal kasar yang membelah hutan.

Kami berhenti di depan sebuah gapura bambu sederhana, di sebelah warung makanan ala kadarnya. Dari situ, kami berjalan kaki sekitar 15-30 menit meniti jalan menanjak yang sudah dipaving dalam dua lajur, dengan lajur tengah yang disisakan untuk bebatuan. Ah, paving khas pedesaan ini mengingatkanku dengan rumah kakek dan nenek dari ibu di Klayar, kabupaten Gunung Kidul.

Baca ceritanya di: Terlambat Pulang

Perjalanan menuju puncak gemilang cahaya ini tak akan terasa terlalu melelahkan, karena banyak papan-papan kayu berisi sajak humor kekinian yang akan memancing senyum. Menghampiri puncak Watu Congol, penjual makanan dan minuman berjejer di kedua sisi.

pose sambil gemeteran di watu congol, lasem

Ada banyak titik foto menarik di Watu Congol. Dari Watu Congol-nya sendiri, rumah pohon, ayunan, kupu-kupu, Jomblo Cari Pacar, hingga jembatan bambu yang melintang di antara pepohonan.

Mas Yasir Yafiat, kawan blogger dari Kudus Jawa Tengah, menceritakan sebuah legenda menarik seputar asal muasal Watu Congol ini. Konon, Watu Congol ini adalah kepala seekor naga. Bentuk Watu Congol sendiri memang meyakinkan, sebuah batu yang tiba-tiba menonjol (“congol” dalam bahasa Jawa) di tepi tebing. Badannya ada di Kajar, dan ekornya ada di Laut Jawa. Namun saat aku berusaha mengorek informasi lebih jauh melalui internet, tak banyak sumber yang didapat. Tulisan soal Watu Congol sendiri masih sangat jarang.

watu congol lasem cocok buat latihan foto siluet
captured by: sakuntala verlista

jembatan gantung di watu congol lasem

Maka di sini, aku berterima kasih kepada Vakansinesia yang telah membawaku ke sini, hingga aku dapat menceritakannya kepadamu.

Menikmati pagi di Watu Congol adalah momen terindah dalam perjalanan singkat di Lasem ini. Dari atas sini, kami menikmati panorama yang mempertemukan hijau dan biru, antara hutan, laut, dan langit. Aku tersenyum puas ketika momen sunrise terekam dengan magis melalui bidikan gawaiku. Tanpa editing dan pengaturan yang aneh-aneh, hanya bagian matahari saja yang berwarna, sementara benda-benda lain di sekitarnya tampak (nyaris) hitam putih.

sunrise juara di watu congol lasem

sunrise juara di watu congol, lasem

Ingin rasanya menikmati sarapan di Watu Congol, menyeruput secangkir kopi hitam sachetan ditemani gorengan atau mie instan. Namun rupanya tim Vakansinesia memiliki rencana yang lebih baik untuk mengisi perut di pagi hari. Maka kami pun beranjak turun dan kembali ke penginapan.

Nah, antara Pantai Caruban sama Watu Congol, obyek wisata alam Lasem mana yang lebih kalian sukai? 😀

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *