Ketika Transportasi Umum di Jakarta Tak Kalah Nyaman dengan Kota-Kota Asia Tenggara

KRL Commuter Line tiba di Stasiun Gondangdia

Stasiun MRT Bandara Changi Singapura sukses membuat saya terperangah kala itu. Bulan Oktober tahun 2013 adalah momen yang tak akan pernah saya lupakan. Saat itu, untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan mandiri, pertama kalinya saya naik pesawat terbang, dan pertama kalinya menjejakkan kaki di luar negeri. Stasiun MRT itu tampil megah dengan langit-langit yang tinggi, peron yang luas, dan pintu peron yang dapat terbuka dan tertutup otomatis. Segala sesuatunya terlihat rapi, bersih, dan mengilap. Di dalam hati, saya berkata, “Kapan ya Jakarta bisa seperti ini?”

Di dalam perjalanan itulah, saya menemukan minat dan kecintaan saya kepada transportasi umum, khususnya transportasi berbasis rel. Kecintaan ini menumbuhkan antusiasme saya untuk berkelana ke negara-negara tetangga untuk mencari tahu seperti apa sistem perkeretaapian di sana, minimal untuk angkutan berbasis rel di dalam ibukotanya. Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Makau, dan Hong Kong adalah sederet destinasi yang berhasil saya kunjungi sejauh ini. Dari kota-kota yang pernah saya kunjungi, hanya Kuala Lumpur, Bangkok, dan Hong Kong yang sudah memiliki sistem angkutan massal berbasis rel seperti halnya Singapura.

Kereta LRT Kelana Jaya Line di KL Sentral, Kuala Lumpur

Enam tahun berselang sejak kedatangan pertama saya ke Singapura, ibukota kebanggaan saya akhirnya punya MRT juga! Saya menyambut berita peresmian MRT Jakarta itu dengan sukacita. Akhirnya, Jakarta mengejar ketertinggalan dengan ibukota-ibukota tetangganya. Bulan Mei 2019 ketika MRT Jakarta sudah beroperasi secara komersil, saya bela-belain datang ke Jakarta dari Bandung demi bisa menjajal MRT Jakarta, meski hanya menginap 1 malam di akhir pekan karena keterbatasan waktu sebagai seorang karyawan kantoran.

Lalu bagaimana MRT Jakarta, dan sistem transportasi umum di Jabodetabek secara umum, jika dibandingkan dengan Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok? Secara singkat, dapat saya katakan dengan bangga, bahwa kualitas transportasi umum di Jakarta sudah setara dengan kota-kota itu!

Baca juga: Memahami Transportasi Publik di Singapura (MRT, LRT, Bus, dan Sentosa Express)


Banyak yang tidak tahu, kalau Jakarta bukan satu-satunya kota di Asia Tenggara yang baru memiliki 1 jalur MRT. Kuala Lumpur, Malaysia, juga baru punya 1 jalur MRT. Jalur kereta yang sudah ada sebelumnya adalah jalur LRT, monorel, kereta komuter, dan kereta bandara yang nanti juga akan kita bahas di bawah. Namun, jalur MRT di Kuala Lumpur ini memang unggul soal panjang lintasan, mencapai lebih dari 50 kilometer! Sementara panjang lintasan MRT Jakarta baru 16 kilometer karena baru fase pertama. Dari jumlah jalur, Singapura adalah yang paling unggul dengan 5 jalur MRT (dan terus berkembang pesat), diikuti Bangkok sebanyak 4 jalur, itu juga bila kita asumsikan kedua jalur BTS/Skytrain di Bangkok sebagai MRT.

Baca ulasannya di: Berkenalan dengan MRT Kuala Lumpur

Tangga, eskalator, dan elevator tersedia di dalam stasiun MRT Jakarta

Salah satu akses di Stasiun MRT Jakarta Bundaran HI

Gerbang masuk area berbayar MRT Jakarta

Pintu peron di stasiun bawah tanah Bundaran HI

Dari fasilitas stasiun, stasiun-stasiun MRT Jakarta tak ada bedanya dengan ketiga kota lainnya. Stasiun dilengkapi dengan tangga manual, eskalator, elevator, mesin tiket, loket petugas, pintu gerbang masuk/keluar otomatis, dan pintu peron―baik di stasiun bawah tanah maupun stasiun layang. Aturan yang diberlakukan pun kurang lebih sama, seperti tidak boleh makan, minum, merokok, dan membuang sampah sembarangan.

Stasiun-stasiun MRT Jakarta juga sudah terintegrasi baik dengan moda transportasi dan fasilitas umum lainnya. Contohnya adalah Stasiun MRT Bundaran HI dengan halte TransJakarta Bundaran HI, Stasiun MRT Dukuh Atas dengan Stasiun Sudirman dan Stasiun BNI City, dan Stasiun MRT Blok M dengan Blok M Plaza. Integrasi dan konektivitas ini sangat penting untuk menunjang kenyamanan penumpang yang naik/turun dan berganti moda.

MRT Jakarta

Kereta MRT Jakarta yang sepi di hari Minggu tengah malam

MRT Jakarta Review and Travel Guide

Meski belum driverless, namun kenyamanan kereta Ratangga MRT Jakarta ini sudah sepadan dengan kereta MRT di Singapura, KL, dan Bangkok. Kereta dilengkapi dengan AC yang sejuk, pengumuman penumpang (passengers announcement) dalam 2 bahasa, kursi prioritas, pintu otomatis, bahkan informasi pada layar digital yang menunjukkan pintu sisi mana yang akan terbuka dan posisi gerbong saat berhenti. Seingat saya, baru di MRT Jakarta ini saya melihat adanya informasi lokasi gerbong. Teknologi yang diterapkan pada MRT Jakarta adalah Grade of Automation 2 (GoA2), di mana masinis hanya mengendalikan keberangkatan dan buka tutup pintu kereta. Selebihnya, seperti perjalanan kereta dan perubahan kecepatan, diatur secara otomatis oleh sistem. Jadi, bisa dikatakan kereta MRT Jakarta ini sudah semi otomatis.


Kita patut berbangga, Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah satu dari 3 bandara di Asia Tenggara yang dilengkapi dengan airport skytrain, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan kalayang. Selain Bandara Soetta, skytrain di Asia Tenggara hanya bisa ditemukan di Changi International Airport dan Kuala Lumpur International Airport. Bahkan Bandara Suvarnabhumi di Bangkok pun belum dilengkapi fasilitas ini. Skytrain menghubungkan ketiga terminal di Bandara Soetta, beroperasi dari sekitar jam 4 pagi hingga lewat tengah malam. Tak hanya sekadar ada, skytrain Bandara Soetta ini juga modern, rapi, dan bersih, lengkap dengan pintu otomatis pada peron dan kereta. Satu rangkaian terdiri dari 2 kereta. Ada banyak tempat duduk sehingga penumpang bisa naik dengan nyaman, tidak seperti skytrain di Changi yang minim bangku penumpang.

Sebuah skytrain di Terminal 2, Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Tiba di stasiun skytrain Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Jadwal Kalayang (Skytrain) Bandara Soekarno-Hatta

Jika sebelumnya jembatan penghubung dengan stasiun skytrain hanya ada di Terminal 3, sekarang Terminal 2 juga sudah terhubung ke stasiun skytrain dengan jembatan pedestrian yang disebut skybridge. Ini tentu menambah kenyamanan penumpang, nggak perlu lagi acara geret-geret koper menyeberang jalan. Saya sudah mencoba sendiri skybridge ini dalam rangkaian perjalanan ke Hainan beberapa hari lalu. Namun karena saya terburu-buru, jadi nggak sempat foto-foto saat itu. Sistem skytrain ini juga sudah terintegrasi dengan sistem kereta bandara.

Kalayang yang mulai beroperasi sejak 17 September 2017 ini merupakan gebrakan pertama Joko Widodo – Jusuf Kalla melalui Kementerian Perhubungan atau Kemenhub dalam hal pembangunan transportasi umum berbasis rel di wilayah Jabodetabek. Sebelum ada kereta bandara, MRT, dan LRT Jakarta, kalayang inilah yang lebih dulu ada. Sebelum ada kalayang, penumpang yang salah terminal atau harus berganti terminal di periode transit hanya bisa mengandalkan bus atau taksi yang lama tempuhnya nggak bisa diprediksi karena lalu lintas yang horor! Berkat kalayang, jarak tempuh antar terminal bisa dipangkas dalam waktu 5-7 menit.

Baca ulasannya di: Skytrain, Connecting The 3 Terminals of Soekarno-Hatta International Airport

Papan petunjuk di stasiun skytrain Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Menyusul kalayang atau skytrain, kereta bandara Soekarno-Hatta yang bernama Airport Railink Service (ARS) diluncurkan pada 26 September 2017. Saat itu, kereta baru melayani rute Bandara Soekarno-Hatta – BNI City (Sudirman Baru) dengan lama tempuh sekitar 50 menit perjalanan. Baru-baru ini, kereta bandara akhirnya melayani rute Stasiun Manggarai. Penumpang yang naik KRL Jakarta-Bogor dan Jakarta-Bekasi kini bisa dengan nyaman berpindah ke kereta bandara di Stasiun Manggarai. Penumpang MRT Jakarta bisa turun di Stasiun MRT Dukuh Atas dan berpindah ke Stasiun BNI City karena sudah ada akses pejalan kaki yang bebas dari kendaraan bermotor. Kereta beroperasi setiap 30 menit dari jam 5:10-21:40 (untuk keberangkatan dari Manggarai) dan jam 6:20-23:20 untuk rute sebaliknya.

Selain Indonesia, hanya Malaysia, Thailand (tepatnya di Bangkok), dan Kamboja (yang diluncurkan baru-baru ini) yang memiliki kereta bandara. Kereta bandara Soekarno-Hatta ini menurut saya sudah nyaris head to head dengan KLIA Ekspres di Malaysia. Interior keretanya elegan, kursi ditata berbaris 2-2, ruang koper yang lega, dan bahkan ada USB port. Sementara kereta yang melayani Bandara Changi adalah kereta MRT dan kereta yang melayani Bandara Suvarnabhumi mirip seperti kereta komuter. Sementara kereta bandara Phnom Penh di Kamboja, yah, namanya juga negara yang belum lama bangkit, jadi maklum dengan teknologi kereta yang belum secanggih kota-kota Asia Tenggara lainnya. Selain di mesin tiket, tiket kereta bandara Soekarno-Hatta juga bisa dibeli online di website resmi ARS dan online travel agent lainnya.

Baca ulasannya di: Going to Jakarta Riding The Soekarno-Hatta’s Airport Train

Kereta bandara Soekarno-Hatta

Di dalam Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Tak hanya Bandara Soekarno-Hatta, kereta bandara juga hadir di Bandara Kualanamu Sumatera Utara, Bandara Minangkabau Sumatera Barat, dan kelak akan disusul oleh Solo. Malah, ARS Bandara Kualanamu lebih dulu beroperasi daripada ARS Soekarno-Hatta. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang terhubung dengan jalur LRT, sementara Bandara Adi Sucipto di Yogyakarta dilayani oleh kereta Prambanan Ekspres. Mudah-mudahan pembangunan kereta bandara terus dilanjutkan di berbagai daerah ya, agar lebih banyak bandara Indonesia yang nyaman diakses. Ngomong-ngomong, saya juga sudah mencoba kereta Solo Ekspres yang kelak akan dipakai untuk kereta bandara Solo. Modelnya serupa dengan kereta Minangkabau Ekspres.

Baca ulasannya di: Pengalaman Baru Naik Kereta Api Solo Ekspres

Di masa pemerintahan Jokowi-Kalla periode 2014-2019, sederet bandara di Indonesia memenangkan penghargaan internasional! Yang terbaru, pada Airport Quality Service (AQS) Awards 2018 yang dirilis Maret 2019 dan telah menyurvei tak kurang dari 90 negara, 7 bandara Indonesia meraih penghargaan. Ketujuh bandara ini adalah:

  • Bandara Sepinggan Balikpapan: Best Airport, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara dengan 5-15 juta penumpang per tahun
  • Bandara Sultan Thaha Jambi: Best Airport, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara di bawah 2 juta penumpang per tahun
  • Bandara Depati Amir Pangkalpinang: Best Airport, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara di bawah 2 juta penumpang per tahun
  • Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang: Best Airport, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara 2-5 juta penumpang per tahun
  • Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru: Best Airport, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara 2-5 juta penumpang per tahun
  • Bandara Siborong-borong (Sumatera Utara): Most Improved Airport in Asia-Pacific, Best Environment & Ambience, Best Customer Service, dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara di bawah 2 juta penumpang per tahun
  • Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang: Best Environment & Ambience dan Best Infrastructure & Facilitation kategori bandara di bawah 2 juta penumpang per tahun.
Tiba di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Lalu bagaimana dengan Bandara Soekarno-Hatta? Dalam World’s Best Airport Award 2018 versi Skytrax, Soetta berada di urutan 45, lalu naik 5 peringkat di tahun 2019. Sekilas memang bukan di urutan tinggi, namun di region Asia Tenggara, Soetta lebih unggul dari KLIA di Malaysia dan Suvarnabhumi Airport Bangkok. Membanggakan! Masih dari Skytrax di tahun 2018, penghargaan bintang 4 diberikan kepada Bandara Kualanamu, Bandara SMB II Palembang, dan Bandara SSK II Pekanbaru. Sementara Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali mendapatkan bintang 3.

Dari bandara-bandara di atas, baru Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kualanamu, Bandara Depati Amir, dan Bandara SMB II Palembang saja yang pernah saya kunjungi. Semuanya modern, nyaman, rapi, dan bersih, jadi nggak heran kalau mendapatkan penghargaan. Ini adalah bukti bahwa sektor transportasi udara kita sudah diakui dunia internasional! Ini juga menjadi bukti bahwa pembangunan dilakukan secara lebih merata.


Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Malaysia yang memiliki sistem kereta komuter. Kereta komuter di Malaysia hanya ada 2 jalur, Laluan Seremban dan Laluan Klang, menjangkau kawasan metropolitan Klang Valley hingga Negeri Sembilan. Urusan jalur, KRL Jabodetabek atau Commuter Line unggul dengan 5 jalur sehingga mempermudah warga dari berbagai sudut untuk menjangkau layanan ini.

Baca ulasannya di: Memahami Transportasi Publik di Kuala Lumpur

Passengers boarding at Sudirman Station

Jakartans inside the coaches

KRL Commuter Line terus berbenah. Saya masih ingat, ketika dulu ke Jakarta saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa, KRL itu kotor dan nggak nyaman. Sekarang, kereta dan stasiunnya sudah bersih, stasiun-stasiun dirapikan dan direnovasi, konektivitas antar moda ditingkatkan, mesin-mesin tiket dipasang, akses antar peron juga dipernyaman sehingga penumpang tidak perlu menyeberang jalur rel saat ingin berpindah peron. Salah satu inovasi terbaru KRL Commuter Line ini adalah kehadiran pengumuman penumpang seperti layaknya di kereta MRT.

Dalam pemerintahan Jokowi-Kalla 2014-2019, tercatat ada tak kurang dari 4 stasiun baru yang dibangun Kemenhub untuk KRL Commuter Line. Keempatnya adalah Stasiun Bekasi Timur, Stasiun Cibitung, Stasiun Cikarang, dan Stasiun Cisauk BSD City. Keempatnya memiliki desain bangunan dan fasilitas selayaknya stasiun MRT. Relasi Jakarta Kota – Bekasi yang semula hanya sampai Bekasi, kini diperpanjang hingga Stasiun Cikarang.

Stasiun KRL Commuter Line Tanah Abang, Jakarta

Stasiun KRL Commuter Line Palmerah

Saya paling suka naik KRL Commuter Line di Stasiun Jayakarta, Mangga Besar, Sawah Besar, Juanda, Gondangdia, dan Cikini. Karena stasiunnya berupa jalur layang (bukan jalur menapak tanah atau on-ground), jadi seperti naik MRT aja gitu.


Selain MRT, Jakarta juga sekarang sudah punya LRT. Selain Indonesia, negara Asia Tenggara lainnya yang memiliki sistem LRT adalah Singapura, Malaysia, dan Filipina. Namun karena saya belum pernah mencoba LRT Manila (dan LRT Palembang yang sudah lebih dulu ada sebelum LRT Jakarta), pembahasan LRT ini akan saya fokuskan pada Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura.

Hasil gambar untuk lrt jakarta

Dari segi desain, kereta LRT Jakarta ini mirip dengan kalayang Bandara Soekarno-Hatta yang sama-sama diproduksi Hyundai, Korea Selatan. Desain LRT kita sudah sama-sama modern dengan desain kereta LRT di Kuala Lumpur dan Singapura. Seluruh jalur LRT Jakarta dibangun melayang di atas tanah atau elevated sama seperti LRT Singapura, sementara jalur LRT di Malaysia ada yang jalur layang, jalur bawah tanah, dan jalur menapak tanah (on-ground).

Dibandingkan dengan LRT Kuala Lumpur dan Singapura, kita patut berbangga lho dengan LRT Jakarta. Pasalnya, peron stasiun LRT Jakarta dilengkapi dengan pintu peron otomatis (automatic platform screen doors). Di Kuala Lumpur, pintu peron otomatis ini hanya didapati di kelima stasiun bawah tanahnya, yaitu dari Stasiun Masjid Jamek hingga Stasiun Ampang Park pada Laluan Kelana Jaya.

LRT di Singapura

Stasiun LRT KLCC untuk Laluan Kelana Jaya, salah satu stasiun bawah tanah

Baca ceritanya di: Membaur Bersama Singapura dengan LRT

Selain LRT Jakarta yang saat ini beroperasi menghubungkan Velodrome hingga Pegangsaan Dua sejauh 6 kilometer, ada satu proyek LRT lagi yang juga sedang dikerjakan di Jakarta: LRT Jabodebek. Pembangunan LRT Jabodebek ini memang sekilas terkesan lama. Ini karena LRT Jabodebek langsung mengerjakan 3 lintasan sekaligus, yaitu Dukuh Atas – Cawang, Cawang – Cibubur, dan Cawang – Bekasi. Saat ini, pembangunan LRT Jabodebek secara keseluruhan sudah mencapai lebih dari 66%, dengan lintas Cawang – Cibubur memiliki kemajuan terbanyak hingga lebih dari 85%. Saya benar-benar nggak sabar menunggu LRT Jabodebek mulai beroperasi! Nantinya, LRT Jabodebek akan memiliki panjang lintasan hingga 44 km dan terhubung dengan MRT Jakarta.


Kita juga patut berbangga, karena sistem bus rapid transit di ibukota kita, TransJakarta, didapuk sebagai BRT terpanjang di dunia! Rekor ini bahkan melebihi TransMilenio, BRT di Bogota yang konon menjadi inspirasi pembangunan TransJakarta. Tidak heran, karena saat ini jalur TransJakarta sudah mencapai lebih dari 251 kilometer dan beroperasi 24 jam.

Salah satu armada busway TransJakarta

Halte BRT TransJakarta yang sudah direnovasi

Sejak pertama kali beroperasi di tahun 2004, TransJakarta sekarang juga semakin berbenah agar selaras dengan MRT/LRT Jakarta yang baru dibangun. Selain armada bus baru dari SCANIA yang lebih nyaman, halte-halte TransJakarta yang sudah direnovasi sekarang dipernyaman dengan peron yang lebih lebar, kehadiran pintu peron, informasi kedatangan bus, dan bahkan jembatan-jembatan penyeberangan instagrammable yang menjadi sasaran obyek foto media sosial! Wah, sekarang naik transportasi umum tak hanya lebih aman dan nyaman, tapi juga lebih bergengsi.

Saat ini layanan bus di Jabodetabek juga tak hanya dilayani TransJakarta, tapi juga sudah ada Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB), TransJabodetabek, MiniTrans, dan Royal Trans. Tentunya ini memperkaya opsi transportasi umum untuk warga. Halte-halte TransJakarta yang terletak dekat stasiun MRT, LRT, dan KRL Commuter Line juga sudah direnovasi agar memiliki konektivitas antarmoda yang baik.

Kereta BTS di Bangkok melaju di area Victory Monument

Mesin tiket BTS Bangkok, perhatikan peta dan petunjuk harga di papan sebelah kanan

Selain Jakarta, sistem bus seperti BRT ini juga hadir di beberapa kota besar di Indonesia seperti TransJogja, Trans Semarang, Batik Solo Trans, dan Trans Musi. Jadi tak hanya warga ibukota saja yang sekarang mudah bepergian di dalam kotanya. Di Asia Tenggara, BRT hanya hadir di beberapa kota, seperti Bangkok, Kuala Lumpur (BRT Sunway Line), dan Hanoi. Masing-masing hanya satu jalur, dan ketiganya juga tergolong kurang diminati warga meski sebenarnya juga sudah nyaman.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok (BTS/Skytrain, MRT, Airport Rail Link, Chao Praya Express, dan Bus)


Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat bangga dengan kinerja Kemenhub di bidang transportasi umum dalam era pemerintahan Jokowi-Kalla 2014-2019. Bepergian antarkota dan di dalam kota sekarang, walaupun belum sempurna, tapi sudah jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Kalau mau bepergian dengan pesawat terbang, sudah ada bandara-bandara yang modern dan nyaman. Transportasi di dalam kota pun sudah ada bus kota atau BRT yang nyaman, bahkan sudah ada sistem kereta urban di Jakarta.

Lalu kalau mau bepergian antarkota di Pulau Jawa, bisa naik kereta api yang nyaman atau berkendara di atas jalan-jalan tol baru yang mulus. Udah nggak ada lagi acara berdiri atau ngemper desek-desekkan di dalam kereta, seluruh penumpang duduk dengan nyaman di kursi masing-masing. Keretanya bersih, ber-AC, dilengkapi colokan listrik, dan bisa memesan makan dan minum. Pemesanan tiket kereta api pun sudah banyak tersedia di kanal online sehingga sangat memudahkan penumpang.

Ikuti terus perkembangan pembangunan infrastruktur transportasi Indonesia di kanal-kanal berikut:

Interior kereta api Solo Ekspres

Kereta api Argo Parahyangan Economy Premium

Saya sangat bersyukur atas pembangunan yang Kemenhub lakukan dalam 5 tahun terakhir. Maka, sebagai timbal baliknya, sudah menjadi tugas kita untuk menjaga infrastruktur yang sudah ada agar tetap bersih, rapi, dan nyaman. Transportasi kita adalah denyut nadi kehidupan sehari-hari kita. Mau lancar atau tersendat, kita sendiri yang menentukan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *