KLIA2 Airport: Selayang Pandang

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 2

Pesawat AK347 kami mengudara selama kurang lebih 3 jam. Selama perjalanan itu, gue duduk di samping seorang pemuda berdarah Jawa-India yang berniat pergi ke Penang untuk berobat bersama keluarganya. Kami mendarat di KLIA2 Airport sekitar pukul 17.00 waktu setempat (lebih cepat satu jam daripada Waktu Indonesia Barat). Bandara ini masih terbilang baru. Air Asia yang biasanya beroperasi di LCCT, per 9 Mei 2014 memindahkan kegiatan operasionalnya ke bandara baru ini. Belum banyak blog yang membahas bandara ini, apalagi blog Indonesia. Maka dari itu, Aska berinisiatif mengajak gue untuk lebih dulu menjelajah bandara ini buat bahan blog gue.

Kami masuk ke dalam gedung bandara melalui sebuah lorong yang dinginnya keterlaluan. Cukup jauh kami berjalan, sampai kami terhenti di depan sebuah pintu masuk yang tak dapat dibuka. Antrian terhambat selama beberapa menit, hingga para pramugari turun tangan dan para penumpang dapat masuk ke dalam bandara.

Iring-iringan penumpang terbagi ke dalam beberapa antrian kecil di bagian Imigresen / Immigration. Tidak perlu mengisi form imigrasi seperti di Changi Airport, Singapura. Kami hanya menyerahkan passport kepada petugas untuk ditindaklanjuti (mungkin di-scan), lalu petugas akan meminta kami untuk menempelkan kedua jari telunjuk di atas sebuah lempengan kaca mesin biometri.

Entah bagaimana dengan KLIA Airport, tapi KLIA2 Airport ini mengingatkan gue dengan Changi Airport, Singapura. Gue menemukan sebuah beer shop, seperti halnya di Changi, yang berukuran lebih kecil dan sedikit lebih sepi. Tapi beer shop-nya tetap elegan kok.

Kami berjalan semakin dalam, meninggalkan hiruk pikuk orang-orang yang sibuk dengan urusan penerbangan atau imigrasinya. Kami memasuki bagian bandara dengan gerai-gerai makanan yang tersebar di berbaga titik. Ada Old Town White Coffee, Starbucks, ChaTime, McD, Nanny’s Pavillon, Burger King, Marry Brown, dan jajaran tempat makan premium lainnya. Untuk sesaat, gue ngerasa lagi di dalam mal, bukan bandara!

Selain jajaran gerai makanan, deretan gerai pakaian pun memiliki tempat tersendiri di bandara ini. Ada juga Jaya Grocer, KK Mart, dan minimarket sejenis di dalam gedung bandara. Nggak tahu deh apakah ada bioskop mini atau fasilitas lainnya seperti di Changi Airport, tapi yang jelas ada wifi-nya.

Yang bikin gue salut dengan bandara ini adalah adanya papan informasi yang jelas dan memudahkan pengunjung. Tinggal ikuti saja petunjuk yang diberikan untuk menuju Stasiun KLIA Transit, KLIA Ekspres, Pemberhentian Teksi, atau Platform Bas. Kalau masih bingung, ada petugas yang udah standby di balik meja Tourist Information Center yang fasih berbahasa Inggris — meski dengan logat Melayu yang kental.

KLIA Ekpsres juga menjadi tempat pemberangkatan ke beberapa kota lainnya di Malaysia, seperti ke Melaka dan Genting. Tiketnya bisa kamu beli online di Bookaway.

Bagian dari bandara yang paling gue suka adalah Skybridge yang ada di lantai paling atas. Skybridge ini berupa sebuah ruang beratap transparan yang menghubungkan kedua sayap gedung. Ada huruf-huruf balok besar bertuliskan KLIA2 yang wajib buat foto-foto sebagai tanda sah udah pernah menginjakkan kakinya di bandara ini, hehe. Bangku-bangku panjang disediakan untuk tempat pengunjung bersantai dan beristirahat. Dari Skybridge, pengunjung bisa menuju ke bagian balkon untuk menikmati pemandangan dari ketinggian.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Merasa sudah cukup menjelajah, kami bergegas menuju lantai 1 sesuai arahan petugas untuk membeli tiket bas menuju KL Sentral. Selain dengan bas, kamu juga bisa menuju KL Sentral dengan KLIA Ekspres, tapi tarifnya 35 RM. Sementara kalau kamu naik bas, tiketnya hanya seharga 10 RM — nggak sampai sepertiganya! Meskipun waktu tempuhnya lebih lama, tapi kami rela memilih moda transportasi ini demi nama “penghematan” 😀

Kaunter bas ada di bagian kiri dari arah turun lift dengan kondisi yang sepi, berbanding terbalik dengan kaunter teksi (kereta sewa) di bagian kanan yang antriannya cukup panjang. Horang kayah! Karena bas akan berangkat 10 menit lagi pada pukul 18.20, maka kami pun langsung masuk ke dalam bas yang sudah menunggu di luar. Interval keberangkatan bas ini cukup rapid kok, jadi nggak perlu khawatir bakal berlama-lama nungguin bas sampai jamuran. Bas menuju KL Sentral ini berangkat dari Bandara LCCT, jadi kamu nggak usah bingung kalau pesawat kamu mendarat di KLIA Airport atau LCCT.

Lalu gimana suasana di dalam bas? Kayak DAMRI banget sumfah! Nggak ada interior atau eksterior yang memukau. Kursinya pun memiliki warna biru tua dan motif yang mirip dengan DAMRI Dipati Ukur – Jatinangor. Duh, jadi inget masa kuliah.

Bas melaju dengan kecepatan sedang melalui jalan tol (highway) dengan pemandangan jajaran kelapa sawit dan rumput liar yang membosankan. Kadang tampak beberapa proyek hunian — baik yang bertingkat maupun yang berupa kompleks — yang sedang dikerjakan. Selama beberapa saat, gue sama sekali nggak merasa lagi di luar negeri. Jalan tolnya tampak sama aja dengan jalan tol di Indonesia. Ya pagar pembatasnya, ya aspal kusamnya. Bedanya, di sini sepeda motor masih diperbolehkan masuk (atau mungkin ada bagian jalan tol yang boleh dimasuki sepeda motor).

Mendekati pusat kota Kuala Lumpur, gedung-gedung modern yang menjulang tinggi tampak semakin rapat. Lalu lintas pun tampak semakin padat dengan kendaraan yang semakin beragam — mobil, sepeda motor, LRT, bas kota, pejalan kaki. Kami pun tiba di Stasiun KL Sentral setelah menempuh perjalanan selama satu jam.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *