Lika-Liku Menjadi Hotel Reviewer

Mumpung lagi masa karantina diri #dirumahaja dan statistik blog anjlok karena orang-orang lagi nggak traveling, gue mau share tentang hal-hal personal yang sudah sekian lama mengendap di bawah tumpukan cerita perjalanan dan ulasan. Kalo di tulisan sebelumnya gue udah share tentang gimana gue menjalani hari-hari #workfromhome, kali ini gue mau cerita tentang gimana gue menjalani hobi sebagai seorang pengulas hotel. Ini juga merupakan salah satu pertanyaan yang sering diajukan pembaca, rekan blogger, atau fans #yhaaa.

Menjadi seorang pengulas hotel, atau istilah kerennya hotel reviewer, sudah gue mulai dari sekitar tahun 2016. Hanya saja, saat itu gue belum mengulas hotel secara serius. Gue sama sekali nggak memikirkan estetika dan konsistensi. Ulasan hotel gue pun nggak semuanya dibagikan di Instagram, sebagian hanya mengisi linimasa blog ini.

Perlu kalian ketahui, gue sama sekali nggak pernah kepikiran untuk membangun konten spesifik hotel di blog atau media sosial. Blog ini, thetravelearn.com, gue bangun untuk membagikan kisah-kisah perjalanan pribadi gue. Semua itu berawal dari keisengan.

Seperti biasa, celotehan ini juga bisa disimak di podcast berikut:


The BnB Kelapa Gading (puji Tuhan sekarang hotelnya masih bertahan) adalah hotel pertama yang gue ulas di blog ini. Saat itu, tahun 2013, gue menginap gratis di The BnB Kelapa Gading. Sama sekali bukan sebagai blogger atau influencer, namun urusan pekerjaan lepas. Nah, coba deh kalian tengok tulisannya. Meski alat dokumentasi gue masih seadanya (saat itu memakai handycam, hadiah dari juara 1 lomba blog VoucherHotel) dan cara mengambil fotonya juga masih sangat amatir, tapi foto-foto yang gue ambil udah detil. Dari reception area, restoran, kamar dan fasilitasnya, sampai fasilitas hotel, semua terabadikan.

Naval Hotel dan Amaris Hotel Cihampelas. Dua-duanya ada di Bandung dan gue book secara gratis menggunakan voucher hotel RajaKamar sebagai Juara 1 Rajakamar Blog Competition. Iya, saat itu adalah masa-masa kejayaan gue sebelum negara api menyerang hahahaha. Gue pribadi juga kaget, karena saat itu gue adalah blogger baru yang masih bau brambang bawang. Mungkin kalo ada blogger award, gue bisa masuk nominasi Blogger Pendatang Baru Terbaik.

Oke, cukup bragging-nya. Selanjutnya di tahun 2015, gue mengulas Hotel Neo Candi Semarang yang seinget gue juga dapet gratisan. Kalo nggak salah berkat kerjasama dengan Traveloka. Beberapa waktu kemudian, gue ke Solo dan nginep di Red Planet Hotel Solo yang saat itu masih bernama Tune Hotels, gue book melalui Travelio. Ini juga kalo nggak salah dapet voucher nginep 1 malem setelah menghadiri acara launching Travelio. Kayaknya lho yhaaaaaa.

RedDoorz was my first client.

Saat itu tahun 2016. Gue mau ke Jakarta dan butuh tempat bermalam. Lalu gue mikir, “Daripada gue bayar hotel, gimana kalo gue coba propose hotelnya biar kasih free stay dan gue bayar dengan review?” Rasa percaya diri gue sebagai blogger sudah tumbuh. Gue merasa blog gue punya tingkat kunjungan dan prestasi yang bisa dibanggakan. Singkat cerita, salah satu email gue direspon oleh RedDoorz. Gue belum paham bahwa RedDoorz adalah sebuah virtual hotel operator.

Ulasannya bisa dibaca di: RedDoorz, Gaya Baru Hotel Murah

Gloria Suites dan LeGreen Suite. Yep, gue belum berani mengajukan penawaran ke hotel-hotel bintang 3 ke atas karena merasa masih baru dan belum ada apa-apanya.

Lho, tapi kok bisa nginep di Hotel Grand Tjokro Bandung? Itu ‘kan hotel bintang 4.

Itu bukan kerjasama. Cukuplah gue katakan bahwa gue hanya menikmati kompensasi yang diberikan.

Saat kabut tipis beringsut mundur dari kota Bandung

Mulai pertengahan 2017, karir (((karir))) gue menanjak. Bulan April 2017, gue berencana ke Pontianak demi memanfaatkan long weekend. Rencana ke Pontianak ini juga merupakan perjalanan impulsif, pokoknya ke mana aja asal tiket pesawatnya murah! Karena gue udah beberapa kali diundang oleh mas Yosua Tanuwiria ke acara-acara Tauzia Hotel Management (sekarang mas Yosua udah pindah kerja) tapi belum sempet datang ke satu pun acaranya karena kendala waktu sebagai karyawan kantoran hakiki, jadi gue iseng colek-colek aja. Eh, tiba-tiba gue langsung ditelfon sama Hotel HARRIS Pontianak. Jadi selama 3 hari 2 malam di Pontianak, gue nginep di sana.

Setelah itu, gue mulai lebih konsisten mengulas hotel sebagai blogger/instagrammer/influencer yang memang bekerjasama dengan pihak hotel. Masa-masa tersibuk gue adalah semester pertama tahun 2018 dan semester kedua tahun 2019. Saking padetnya, tiap weekend gue staycation! Ada aja hotel di Bandung atau Jakarta yang approve penawaran gue. Gue sampai merasa kejar setoran dan blog ini sempat kehilangan jatidirinya sebagai blog perjalanan, thanks to bang Bobby virustraveling yang udah mengingatkan.

THR yang habis walking tour di Dafam Express Jaksa

THR berfoto di tangga lobi Dafam Express Jaksa

 

Kemudian, gue diajak gabung ke grup Teman Hotel Reviewer sama koh Halim Chandra @hotelindoo. Di sana, gue bisa kenalan dan berjejaring bersama teman-teman hotel reviewer lainnya yang keren-keren! Ada @kepinhelmy dan partner-nya @krisnabrataa, Ridho @hotelopedia, Agus @fndfamilytrip, Jun @stayaddict, Faiz @doyandolan_91, Tasya @anastasiamaurin, dan bunda Ety @ngamar_bareng. Selain mereka, gue juga jadi kenal sama hotel reviewer lainnya kayak koh James @jamesandlenny dan mas Denny @namaku_de.


Hampir semua kerjasama yang terjalin adalah buah dari perjuangan gue yang kirim penawaran demi penawaran ke email dan atau DM Instagram. Hanya sebagian kecil yang undangan, misalnya Putri Duyung Cottage Ancol, Hotel Grand Cordela Bandung, Ibis Budget Jakarta Tanah Abang, Nomad Hostel Kemang, Brits Hotel Karawang, Red Planet Hotel Pasar Baru Jakarta, Ibis Jakarta Kemayoran, All Sedayu Hotel Kelapa Gading, Hotel Des Indes Menteng, dan Azana Hotel Management. Sementara Novotel Mangga Dua dan Dafam Express Jakarta adalah buah dari gathering THR.

Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Sofa, coffee table, working area | Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Lalu gimana gue menemukan hotel-hotel untuk di-propose? Pertama, gue browsing selayaknya tamu biasa di Booking.com, masukin tanggal dan kota (antara Bandung atau Jakarta) yang gue mau. Lalu, gue cari website hotelnya biar tahu alamat email hotel yang bersangkutan. Setelah dapat email-nya, baru gue lancarkan serangan dengan mengirim penawaran. Belakangan ini, gue coba kontak dulu via DM Instagram. Kalo mereka bilang tertarik, barulah gue kirim penawaran lengkapnya via email.

Itu karena banyak yang nggak merespon, broh! Jadi daripada gue udah keburu kirim email panjang lebar lengkap dengan attachment, mending gue tanyain dulu di Instagram. At least gue tau bahwa mereka punya medsos yang aktif dan paham kerjasama yang gue maksud.

Enjoying a quiet and relaxing ambience of Premiere Lounge Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Lalu gimana dengan rate card gue? Mulai semester kedua 2019, ini adalah ketentuan yang gue tawarkan ke hotel. Gue meminta:

  • Minimal 2 malam menginap, sudah termasuk sarapan
  • Lunch & dinner
  • Ongkos transportasi PP (jika hotel terletak di luar Bandung, kecuali bila gue memang ke kota itu atas kemauan sendiri)
  • Fee menulis (opsional)
  • Voucher untuk giveaway (opsional).

Sebagai gantinya, gue akan memberikan 1 tulisan permanen di blog, minimal 6 IG feed, IG Stories, dan review di Google. Dulu juga sama review di TripAdvisor, tapi sekarang udah males nulis di TA karena udah nggak ada loyalty program ke AirAsia, hahaha. Waktu 2 malam menjadi kewajiban supaya gue nggak buru-buru, punya waktu yang cukup buat menjelajah hotel dan mengumpulkan foto. Kalo cuma semalem, berat! Gue ceritain di bagian berikutnya.

Paket steamboat di Best Western Premier La Grande Bandung

Complimentary cake bersama paket steamboat

Ada beberapa hotel yang mengukir pengalaman menginap nggak terlupakan! Terima kasih untuk Red Planet Hotel Pasar Baru, Harris Hotel Pontianak, Best Western Premier La Grande Bandung, Shakti Hotel Bandung, Nomad Hostel Kemang, Ibis Jakarta Kemayoran, dan Hotel Des Indes Menteng. Kalian bener-bener memberi penghargaan yang layak buat gue sebagai seorang blogger. Di Harris Hotel Pontianak, misalnya. Gue nggak hanya dikasih 2 malam, tapi juga antar-jemput dari dan ke bandara, half-day tour ke Tugu Khatulistiwa dan Rumah Radakng, bahkan juga diantar ke gereja! Ingat, saat itu baru April 2017.


Gue nggak punya tim tersembunyi seperti beberapa hotel reviewer. Gue bergerak sendiri, hanya berbekal kamera lawas Canon EOS 1000D, tripod, dan hape produksi Taiwan. Sekarang, gue akan mengajak kalian membayangkan bagaimana proses gue bekerja.

Tempat tidur di kamar Executive Deluxe Hotel Des Indes Menteng

Bukan sembarang kopi, tapi kopi Tanamera!

Selesai check-in dan masuk ke dalam kamar, gue nggak akan buru-buru menggeletakkan tas dan mengobrak-abrik kasur meski keinginan itu kuat tergurat. Gue letakkan tas dan alas kaki di sudut belakang pintu kamar, keluarkan kamera, lalu mulai mengambil foto seluruh fasilitas kamar dan kamar mandi. Singkatnya, gue sedang mengabadikan kamar saat kondisinya masih rapi. Kelar dengan foto, gue akan melanjutkan dengan membuat beberapa IG Stories sederhana dalam bentuk video.

Malamnya, gue biasanya tidur larut. Entah kenapa, suka aja berlama-lama terjaga di dalam kamar hotel, apalagi kalo hotelnya punya pemandangan kota kayak Best Western Bandung. Gue mengamati jalanan kota yang hening dari balik jendela kamar di lantai 19 sambil menyesap kopi dan menonton TV kabel.

Besoknya, gue harus bangun pagi-pagi agar bisa menjadi yang pertama datang ke restoran! Sarapan biasa dimulai jam 6 pagi. Gue nggak mandi, bahkan juga nggak cuci muka dan sikat gigi, toh juga tetep ganteng. Nggak khawatir juga sama bau mulut karena gue sendirian dan bau mulut akan segera tersamarkan dengan bau makanan yang gue santap. Kenapa harus jadi yang pertama? Supaya suasana restoran bagus diabadikan dan kondisi buffet juga masih rapi, belum terobrak-abrik. Meski kadang gue kecelek juga karena di beberapa kesempatan restoran cukup riuh meski gue udah datang pagi, seperti pas di Zest Hotel Bandung.

Pertama, gue ambil seluruh foto makanan dan sudut restoran yang menarik, jadi memang harus berkeliling. Setelah itu gue duduk dan mengambil sebanyak mungkin makanan yang tersedia. Yang biasanya nggak gue ambil adalah roti tawar dan sereal karena di mana-mana sama aja. Setelah seluruh makanan terkumpul, gue ambil foto dulu secara (agak) flat lay. Kalo udah puas foto dan buat video IG Stories, barulah gue mulai makan. Saat itu biasanya tamu-tamu yang lain mulai berdatangan.

Sarapan pilihan gue di Pomelotel Jakarta

Flat lay mode, saat sarapan di Zest Hotel Bandung

Karena kapasitas perut gue terbatas, biasanya gue butuh waktu 2 jam untuk menghabiskan seluruh makanan yang gue ambil. Gue harus makan dengan bertahap, diselingi dengan upload video IG Stories di hape. Gue biasanya memang cuma ambil foto makanan aja di restoran, karena sekarang ada baris khusus di tata letak feed Instagram gue yang dikhususkan buat foto makanan.

Dari sarapan, gue kembali ke kamar buat leyeh-leyeh bentar, foto ala bangun pagi di kasur dengan bantuan tripod, mandi, leyeh-leyeh lagi, lalu tidur lagi hehe.

Sementara foto-foto di tempat lain―reception area, kolam renang, ruang kebugaran, fasilitas lainnya―gue sesuaikan dengan mood dan ketersediaan waktu. Kadang juga gue sesuaikan dengan waktu terbaik mengambil foto. Pas di Mercure Nexa Bandung, misalnya, lobinya tampil lebih cantik dari sore hari (saat cahaya sunset masuk melalui dinding kaca) sampai malam hari (saat pencahayaan bekerja dan membuat ruangan tampil elegan).

Reception area | Mercure Nexa Bandung Supratman

Cobain fitness di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

“Gie, kenapa sih suka banget foto punggung di shower?”

Setiap orang pasti punya angle atau bagian tubuh favorit saat difoto, ‘kan? Ada yang bagian samping wajah, atau dada, bahu, dsb. Nah, buat kasus gue, jawabannya adalah punggung, ini juga gue sadari secara nggak sengaja. Gue merasa punggung adalah salah satu bagian tubuh gue yang tampak bagus di foto.

“Terus siapa yang fotoin?”

Hampir semuanya adalah TRIPOD, sobat setiaku uwuwuwu. Keahlian gue memposisikan tripod sudah cukup membanggakan. Foto-foto punggung di bawah ini adalah hasilnya.

Iya, memang ada beberapa kali yang difotoin, tapi ini dikit bangeeettt. Like, bahkan nggak sampai 5, karena memang gue biasanya nginep sendiri. Gue baru mulai ngajak-ngajakin orang buat ikut nginep itu sejak di Ibis Jakarta Kemayoran buat nemenin sekaligus bantu ngabisin makanan. Itu pun nggak lantas tiap kali gue nginep setelah itu terus selalu ditemenin.

Di beberapa kesempatan, gue juga staycation bareng influencer lainnya, yaitu di Putri Duyung Cottage, Grand Cordela Hotel Bandung, Brits Hotel Karawang, Ibis Budget Jakarta Tanah Abang, Sandalwood Boutique Hotel, Novotel Mangga Dua, Dafam Express Jakarta, dan Hotel Des Indes Menteng.

Bersama Ady @kokotraveler, mas @namaku_de, @onihoironi, dan Chris di Hotel Des Indes Menteng

Bersama travel-travel blogger Jakarta lainnya saat 1st Anniversary Ibis Budget Jakarta Tanah Abang

Dari kiri ke kanan, belakang ke depan: (alm) mas Arie, Jose, mbak Pungky, mbak Noe, Uni Dzalika, gue

“Nggak takut foto kayak gitu, Gie? Lo bisa jadi sasaran penculikan om-om homo.”

Sebenernya iya, sedikit. Makanya, sejak pertengahan tahun kemarin, gue mengurangi foto punggung. Beberapa temen gue udah rame kasih wejangan, hahaha. Gue hanya foto punggung saat setting-nya mendukung, biasanya di hotel-hotel bintang 4 ke atas yang bilik shower-nya elegan. Makanya, di beberapa hotel kayak Zest Hotel Bandung dan Sany Rosa Hotel, gue nggak ada foto punggung.

Dan sekarang, setelah punya Ara, kayaknya gue bakal bener-bener stop foto punggung sampai kami menikah atau tinggal serumah. Kalo pun ada, gue akan foto dengan tetap memakai kaos sleeveless atau bahkan kaos biasa seperti ini. Walaupun bisa dibilang foto punggung ini adalah signature gue. Coba, hotel reviewer mana lagi yang konsisten foto punggung di shower? Hehe.

Kamar mandi Dafam Express Jakarta

Nyaman menggunakan kamar mandi All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Sebagian besar hotel biasanya “melepas” gue gitu aja buat mengeksplor sendiri, yang mana juga nggak jadi masalah karena gue justru leluasa mengatur waktu. Hanya sedikit juga pihak Marketing/Marketing Communication/manajer terkait lainnya yang bertemu gue selama masa review. Biasanya juga nggak ada perbedaan dalam jam check-out. Jadi, disyukuri aja saat hotelnya memperbolehkan gue late check-out, dianggap sebagai bonus. Tapi kalo enggak ya nggak masalah, itu peraturan mereka dan nggak ada dalam perjanjian.


Foto-foto hotel (dan perjalanan gue secara umum) yang gue upload di feed Instagram atau Facebook adalah SELALU LATE POST. Nah, jadi sekarang kalo lihat foto gue lagi di hotel anu saat scroll timeline, nggak usah lagi DM atau komentar, “Lagi di situ?” Perhatikan video IG Stories gue, itulah laporan aktual yang akurat. Kalo pun gue live report di feed, biasanya hanya di Facebook, dan fotonya nggak diedit, tapi ini jarang banget.

Kenapa selalu late post? Karena gue mau menikmati staycation dan perjalanan gue. Gue nggak mau menghabiskan waktu saat staycation dengan sibuk sendiri di gadget, kecuali urusan pekerjaan kantor.

Paid minibar | All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Selain itu, kamera gue itu kamera lawas, Canon EOS 1000D yang nggak mendukung fitur Bluetooth, WiFi, bahkan USB port. Gue harus mencabut SD Card dari dalam kamera ke slot SD Card di laptop. Proses ini seringkali gue lakukan setiap hari untuk mencegah insiden kehilangan foto. Dari laptop, fotonya masih harus gue transfer ke smartphone dengan kabel data. Nah, yang ini gue lakukan setelah perjalanan berakhir.

Saat seluruh foto sudah tersimpan di memori smartphone, barulah gue edit dengan aplikasi Lightroom. Ada 2 dari 5 preset yang biasanya gue pake, kelimanya gue beli dari rekan di komunitas Travel Bloggers Indonesia, bang Richo Sinaga. Urutan upload di Instagram pun nggak sembarangan. Dalam setiap baris, urutan fotonya adalah (dari kiri ke kanan): foto outdoor bernuansa biru/hijau – foto makanan – foto kamar/kamar mandi/lobi/bagian indoor lainnya. Biasanya yang pertama kali gue upload adalah foto kamar.

Working space yang luas di kamar Best Western Premier La Grande Bandung

Setelah seluruh foto gue upload di Instagram, barulah gue menyiapkan ulasannya buat gue publish di blog. Makanya, gue kurang suka juga kalo ada hotel yang ngejar-ngejar minta ulasan blog di-upload sesegera mungkin. Gue paham sih, mereka antusias, but I need time to finish my work. Give me at least a month to publish it.

Dulu, feed Instagram gue nggak serapi itu. Foto-fotonya nggak gue edit. Urutannya berantakan. Malah di beberapa hotel, gue sengaja nggak bawa kamera biar foto-foto aja pake hape. Sekarang, kamera selalu gue jadikan alat dokumentasi primer untuk menghasilkan konsistensi tone warna dan kualitas foto. Smartphone adalah back-up saat ada beberapa kondisi yang lebih bagus ditangkap dengan kamera hape.


Nggak nyangka, lika-liku gue sebagai seorang pengulas hotel ini bisa menghasilkan satu tulisan dengan lebih dari 2.500 kata! Jadi, makasih banget buat yang udah betah baca sampai di paragraf ini. Maaf kalo ada bagian yang memuakkan. Pandemi corona ini bikin gue kangen staycation, kangen bobok ganteng, kangen mandi air panas. Sebenernya gue merasa cukup aman selama staycation-nya di Bandung, cuma belum ada deal lagi.

Buat kamu yang tertarik jadi hotel reviewer, perhatikan 2 hal ini: waktu dan usaha. Kalo kamu belum ada modal, hotel-hotel juga nggak akan ujug-ujug ngajak kamu kerjasama atau menerima tawaran kamu. Modal ini bisa followers IG, blog, atau Youtube. Kamu mungkin harus bikin portofolio dulu dengan mengulas hotel-hotel yang kamu bayar sendiri. Jadi, good luck with that! Keep learning by traveling…

Ada request lagi buat tulisan di blog ini selama masa-masa corona?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *