Makan Hura-Hura di Jalan Alor, Bukit Bintang

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 21

Setibanya di Stesen Bukit Bintang, gue lantas berjalan menuju Jalan Alor yang berada di antara stesen dan Serenity Hostel. Ada apa sih di Jalan Alor? Apa menariknya jalan itu? Ehem, jadi begini, bapak ibu. Jalan Alor merupakan kawasan kuliner paling happening di Kuala Lumpur. Sebelum melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur ini, gue udah sempet blogwalking di blognya mas Yoga Pratama aka Gaphe. Blognya seru, sayang sekarang udah nggak aktif lagi karena mas Gaphe udah menikah. Di situ digambarkan betapa Jalan Alor dipenuhi dengan warung-warung makan dan pedagang-pedagang gerobak di sepanjang jalan, disesaki dengan para pengunjung sampai meluber ke badan jalan.

DAN TERNYATA BENER BANGET, BRO!!!

Sesaat gue hanya berdiri melongo di persimpangan jalan memandang betapa hidupnya Jalan Alor malam itu. Ratusan pengunjung menempati kursi-kursi di atas badan jalan, di bawah lampion-lampion yang bergelantungan di awang-awang. Gue berjalan perlahan menyusuri Jalan Alor, melalui ruang yang tersisa di antara padatnya manusia. Menoleh ke kanan dan ke kiri, kulihat pohon cemara memperhatikan apa saja yang ditawarkan di sini. Sesekali harus menepi ketika ada mobil yang menderum menyeruak kerumunan dengan paksa.

Sisi kiri jalan didominasi dengan warung-warung makan chinese, menawarkan menu yang kurang lebih sama. Beberapa pemuda dan pemudi berdiri di tengah jalan sambil membawa buku menu, berseru dan merayu setiap pengunjung potensial untuk sudi mampir di warung makannya. Sementara sisi kanan jalan lebih banyak ditempati oleh pedagang-pedagang gerobak lainnya: buah-buahan (terutama durian), dimsum atau steamboat, air tebu, minuman instan, dan jajanan-jajanan lainnya. Meskipun, tetep, ada beberapa warung makan yang berdiri di antara lapak-lapak pedagang kaki lima.

Saking bingungnya, gue harus bolak-balik dari ujung ke ujung untuk menentukan warung makan mana yang beruntung mendapatkan gue sebagai pengunjungnya. Mungkin karena tampang Melayu gue (atau tampang kere?), gue luput dari rayuan para pelayan rumah makan itu. Seorang pemuda yang sedang berseru-seru menjajakan menunya tampak agak kaget saat gue berhenti dan meminta buku menunya.

Karena seharian belum makan (dan, pada dasarnya, gue udah sering menghilangkan budget makan di perjalanan kali ini), gue mau sedikit lebih hura-hura malam ini. Nggak apa-apa deh agak sedikit mahal, yang penting gue dapat pengalaman. Apa serunya seminggu jalan-jalan di negeri orang tapi nggak sekalipun menikmati kuliner lokal sambil berbaur dengan warga setempat? Backpacking tidak melulu harus serba murah, serba irit, atau serba gembel. Ada saatnya meniadakan makan siang atau hanya makan di 7-Eleven untuk menghemat pengeluaran, ada pula saatnya untuk ikhlas mengeluarkan beberapa lembar uang demi sebuah pengalaman.

Lembar demi lembar gue buka dan perhatikan baik-baik menu, penampilan, dan harganya. Ehem, kok… semuanya… puluhan ringgit yaaa? Mana mas-mas itu berdiri nungguin gue lagi #pffft

Maka dari itu, gue seneng banget, ketika di beberapa lembar terakhir, ada seabrek daftar menu dengan harga yang masih lebih rasional. Oh, rupanya ada menu porsi dan ada menu satuan. Gue lega selega-leganya. Langsung gue pesan pork fried noodle dengan, seperti biasa, teh tarik panas. Hihihi.

Tanpa disangka, pesanan datang dengan cepat. Sepiring besar bihun goreng, semangkuk potongan-potongan daging babi dalam rendaman sup, dan semangkuk kecil nasi putih yang pulen, segera mendarat di atas meja. Menemani cangkir teh tarik yang sudah lebih dulu sampai. Monster yang sudah mengamuk di dalam perut ini tak perlu menunggu waktu lama untuk dipuaskan!

SIKAAATTT!!!

Bihunnya enak. Dagingnya empuk, pun kuah supnya gurih. Tak ada citarasa minyak yang terlalu berlebihan. Gue makan dengan lahap dan penuh sukacita sampai kekenyangan. Serius. Harga total 9 RM itu terasa sangat pantas dan adil untuk apa yang diberikan.

Sembari menunggu makanan dicerna di dalam perut, gue duduk sejenak di situ, menikmati suasana. Sedikit iri dengan pengunjung lain yang datang beramai-ramai dengan kawan atau keluarganya, bersama-sama menyantap hidangan dalam satu meja.  Suasana kemudian bertambah lebih semarak dengan kehadiran sepasang suami istri pengamen di antara kerumunan pengunjung Bukit Bintang. Sang istri yang terduduk lemah di atas kursi roda, dengan sang suami yang mendorong di belakangnya, bergantian mengumandangkan suara merdunya dengan fasilitas mikrofon dan pengeras suara seadanya. Beberapa pengunjung tanpa segan-segan menoleh ke arah mereka, lalu memberikan sumbangan yang diharapkan dapat membantu hidup pasangan itu.

Masih ada beberapa menit lagi sebelum gue kembali ke hostel. Pengen melakukan kunjungan singkat ke mal-mal dan tempat menarik lainnya di kawasan Bukit Bintang ini, tapi sayangnya gue nggak tahu tempat-tempat itu ada di sebelah mana sementara waktu gue terbatas. Tempat-tempat itu diulas di blognya mas Gaphe, termasuk Kedai Mado (cafe dengan menu utama susu kambing) yang paling menarik gue. Akhirnya gue hanya berjalan tak tentu arah menuju ke arah hostel, lalu berbelok ke kiri, lalu berbelok lagi hingga kembali ke jalan semula, tapi gue nggak menemukan apa yang gue harapkan. Mungkin tempat-tempat itu ada di sisi yang lain, di bagian yang mendekati Stesen LRT.

Gue memutuskan untuk berjalan kembali ke hostel, melalui Jalan Bukit Bintang yang mengingatkan gue dengan kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Turis-turis Eropa memadati cafe-cafe dan bar yang berjajar di kedua sisi jalan, beberapa tampak sangat nikmat menyesap shisha. Mobil-mobil berjalan tersendat-sendat di sepanjang jalan, saling berebut tempat di jalan yang tak terlalu lebar itu.

Sekarang gue tahu kenapa Jalan Bukit Bintang ini bisa sangat berserak sampah pagi itu.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *