Memahami Arsitektur Masjid Agung Surakarta

Aku berjalan meninggalkan Pasar Gede Hardjonagoro dan Katedral Santo Antonius menuju Alun-Alun Utara Surakarta. Sejenak tertarik dengan Benteng Vastenberg yang berdiri di tengah kota, mengitarinya untuk menemukan jalan masuk, lalu pergi dengan sedikit kecewa karena rupanya benteng itu dibiarkan terbengkalai. Semak-semak dan rumput tumbuh liar mengelilingi benteng, padahal konon benteng ini lebih besar dari Benteng Vredeburg di Yogyakarta.

Tiba di Alun-Alun Utara Surakarta, aku berkeliling sejenak tak tentu arah. Menengok geliat pasar batu alam yang saat ini sedang digandrungi. Masuk ke sebuah rumah “showrom” tempat menjual segala perlengkapan wayang karena kukira itu adalah museum. Mengamati kesibukan para pedagang Pasar Klewer yang menempati lapak-lapak sementara setelah kebakaran melalap Gedung Pasar Klewer akhir tahun silam.

Aku lalu tiba di depan Masjid Agung Surakarta, atau yang dikenal dengan Masjid Ageng Keraton Surakarta.

Pintu gerbang masjid menyambutku dengan kokoh, bergaya Timur Tengah dengan tiga buah lengkungan. Setiap lengkungan diapit oleh sepasang menara kecil, dengan rongga-rongga kecil yang memahkotai setiap kepala lengkungan. Lengkungan yang berada di tengah adalah lengkungan terbesar.

Berjalan masuk melalui lengkungan terbesar itu, aku lalu disambut dengan tiang-tiang lampu yang berjajar membentuk sebuah jalan imajiner menuju pintu masuk masjid. Alih-alih masuk ke dalam masjid, aku memmilih untuk sedikit berkeliling sejenak, mencari tahu ada apa saja di kompleks Masjid Agung Surakarta ini.

Selain bangunan utamanya, kompleks Masjid Agung Surakarta juga memiliki beberapa bangunan pendukung seperti perpustakaan, kantor pengelola, dan bahkan poliklinik. Fungsi-fungsi tambahan itu dibangun oleh Pemerintah Kota Surakarta untuk menunjang posisi masjid sebagai salah satu atraksi wisata yang ada di kota Solo.

Di sudut kompleks, berdiri sebuah menara setinggi 33 meter yang dibangun pada masa Paku Buwono X, sekitar tahun 1914. Pada masa pemerintahan beliau jugalah, dibangun kolam yang mengelilingi masjid. Bentuk gapura yang semula berbentuk limasan khas Jawa diubah dengan gaya Timur Tengah seperti yang saat ini dapat terlihat. Sayang, menara tidak dibuka untuk umum. Padahal aku ingin naik dan menikmati pemandangan dari ketinggian, seperti yang pernah kulakukan di Masjid Raya Bandung.

Masuk ke dalam bangunan utama masjid, aku melepas alas kaki seperti instruksi yang diberikan melalui papan informasi.

Masjid Agung Surakarta selesai dibangun pada tahun 1768 oleh Pakubuwono III, berdiri di atas lahan seluas 19.180 meter persegi, dikelilingi pagar tembok setinggi 3,25 meter. Bangunan utama masjid sendiri berukuran 34,2 x 33,5 meter, mampu menampung 2.000 jemaah!

Tidak seperti masjid-masjid pada umumnya, Masjid Agung Surakarta dirancang dengan gaya arsitektur khas Jawa. Kubah masjid, yang dibangun oleh Pakubuwono IV, mengambil bentuk pakubumi atau atap tajuk alih-alih bentuk melengkung. Tersusun atas 4 tingkatan, atap masjid melambangkan tingkatan ibadah dalam agama Islam, yaitu: Syarikat, Tarikat, Hakikat, dan Makrifat.

Rangka kayu ekspos yang menyangga atap ditopang oleh 4 tiang utama (saka guru) dan 12 tiang tambahan (saka rawa) yang terbuat dari material kayu jati. Tiga buah chandelier yang menjuntai dari langit-langit, berpadu dengan lantai yang berlapis granit, menghadirkan kesan anggun dan elegan bagi masjid. Warna biru, yang memang merupakan warna khas keraton, menguasai seluruh bangunan masjid. Di sudut masjid terdapat bedug dan semacam kentongan raksasa. Entahlah, aku tak terlalu yakin dengan benda yang berada di sisi bedug itu.

Aku melihat ada beberapa pengunjung yang beristirahat di dalam masjid. Sekedar duduk, berselonjor, bahkan tertidur pulas. Konsep bangunan yang terbuka, ditambah dengan lantai granit yang sejuk, memang menggoda siapapun untuk bersantai di bawah naungan atap masjid, berlindung dari kejamnya cuaca panas kota Solo.

Aku meletakkan tas dan jaketku di atas lantai, lalu duduk di salah satu sudut masjid. Punggung dan kaosku sudah basah oleh keringat, jadi aku biarkan hembusan angin perlahan membawa uap-uap keringatku terangkat ke udara. Menit berikutnya, aku menyenderkan tubuh pada salah satu tiang yang berada dalam jangkauan, meluruskan kaki yang semalaman terhimpit kursi dan kaki-kaki penumpang kereta lainnya. Menit berikutnya, aku memutuskan untuk merebahkan diri, menggunakan tas dan jaket sebagai bantal agar kepalaku tidak terantuk lantai. Akhirnya, menit berikutnya…

GUE TIDUR DONG!!!

Aku terbangun sekitar setengah jam kemudian dengan tubuh yang lebih bugar. Sudah cukup memulihkan diri, aku beranjak menuju ke Pasar Gede lagi untuk menikmati semangkuk Es Dawet Telasih, sebelum harus bertolak ke kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) untuk menghadiri wisuda salah satu kawan lamaku.

 

Baca juga: Dua Hari Bertualang Kuliner di Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *