Mengagumi Patung Buddha Tidur Raksasa di Chauk Htat Gyi Pagoda, Yangon

menuju Shwedagon Pagoda pada hari sebelumnya. Kami lalu turun di halte bus dekat Kabar Aye Pagoda. Iya, Yangon memang merupakan kota seribu kuil, The City of Gold. Sehari dua hari sih antusias sik ya, tapi lama-lama bisa mabok kuil juga gue, hahaha.

Kami lalu masuk ke dalam sebuah jalan kecil yang kalau di Indonesia mirip dengan jalan-jalan kampung begitulah. Jaraknya sekitar 1 kilometer, jadi cara kami ini nggak gue rekomendasikan buat kamu yang bepergian dengan lansia, anak-anak, atau cabe-cabean manja. Nggak banyak juga yang bisa kami lihat dalam perjalanan di bawah teriknya matahari siang itu.

jalanan menuju chauk htat gyi pagoda, yangon

Seperti halnya Kandawgyi Park & Lake, informasi di internet juga bilang kalau masuk ke Chauk Htat Gyi Pagoda membutuhkan tiket masuk sebesar 2.000 Kyat atau 2 USD. Tapi rupanya rute yang gue pilih ini adalah rute yang mengantarkan kami memasuki kuil melalui pintu belakangnya. Monmaap, anaknye emang doyan main belakang, hahaha. Setelah melalui koridor terbuka dengan lantai berdebu dan beberapa anjing berkeliaran, kami menitipkan alas kaki kami pada sebuah loket di depan pintu masuk bangunan kuil. Ongkosnya seikhlasnya.

Gue takjub dengan patung Buddha Tidur-nya!

Patung Buddha Tidur itu disebut-sebut memiliki panjang 66 meter dan tinggi 16 meter, kebayang gimana gedenya yekan. Patung aslinya selesai dibuat tahun 1907 yang mana udah lama bangeeettt. Namun pada tahun 1966 saat direnovasi, patungnya diperpanjang 5 meter dari ukuran semula.

Bisa dilihat, Patung Buddha Tidur di kuil Chauk Htat Gyi ini berbaring menghadap kanan. Tangan kanannya digunakan untuk menyangga kepalanya yang bermahkotakan emas. Tubuh putihnya dibalut dengan jubah emas yang membuat Sang Buddha tampak semakin agung.

Patung agung tersebut terlindung dalam kungkungan pagar besi agar nggak ada tangan-tangan jahil yang sembrono. Di sekelilingnya terdapat patung-patung Buddha lainnya dalam ukuran yang lebih kecil, relief yang mengisahkan perjalanan Buddha, dan lonceng atau kentongan kuil. Di sebelah kanan dari arah pintu masuk, terdapat sebuah titik berfoto untuk membantu wisatawan memilih tempat terbaik untuk mengabadikan gambar.

sang buddha yang berbaring dengan bertumpu pada tangan kanannya

telapak kaki sang buddha dengan simbol-simbol yang tak kupahami

satu sudut untuk sembahyang di chauk htat gyi pagoda, yangon

patung-patung buddha di chauk htat gyi pagoda, yangon

Setelah puas berfoto, berkeliling, dan duduk-duduk, gue mengajak Ricky menyudahi kunjungan. Karena lelah, letih, dan lesu, kami nggak lagi lewat jalan belakang, namun menyusuri koridor menuju pintu gerbang utamanya di depan. Kedua sisi koridor ini diisi dengan warga lokal yang menjual atribut dan perlengkapan untuk bersembahyang. Tapi mereka jualannya kalem-kalem aja, nggak koar-koar berisik apalagi sampai narik-narik wisatawan.

Sampai di depan pintu gerbang, gue ingat akan satu hal.

“Jaket gue ketinggalan!” kata gue pada Ricky.

Eh, bukan jaket sebenarnya, tapi sweater hitam dengan model turtle neck yang baru beberapa minggu lalu gue beli dari online shop di Instagram. Dan saat itu adalah momen pertama gue membawa jaket kesukaan itu berpetualang. Gusti nu ageng!

Dengan langkah memburu, gue berjalan cepat menuju titik berfoto di dalam kuil. Gue inget, sebelum berfoto, gue meletakkan sweater itu di pagar kecil yang ada di pondok berfoto, sialnya gue lupa buat memakainya kembali saat selesai berfoto. Tiba di lokasi kejadian, gue nggak menemukan sweater gue di tempat semula. Baiklah.

Gue lalu berjalan berkeliling bangunan kuil, berharap menemukan ada kain hitam yang tergeletak begitu saja, tapi hasilnya nihil. Gue menyampaikan masalah yang gue alami kepada petugas keamanan. Syukurlah dia bisa ngerti Bahasa Inggris. Bapak itu menyampaikan masalah yang gue alami kepada rekan-rekannya, lalu mencari berkeliling. Yah, kalau kayak gini caranya sih, nggak akan ketemu juga deh, bang. Gue berharap ada seseorang yang nemuin jaket gue lalu menyampaikannya kepada petugas kayak yang biasa kejadian di Indonesia.

Rupanya, orang Yangon — mungkin juga warga Myanmar pada umumnya — belum memiliki kesadaran untuk mengembalikan benda milik orang asing yang mereka temukan. Andai terjadi di Indonesia, biasanya gue akan mendapati jaket gue di tempat semula, atau dititipkan pada salah satu petugas di tempat itu. Gue pernah ketinggalan beberapa barang, termasuk handphone, saat sedang terburu-buru. Puji Tuhan selama ini selalu berhasil gue dapatkan kembali. Namun Yangon rupanya ingin memberikan cerita yang berbeda, mengajarkan gue untuk selalu mengingat dan mengawasi barang-barang yang gue bawa dalam perjalanan.

patung buddha berbaring dengan ukuran yang lebih kecil

kentongan kuil?

relief perjalanan hidup sang buddha / siddharta gautama

pemandangan dari sisi belakang kuil yang terbuka

pintu depan chauk htat gyi pagoda, yangon

“Gimana?” Tanya Ricky, sesampainya gue kembali di pintu gerbang.

“Ilang, bro,” jawab gue, mengikhlaskan kehilangan meski pedih. Begonya, gue juga nggak bawa jaket cadangan untuk trip ini.

Dari pintu gerbang, kami naik sembarang bus dari halte di dekatnya sampai tiba di persimpangan di bawah flyover — eh, ini Yangon apa Pasteur Bandung sih? Hahaha. Dari situ, kami sempat bingung menentukan arah karena kondisi lingkungan yang nggak familiar. Beberapa menit kemudian, gue akhirnya sadar bahwa kami melalui jalan layang saat berangkat, sementara saat itu kami berada di bawahnya.

Kami menghampiri seorang pemuda lokal untuk menanyakan di mana lokasi untuk naik bus no. 36. Sempat terjadi kesalahpahaman karena dia mengira kami menanyakan petunjuk menuju Jalan 36. Maklum, di Yangon ini memang banyak nama jalan yang menggunakan nomor, kayak di Kamboja. Kami berhasil kembali di Space Boutique Hostel dengan selamat. Usai sedikit beristirahat, kami lalu berkemas meninggalkan hostel menuju Yangon International Airport.

kuil emas dan gedung-gedung kusam berpadu di yangon, myanmar

Seluruh cerita perjalanan gue di Myanmar dapat dibaca di SINI.

Kesimpulannya, Chauk Htat Gyi Pagoda adalah salah satu obyek wisata menarik yang ada di Yangon, Myanmar. Percayalah, suasananya berbeda dengan patung-patung Buddha Tidur / Berbaring serupa yang bertebaran di Thailand. Kalau masih ada waktu, mampirlah ke Nga Htat Gyi Pagoda di dekatnya yang dapat dicapai dengan berjalan kaki. Selamat berpetualang di Yangon, travelearners! 😀

Malamnya, gue tidur kedinginan beralaskan kerasnya bangku Kuala Lumpur International Airport. Demfak!

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *