Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

Ruins of Wat Mahathat, Ayutthaya

Ruins of Wat Mahathat, Ayutthaya

Waktu seperti bergulir dengan cepat hingga, tak terasa, kami sudah tiba pada hari ketiga di Bangkok. Meski bangun agak terlambat, aku dan Dicky tetap berpegang pada rencana awal, berangkat menuju Ayutthaya untuk menjelajah sang ibukota lama itu selama seharian. Dari rumah Paul, kami naik bus kota menuju Stasiun MRT Chatuchak Park yang berada terintegrasi dengan stasiun BTS Mochit. Dari Chatuchak Park, kami bergerak menuju Hua Lamphong dengan tarif seharga 42 THB. Tidak seperti stasiun BTS yang ramai, stasiun MRT (subway) terkesan lebih lengang dengan pengamanan yang lebih ketat.

Tiba di stasiun MRT Hua Lamphong, kami beralih menuju stasiun kereta api Hua Lamphong yang tua dan bergaya industrial dengan langit-langit yang tinggi dan kipas berbaling-baling besar. Kami masuk ke dalam sebuah kantor kecil di sebelah kiri gedung setelah pintu masuk yang diperuntukkan untuk pembelian tiket para pelancong mancanegara. Seorang petugas wanita menyambut kami dengan sapaan khas Thai, “Sawaddee kha!” yang lalu dilanjutkan dengan, “Please take a seat.”

A typical Thai train at Hua Lamphong station, Bangkok

Our ticket to Ayutthaya, 15 THB one way

Our ticket to Ayutthaya, 15 THB one way

Kereta menuju Ayutthaya berangkat pukul 11:20 dengan ongkos 15 THB sekali jalan. Sang petugas memberikan kami dua lembar tiket sederhana untuk dibawa dalam perjalanan. Setelah menunggu selama beberapa menit, kami pun memasuki gerbong kereta dan siap menuju Ayutthaya.


SUPERTRIP 2 Eps. 7: Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

Sempat kami salah masuk kereta, namun kami buru-buru keluar lagi setelah menyadari ada kesalahan. Dua orang petugas perempuan segera menghampiri, menyadari muka kebingungan kami. Mereka memeriksa tiket kami dan meyakinkanku bahwa kami memang salah naik kereta. Pantas saja, setahuku kereta yang akan kami naiki adalah kereta ekonomi tanpa AC, namun kami malah masuk ke dalam gerbong kereta berpendingin ruangan, nyaman, dengan kursi empuk.

Akhirnya, masuklah kami ke dalam gerbong kereta yang tepat. Tanpa AC, tanpa kursi empuk, kami duduk berhadapan persis seperti yang ada dalam adegan film Suckseed! Perjalanan menuju Ayutthaya berlangsung sekitar satu setengah jam, sebuah perjalanan singkat yang membuatku merasa lebih dekat dengan warga Bangkok yang hangat. Kami berbaur di dalam satu gerbong bersahaja, di mana pedagang-pedagang asongan berjalan menyeruak melalui lorong sempit kereta.

Our economic train to Ayutthaya

Lepas dari pukul satu siang, kami tiba di stasiun Ayutthaya. Dari stasiun, kami berjalan keluar dan menyeberang jalan raya, masuk ke dalam sebuah anak jalan. Kami menghampiri sebuah jasa persewaan sepeda yang berada di kanan jalan. Dua sepeda lantas kami sewa seharian dengan harga masing-masing 40 THB. Berkeliling Ayutthaya jauh lebih murah dengan sepeda daripada dengan tuktuk yang harganya bisa mencapai 100-200 THB. Petugas persewaan sepeda, seorang wanita lokal yang ramah dan dapat berbahasa Inggris dengan baik, memberikan kami sebuah peta dan panduan singkat yang sangat membantu.

Dari tempat persewaan, kami mengayuh sepeda semakin dalam hingga tiba di dermaga, melalui hostel-hostel dan cafe-cafe murah yang tenang. Dari dermaga, kami menyeberang sungai dengan ongkos 10 THB pulang pergi, sudah termasuk dengan sepeda diperbolehkan naik ke atas perahu. Bagian yang paling merepotkan adalah saat kami tiba di dermaga seberang dan harus mengangkat sepeda melalui anak-anak tangga yang menanjak naik.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok: BTS (Skytrain), MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus

Bike rental in Ayutthaya

Crossing the river on a boat in Ayutthaya

Crossing the river on a boat in Ayutthaya

Ayutthaya Tourism Map

Ayutthaya Tourism Map

Dengan bantuan peta, kami mengayuh sepeda kami melalui jalanan kota Ayutthaya menuju destinasi pertama di Wat Mahathat. Aku suka dengan suasana kota ini. Tenang, bersih, hangat namun berangin, bersepeda menyusuri jalanan kota menjadi hal yang sangat menyenangkan! Sang ibukota lama ini, Phra Nakhon si Ayutthaya, masih menunjukkan keanggunannya sejak dibangun pada 1351 oleh Raja U-Thong dan menjadi ibukota selama 417 tahun lamanya. Selama menjadi ibukota Thai, Ayutthaya telah menjadi saksi pemerintahan dari 33 raja, sampai kota ini diserang oleh Burma pada 1767. Ayutthaya lalu ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada 13 Desember 1991.


Wat Mahathat (Tiket Masuk 50 THB)

Ini adalah kuil wajib kunjung di Ayutthaya. Kalau kamu hanya bisa mengunjungi satu candi di Ayutthaya, pilihlah Wat Mahathat! Di candi inilah, kita bisa melihat patung kepala Buddha yang berada di antara jeratan akar-akar pohon yang ikonik itu. Tak ada yang tahu pasti bagaimana patung kepala Buddha itu bisa berada di antara akar-akar pohon.

Wat Mahathat dibangun oleh bangsa Khmer pada tahun 1374, pada masa pemerintahan Raja Boromma Rachathirat I dan selesai pada masa Raja Naresuan (1388-1395). Empat portico ditambahkan pada menara utama pada masa pemerintahan Raja Kin Borommakot (1732-1758), seiring dengan restorasi menara utama yang sempat roboh. Saat penyerangan Burma pada 1767, Wat Mahathat pun tak luput dari pembakaran, namun candi lalu drestorasi hingga dapat menjadi objek wisata utama saat ini.

A Buddha image at Wat Mahathat, Ayutthaya

Took a pose with the iconic Buddha image

Headless Buddha images at Wat Mahathat, Ayutthaya

Headless Buddha images at Wat Mahathat, Ayutthaya

With my bike at Wat Mahathat

With my bike at Wat Mahathat

Selain patung kepala Buddha, Wat Mahathat juga menyajikan reruntuhan candi berwarna kemerahan dengan gaya arsitektur khas Khmer, bangsa yang kini bermukim di wilayah negara Kamboja. Kompleks candinya sendiri tergolong cukup luas jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Ayutthaya, dengan sebuah danau berwarna hijau lumut yang menenangkan di tepi kompleks.

Baca Juga: Tiga Candi Angkor Wat Ini wajib Kamu Kunjungi di Siem Reap, Kamboja


Wat Phra Si Sanphet (Tiket Masuk 50 THB)

Yang menonjol dari Wat Phra Si Sanphet ini adalah tiga candi besar berbentuk seperti lonceng, berdiri menjulang di pusat kota lama Ayutthaya. Tiga candi tersebut digunakan untuk menempatkan abu dari Raja Boromatrailokanat dan dua putranya, Raja Ramathibodhi dan Raja Boromatrailokanat II. Ketiga chedi utama tersebut dikelilingi dengan chedi-chedi lain yang lebih kecil. Di setiap sudut, ada patung-patung Buddha yang duduk tak berkepala sebagai akibat dari serangan Burma pada 1767 yang memenggal patung-patung Buddha di Ayutthaya.

Wat Phra Si Sanphet, Ayutthaya

Wat Phra Si Sanphet with its three giant chedis

The tallest prang at Wat Phra Si Sanphet

A bird at Wat Phra Si Sanphet

A bird at Wat Phra Si Sanphet

Sejatinya, candi ini memiliki patung Buddha yang berdiri setinggi 16 meter, bersalutkan 150 kilogram emas. Namun patung kemudian dihancurkan pada saat serangan bangsa Burma. Konon serpihan-serpihan emasnya kini digunakan untuk melapisi Wat Pho, Bangkok.

Kalau lapar dan pengen belanja, ada banyak lapak penjual makanan dan suvenir di Wat Phra Si Sanphet.

Baca Juga: Kemegahan Senja di Atas Candi Ijo, Yogyakarta


Wat Lokayasutharam (0 THB)

Ini adalah candi terakhir yang dapat kami kunjungi di Ayutthaya. Lokasinya dekat dengan Wat Phra Si Sanphet, namun kami harus meninggalkan jalan utama dan masuk ke dalam sebuah jalan kecil. Tiket masuknya gratis!!!

Reclining Buddha image at Wat Lokayasutharam

The feet are so huge!!!

Ayutthaya tuktuks are cute!!!

Ayutthaya tuktuks are cute!!!

Daya tarik utama candi ini adalah patung Buddha Tertidur (Reclining Buddha) berselimutkan kain berwarna saffron. Disebut sebagai Phra Buddhasaiyart, patung Buddha tertidur ini menghadap ke arah timur dengan panjang mencapai 37 meter dan tinggi 8 meter. Kepala Sang Buddha sendiri tergeletak di atas bunga lotus besar, dan patung Buddha ini diklaim sebagai yang terbesar di Ayutthaya!

Saat gelap mendekap di Ayutthaya

Aku dan Dicky lalu mengayuh sepeda dengan cepat sebelum matahari meninggalkan langit Ayutthaya. Syukurlah kami masih sempat mengejar kereta kembali ke Bangkok yang berangkat pukul 18:48, bahkan masih ada waktu beberapa menit untuk menunggu. Saat gelap terus merambat hingga terus bertambah pekat, kereta datang berderak lambat-lambat menghampiri kami yang sudah menunggu dengan tubuh lekat oleh keringat.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *