Mengenal Sanya, Kota Wisata di Ujung Selatan China

Another part of Sanya seen from Linchunling Forest Park

Karena merupakan bagian dari Hainan, Sanya dianugerahi iklim tropis yang hangat kayak di Indonesia. Letak geografisnya aja malah masih “di bawah” posisi Hanoi, ibukota Vietnam. Bedanya, Sanya tetap kecipratan hawa dingin dari utara saat akhir tahun hingga awal tahun. Suhu saat dini hari bisa mencapai belasan derajat Celcius, seperti yang subuh itu gue rasakan saat naik ojek dari BlueSky International Youth Hostel menuju Sanya Railway Station.


Sanya adalah kota di tepi pantai yang dikelilingi pegunungan, dibelah oleh Sanya River yang mengalir di tengah kota. Karena topografinya itu, Sanya menyajikan sebuah lanskap yang apik.

The city of Sanya in Hainan is surrounded by hills
Linchunling Forest Park yang pintu masuknya nggak jauh dari Giant Tree Beauty Crown Complex, tempat perhelatan Miss World 2018. Jalur pendakiannya udah aman banget, seluruhnya dibuat tangga beton, tapi memang tetap melelahkan hahaha. Waktu ideal mendaki mungkin sekitar 1 jam. Dari puncaknya, kita bisa menikmati panorama kota Sanya dengan sungai yang membelahnya, laut yang menghadangnya, dan pegunungan yang mengelilinginya. Gue sarankan ke sini saat matahari terbenam sampai malam.

Viewing point lainnya adalah Luhuitou Forest Park (yang lokasinya lebih deket dari hostel, tapi malah terabaikan) dan Yalong Bay. Terus kalau dari salah satu website pariwisata Sanya, ada yang namanya Phoenix Hill, lengkap dengan jembatan instagrammable dan cable car. Tapi gue cari di Google Maps nggak ada, adanya Phoenix Island aja, sebuah resor di lepas pantai Sanya yang dibangun dari lahan reklamasi.

Melalui salah satu jembatan yang melintas di atas Sanya River

Salah satu alasan yang membuat gue pengen ke Sanya lagi adalah keinginan menyusuri Sanya River dan area-area publik di sekitarnya. Well, nggak menyusuri sungainya banget sih, karena ada beberapa bagian yang nggak walkable. Pokoknya jalan-jalan santai di tepi sungai. Pas November 2019 lalu, gue cuman mampir lewat saat jalan kaki mau ke Linchunling Forest Park, belum bener-bener menikmati tempatnya.


Sanya dilayani oleh Phoenix International Airport dan Sanya Railway Station. Kamu bisa langsung terbang menuju Sanya dari Singapura dan sebaliknya, tapi gue sendiri lebih memilih menjangkaunya dengan kereta api. Yup, Sanya terhubung baik dengan ibukota Hainan, Haikou, dan kota-kota Hainan lainnya (seperti Wenchang, Bo’ao, dll) dengan jalur kereta api cepat. Jalur kereta api cepat di Hainan ini adalah world’s first railway network looping the entire island! Pertama kali di dunia di mana sebuah jalur kereta api cepat melingkari satu pulau dengan sempurna.

Sanya Railway Station at dawn

Dari Bandara Internasional Phoenix, kamu bisa ke pusat kota Sanya dengan taksi atau bus kota. Lokasi bandaranya sendiri nggak jauh dari kota. Konon, menjelang pesawat mendarat atau sesaat setelah pesawat lepas landas, kita akan disuguhi pemandangan patung dewi Guan Yin of The South Sea!

Gue naik kereta siang dari Haikou East Railway Station menuju Sanya Railway Station dengan kereta kelas II. Saat kembali ke Haikou, gue ambil kereta 1st class yang berangkat pagi dengan tujuan Meilan Railway Station, stasiun yang terhubung dengan Hainan Haikou International Airport. Waktu tempuhnya kurang dari 2 jam dengan kecepatan hingga 250 km/jam! Lumayan buat first timers. Baca ulasan dan cerita selengkapnya di:

Panduan dan Cerita Perjalanan Naik Kereta Cepat di Hainan

High speed train and regular train at Sanya Railway Station, Hainan

Stasiun Kereta Api Sanya ini sudah terintegrasi baik dengan bus kota dan tram. Begitu keluar gedung stasiun, langsung ada halte tram dan terminal kecil bus. Nggak perlu menyeberang jalan dulu karena menempati lahan yang sama dengan area parkir mobil.


Di dalam kotanya sendiri, warga lokal banyak bepergian dengan sepeda listrik atau sepeda motor matic, tapi angkutan umum utamanya adalah bus. Bus kota di Sanya sudah sesuai standar bus modern. Ber-AC, menerima cashless, bersih, dan punya nomor rute masing-masing. Ongkosnya memang lebih mahal dari ongkos bus kota di Haikou, dan ada kondektur, biasanya cewek pake seragam ala duta pariwisata. Kalau di Haikou tarifnya flat rate CNY 1, di Sanya ongkosnya CNY 2-10 sesuai jarak. Mungkin karena posisi Sanya sebagai kota turisme.

Bus adalah transportasi umum andalan di kota Sanya, Hainan
Sebuah bus stop di Sanya, Hainan

Sebenernya, Sanya baru saja menyelesaikan 1 jalur tram sepanjang 4.5 km yang menghubungkan Stasiun Kereta Api Sanya dengan Jiefang Street, pedestrian street utama di Sanya dengan jajaran tempat belanja dan tempat makan. Tapi, last time I checked saat November 2019 lalu, tram belum resmi beroperasi, atau masih operasional terbatas, meski armada sudah ready dan sudah running test.

Melihat kondisi pandemi seperti sekarang, kurang jelas kapan tram di Sanya akan beroperasi secara penuh. Rencananya, Sanya Tram akan memiliki jalur sepanjang 8.4 km hingga Jiangang Road.

UPDATE!

Sejak Oktober 2020, Sanya Tram sudah resmi beroperasi penuh dari Sanya Railway Station hingga Jiangang Road.

Sanya tram route from Urbanrail.net

Opsi transportasi umum lainnya di Sanya selain taksi adalah ojek. Ongkosnya murah lho. Gue cobain 2 kali dari Lichunling Forest Park ke hostel seharga CNY 20 dan dari hostel ke stasiun seharga CNY 35. Kendaraan yang dipake macem-macem, karena merek dan model sepeda listrik di sana juga beda-beda. Rasanya, sejuuukkkk, enaaakkk banget dan it feels so free!

Terus gimana cari abang ojeknya? Berdiri aja di pinggir jalan, nanti juga ada yang nyamperin. Nggak usah bingung kalo mereka semua ngomong pake bahasa Hainan atau Mandarin. Tunjukin aja alamat tujuan kamu, terus driver akan ngajak deal-dealan harga berbekal kalkulator. Sampai tujuan, bayar deh. Simpel.

Taxi di Sanya berwarna oranye
Lalu lintas padat di sebuah persimpangan di kota Sanya, Hainan

Ojek dan taksi ini cocok buat turis karena sumber online untuk peta bus di Sanya ini sangat nggak lengkap, di Google Maps juga nggak ada. Well, this is China where all Google products are troubled. Sementara belum tentu di posisi saat itu ada halte bus, warga lokal juga pada nggak bisa bahasa Inggris. Tapi gue berhasil naik bus dari stasiun ke hostel dan dari hostel ke Nanshan Cultural Tourism Zone PP karena ada infonya di internet.

Enaknya motoran kalo jalanannya serindang ini, trotoar ini boleh digunakan motor
Banyak motor dan sepeda listrik di Sanya dan seluruh Hainan
Pejalan kaki dan joggers di Sanya Hainan hati-hati ya karena berbagi trotoar dengan sepeda listrik
Mendekati pusat kota Sanya pun masih banyak pepohonan

Bicara soal lalu lintasnya, jalan-jalan di kota Sanya lebih rindang dari jalan-jalan di Haikou. Karena ada beberapa hutan kota, jadi sebagian jalan protokol itu dibayangi oleh hutan di salah satu sisinya. Di jalan-jalan seperti itu, motor dan sepeda listrik punya jalurnya sendiri, seperti di Haikou. Tapi kalau jalan-jalan di pusat kota, mungkin karena nggak terlalu lebar, motor dan sepeda listrik melebur jadi satu dengan kendaraan lainnya.


Obyek wisata utama di Sanya adalah patung Dewi Guan Yin of The South Sea yang ada di Nanshan Cultural Tourism Zone. Karena jaraknya jauh (1 jam sekali jalan) dan ini tempat wisatawan cendol, gue sarankan berangkat pagi-pagi jam 7-8. Ongkos masuknya CNY 129 atau sekitar Rp260 ribu. Kalau mau naik odong-odong keliling, bayar lagi CNY 30 atau Rp60 ribu yang mana menurut gue kurang worth the price.

Klik di sini untuk membaca seluruh tulisan tentang perjalanan gue di Sanya.

Goddess of The South Sea in Sanya, Hainan
Salah satu area Jiefang Street di Sanya, Hainan

Selain itu, beberapa obyek wisata lainnya udah gue sebutkan di atas. Dadonghai Beach, Yalong Bay, Jiefang Pedestrian Street, Luhuitou Forest Park, Linchunling Forest Park, dan masih banyak lagi. Masih banyak yang belum gue kunjungi karena keterbatasan waktu. Sanya ini terkenal dengan pantai-pantai pasir putihnya, kayak Bali. Turis Rusia banyak yang liburan ke sini, melarikan diri dari hawa dingin negeri mereka.

Jangan heran kalau kamu banyak menemukan aksara Rusia dan orang-orang Rusia di kawasan wisata Sanya. Di sekitar hostel gue di kawasan Dadonghai, restoran-restoran dan toko-toko banyak yang memuat aksara Rusia.


The city of Sanya, Hainan, at evening

Satu hal lagi yang mau gue sampaikan sebelum gue tutup adalah: Sanya ramah muslim. Sanya adalah salah satu daerah di China selatan dengan minoritas muslim yang cukup signifikan. Ada masjid raya, lalu di dekat hostel gue juga ada beberapa restoran Tionghoa Muslim. Jadi jangan ngajak ngobrol pake bahasa Melayu ya, nggak akan ngerti dia. Bahasa Inggris aja nggak ngerti, hahaha. Porsi makanan di Sanya dan seluruh Hainan banyak-banyaaakkk, bisa buat berdua kalo kapasitas perut kamu sama kayak gue.

Oke, itulah yang bisa gue ceritakan tentang Sanya. Share your thoughts below, dan jangan sungkan kalo ada yang mau ditanyain. Gimana, apa yang kira-kira bakal kamu suka tentang Sanya?

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *