Mengunjungi 7 Tempat Wisata di Phuket, Thailand (Bagian 1)

Setelah sebelumnya gue udah nulis ulasan tentang Phuket International Airport dan transportasi umum di Phuket, maka di tulisan ini gue akan menceritakan detil perjalanan gue di sana pada 18-20 Mei 2018 kemarin. Sementara ulasan hotel yang gue inapi, Ibis Phuket Kata dan Kata on Sea by bGb Villas akan gue ulas kemudian. Tulisan ini akan gue bawakan secara naratif, kronologis, cuma judulnya aja yang gue bikin rada-rada click bait, hehe.

:peace::peace:

Pada tanggal 18 Mei 2018 malem setelah kami check-in di hotel Ibis Phuket Kata, gue yang saat itu memang lagi pilek menjadi semakin drop. Gue bisa merasakan suhu badan gue bertambah panas. Saat jalan kaki buat nyari makan malam pun, gue udah berada di titik makan-di-mana-aja-nggak-masalah-yang-penting-deket. Badan gue rasanya capek dan lemes banget, tapi 2 rekan perjalanan gue nampaknya kurang peka akan hal itu.

Setelah mengabaikan sebuah restoran yang berada persis di depan hotel dan bolak-balik di Kata Main Street untuk mencari opsi yang lebih baik, akhirnya gue samperin mas Fendi yang berjalan paling depan, “Mas, mau nyari sampai kapan? Mau nyari apa?” Yang lalu dia jawab dengan, “Ya aku makan apa aja nggak masalah.”

:sigh::sigh:

makan malam dengan pad thai di depan hotel

Gue udah nyaris nggak kuat lagi, emosi gue meningkat karena capek, laper, dan nggak enak badan. Akhirnya kami makan di restoran di depan hotel yang menyediakan makanan Thailand, tapi dikelola olah orang India. Seluruh rumah makan yang kami lalui udah tutup, dan opsi paling meyakinkan adalah rumah makan itu. Rasanya not bad, seporsi pad thai dan teh tarik (thai tea) panas gue tebus dengan harga 200 THB.


Obyek 1: Jungceylon Mall

Yes, you read it right — Jungceylon Mall. Our first stop in Phuket was a SHOPPING MALL! Hari Sabtu, 19 Mei 2018, gue bangun dengan tubuh yang lebih bugar, meski belum bisa dibilang sembuh. Minimal gue udah bisa diajak jalan kaki lama-lama dan bahkan udah berani lepas sweater Wanna One kebanggaan, udah bisa difoto dengan tatapan mata yang penuh kehidupan. Dari jalan raya di depan hotel, kami naik tuk-tuk seharga 400 THB menuju Jungceylon Mall yang ada di Patong.

Nah, transportasi umum di Phuket ini memang agak tricky. Nggak cuma transportasi di dalam Pulau Phuket sendiri, tapi juga dari Phuket ke kota atau provinsi lainnya di Thailand. Untuk itu, kamu sebaiknya beli tiket transportasi Thailand kamu di Bookaway. Dari bus, kereta api, mobil, kapal, ada semua.

tuk-tuk, transportasi umum populer di phuket

Menurut gue, Jungceylon Mall ini kayak Cihampelas Walk Bandung versi tanpa pepohonan. Ada satu gedung utama yang besar, sebuah public square, lalu lorong semi terbuka yang diapit oleh restoran dan café. Hal yang menarik di Jungceylon Mall adalah keberadaan replika kapal di tengah public square. Dari papan informasi di depannya, harusnya ada pertunjukkan air mancur saat malam hari. Sayangnya kami cuma di situ sampai sore. Usut punya usut, ternyata Jungceylon atau Junk Ceylon adalah nama yang digunakan orang-orang Eropa di masa lalu untuk menyebut Phuket.

Mas Fendi beli beberapa baju bermerek di situ, sementara Ian beli tongsis. Eng, mungkin mereka belanja beberapa barang lainnya juga, entahlah gue lupa. Gue sendiri? Ngekorin mereka doang, hahaha. Tapi bukan berarti gue nggak menikmati agenda ini. Gue seneng muter-muter mal, cuma lagi nggak punya duit aja buat belanja.

:crying::crying:

Hujan sempat turun dengan deras setelah kami foto-foto di depan kapal. Staf mal dengan sigap membuat sebuah terowongan yang menghubungkan antara lorong berkanopi dan public square agar pengunjung tidak kehujanan. Ada celah yang tak terlindungi di antara kedua titik itu. Gue salut melihat betapa seriusnya mereka memberikan pelayanan terbaik buat konsumen. Udah pernah lihat mal di Indonesia (atau tempat lainnya) kayak gitu belum? Gue sih belum ya.

suasana di dalam jungceylon mall patong, phuket, thailand

lorong-lorong jungceylon mall yang bakal makin instagrammable saat malam

replika kapal di jungceylon mall patong, phuket, thailand

Karena mas Fendi ngidam mango sticky rice, kami bertiga berjalan menyusuri lorong yang diapit tempat-tempat makan itu dan bahkan sempat mencari di sekeliling area luar mal. Kami akhirnya memutuskan masuk ke sebuah café di dalam komplek Jungceylon Mall. Gue sendiri masih kenyang dengan sarapan di hotel Ibis Phuket Kata, jadi gue cuma minum iced thai tea seharga 100 THB di situ.


Menyewa Taksi Seharga 1500 THB

Realita di lapangan ini memang berbeda dengan itinerari yang udah gue pikirkan sebelumnya. Dalam bayangan gue, hari pertama ini akan gue gunakan untuk eksplor pantai di kawasan Kata, Karon, dan Patong. Pantai apapun yang bisa dijangkau dengan jalan kaki atau tuk-tuk. Sebetulnya pengen sewa day trip ke Phi Phi Island, tapi karena ternyata gue salah memperhitungkan kondisi finansial, keinginan itu harus gue ikhlaskan tak terwujud.

:desperate::desperate:

Klik di sini untuk memesan paket wisata One Day Trip Phuket (Phi Phi Island, Maya Bay, Maiton Island)

Namun kemudian setibanya di Phuket, mas Fendi bilang kalau dia nggak mau ke pantai dulu. Dia masih “bosen” dengan pantai karena dia baru aja balik dari liburan di Maladewa. Makanya, pagi ini kami langsung ke Jungceylon Mall sesuai permintaannya. Tuntas di Jungceylon, kami sempet bingung mau ke mana. Patong nggak punya atraksi wisata lain selain pantai (yang mas Fendi nggak mau) dan pasar malam (yang belum buka). Kuil pun nggak ada yang deket, desain arsitekturnya juga biasa aja. Akhirnya sesuai usul gue, kami memilih mengeksplor kota Phuket (Phuket Town, tolong bedakan dengan Provinsi dan Pulau Phuket).

di dalam taksi sewaan seharga 1500 thb

Saat kami melangkah menuju jalan raya, seorang bapak menghampiri kami untuk menawarkan jasa taksinya. Mas Fendi nampak tertarik dari menit pertama. Setelah beberapa menit terlibat pembicaraan tentang tujuan dan harga, kami sepakat dengan harga 1500 THB (sekitar Rp600.000) untuk 5 jam pemakaian di area kota Phuket. Meski pada awalnya gue nggak yakin dengan keputusan ini, namun ternyata kami nggak salah pilih. Selain hemat waktu dan tenaga, bapak sopirnya juga ramah dan baik bangeeettt. No scamming!


Obyek 2: Kota Tua Phuket (Phuket Old Town)

Saat gue menjelaskan tentang kota tua Phuket di perjalanan, mas Fendi tampak antusias. Kurang lebih, gue mendapat kesan mas Fendi punya selera traveling yang sama kayak gue. Suka dengan budaya urban (kehidupan sehari-hari) / gaya hidup, mencari pengalaman lokal, dan sebagainya. Saat itu gue berpikir, tepatlah gue ngajak mereka berdua ke kota tua Phuket.

ruko-ruko penuh warna di depan old phuket bus station

nggak ada persimpangan yang nggak cantik di kota tua phuket

Sesampainya di area kota tua Phuket, well, ternyata nggak sesuai ekspektasi mas Fendi yang menurutnya, “Cuma gini doang? Yah, ini sih kayak di Bugis.” Ternyata “selera kota tua” buat kami berdua berbeda, mungkin mas Fendi mengharapkan yang lebih spektakuler. Kalo gue sih tetep seneng-seneng aja sama kota tua Phuket.

:ngakak::ngakak:

Tapi nggak salah sih kalo mas Fendy bilang begitu, soalnya memang benar adanya, haha. Pengaruh arsitektur Portugis ini memang bisa dijumpai di beberapa wilayah Asia, termasuk Macau, Malacca, Penang, Singapore, dan tentunya di negeri kita sendiri — Maluku dan Nusa Tenggara. Sino-Portuguese adalah sebuah gaya arsitektur yang memadukan unsur-unsur Portugis dan Tionghoa. Karena pengaruhnya banyak tersebar di Semenanjung Malaya, maka nggak heran kalo arsitektur ini juga dikenal dengan nama arsitektur Peranakan. Tjong A Fie Mansion di Medan juga disebut-sebut dipengaruhi desain arsitektur ini lho.

Secara keseluruhan, Thailand memang nggak pernah dijajah, tapi bukan berarti Thailand serta merta bebas dari kunjungan bangsa-bangsa Eropa. Dibandingkan Belanda atau Perancis, Portugis lebih dulu menjejakkan kakinya di Asia Tenggara. Tahun 1511, dengan dipimpin oleh Albuquerque, mereka mencapai Malacca setelah berlayar dari Goa di pantai barat India.

ada sudut yang macet, ada juga sudut yang tenang seperti ini

salah satu bangunan tua di old town of phuket

can you find me? udah item, pake baju item pulak.

a closer look at phuket old town

Tahun 1545, seorang petualang dan penulis Portugis — mungkin kalo sekarang bakal disebut travel blogger haha — bernama Fernao Mendes Pinto tiba di Kerajaan Siam dan menjelajahi berbagai penjuru negeri, termasuk Phuket yang saat itu ia sebut dengan nama Junk Ceylon. Ia menggambarkan Phuket sebagai pelabuhan yang dipadati kapal-kapal dari berbagai daerah di sekitarnya, seperti Jawa dan Borneo.

Saat ini, kepingan-kepingan masa lalu tersebut dapat kita lihat di Phang Nga Road (Thanon Phang Nga) dan sekitarnya. Jalan-jalan sempitnya diapit oleh deretan ruko-ruko Sino-Portuguese setinggi 2 lantai, dibalut dengan warna-warna cerah. Atap-atap lengkungnya yang khas Tionghoa berpadu dengan pilar-pilar dan struktur bangunan bergaya Portugis. Gue nggak tahu bangunan-bangunan apa aja yang kami lalui, tapi sebagian di antaranya difungsikan sebagai café. Sayangnya saat itu lagi bener-bener nggak laper, padahal rencana awalnya memang mau ngopi-ngopi di situ.

sebuah taman kecil di area kota lama phuket

menurutmu, gimana kondisi kali di kota phuket ini?

Kami bertiga sempat berfoto di beberapa persimpangan instagrammable selagi mas Fendi dan Ian masih semangat, hehe. Beberapa menit kemudian, kami sempat sebentar terpisah. Mereka terus berjalan cepat, sementara gue… diam-diam melipir ke dalam Wat Mongkol Nimit.


Obyek 3: Wat Mongkol Nimit

Kuil ini nggak sengaja gue temukan saat menjelajah area kota tua Phuket. Dari info yang gue dapatkan, Wat Mongkol Nimit yang disebut juga Wat Krang (Klang?) ini dibangun pada tahun 1880. Wat Krang sendiri berarti “Kuil Tengah”, merujuk pada lokasinya yang berada di area kota tua Phuket, tepatnya di Soi Romanee, Dibuk Road (persis di seberang pom bensin Shell). Nama “Mongkol Nimit” baru digunakan pada tahun 1953.

Wat Mongkol Nimit memiliki halaman parkir yang luas! Menurut gue sih bus-bus besar juga bisa terakomodasi. Nggak ada biaya tiket masuk, tapi — seperti kuil-kuil gratis lainnya — ada kotak donasi untuk kita masukkan beberapa lembar Baht sebagai sumbangan. Secara garis besar, komplek Wat Mongkol Nimit terbagi ke dalam 3 area: bangunan utama kuil, chedi (stupa), dan asrama para biksu.

kiri: wat mongkol nimit tampak belakang
kanan: patung Buddha di pintu depan wat mongkol nimit

bangunan kuil yang menghadap gerbang komplek ini ternyata justru sisi belakang kuil

Bangunan utama kuil yang bermahkotakan atap berundak menjadi hal pertama yang gue jumpai saat memasuki area kuil. Bangunannya dikelilingi oleh pagar pembatas, memiliki celah-celah jendela dengan bingkai berwarna merah dan emas. Terdapat masing-masing 2 pintu dari kedua sisinya. Sisi yang menghadap pintu gerbang komplek ternyata adalah sisi belakang kuil, karena sisi depannya menghadap ke arah komplek stupa. Sebuah patung Buddha ditempatkan persis di tengah-tengah dua pintu masuk bangunan kuil pada sisi depan.

Dengan langit-langitnya yang tinggi, bangunan kuil menaungi sebuah patung Buddha berukuran besar dengan posisi bersila. Sang Buddha yang agung diapit oleh sepasang patung lainnya yang berukuran lebih kecil. Pada awalnya, nggak ada siapa-siapa di dalam kuil. Beberapa menit kemudian, 3 orang turis Tionghoa datang lalu bersembahyang di hadapan Sang Buddha. Mas Fendi dan Ian juga, entah gimana caranya, menemukan gue di kuil ini.

bingkai dan daun-daun jendela wat mongkol nimit, phuket

chedi (stupa) | wat mongkol nimit, phuket

di dalam bangunan utama wat mongkol nimit, phuket

Stupa (chedi) utamanya tinggi menjulang berwarna cokelat, sementara stupa-stupa lain yang lebih kecil berarak mengelilinginya. Bangunan kolonial Eropa yang ada di sudut dan tepi komplek Wat Mongkol Nimit menjadi rumah para biksu untuk beraktivitas. Sayangnya saat itu gue lagi nggak beruntung, nggak melihat satu biksu pun di dalam area komplek.


Obyek 4: 72nd Anniversary Queen Sirikit Park

Sebetulnya, kunjungan ke 72nd Anniversary Queen Sirikit Park ini gue lakukan keesokan harinya pada hari Minggu. Tapi karena lokasinya masih berada di kawasan kota tua Phuket, jadi gue selipin di poin 4 ini. Saat itu gue sedang menggunakan waktu yang masih ada sebelum naik bus bandara menuju Phuket International Airport. Gue berjalan secara impulsif dari Old Phuket Bus Station, menyusuri jalanan kota tua yang belum terjamah di hari sebelumnya dengan rute memutar, dan menemukan taman ini di tepi Thalang Road.

Di Google Maps, tempat ini terdata dengan nama Hai Leng Ong Statue (Patung Naga Laut Emas) yang menjadi penanda ikoniknya. Menurut dongeng setempat, Sang Naga Laut tersebut dipercaya menjadi makhluk yang menjaga Phuket, bersemayam di Laut Andaman. Selain Sang Naga, di taman yang dibangun pada tahun 2004 ini juga terdapat medan lapang berumput, plaza berundak, area pedestrian, dan lampion-lampion merah yang digantung di bawah ranting-ranting pohon.

approaching 72nd anniversary queen sirikit park, phuket

pedestrian area | 72nd anniversary queen sirikit park, phuket

the public square | 72nd anniversary queen sirikit park, phuket

the green square | 72nd anniversary queen sirikit park

the golden sea dragon statue | 72nd anniversary queen sirikit park, phuket

loket peninggalan kolonial yang kosong

Gue selalu suka mampir ke taman lokal. Gue bisa duduk santai sambil mengamati aktivitas sehari-hari warga setempat yang berjalan-jalan, jogging, tai chi, atau sekedar menghabiskan waktu dengan obrolan ringan. Sayangnya saat itu gue sendirian, mas Fendi dan Ian udah melipir ke Krabi dari pagi-pagi banget.


Bersambung di tulisan berikutnya, di mana gue akan bercerita tentang menikmati pemandangan kota Phuket dari ketinggian di Khao Rang Hill, bersantai menikmati suasana di Pantai Kata (Kata Beach), dan indahnya dunia malam di Bangla Street Night Market.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *