Merenda Asa Untuk Pariwisata Kota Indonesia

Sebelumnya, gue ucapkan Selamat Natal bagi saudara-saudara seiman, Selamat Tahun Baru untuk semuanya, dan turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa pesawat Air Asia 8501. Stay strong!

Bicara soal pariwisata Indonesia, biasanya yang langsung terlintas di benak orang-orang adalah objek-objek wisata alam, seperti pantai dan gunung. Padahal, pariwisata nggak melulu seperti itu. Sebuah kota juga menjadi bagian dalam bisnis pariwisata.

Dari ratusan kota yang ada di Indonesia, menurut gue baru ada satu kota yang menangani industri pariwisatanya dengan baik. “Baik” di sini bukan berarti terus sempurna, tapi setidaknya udah paling “mending” dibandingkan kota-kota lainnya.

Yogyakarta.

Selain memang memiliki objek-objek wisata budaya, sejarah, kuliner, seni, dan sosial di dalam kotanya, Yogyakarta juga sudah memiliki moda transportasi yang cukup baik melalui keberadaan jaringan Bus Rapid Transit (BRT) TransJogja dan beberapa bus kota lama yang masih beroperasi. TransJogja juga menjangkau Bandara Internasional Adi Sutjipto. Selain TransJogja, bandara juga terhubung dengan lintasan kereta api. Kereta api komuter Prambanan Ekspres akan mengantarkan pelancong dari bandara menuju Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu, dan sebaliknya. Keretanya cukup nyaman, dengan tempat duduk yang saling berhadapan, bekas Tokyo Metro seperti halnya Jakarta Commuter Line.

Jalanan kota Yogyakarta yang tidak terlalu padat itu (kecuali pada jam-jam dan hari-hari tertentu) diapit oleh trotoar yang nyaman dan rapi. Gue selalu menikmati berjalan kaki menyusuri jalanan kota ini. Tempat-tempat wisatanya sudah dipromosikan dengan baik, terbukti dengan antusiasme turis atau pejalan dari dalam dan luar negeri. Sudah ada seabrek website yang memberikan informasi lengkap tentang pariwisata Yogyakarta, seperti YogYes dan GudegNet. Desain web-nya cukup professional, artikelnya lengkap dan kekinian banget, navigasinya mudah, serta tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Sekarang coba kita tengok Jakarta, sang ibukota.

Sadar nggak sih, Jakarta adalah satu-satunya ibukota di Asia Tenggara (bahkan seluruh Asia) yang tidak menjadi destinasi wisata di negaranya. Popularitasnya sebagai tujuan turisme tenggelam ditelan ketenaran Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Phnom Penh, Hanoi, Manila, bahkan Vientiane dan Yangoon (eks ibukota Myanmar, sekarang sudah pindah ke Naypyidaw). Padahal Jakarta memiliki paket wisata lengkap: dari wisata sejarah, kuliner, bahkan alam juga ada. Jakarta memang sudah memiliki BRT TransJakarta dan Commuter Line, namun kedua moda transportasi tersebut belum menjadi pilihan masyarakat luas sehingga kemacetan pun terjadi di mana pun, kapan pun. Armada TransJakarta perlu ditambah, frekwensi kedatangan dan jangkauan Commuter Line perlu ditingkatkan.

Objek-objek wisata di Jakarta belum terjaga dan terpromosikan dengan baik. Tahu Kasturi Walk di Kuala Lumpur atau Bugis Street di Singapura? Nah, Pasar Baru (Passer Baroe) Jakarta sangat berpotensi untuk menjadi tujuan wisata seperti itu. Bahkan, Pasar Baru menempati bangunan tua bersejarah, pengunjung dapat sekalian berwisata historis dan arsitektur. Lokasinya ada di kawasan Little India-nya Jakarta. Sayang, wisatawan mancanegara tidak mengetahui hal itu karena kurangnya promosi. Kebersihannya pun kurang diperhatikan. Sampah bertebaran di sepanjang jalan. Beberapa bagian juga perlu ditata lagi sehingga akan lebih terkonsep.

Sama halnya dengan kawasan Kota Tua. Kawasan ini sebenarnya adalah asset terbaik pariwisata kota Jakarta, menurut gue. Di antara negara-negara Asia Tenggara (bahkan seluruh Asia) yang lain, Indonesia adalah satu-satunya negara yang dijajah oleh Belanda. Maka, Indonesia — khususnya Jakarta — memiliki bangunan-bangunan tua dengan gaya arsitektur yang berbeda dibandingkan Singapura dan Malaysia yang dijajah Inggris, Filipina yang dijajah Spanyol, atau Kamboja – Laos – Vietnam yang dijajah Perancis.

Sayang, Kota Tua masih berserak sampah. Para pedagang asongan dan pengunjung harus lebih ditertibkan. Oh! Juga sopir-sopir angkot (dan kawan-kawannya) yang mangkal di depan Museum Bank Mandiri. Bayangkan.. Rasakan.. Kota Tua yang bersih, tenang, rapi, dengan sungai yang mengalir jernih, trotoar lebar di sepanjang aliran sungai, sementara sang surya tenggelam di ufuk barat. Romantis!

PHTO0058.JPG

Pada suatu hari di tahun 2013, gue sempat mengikuti sebuah workshop travel-blogging dan fotografi yang digagas oleh sebuah majalah travel digital di Bandung. Bu Ratna, perwakilan dari Bagian Pencitraan Kemenparekraf, hadir di situ. Tujuannya… yah, memberi sambutan ini itu dan ikut menjadi narasumber.

Saat sesi tanya jawab, ada salah seorang peserta workshop yang mengajukan pertanyaan tentang promosi pariwisata Indonesia. Bu Ratna kemudian mengeluhkan tentang betapa Kemenparekraf ingin melakukan banyak tindakan, namun membutuhkan bantuan kementerian yang lain. Misalnya, dengan Kementerian Perhubungan untuk membuatkan akses jalan menuju sebuah tempat wisata, atau dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dan perhotelan untuk menyediakan akses murah bahkan gratis ke sana.

DSC_0307

Gue berpikir, “Kok pemikirannya sempit banget?”

Maksud gue, kalau memang itu kendalanya, kenapa tidak memulai dari tempat-tempat yang sudah memiliki akses yang baik? Yang terjangkau dengan berbagai moda transportasi publik? Ibukota sendiri, misalnya? Atau kota-kota potensial lainnya yang jumlahnya bisa belasan bahkan puluhan!

(Saat kembali bertemu dengan beliau dalam sebuah acara travel gathering oleh Skyscanners Indonesia, Bu Ratna kembali mengemukakan sambutan dengan kata-kata serupa, mengeluhkan permasalahan serupa, dan mengungkapkan harapan serupa)

Yang perlu dilakukan hanyalah membersihkan, merawat, lalu promosikan! Coba contoh negeri-negeri tetangga. Potensi alam apa yang dimiliki oleh Singapura? Pantai pasir putih mana di Thailand atau Vietnam yang mengalahkan keelokan pantai-pantai pasir putih di Indonesia? Pariwisata mereka berhasil karena mereka sukses mempromosikan kotanya. Potensi wisata alam di daerahnya serta merta ikut terangkat setelah potensi wisata kotanya dipromosikan lebih dulu.

Sementara bangunan-bangunan tua di Singapura dan Malaysia berderet anggun dan menjadi destinasi wisata utamanya, bangunan-bangunan tua di Indonesia berdiri dengan sekarat di sudut-sudut kota. Teronggok kesepian di tengah pemukiman kumuh yang mengepungnya. Dindingnya sudah terkelupas dan kusam di sana-sini, tak kuasa menahan terpaan cuaca lembab, air hujan, dan terik matahari selama berabad-abad.

Jadi, untuk Kementerian Pariwisata saat ini, untuk Bapak Arief dan tim, gue berharap potensi wisata kota-kota di Indonesia lebih dipromosikan. Ya, di sini Kementerian membutuhkan kerjasama dari Pemerintah Kota dan… warganya sendiri, untuk ikut merawat dan mempromosikan. Dari mulut ke mulut, media sosial, hingga blog dan website pribadi.

Mungkin bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata negara-negara tetangga, yaitu dengan mengundang para travel-blogger asing berwisata secara cuma-cuma lalu meminta mereka menuliskan ulasan dan cerita perjalanannya di blog.

Banyak banget kota-kota di Indonesia yang sangat layak untuk dipromosikan. Selain Jakarta, masih ada Semarang, Semarang, Lasem, Cirebon, Surabaya, Medan, Banda Aceh, Bukittinggi, Sawahlunto, Palembang, Banjarmasin, Palu, Manado, Makassar, dan seterusnya yang nggak bisa gue sebutkan satu per satu. Selain dengan meningkatkan fasilitas transportasi umum yang cepat, aman, dan nyaman, setiap objek juga perlu lebih ditata, dibersihkan, dirawat, sehingga lebih terkonsep. Misalnya adalah kawasan Pecinan Bandung. Agar lebih menarik, kawasan ini perlu dibersihkan dan dihias lagi, mungkin dengan dibangun semacam gapura bergaya oriental dengan tulisan “Welcome to Bandung Chinatown” di Jalan Kelenteng, ditambah dengan petunjuk arah untuk membantu wisatawan menjelajah.

Oh ya, jika memang pihak Kementerian ingin agar ada sebanyak mungkin orang  Indonesia yang menikmati wisata negerinya sendiri (seperti yang selalu bu Ratna ungkapkan di setiap kesempatan), lakukanlah demikian. Berikan kesempatan tersebut melalui, misalnya, pengadaan lomba-lomba berhadiah paket jalan-jalan gratis dengan penjurian yang objektif dan netral, tanpa dilandasi kepentingan golongan tertentu. Jika memang layak menang sesuai dengan kriteria lomba, ya menangkanlah ia. Tanpa melihat siapa dia, berapa followers twitter-nya, atau statistik blog-nya.

Akhir kata, gue ingin menekankan bahwa tulisan ini bersifat subyektif. Jika ada teman-teman yang kurang setuju, monggooo. Saya cuma ingin mengungkapkan uneg-uneg jujur dari dalam diri tentang kilas balik dan harapan untuk Kementerian Pariwisata dari sudut pandang seorang pejalan abal-abal. Majulah pariwisata kota Indonesia!!!

Tulisan ini diikutsertakan dalam kegiatan PosBar oleh komunitas Travel Bloggers Indonesia (TBI) dengan tema #SuratMenteri. Baca tulisan lainnya di:

Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah Pada Malaysia

Danan Wahyu Sumirat – Repackage Visit Indonesia Year

Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka Untuk Menteri Pariwisata

Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan, dan Blogger

Firsta Yunida – Thoughts and Testimonials: Tourism in Indonesia

Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal Untuk Pariwisata Indonesia

Lenny Lim – Surat Untuk Menteri Pariwisata

Parahita Satiti – Surat Untuk Pak Arief Yahya

Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia dengan Segala Problematikanya

Titiw Akmar – Secercah Asa Untuk Pariwisata Indonesia

Vika Octavia – Pariwisata Indonesia: Telur Dulu Atau Ayam Dulu?

Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat Untuk Menteri Pariwisata

Yofangga Rayson – Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *