Ngebolang ke Museum Pos Indonesia

Oke, ini adalah post yang sangat sangat terlambat untuk diceritakan, terjadi sebelum gue jalan-jalan ke Jakarta dan Singapore.

Hari Sabtu pagi, entah tanggal berapa, entah bulan September atau Agustus, yang jelas tahun 2013, gue memutuskan untuk sedikit mengeksplor kota tempat tinggal gue ini. Kaki gue udah gatel pengen jalan, dan blog gue (saat itu) udah nyaris lumutan karena belum ada cerita travelling yang baru. Ada 4 destinasi yang akan gue tuju hari itu: Museum Pos Indonesia, Museum Geologi, Gedung Merdeka sekaligus Museum Konferensi Asia-Afrika, dan Masjid Raya Bandung. Percayalah, sering kali tempat-tempat yang deket kayak gini malah luput dari penjelajahan, dan kita malah mementingkan mengunjungi tempat-tempat yang jauh sampai luar negeri (ceramahin diri sendiri). Semua tempat itu, ehem, belum pernah gue kunjungi selama 5 tahun hidup di Bandung #slap

Gue bangun agak kesiangan, tergopoh-gopoh masuk ke dalam angkot Cicaheum-Ledeng yang akan mengantarkan gue langsung ke Museum Pos Indonesia. Gue sampai di tempat tujuan saat kedua jarum jam nyaris membentuk garis vertikal dari atas ke titik tengahnya. Untunglah museum masih buka.

Museum Pos Indonesia terletak di gedung Kantor Pos Pusat Bandung, tepat di samping Gedung Sate yang tenar itu. Secara administratif, museum ini beralamat di Jl. Cilaki 73, Cihapit, Bandung Wetan. Begitu memasuki pintu gerbang, mungkin pengunjung akan bingung mau masuk pintu yang mana. Nah, terus berjalanlah ke ujung, maka kamu akan menemukan pintu masuk museum setelah menapaki beberapa anak tangga berwarna hitam.

Saat gue datang, tak tampak satu orang pun petugas yang menjaga museum. Artinya gue juga melenggang masuk begitu aja tanpa membayar sepeser pun. Bener-bener wisata murah meriah! Tinggal modal ongkos angkot atau duit bensin. Gue berjalan melalui sebuah tangga dan lorong yang suram dan agak menyeramkan, lalu dikagetkan dengan diorama kegiatan pos keliling desa era 80-an atau 90-an. Diorama itu ditempatkan tepat di samping beberapa sepeda onthel yang berjajar rapi.

Sebagai anak generasi 90-an (cieee masih muda) yang hidup di pinggiran perkotaan, gue sama sekali nggak mengalami masa kejayaan pos di Indonesia. Dalam artian, gue nggak pernah melakukan kegiatan surat menyurat atau berbagi kabar melalui pos. Gue pun nggak punya kenangan manis bersama Pak Pos dan sepedanya yang khas berwarna oranye. Pos hanya gue andalkan untuk mengirimkan dokumen-dokumen ke luar kota, misalnya saat pendaftaran program beasiswa. Jadi, banyak hal-hal di dalam Museum Pos Indonesia yang bikin gue norak, haha.

Saat pertama kali didirikan pada 27 Juli 1920, museum ini bertitel Museum Pos, Telegraph, dan Telepon (PTT) yang akhirnya dibuka pada tahun 1931. Sang arsitektur, Ir. J. Berger (nggak ada hubungannya sama burger kok), memilih desain arsitektur Italia masa Renaissance yang anggun dan dibalut dengan warna putih. Museum dibuka untuk umum pada 27 September 1983 oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi — Achmad Tahir —- bertepatan dengan Hari Bakti Postel ke-38 dengan nama Museum Pos dan Giro (menyesuaikan dengan nama perusahaan saat itu)

Selain koleksi perangko dari berbagai peradaban, Museum Pos Indonesia juga diisi dengan: mesin-mesin potong, timbangan, mesin ketik, kotak pos jaman dulu, dan seragam pos dari masa ke masa. Museumnya nggak terlalu luas kok, hanya 700 meter persegi, bisa dieksplor dalam hitungan puluhan menit.

Gerobak pos dan teman-temannya

Gerobak pos dan teman-temannya

Errr, kalau nggak salah inget, ini juga bis surat

Errr, kalau nggak salah inget, ini juga bis surat

Seperti yang tertera, ehehe.

Seperti yang tertera, ehehe.

Sebuah memorial di sudut museum, mengenang salah satu tokoh pos Indonesia

Sebuah memorial di sudut museum, mengenang salah satu tokoh pos Indonesia

Timbangan pos

Timbangan pos

Lanjut ke Museum Geologi yuks 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *