Panduan Menggunakan Peta MRT / LRT Untuk Pemula

panduan-menggunakan-tips-mrt-untuk-pemula

Untuk sebagian orang, termasuk gue, memahami peta transportasi umum MRT / LRT bukanlah hal yang sulit dilakukan. Saat pertama melakukan perjalanan ke luar negeri di tahun 2013, gue dengan cepat mempelajari peta MRT Singapura sebagai bekal menjelajah seisi kota. Namun rupanya buat sebagian orang lagi, terutama cewek hehehe, peta MRT / LRT itu membingungkan. Alasannya bisa beragam, dari banyaknya jalur, banyaknya titik pertemuan, atau susah membedakan arah.

Nah, buat kamu yang ingin menaklukkan negeri barumu dengan memahami peta jaringan transportasinya, gue akan memberikan tips singkat sebagai panduanmu menggunakan peta.

Baca Juga: 18 Hal yang Bisa Dilihat/Dilakukan di Bandara Changi


Tahu Posisi dan Destinasi

Pertama-tama, kamu harus tahu apa nama stasiun terdekat dari lokasimu dan apa nama stasiun terdekat dengan tujuanmu. Kalau sudah tahu, langsung cari nama stasiun asal dan tujuan di peta. Sudah ketemu? Oke, fokuslah pada dua stasiun itu, abaikan stasiun yang lain dulu, tapi jangan abaikan gue. Sakiiittt. 😭😭😭

Perlu diketahui bahwa nggak semua tempat terkenal punya nama stasiun yang sama, misalnya: Menara Kembar Petronas, nama stasiunnya adalah KLCC. Bisa juga karena wilayahnya yang terlalu luas, maka ada lebih dari satu stasiun di wilayah itu. Dalam deskripsinya di booking.com, hostel gue di Singapura beralamat di kawasan Little India, namun rupanya nama stasiun terdekatnya adalah Farrer Park, bukan stasiun Little India.

Baca Juga: Tips dan Budget Jalan-Jalan ke Singapura (termasuk menggunakan MRT-nya)

LRT di Singapura

Lalu gimana caranya tahu nama stasiun keberangkatan dan tujuan?

Browsing di internet, cara kekinian untuk mencari informasi. Situs atau blog panduan wisata yang baik biasanya akan menyertakan informasi akses transportasi.

Tanya orang, entah itu petugas bandara, petugas stasiun, petugas hotel, warga lokal.

Google Maps, tinggal cari nama tempat yang mau kamu tuju lalu perbesar peta di Google Maps sampai terlihat apa nama stasiun di dekatnya.


Tahu Nama Jalur (Line) yang Harus Digunakan

Perhatikan kedua titik stasiun (stasiun posisi dan destinasi) yang sudah kamu temukan tadi. Perhatikan, apa warna jalur yang menghubungkan kedua stasiun itu? Cari tahu nama jalur pada keterangan / legenda pada peta. Contoh, jalur berwarna hijau pada peta MRT Singapura adalah warna untuk East West Line (Green Line).

Singapore MRT and LRT map with the new Blue Line

Singapore MRT and LRT map with the new Blue Line

Ada kemungkinan kamu harus menggunakan lebih dari satu jalur untuk menuju stasiun destinasi. Lha, terus piye? Ribet dong.

Tenang, jangan buru-buru bingung dan merasa pusing. Berarti, kamu harus juga tahu nama stasiun transit (pertukaran) dan nama jalur (line) yang harus digunakan kemudian.

Kalau merasa susah mengingat-ingat semua nama stasiun dan jalur itu, ya udah, abaikan nama stasiun tujuan akhir. Fokus dulu dengan nama stasiun transit, jadi kamu tetap hanya mengingat satu stasiun tujuan dan satu nama jalur. Sementara nama stasiun tujuan akhir dan nama jalur kedua biar dibahas lagi kalau udah sampai di stasiun transit.

Ampang Line, dulu bernama Star LRT, merupakan rapid transit pertama di Kuala Lumpur

Intinya, ingat-ingat / catat:

  1. Nama stasiun akhir dan nama jalur, atau
  2. Nama stasiun transit, nama jalur menuju stasiun transit, nama stasiun tujuan, nama dan jalur menuju stasiun tujuan, atau
  3. Nama stasiun transit dan nama jalur menuju stasiun itu.

Catatan:

Nggak semua jalur (line) terintegrasi satu sama lain sebagai sebuah satu sistem, contohnya adalah BTS / Skytrain dengan MRT di Bangkok dan LRT dengan MRT di Manila. Jadi, kalau kamu harus berganti jalur dari BTS ke MRT dan sebaliknya, kamu harus membeli tiket secara terpisah. One Day Pass dan Rabbit Card juga hanya berlaku untuk BTS, tidak buat MRT. Sementara MRT punya kartunya sendiri.

Klang Valley Integrated Map. Source: mymrt.com.my

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Kuala Lumpur (LRT, Monorail, KTM Komuter, dan KLIA Ekspres)


Cara Membeli Tiket

Sebuah sistem MRT dan LRT biasanya memiliki teknologi pembelian tiket yang modern. Di Singapura dan Kuala Lumpur, tiket dibeli melalui ticket vending machine dengan layar sentuh. Pilih stasiun tujuan, sesuaikan jumlah tiket (bila ingin membeli lebih dari satu tiket), masukkan uang (kertas dan atau koin) ke dalam slot, tiket atau token dan kembalian akan keluar melalui baki di bawah layar.

Khusus di Kuala Lumpur, sebelum memilih stasiun tujuan, kamu harus lebih dulu memilih nama line (laluan): Kelana Jaya, Ampang / Sri Petaling, atau Monorail.

BTS vending machine, perhatikan peta dan petunjuk harga di papan sebelah kanan!

MRT Bangkok menggunakan teknologi serupa, tapi tidak untuk BTS / Skytrain. Hampiri vending machine, perhatikan peta BTS yang terpampang, cari mana stasiun tujuanmu. Nah, ada nominal yang tertera di setiap titik stasiun. Nominal itulah yang harus kamu bayar. Masukkan koin ke dalam slot, lalu mesin akan mengeluarkan token dan uang koin kembalian.

Mau cara yang lebih mudah?

Pakai stored value card. Di Singapura ada Singapore Tourist Pass (STP) dan kartu EZ-Link. Kuala Lumpur punya Rapid Pass dan Touch ‘n Go. Sementara Bangkok juga punya One Day Pass dan Rabbit Card untuk BTS, dan MRT Card. Kalau udah punya kartu-kartu itu, kamu nggak perlu beli tiket satuan (single journey trip) di setiap perjalanan. Nggak usah pusing dengan cara membeli tiket di mesin, langsung tap kartu saat masuk dan keluar.

Baca Juga: Membaur Bersama Warga Dengan LRT Singapura

Single trip card for BTS

EZ-Link, Rapid Pass KL, Touch ‘n Go, dan Rabbit Card harus diisi ulang kalau saldo udah habis. Sistemnya kayak Flazz atau Jak-Card di Jakarta. Sementara STP dan One Day Pass BTS dapat kamu pakai sepuasnya selama berada di dalam masa berlaku. STP tersedia dalam pilihan 1 hari, 2 hari, dan 3 hari. Eh, kalau ada update, kabari ya, bro sis!

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok (BTS / Skytrain, MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus)


Tahu Arah Tujuan

Nah, tiket sudah di genggaman, saatnya kamu memasuki peron dan tunggu keretamu. Eits, pastikan kamu berada di peron yang benar. Percuma deh kamu inget-inget nama jalur dan stasiun tujuan kalau kamu naik kereta yang salah arah.

Lalu gimana caranya tahu mana arah yang tepat?

Tanya petugas atau calon penumpang lain, atau

Lihat peta dan cari tahu nama stasiun terakhir. Petunjuk arah di stasiun biasanya menggunakan nama stasiun terakhir, istilahnya terminus. Contoh untuk kasus BTS Bangkok Sukhumvit Line: train to Mochit, atau train to Bearing.

BTS Bangkok map

Gue pernah punya pengalaman naik kereta yang salah arah dan menunggu di peron yang salah di Kuala Lumpur. Aneh, padahal itu udah keempat kalinya gue ke sana, mungkin karena kurang focus dan terlalu percaya diri tanpa cek peta lebih dulu. Stasiun yang paling membingungkan adalah Masjid Jamek. Menurut gue, petunjuk arah untuk berpindah jalurnya kurang jelas.


Udah tahu nama stasiun tujuan, nama jalur, dan arah yang benar, saatnya kamu masuk peron dan tunggu keretamu datang. Horeee!!! Biasanya, MRT / LRT akan datang setiap 3-8 menit sekali, tergantung apakah saat itu jam sibuk atau bukan. Kalau datangnya 15 menit sekali mah Commuter Line, wkwkwk. Biarkan penumpang turun keluar terlebih dulu, barulah kamu masuk ke dalam kereta.

BTS (Skytrain) Silom Line Bangkok, Thailand

Untuk membantu penumpang, tersedia peta rute di dalam setiap gerbong. Operator akan menyuarakan nama stasiun berikutnya melalui pengeras suara dalam bahasa lokal dan bahasa Inggris, jadi nggak usah takut ketinggalan stasiun (kecuali kamu ketiduran). Ingat, kalau kamu menggunakan tiket sekali jalan, kamu nggak bisa keluar di stasiun yang berbeda dari tiket yang sudah kamu beli. Hampiri petugas stasiun bila kamu ternyata salah pilih stasiun, atau kebablasan, atau sekadar mau pedekate 😍😍😍

Satu hal terakhir untuk panduan menggunakan MRT / LRT. Kamu harus tahu, bahwa satu stasiun bisa memiliki banyak pintu keluar (Exit), terutama di Singapura dan MRT Bangkok. Beda pintu, beda pula juntrungannya. Nggak usah bingung, ada keterangan di setiap arah menuju pintu keluar. Gue pernah mengalami salah exit di Singapura. Niat hati mau ke Chinatown, tapi gue malah berakhir di Eu Tong Sen Street. Kenapa bisa ada banyak exit? Karena stasiunnya gede banget!

Perjalanan menuju destinasi bisa jadi harus kamu lanjutkan dengan berjalan kaki, naik bus, atau naik tuk-tuk kalau di Bangkok.

Sebelum ditutup, mohon doanya supaya gue bisa segera ke Manila buat studi banding (halah) MRT / LRT di sana. Doakan juga gue segera punya action camera untuk merekam proses menggunakan MRT dari masuk stasiun, transit, sampai tiba di tujuan.

Mudah-mudahan tulisan ini berguna buat membantu kamu yang masih kesulitan memahami peta jaringan transportasi MRT / LRT. Sistem di Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Manila, Hong Kong, dan beberapa kota di Tiongkok masih mudah dipelajari. Tapi kalau udah ke Tokyo, Seoul, Beijing, dan kota-kota besar Jepang, beuh.. Harus semedi 3 hari dulu kali. Oh ya, panduan ini juga bisa kamu pakai untuk sistem transportasi lainnya, seperti BRT (bus rapid transit), tram, kereta komuter, dan sebagainya. Semangat bertualang dengan transportasi umum!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *