Pengalaman Naik Kereta Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) + Jadwal dan Harga Terbaru 2020

Ada yang baru di Yogyakarta! Well, sebenernya nggak baru-baru amat sih, gue aja yang telat. Menyusul Medan, Jakarta, Palembang, dan Padang, sekarang Jogja juga sudah punya kereta bandara (meski secara praktis, Prambanan Ekspres yang melayani Stasiun Maguwo di depan Bandara Adi Sucipto adalah kereta bandara pertama). Kereta bandara Yogyakarta International Airport (YIA) mulai beroperasi pada bulan Mei 2019 menyusul dibukanya bandara baru di Kulonprogo itu. Makanya, saat mudik Natal bulan Desember 2019 lalu, gue menyempatkan diri buat cobain transportasi baru ini. Maklum, rail enthusiast.

Sejak sebelum berangkat ke Jogja, gue udah membayangkan wacana menjajal kereta baru ini. Lalu saat gue meet-up sama mas @iansetyadi di SILAMO Hub―sebuah kedai kopi baru di kawasan selatan Yogyakarta―gue langsung nembak mas Ian buat ikut mengeksekusi rencana ini.

“Mas, udah pernah ke bandara baru? Mampir ke sana, yuk. Cobain kereta, terus balik lagi.”

Mas Ian ternyata menyambut baik rencana itu. Saat itu malam Natal, 24 Desember 2019―wah, Nugi malam Natal bukannya ibadah malah ngopi-ngopi. Kami sepakat untuk mengeksekusi rencana itu di hari Jumat, 27 Desember 2019. Lalu gimana pengalaman kami naik kereta bandara YIA? Baca terus ulasan ini sampai selesai.

Simak ulasan lainnya: Pengalaman Naik Airport Railink dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pusat Kota Jakarta


Sampai tulisan ini diturunkan (udah kayak surat kabar besar aja bahasanya), kereta bandara YIA belum melayani rute langsung ke Yogyakarta International Airport. Penumpang harus transit di Stasiun Wojo, lalu di sana melanjutkan perjalanan dengan DAMRI Airport Shuttle, dan begitu pun sebaliknya. Maka rute yang kami ambil adalah Stasiun Yogyakarta – Stasiun Wojo – Yogyakarta International Airport dengan jadwal keberangkatan pukul 10:10.

Kereta bandara YIA siap berangkat dari Stasiun Yogyakarta (Tugu)

DAMRI Airport Shuttle untuk Yogyakarta International Airport

Saat ini, ada 16 keberangkatan dari Stasiun Yogyakarta dan sebaliknya, dari Stasiun Wojo. Total 16 jadwal itu merupakan gabungan dari layanan Kereta Bandara YIA sendiri dan kereta existing Prambanan Ekspres. Betul, kereta Prambanan Ekspres juga melewati Stasiun Wojo, jadi ada 2 pilihan kereta. Rute lengkapnya adalah Yogyakarta – Maguwo – Wates – Wojo. Ongkosnya tentu beda, yaitu Rp8.000,00 untuk kereta Prameks dan Rp15.000,00 untuk kereta bandara YIA.

Jadwal selengkapnya bisa disimak di tabel ini. Tabel ini gue buat sendiri dengan merangkum informasi dari KAI Access karena gue cek belum ada tabel/infografis jadwal kereta bandara YIA terbaru.

Untuk saat ini, pembelian dan reservasi tiket kereta bandara YIA hanya bisa dilakukan di aplikasi KAI Access atau beli langsung di loket. Untungnya mas Ian memang pengguna KAI Access. Ternyata untuk masuk ke dalam peron, petugas harus memindai barcode tiket dari aplikasi, nggak bisa dari screenshot seperti yang coba gue lakukan.

Nah, this is so impractical. Gue paham, pihak Kereta Api Indonesia ingin aplikasinya diunduh sebanyak mungkin orang, namun sebaiknya KAI juga memikirkan one time customer, seperti wisatawan, apalagi ini adalah transportasi bandara. Sementara kalo beli langsung di loket, antriannya bikin males dan seringkali udah kehabisan dari mereka (warga lokal) yang beli dari pagi-pagi, dari jauh-jauh hari, dan dari KAI Access. Semoga ke depannya akan ada ticketing machine di Stasiun Yogyakarta khusus untuk kereta komuter dan kereta bandara.

Naik kereta bandara Yogyakarta International Airport (YIA)

Disclaimer:

Perbedaan warna kereta di blog ini disebabkan karena efek preset Lightroom yang gue terapkan. Agar bisa membandingkan dengan warna aslinya (hijau cerah, bukan hijau kusam), beberapa foto original gue sisipkan di dalam tulisan.

Baca juga: Perjalanan Naik Kereta Airport Express dari Bandara Hong Kong ke Pusat Kota


Ternyata, kereta bandaranya sendiri juga ada 2 macam. Gue menyebutnya dengan istilah “kereta mewah” dan “kereta merakyat”, hehe. Puji Tuhan, dua-duanya berhasil kami cobain di hari itu juga.

Interior kereta “rakyat” yang kami naiki dari Stasiun Yogyakarta ke Stasiun Wojo

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Kereta yang kami naiki untuk keberangkatan Yogyakarta – Wojo adalah kereta merakyat. Bagian depannya mengingatkan gue dengan armada KRL Commuter Line Tanjung Priuk yang berwarna oranye itu, bedanya kereta yang satu ini diguyur dengan warna hijau. Apa jangan-jangan memang bekas KRL Commuter Line itu ya? Kalo ada sobat railfans yang tau info pastinya, share di kolom komentar dong.

Di dalamnya, kursi penumpang ditata dalam formasi 2-2, di mana baris genap dan ganjillnya saling berhadapan. Di antara kedua lajur kursi, disediakan lorong untuk penumpang berdiri yang dilengkapi dengan hand-rail. Sayangnya, kereta ini kurang nyaman. Kursinya kurang lebar, dan jarak antar kursinya juga sempit. Selain itu juga nggak ada colokan listrik dan tempat menaruh koper yang biasanya ada di kereta bandara.

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Asyiknya, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau dari lahan persawahan, jajaran pohon kelapa, burung-burung bangau, dan punggung pegunungan. Rumah-rumah warga desa berdiri bersahaja menghadap jalur kereta. Untuk pemandangan yang lebih baik, pilih sisi kanan dari arah kedatangan kereta untuk perjalanan Yogyakarta – Wojo ini.

Baca Juga: Perjalanan Naik Kereta KLIA Ekspres dari Bandara ke Kuala Lumpur Sentral


Somehow, Stasiun Wojo ini mengingatkan gue dengan Stasiun MTR Disneyland yang ada di Hong Kong. Kecil, di tengah hutan antah berantah, tiang-tiang bajanya sama-sama diwarnai dengan nuansa hijau.

Kereta Bandara YIA di Stasiun Wojo

Mobil DAMRI yang sudah menunggu di depan Stasiun Wojo

Setelah selesai berfoto-foto, kami berjalan keluar mengikuti papan petunjuk. Stasiun Wojo sudah dilengkapi dengan ruang tunggu yang modern dan cukup luas untuk ukuran stasiunnya. Ada layar TV yang menampilkan informasi jadwal pesawat dari Yogyakarta International Airport. Di depan stasiun, sudah ada 2 mobil DAMRI airport shuttle yang menunggu dan siap diberangkatkan. Gue nggak melihat ada tempat makan atau minimarket di dalam stasiun, tapi beberapa warung dan rumah makan bisa ditemukan begitu kita sudah di jalan raya.

Tiket DAMRI dari Stasiun Wojo ke YIA dibeli langsung dari driver yang bertugas, tarifnya Rp20.000,00. Tergolong mahal untuk sebuah perjalanan singkat selama 10 menit. Armada airport shuttle YIA menggunakan kendaraan bertipe minibus, seperti yang banyak dipakai operator travel Bandung – Jakarta.

Sugeng rawuh di Stasiun Wojo Purworejo

Area tunggu Stasiun Wojo untuk kereta bandara YIA

Jalan raya Wates-Purworejo yang rindang

Gue beruntung bisa duduk di kursi terdepan di samping driver. Mobil lalu berkendara melalui Jalan Wates-Puworejo yang diapit pepohonan rindang, sebelum akhirnya berbelok ke kanan memasuki area Yogyakarta International Airport yang gersang, meski pegunungan terbentang jauh di belakang. Mobil berhenti menurunkan penumpang tepat di depan terminal, di drop off point yang disediakan.


Nah, ini adalah satu bagian yang salah gue prediksi. Gue kira, meski kami bukan calon penumpang pesawat, tetap ada banyak area yang bisa kami eksplor seperti di Terminal 2 – 3 Bandara Soekarno-Hatta atau di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mungkin karena belum beroperasi penuh, area komersil di depan terminal nggak sebesar dan seramai yang gue bayangkan, juga terbuka seluruhnya jadi nggak ber-AC.

Selasar depan terminal keberangkatan Yogyakarta International Airport

Tourist Information Center, Yogyakarta International Airport

Mesin check-in mandiri dan minimarket di Yogyakarta International Airport

Nyaris nggak ada fitur signifikan di selasar depan YIA itu, selain sebuah tourist information center, minimarket Pop-Mart, dan sebuah coffee shop bernama EKOLOGI. Selain EKOLOGI, pilihan tempat makan lain yang bisa kami akses adalah sebuah restoran di seberang terminal. Sayangnya, restoran itu nggak ber-AC. Kalo di dalam ruang tunggunya sih katanya ada banyak tempat makan. Gue mau foto-foto aula check-in, tapi nggak dibolehin sama petugas. Padahal udah gue bilang dari pojok atau dari ambang pintu aja gapapa, diawasi terus sama dia juga gapapa.

Kami pun masuk ke dalam EKOLOGI, pilihan terbaik kami saat itu. Sayangnya, di dalam pun seluruh kue sudah habis, dan seluruh seating area di non-smoking room sudah terisi. Gue lalu memberanikan diri bertanya pada seorang ibu-ibu yang sedang duduk sendirian di seating area berkapasitas 4 orang.

Cafe EKOLOGI di Yogyakarta International Airport

Papan menu cafe Ekologi di Yogyakarta International Airport

“Bu, sendirian? Boleh kami gabung?”

Puji Tuhan beliau mempersilakan. Tak disangka, kami bertiga malah larut dalam obrolan karena suami ibu itu (yang sedang meeting) ternyata bekerja untuk salah satu vendor bandara. Kami asyik membicarakan pembangunan infrastruktur transportasi Indonesia―termasuk MRT, Simpang Susun Semanggi, dan Yogyakarta International Airport yang kabarnya dikebut agar bisa selesai pada pertengahan 2020. Ternyata lagi, ibu itu satu almamater sama gue, Universitas Padjadjaran kampus Jatinangor. Sayang, kami nggak bertukar nama apalagi informasi kontak.

Sudut bacaan di EKOLOGI YIA dan kopi yang kami pesan

Area duduk di meja bar, EKOLOGI Yogyakarta International Airport

Non-smoking area EKOLOGI Yogyakarta Airport, cowok berkaus kuning itu mas Ian

Gue memesan cappuccino, sementara mas Ian memilih Americano, tadinya mau manual brew tapi nggak ada. Selain 2 area tempat duduk untuk 4 orang, ada kursi-kursi bar yang menghadap ke konter. Di sudut ruangan, ada beberapa buku dan novel untuk bahan bacaan.


Sekitar jam 2 siang, gue mengajak mas Ian untuk menghampiri pick-up point Damri, siapa tau jadwalnya masih lama. Sebetulnya gue udah mulai gelisah sejak beberapa menit lalu, saat ada penerbangan yang baru mendarat. Ternyata bener keresahan gue, nggak ada apa-apa di pick-up point Damri. Gue tanya kapan jadwal selanjutnya kepada petugas yang ada. Jawabnya, kemungkinan jam 4 sore setelah ada penerbangan mendarat lagi.

Gue dan mas Ian lalu sama-sama mencoba memesan taksi online menuju Stasiun Wojo. Fyi, tarif taksol dari YIA ke Stasiun Wojo ternyata juga sama dengan harga Damri. Mas Ian nggak dapet-dapet. Gue sempet dapet sekali, tapi karena sekian lama driver-nya nggak gerak-gerak, akhirnya gue cancel.

Mengintip aula check-in Yogyakarta International Airport

Pick-up point DAMRI Airport Shuttle di YIA

Kami kembali ke pick-up point Damri. Setelah gue sampaikan maksud kami, puji Tuhan kami bisa diantar oleh mobil Damri yang tiba beberapa menit kemudian. Jadi, seharusnya memang belum ada jadwal ke Stasiun Wojo. Namun mungkin karena iba, bapak yang semacam koordinator itu lalu mengomando driver yang baru tiba untuk mengantarkan kami kembali ke Stasiun Wojo. Terima kasih, bapaaakkk.


Kami tiba di Stasiun Wojo saat kereta bandara sudah siaga di peron. Wah, kali ini kami mendapat kereta yang mewah, persis seperti kereta Solo Ekspres yang gue naiki saat mudik lebaran. Klik link-nya buat baca review-nya ya.

Interior kereta bandara Yogyakarta International Airport YIA dengan armada mewah

Kereta bandara YIA tiba di Stasiun Yogyakarta

Berbeda dengan kereta sebelumnya, kereta yang ini baguuusss. Layout kursinya serupa, namun kursinya empuk, lebar, dengan ruang kaki yang lebih lega. Ada colokan listrik, AC, dan area menyimpan koper. Ini baru kereta bandara! Aneh, dengan harga yang sama-sama Rp15.000, kami mendapat 2 macam kereta yang berbeda kualitas.


Yogyakarta International Airport diperkirakan akan beroperasi penuh pada Maret 2020, namun jalur kereta yang terhubung langsung dengan YIA diperkirakan baru rampung pada Desember 2020. Gue nggak tau kenapa selama itu if it’s just a short railway track. Mungkin karena jalur baru ini bukan extension dari Stasiun Wojo. Kalo menurut gue sih, bisa juga dibangun LRT atau Automated People Mover (APM) seperti skytrain di Bandara Soekarno-Hatta untuk menghubungkan Stasiun Wojo dengan YIA. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer.

Tampak depan Stasiun Wojo Purworejo

Stasiun Wojo di tengah hutan antah berantah

Akhirnya, gue berharap Yogyakarta International Airport dapat beroperasi penuh sesuai target yang ditetapkan tanpa meninggalkan quality requirement. Semoga jalur pembelian tiket kereta bandara YIA juga bertambah untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Btw, bandara baru ini terletak dekat dengan beberapa obyek wisata, seperti: Pantai Congot, Pantai Glagah Indah, kebun bunga matahari, dan hutan mangrove. Jadi semoga Yogyakarta International Airport bisa membawa kebaikan untuk semua pihak.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *