Pengalaman Naik Taksi di 5 Negara Asia Tenggara

Pengalaman thetravelearn Naik Taksi di 5 Negara Asia Tenggara

Pengalaman thetravelearn Naik Taksi di 5 Negara Asia Tenggara

Sebagai seorang backpacker atau budget traveler, naik taksi itu seakan menjadi iblis perusak liburan yang sebisa mungkin dihindari. Gue juga gitu kok, tapi dulu. Alasan utama gue (dan mungkin juga kamu) adalah satu: mahendrani alias maharani alias mahaaalll. Apalagi saat traveling di negara-negara yang lebih maju dari Indonesia, kayak Singapura atau Malaysia. Namun, berawal dari kepepet karena situasi dan kondisi, gue akhirnya menemukan fakta bahwa harga taksi di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok nggak semahal yang gue kira.

Bahkan, taksi di Bangkok bisa lebih murah daripada harga BTS, MRT, atau tuk-tuk kalau kamu pergi bertiga atau lebih!

Nah, penasaran gimana cerita selengkapnya gue naik taksi di Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Kamboja, dan Ho Chi Minh City?

 

Taksi di Singapura

Setelah total 3 kali ke Singapura (termasuk 1 kali transit 6 jam), gue akhirnya pasrah pada taksi di negara singa ini pada kunjungan keempat bulan Agustus lalu. Saat itu gue lagi bawa open trip, rombongan 5 orang ibu-ibu dari Jogja yang mau coba backpacker-an di Singapura dan Malaysia.

naik taksi di singapura

naik taksi di singapura

Kami naik taksi dari Marina Bay Sands menuju Marina Park. Kelihatannya emang deket ya, tapi kata bapak-bapak petugas hotel jaraknya lumayan. Keduanya berada di dua sisi yang berseberangan dari Teluk Singapura. Akhirnya, kami naik taksi berkapasitas 6 orang dari Marina Bay Sands. Yes, di sana juga ada taksi kapasitas 6 orang kayak di sini. Ongkosnya sekitar 20an SGD. Nggak semahal yang gue kira.

Baca Juga: 3 Hotel di Singapura, Ekonomis Untuk Budget-Traveler

Sopir taksinya hanya berbicara saat diperlukan, bukan tipikal sopir Bangkok yang hobi ngajak ngobrol hehe.

 

Taksi di Kuala Lumpur

Masih dalam rangka open trip, gue naik taksi di Kuala Lumpur, Malaysia, karena kondisi. Saat open trip bulan Mei, kami (total 4 orang) naik taksi dari Bukit Bintang ke Petaling Street seharga 20-an MYR karena udah lewat tengah malam, monorel dan LRT udah habis. Besoknya, kami naik taksi dari Genting Highland ke Kuala Lumpur seharga 80 MYR karena kehabisan bus ke kota. Ada cerita lucu di Genting ini, karena gue harus menjual tiket bus yang udah dibeli persis kayak calo. Cerita lengkapnya bisa dibaca di: Jadi Calo di Genting Highland, Malaysia.

Saat open trip bulan Agustus — betul, bersama 5 orang ibu-ibu dari Jogja itu — kami naik taksi dari Menara Kembar Petronas ke hostel di kawasan Petaling Street karena ibu-ibunya udah pada chapeque ghetoch. Harganya 20-an MYR juga. Lalu, sekali lagi, kami naik taksi dari Genting ke Kuala Lumpur. Kali itu bukan tanpa persiapan dan perencanaan, gue udah wanti-wanti siap beli tiket balik ke KL Sentral, tapi jadwal yang gue inginkan udah habis. Jadi gue dengan sengaja beli tiket bus berangkat aja ke Genting Highland dan mengkonfirmasikan kepulangan dengan taksi kepada para mahmud.

nak taksi di Kuala Lumpur, Malaysia

Sejauh ini belum ada pengalaman buruk dengan taksi-taksi di Kuala Lumpur. Nggak tahu juga mana yang direkomendasikan, tapi taksi warna merah gelap paling sering terlihat.

 

Taksi di Bangkok, Thailand

Wah, kami (rombongan 5 orang, open trip) naik taksi berkali-kali di Bangkok, Thailand, akhir Juli lalu. Berawal dari ketidaksengajaan karena dipaksa keadaan, I found out bahwa harga taksi di Bangkok itu muraaahhh!!!

 

naik taksi di Bangkok, Thailand

naik taksi di Bangkok, Thailand

Harga taksi sekali jalan berkisar antara 60-an sampai 100-an THB. Jelas jauh dengan harga BTS / MRT yang berkisar 30-an sampai 40-an THB per jalan per orang. Kalau naik BTS, bisa habis 150-an THB hingga 200-an THB, ditambah perjuangan buat jalan ke dan dari stasiun dan jalan naik turun tangga.

 

Kalau dibanding naik tuk-tuk? Untuk jarak dekat, tuk-tuk biasa mematok harga 100 THB untuk maksimal 3 orang berperawakan normal, sementara taksi hanya 60-an THB buat berlima.

Jadi, kalau kamu pergi bertiga atau lebih di Bangkok, naik taksi aja deh. Well, satu atau dua kali tetep harus coba naik BTS atau MRT dan tuk-tuk buat pengalaman. Tapiii, pastikan rute yang kalian melalui bukan rute macet atau tidak sedang dalam jam-jam macet. Kalau macet, BTS and MRT are your best bet.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok (BTS / Skytrain, MRT, Bus, dan Chao Praya Express Boat)

Oh iya, karena kami berlima, ada beberapa taksi yang menolak kami, terutama taksi hijau-kuning. Namun taksi-taksi pink biasanya mau menerima kami. Sopirnya ramah, doyan ngobrol, bisa bahasa Inggris dikit-dikit. Sebelum naik, pastikan taksi menggunakan “meter” (argo). Kami pernah sedikit lalai masalah ini dan langsung naik, begitu di dalam sopirnya todong harga. Lalu kami buru-buru turun lagi, hahaha.

 

Taksi di Kamboja

Sebetulnya taksi di Kamboja ini taksi abal-abal sih, hanya mobil sedan pribadi yang difungsikan sebagai taksi. Tanpa logo taksi di bagian atas, apalagi argo di dalam. Harga ditentukan dari kesepakatan antara sopir atau calo dengan calon pelanggan.

Saat itu gue naik taksi dari perbatasan Kamboja di Poipet sampai Siem Reap. Ongkosnya? Wow, 15 USD per orang. Cerita lengkapnya bisa dibaca di: Bangkok – Siem Reap, Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

 

Taksi di Ho Chi Minh City, Vietnam

Lagi-lagi, gue naik taksi karena kondisi darurat di luar perencanaan. Saat itu gue dan seorang rekan perjalanan sedang berusaha mencari rumah host yang mau gue tumpangi di Ho Chi Minh City. Rupanya rumahnya jauh bangeeettt, ada di Distrik 9 yang kalau di Jakarta udah kayak mau ke Depok atau Tangerang. Ongkosnya? Hm, tiga ratusan VND saja. Cerita selengkapnya bisa dibaca di: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

Sayangnya sopir-sopir taksi di Ho Chi Minh City dan seantero Vietnam ini nggak bisa bahasa Inggris. Jadi siapkan bahasa isyarat dan tuliskan nama tujuan dengan pelafalan Vietnam. Dua taksi HCMC dengan rekomendasi yang cukup baik adalah Vinasun dan Mai Linh. Awas, perhatikan setiap hurufnya, ada beberapa perusaaan taksi abal yang berusaha menjebak calon penumpang dengan penamaan yang nyaris sama! Lalu, pastikan taksi menggunakan “meter” (argo), jangan main todong harga.

naik taksi di Ho Chi Minh City, Vietnam

naik taksi di Ho Chi Minh City, Vietnam

Sekarang naik taksi juga jadi lebih nyaman karena adanya jaringan privatized public transportation seperti Uber (UberCar, UberPool, UberMotor) dan Grab (GrabTaxi, GrabCar, Grabike). Jaringan Grab tersedia di Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Jaringan Uber malah lebih luas lagi di Asia, ada di beberapa kota di Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Hong Kong, Macau, Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, hingga India dan Sri Lanka.

Tapi buat bisa mengakses Uber atau Grab, tentu kamu butuh sim card lokal atau jaringan wifi. Tenang, tulisan gue berikutnya akan membahas sim card di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. So, stay tune 😀

Punya pengalaman naik taksi juga di luar negeri? Bagi dong, kak 😁😁😁

Baca Juga: Selain Angkor Wat, Ada Apa Lagi di Kamboja

 

Nah, ternyata naik taksi pun sebetulnya nggak semahal yang kita kira ya. Ya udah, sekarang jangan idealis terus, coba sekali-sekali oportunis atau populis. Kalau memang kamu butuh taksi saat traveling di Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok, feel free to take a ride and don’t blame yourself. Biar bagaimana pun, naik taksi tetaplah menjadi sebuah pelajaran di dalam perjalanan. Keep learning by traveling ~

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *