Pengalaman Tinggal di Sumatera Selatan, Jadi Anak Kost di Palembang

Setelah Jogja, Bandung, Jakarta, dan Cirebon, ada satu kota lagi yang akan gue tambahkan ketika dihadapkan dengan pertanyaan, “Pernah tinggal di mana aja?” 

It’s Palembang.

Kalau diakumulasikan, gue tinggal di Palembang (dan daerah pinggirannya) selama 2 bulan. Bulan pertama di April-Mei 2021 saat masih berpacaran dengan Ara, bulan kedua di Agustus-September 2021 saat jelang prosesi lamaran/seserahan kami. Jika di kesempatan pertama gue tinggal di rumah Ara di kab. Banyuasin, maka di kesempatan kedua gue jadi anak kost tengah kota Palembang.

Gue akan mulai bercerita dari pengalaman tinggal di kota Palembang dulu sebagai anak kost.


Harga dan Fasilitas Kost di Palembang

Pencarian kost kami mulai di Instagram. Dengan keyword “kost palembang”, udah ada seabrek akun yang muncul. Singkat cerita, kami memilih sebuah kost yang ada di bilangan Pakjo, Palembang. Kami berminat dengan kamar kost termurahnya yang hanya seharga Rp850 ribu per bulan meski kamar mandi luar dan tanpa AC. Secara garis besar, standar harga kost di Palembang memang lebih mahal daripada di Jogja bahkan Bandung sekalipun.

Gue mengirimkan pesan melalui DM Instagram yang lalu dilanjutkan di kanal WhatsApp. Tanpa ragu, gue pun mengirimkan sejumlah dana untuk uang muka sesuai permintaan pihak kost. 

Tak dinyana, gue gagal berangkat sesuai jadwal yang sudah direncanakan karena hasil tes swab PCR gue masih positif. Uang DP kost harus direlakan hangus. 

Singkat cerita, gue tiba di Palembang di pertengahan Agustus 2021 yang seharusnya akhir Juli 2021. Perjalanannya pun tak biasa, karena harus berjam-jam naik kereta api, bus, dan kapal ferry dari Yogyakarta, baca ceritanya di tulisan sebelumnya. Kami tiba di tengah hari yang terik setelah semalam sebelumnya menginap di Batiqa Hotel Palembang.

RedDoorz atau OYO Rooms. Bangunan untuk kost bulanan ada di belakangnya. Sayangnya saat kami tiba, tipe kamar Rp850 ribu sudah penuh, kami ditawari kamar seharga Rp1,3 juta. Karena udah capek dan males cari-cari, gue terima ajalah. 

Apa saja yang ada di dalam kamar seharga Rp1,3 juta ini? Sepetak kamar kira-kira 2×2.5 meter, ranjang berkaki, lemari baju kayu yang proper, fan ceiling, wifi, TV layar cembung, kamar mandi dalam dengan cermin dan WC duduk (meski tanpa watergun). Ada dapur bersama dengan tabung gas dan beberapa peralatan memasak yang disediakan pihak kost, common room, dispenser air minum, rooftop yang walaupun sekedarnya tapi lega, ruang parkir, dan 3 staf piket yang ramah dan helpful.

Lokasi dan Lingkungan Kost Gue di Palembang

Puji Tuhan, nggak susah cari makan dan belanja kebutuhan sehari-hari untuk kost gue yang ada di Jalan Ir. Marzuki. Begitu keluar kost, ada Indomaret Point dan Alfamart. Gue pernah beberapa kali ngopi-ngopi di Indomaret Point itu saking butuhnya kesejukan dan suasana berbeda. Di samping Indomaret, ada ATM BNI. ATM bank lain seperti Bank Mandiri dan Bank Sumsel juga tinggal jalan kaki. Belum termasuk warung-warung kelontong yang ada di gang sekitar kost.

LRT Palembang. Begitu keluar Jalan Ir. Marzuki, langsung ketemu Stasiun LRT Demang Lebar Daun (dan Hotel Amaris). Tapi karena jarak antara kost dengan jalan raya lebih dari 1 km, gempor juga kalo jalan kaki, jadi harus tetep naik ojek atau angkot dulu ke stasiun.

Udara, Cuaca, dan Suasana Kota Palembang

Ara sering bilang sama gue, Palembang itu panas dan nggak ada anginnya. Poin panas bener sih, meski nggak selalu juga. Ada masa-masa di mana suhu di Palembang bisa nyaris sesejuk di Bandung, biasanya saat/setelah hujan deras, apalagi di area tempat tinggal Ara di kabupaten Banyuasin yang akan gue ceritakan di bawah. Tapi soal nggak ada angin, gue nggak setuju, karena menurut gue Palembang masih cukup berangin. Gue selalu menikmati momen-momen dari kota ke dusun (atau sebaliknya) setelah hujan dan saat gerimis. Sejuuukkk, bagai motoran di Bandung.

Oh, kalo soal kamar gue yang terasa panas, itu sih karena sirkulasi udaranya aja yang kurang bagus. 

Suasana malam di sekitar kost di Palembang

Sekilas keramahannya serupa dengan di Bandung atau Jogja. Saat beli sesuatu di warung kelontong depan kost, gue diajak ngobrol oleh ibu warung, ditanyain tinggal di mana. Baru terlihat perbedaannya saat sudah ke ranah profesi atau melihat keseharian mereka secara penuh. Hospitality petugas hotel dan tempat makan berbeda dengan keramahan di Pulau Jawa. Terkesan judes, atau malah kayak ngomelin kita. Padahal, dia petugas hotel dari jaringan-jaringan ternama di Indonesia. 

Gimana dengan penghuni kost? Nyaris nggak ada yang beramahtamah, nggak ada yang repot-repot ngajak kenalan atau kasih sambutan hangat. Oh ya, kost gue ini kost campur. Mungkin pergaulan cewek dan cowok di Palembang nggak kayak di Bandung. Pernah sekali diajak ngobrol sama salah satu mbak penghuni kost, tapi itu cuma ngingetin soal perabot pribadi di dapur. Itu pun dengan nada ketus hahaha.

Sinyal dan Infrastruktur

Oke, cukup cerita jadi anak kost-nya, sekarang gue cerita tinggal di “pelosok” Sumatera Selatan.

Sebenarnya, jarak dari dusun ini ke batas kota Palembang itu nggak jauh, namun perbedaannya sudah sangat signifikan! Rasanya seperti sudah berada di pelosok negeri. Di sini, gue melihat jomplangnya perbedaan antara infrastruktur Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Selama gue ngekost di kota, gue dan Ara biasanya main ke rumah saat akhir pekan, menginap 1 atau 2 malam tergantung suasana hati dan kondisi cuaca.

Tata Letak Rumah Ara

Denah di dalam rumahnya mengingatkan gue dengan rumah kerabat di pedesaan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada satu ruang bersama yang luas, difungsikan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Oh, bahkan juga sering jadi tempat tidur sekalian. Di sekelilingnya baru ada ruang-ruang lain: 1 kamar tidur yang biasa gue tempati, 1 ruang yang digunakan seorang tetangga untuk berjualan baju, dan ruangan-ruangan besar lain yang peruntukannya masih belum jelas karena masih berupa rumah-rumah baru setengah jadi.

Selayaknya rumah di desa yang mata pencaharian warganya ada di ladang, hutan, perkebunan, beternak, atau buka warung, nggak ada meja dan kursi kerja proporsional. Gue memang anaknya nggak bisa kerja dengan rebahan kayak Ara, harus duduk di proper working station. Hal ini kami coba fasilitasi dengan sofabed dan salah satu meja kayu yang tadinya ada di teras, tapi tetep nggak nyaman 😅 Selain mejanya ketinggian, sofanya lama-lama mblesek. Jadi maaf, Seruni, kalo selama di Sumatera Selatan kinerja gue menurun dan banyak males-malesannya.

Gue di rumah Ara, anak kecil itu adalah anak tetangga hehe

Kamar mandi ada di luar bangunan rumah, sekitar 10 meter berjalan kaki. Khas tata letak rumah di pedesaan kan? Gue sih nggak masalah. Berani-berani aja meski harus malem-malem ke sana. Paling jadi males gosok gigi aja karena udah mager di dalam rumah, hehe. 


Cuaca dan Suasana di Dusun

Karena di sekelilingnya masih banyak pepohonan, cuaca di dusun bisa sedingjn di Bandung saat atau setelah hujan. Pernah dua kali kami berkendara melalui jalanan dusun dalam kondisi dingin dan berkabut. Saat itu sudah petang, habis main seharian dari kota  Tapi saat cuaca cerah, wah, panas teriknya bisa bikin nangis nggak kuat saat harus jalan kaki di luar. Oh ya, karena tinggal di tengah hutan karet, nyamuk adalah masalah sehari-hari. Obat nyamuk, mau bakar atau semprot, adalah wajib! Gue selalu menyalakan obat nyamuk bakar di kamar saat sebelum tidur.

kopi hitam merek Kapal Api atau Nescafe, tapi brand lokal bernama Semendo. Takaran kopinya banyak per sajian, tapi juga diimbangi dengan takaran gulanya yang juga banyak. Ini adalah salah satu kebahagiaan kecil yang gue temukan selama tinggal di Banyuasin. Sebelum menikah, biasanya mama yang membuatkan, sekalian saat dia membuat kopi untuk dirinya sendiri atau Lek Mino. 

Oh ya, dusun ini adalah salah satu dusun sasaran transmigrasi, jadi ada banyak sekali orang Jawa di sini. Yah minimal mereka bisa berbahasa Jawa ngoko, bukan krama madya apalagi krama inggil.


Apakah gue mau tinggal di Palembang lebih lama? Jujur, buat gue nggak masalah. Cuacanya masih cukup nyaman. Gue juga udah bisa menikmati momen-momen berkendara belasan kilometer dari kota ke dusun dan sebaliknya.

Andai diberi kesempatan, gue pengen merasakan tinggal di kota-kota negara-negara tetangga. Nggak usah lama-lama nggak apa-apa, beberapa bulan aja udah cukup. Syukur-syukur kesampaian tinggal di setiap benua seluruh dunia! 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *