[Personal Story] Sebuah Perjalanan Panjang Terlepas Dari Hutang Kartu Kredit

Untuk orang yang memang menyukai perjalanan―bukan sekadar memanen konten foto atau sekadar ikut-ikutan netizen―traveling akan menjadi sebuah candu. Semakin banyak tahu, semakin candu. Dari membaca cerita perjalanan traveler lainnya, atau mendapat terpaan informasi saat berseluncur di dunia maya, daftar impian yang semula hanya dalam hitungan jari tangan akan beranak pinak hingga selembar kertas penuh. Jika tak didukung dengan kapasitas yang juga bertambah atau kebijaksanaan dalam mengelola keuangan, maka sebuah perjalanan impian hanya akan berubah menjadi sebuah lingkaran setan.

Izinkan gue bercerita tentang bagaimana gue terjebak dalam lilitan hutang kartu kredit selama bertahun-tahun karena memaksakan perjalanan. Gue membuat tulisan ini bukan untuk mendapat iba atau menuai perhatian, well, bodo amat jika ada yang berpikir seperti itu. Tulisan ini gue bagikan semata-mata untuk membagikan kasih dan kuasa Tuhan yang luar biasa, juga sebagai pengingat agar jangan ada rekan pejalan yang jatuh ke lubang yang sama dengan gue. Hanya karena karunia-Nya, tahun 2019 ini boleh gue sambut dengan bebas dari hutang.

Disclaimer:

Silakan tinggalkan tulisan ini jika kamu belum siap untuk terbuka dengan keyakinan yang berbeda atau pengalaman spiritual dari agama yang tidak kamu yakini. Ini bukanlah tulisan kristenisasi. Tapi karena gue adalah penganut Kristen, tentu akan ada sisipan-sisipan kehidupan Kristen di dalam tulisan ini. Sama aja kayak kalau kamu cerita, “Alhamdulilah, berkat puasa tahajud, doaku terkabul!” Gue nggak lantas menuduh ceritamu sebagai islamisasi, toh? 🙂

Sudah siap? Kalau begitu tarik nafas dalam-dalam, seruput tenang kopimu, mungkin akan ada banyak kesabaran yang terkuras di setiap paragraf yang kamu baca.


Sebetulnya, dari jaman kuliah juga manajemen keuangan gue udah kacau sih, hahaha. Tapi biar nggak terlalu panjang, kita fast forward aja sampai dengan saat kekacauan bersama kartu kredit ini bermula.

Gue mulai traveling sejak akhir 2013, saat itu gue masih berstatus sebagai mahasiswa. Selama lebih dari 2 tahun sejak saat itu, gue traveling tanpa kartu kredit. Kalau ada situasi yang mengharuskan gue bertransaksi dengan kartu kredit, misalnya saat membeli tiket penerbangan Jetstar atau AirAsia, gue pinjem kartu kredit orang lain lalu gue bayar ke dia dengan transfer ATM. Sampai Oktober 2015 saat gue melakukan trip Thailand-Kamboja-Vietnam, gue masih belum punya kartu kredit. Saat itu, seluruh tiket penerbangan gue beli dari hadiah memenangkan blog contest sebuah online travel agent baru. Sungguh, kemenangan ini juga terjadi hanya karena kebaikan Tuhan Yesus.

Berjalan menghampiri sang burung besi

Gue udah lupa bagaimana awalnya gue tergoda dengan penawaran kartu kredit dari bank CIMB Niaga, bank utama sekaligus bank untuk payroll kantor saat itu. Maret 2016 gue udah punya kartu kredit, tagihan pertamanya hanya sebesar Rp 800.000an.

Gue kemudian merancang program open trip ke beberapa kota di Asia Tenggara yang berhasil terselenggara di bulan Mei (Kuala Lumpur), Juli (Bangkok), dan Januari 2017 (Singapura). Tujuannya sih supaya gue bisa jalan-jalan gratis, karena gue sukaaa banget sama ibukota-ibukota negara tetangga itu. Tapi karena sistemnya nggak bener, gue nggak dapet laba sama sekali dari trip-trip itu. Gue bahkan nombok karena dana dari peserta nggak mampu menutupi seluruh pengeluaran. Hal ini terjadi karena gue nggak memberi mark up yang cukup tinggi atau anggaran khusus buat pengeluaran pribadi gue. Gue harusnya menyiapkan beberapa alternatif harga sesuai jumlah peserta, dan harusnya tegas mematok harga sesuai jumlah peserta. Emang nggak bakat bisnis ini, mah.

Dari sini, udah bisa nebak gimana kekacauan ini terjadi? Ya, gue memakai kartu kredit untuk kebutuhan open trip. Karena dana dari peserta nggak cukup, maka gue harus membayar sendiri untuk pengeluaran pribadi gue, ini berarti sebagian dari gaji bulanan gue terkuras. Belum pulih dari open trip sebelumnya, gue udah bikin open trip lagi. Tagihan semakin membengkak. Pembayaran yang gue lakukan memang bukan pembayaran minimum, tapi juga nggak cukup banyak buat menutup pengeluaran bulan itu. Contohnya gini, tagihan gue 4 juta Rupiah, di bulan itu gue melakukan transaksi sebesar Rp300.000, gue bayar tagihan sebesar Rp500.000 aja. Harusnya gue bayar seenggaknya Rp800.000 (sebagai contoh) supaya gue bisa mencicil tagihan sebelumnya dan membayar tagihan di bulan itu. Yang paling bener, ya, dengan langsung melunasi tagihan gue setiap bulan sih.

Dari sinilah kekacauan ini bermula, dan terus terjadi bertahun-tahun sampai tahun 2018 lalu. Gue punya tagihan, sementara pemakaian tetap berjalan, dan bunga terus bertambah tiap bulannya. Rasanya sangat menyiksa. Bayangin aja, gue kerja keras bagai kuda Sumbawa siang malem cuma buat bayar hutang. Gue nggak merasakan buah perjuangan gue secara utuh, apalagi bisa nabung. Sesaat setelah gaji gue yang sedang-sedang aja itu ditransfer, sekian juta harus gue relakan untuk membayar tagihan kartu kredit, uang kost bulanan, dan kirim uang ke orang rumah. Sebagai seorang Kristen, gue bahkan nggak memberi perpuluhan (semacam infaq wajib sebesar sepersepuluh dari total gaji) secara rutin, lebih banyak bolongnya. Itu pun cuma perpuluhan doang, gue sama sekali nggak memberi persembahan sukarela.

Setelah gue cek seluruh tagihan, rekor tagihan terendah gue (tidak termasuk tagihan 2 bulan pertama) adalah Rp 3.7 juta di bulan Desember 2016. Di bulan itu, pembayaran tagihan kartu kredit gue mencapai lebih dari Rp 5.4 juta. Gue udah nggak terlalu ingat dari mana sumber pendapatan itu berasal. Kemungkinan, gue menggunakan seluruh THR Hari Raya Natal di kantor gue ditambah sebagian penghasilan dari pekerjaan sampingan saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016. Sayangnya, rekor baik ini nggak gue lanjutkan karena ada open trip ke Singapura pada bulan Januari 2017. Hih!

Arrived at Silangit Airport, Tapanuli Utara

Gue pake buat apa aja, sih, kartu kreditnya? Yang pertama, jelas buat traveling. Ada beberapa trip yang gue paksakan meski keadaannya tidak memungkinkan. Detilnya akan gue ceritakan di bawah. Ada trip-trip receh (yang sekadar naik kereta api atau sekadar pesan hotel) yang harusnya bisa langsung gue lunasi saat itu juga, tapi gue biarkan begitu saja. Kartu kredit juga gue pake buat keperluan sehari-hari seperti isi pulsa dan isi kuota internet.

Lalu, gue tiba-tiba inget ada satu lagi insiden yang membuat situasi menjadi semakin buruk: laptop gue hilang dicuri orang.

Kejadiannya bulan Desember 2016. Saat itu hari libur nasional dalam rangka pemilihan umum. Gue sedang berada di kamar untuk jogging di GOR Saparua, laptop dalam kondisi tergeletak begitu saja di atas meja. Saat gue kembali, laptop sudah raib, malingnya masuk dengan membobol pintu kamar yang terkunci. Gue nggak punya tabungan untuk membeli laptop baru, akhirnya gue kembali berhutang, kali ini dengan seorang teman dekat. Laptop baru yang gue beli pun harganya nggak mahal-mahal amat. Serinya sama dengan laptop lama gue yang hilang itu, AXIOO Pico, yang harganya cuma 2 jutaan Rupiah. Tapi karena gue nggak disiplin dalam pengembalian hutang ini, gue nggak tertib mencicil setiap bulan, masalah ini pun terjadi berlarut-larut sampai gue bertengkar dengan temen gue ini.

Sampai di sini, kamu pasti udah gregetan banget sama gue. Tenang, tahan dulu emosimu. Ngadepin gue emang harus sabar. Gue aja gregetan sama diri gue sendiri. Kalau sudah menyerah, silakan lambaikan tangan pada taksi di pinggir jalan dan tinggalkan artikel ini. Kalau masih mau lanjut, silakan tarik nafas dalam-dalam, seruput kopi lagi, karena the best part is yet to come.


Sejauh ini, ada 2 trip besar yang gue sesali banget sampai sekarang. Kalau trip-trip receh mah, sudah biarkanlah. Dua trip ini gue lakukan dalam kondisi yang kurang mendukung, menghabiskan dana jutaan Rupiah karena banyak pengeluaran tak terduga, dan tempatnya pun sebetulnya nggak terlalu pengen gue kunjungi. Nyesek, kan? Jangan sampai gue melakukan trip-trip kayak gini lagi!

Trip pertama yang gue maksud adalah perjalanan ke Yangon, Myanmar, pada Agustus 2017. Gue memanfaatkan hari libur nasional tanggal 17 Agustus ditambah 1 hari cuti. Trip ini gue paksakan berjalan hanya karena, sebagai fakir cuti, gue merasa sayang banget dengan long weekend yang terbuang sia-sia tanpa traveling. Padahal harusnya biarin aja, ya. Take some time buat staycation aja di Bandung instead of traveling jauh-jauh. Kalau kondisinya memang ada duit, nggak apa-apa. Cuma ini kondisinya gue masih punya tagihan di kartu kredit sekitar 4 juta Rupiah.

the infamous sule pagoda, seen from the crossing bridge

Iya, gue memang pernah pengen buat jalan-jalan ke Myanmar. Tapi impian gue di Myanmar adalah bisa land trip ke Mandalay atau Bagan, mungkin dibutuhkan setidaknya seminggu untuk menyambangi 3 kota itu. Sementara dalam trip ke Myanmar yang direalisasikan ini, gue cuma 3 hari di Yangon (ditambah transit semalam di KL, masing-masing saat berangkat dan pulang). Beberapa bulan kemudian, gue udah sakaw traveling lagi karena trip ke Myanmar berjalan kurang lama.

Kondisi diperparah dengan insiden hilangnya handphone gue di Yangon! Udah hutang gue belum lunas, terus nambah lagi karena jalan-jalan, eh handphone gue ilang pula. Solusinya? Gue nambah hutang lagi dengan beli handphone baru via online menggunakan kartu kredit. Mungkin ini cara Tuhan menegur gue agar nggak memaksakan kehendak daging dan hawa nafsu.

Trip kedua yang gue sesali adalah perjalanan ke Phuket bulan Mei 2018 lalu, masih fresh! Gue menyesali trip ini karena:

  • Gue nggak pernah pengen ke Phuket
  • Gue overbudget selama di Phuket buat transportasi
  • Duit yang ada seharusnya gue pakai buat melunasi tagihan kartu kredit, atau ditabung buat perjalanan jauh ke negara baru yang diimpikan.

Yang membuat gue tergoda dengan perjalanan ke Phuket ini adalah karena ajakan salah satu kawan hotel reviewer, mas Fendi, yang mengiming-imingi tiket promo Malaysia Airlines. Selain itu, kami akan menginap di hotel selama di Phuket (Ibis Phuket Kata). Gue belum pernah naik Malaysia Airlines, dan terbilang jarang banget naik maskapai full service. Gue juga belum pernah menginap di hotel saat traveling di luar negeri, selama ini selalu di hostel atau nebeng Couchsurfing. Dua pengalaman baru itulah yang gue kejar. Perjalanan singkat selama 3 hari (malah tadinya cuma mau 2 hari) pun rela gue jabanin demi pengalaman baru itu.

Gue sempet timbul keraguan karena harga tiket pulang dari Phuket ke Jakarta jauh lebih mahal daripada harga tiket berangkat yang cuma Rp700.000,00. Cuma AirAsia pula. Harganya lebih dari 1 juta Rupiah! Tapi karena nggak enak, gue urungkan perasaan itu, padahal harusnya bilang aja, “Mas, maaf nggak jadi ikut trip, uangnya nggak cukup.” Gue biasanya tegas. Kalo iya bilang iya, kalo enggak bilang enggak. Tapi ketegasan gue melemah saat gue dihadapkan dengan perasaan nggak enak karena mengubah keputusan.

Gue cuma bilang ke mas Fendi, “Mas, selama di sana kita ngirit, ya. Aku lagi bokek.” Mas Fendi pun mengiyakan, bilang kalau dia juga lagi bokek.

Ternyata bokek itu relatif.

Sebokek-bokeknya mas Fendi, tetep aja belanja baju bermerek di Jungceylon Mall. Gue udah membayangkan akan mengurangi pemakaian transportasi umum selama di Phuket. Sebisa mungkin jalan kaki, atau naik bus, jadi eksplor sebisanya aja. Sayangnya, niat seperti itu nggak akan terwujud kalau gue traveling sama orang lain. Yang paling menyesakkan adalah saat kami naik taksi keliling kota dengan harga 1500 THB, yang mana masing-masing orang harus iuran sebesar 500 THB atau sekitar Rp200.000,00. Buat orang yang lagi bokek kayak gue, nominal itu rasanya sudah cukup berat. Selain itu, karena kurang cermat, hotel di malam kedua yang gue pesan ternyata nggak menyediakan sarapan sama sekali.

Pengeluaran bisa ditekan kalau kami menginap di daerah Patong, jadi bisa ke Jungceylon Mall dan Bangla Walking Street Market dengan jalan kaki. Lumayan, bisa memangkas biaya tuk-tuk sejumlah Rp90.000,00/orang. Masalahnya, mas Fendi dan gue sama-sama sudah memesan penginapan di daerah Kata. Kalau tau dari awal mas Fendi mau ke Jungceylon Mall dan Bangla Walking Street, gue akan atur supaya hotel kami ada di daerah Patong.

bangla walking street, patong, phuket

Saat trip di Phuket ini, Tuhan juga menegur gue dengan asma yang kambuh parah! Udah minum obat, tapi nggak juga reda sempurna. Saat itu mas Fendi dan satu travelmate lainnya udah pisah jalan ke Krabi. Gue susah payah berjalan dengan nafas yang kembang kempis dari penginapan menuju tempat makan yang ada di bawah, lalu ke pantai.

Sebetulnya, periode April-Mei tersebut adalah masa di mana gue mendapat banyak berkat kreatif―istilah yang dipakai gereja gue untuk merujuk pada sumber pendapatan di luar gaji rutin. Dengan menjumlahkan pendapatan yang gue dapat dari WordAds, kerjasama blogpost, famtrip ke Kendal, hadiah menang lomba blog, dan printilan-printilan lainnya, berkat kreatif gue mencapai 2 kali lipat gaji bulanan gue! Itu artinya, seharusnya berkat kreatif itu bisa gue gunakan untuk melunasi seluruh tagihan kartu kredit gue. Sisanya bisa gue pakai buat salam tempel saat Idul Fitri dan sisanya lagi gue tabung. Itulah mengapa trip ke Phuket ini bener-bener gue sesali!!!


Awal tahun 2018, kalau nggak salah bulan Februari (sebelum trip Phuket), menjadi titik balik gue membereskan masalah hutang ini. Saat itu hari Minggu, di gereja. Pastor gereja kami, Ps. Cahya Adi Candra yang memang memiliki karunia profetik atau bernubuat, mendoakan jemaat gereja yang sudah setia memberikan perpuluhan dan persembahan setiap bulan. Beliau bernubuat bahwa mereka akan mendapatkan berkat berkelimpahan dalam bulan-bulan ke depan.

Kepada jemaat yang lain (baca: jemaat yang belum setia memberikan perpuluhan dan persembahan rutin setiap bulan), Ps. Cahya berkata agar kami menjadi penonton yang baik. Mendengar ucapan ironi itu, alih-alih pasrah dengan menjadi penonton yang baik, gue berdoa, “Tuhan, aku percaya Kamu baik. Aku yakin, kalau aku berubah, berkat-Mu juga akan ada buatku.”

Maka jadilah seperti yang kamu imani.”

Sejak saat itu, gue berubah. Gue memberikan perpuluhan dan persembahan rutin setiap bulan, meski tagihan kartu kredit juga masih ada. Ps. Cahya senantiasa menekankan bahwa perpuluhan adalah bagian Tuhan. Tidak memberi perpuluhan berarti mencuri dari Tuhan. Beberapa minggu setelah titik itu, nggak perlu menunggu hitungan berbulan-bulan, berkat Tuhan tiba-tiba seolah turun bertubi-tubi dari langit. Berkat yang, bodohnya, malah gue pakai buat trip ke Phuket itu.

Namun Tuhan itu baik bangeeettt! Dalam suatu khotbahnya di gereja, lupa bulan apa, Ps. Cahya mengajak jemaat untuk berdoapuasa selama beberapa minggu (kalau nggak salah selama 40 hari). Fyi, cara berpuasa kami adalah sebagai berikut: meniadakan makan 1-2 kali sehari, pantang sesuai pilihan (misalnya sambal, kopi, rokok, dll), minum hanya air putih. Jadi memang mengajar kami untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menahan keterikatan akan sesuatu. Selama berpuasa, beliau mengajak kami untuk mendoakan 3 permohonan yang kita mau Tuhan wujudkan tahun ini. Jelas dong apa salah satu permohonan gue itu: lunas tagihan kartu krediiittt!

Gagal dengan pertolongan pertama tidak membuat Tuhan jera menunjukkan kasih-Nya buat gue. Duh, kalau manusia sih udah bakal jengah, namun Ia adalah seorang Bapa yang dengan sabar membereskan masalah anak-anak-Nya yang berserah dan bertobat sungguh-sungguh. Gue membayangkan Dia berbicara seperti ini, “Gimana, Gi? Uang yang Aku kasih kemarin kamu habisin buat ke Phuket, ya? Ya udah nyoh, Papa kasih duit lagi, tapi kali ini dipake yang bener ya.”

Usai perjalanan ke Phuket itu, berkat-berkat Tuhan masih terus mengalir deras sepanjang tahun 2018 bahkan hingga pertengahan 2019. Dari paid blog post, WordAds, dikontrak 3 bulan oleh salah satu OTA, kenaikan gaji, THR Natal, bonus tahunan saat Idul Fitri 2019, insentif kantor karena dipercaya role manajerial di 2 project, sampai ada hotel yang mau bayar gue lebih dari Rp 5 juta buat review doang. Wow. WOW! Siapa sih gueee? Bisa apa sih gueee sampai dipercaya berkat-berkat itu? Kalau bukan karena Tuhan, gue nggak akan mendapat berkat-berkat itu.

Dari berkat-berkat itu, gue rutin membayar tagihan kartu kredit setiap bulan dengan jumlah yang signifikan! Hutang kartu kredit, hutang mengambil dana open trip di bulan November 2018, dan uang kost yang menunggak 3 bulan akhirnya lunaaasss. Tahun 2019 gue sambut dengan kelegaan dan kebebasan dari jeratan hutang. Nggak cuma sekadar melunasi hutang, gue juga bisa tiap bulan mengirim berkat ke keluarga di Jogja dengan nominal yang nggak malu-maluin dan untuk pertama kalinya bisa menabung! Kuartal pertama tahun 2019 ini bapak juga minta bantuan dana untuk menyelesaikan pembangunan rumah di sisi timur, dan gue bisa menyediakannya. Matur nuwun, Gustiii, Kau mengabulkan doakuuu.

Perjalanan ke Macau dan Hong Kong pada bulan Mei 2019 pun bisa terselenggara tanpa berhutang! Setelah sekian lama mengekang diri (setengah tahun nggak naik pesawat, setahun nggak ke kota baru di luar negeri, dan 2 tahun nggak ke negara baru) gue merasa sudah saatnya layak mengapresiasi diri. Puji Tuhan, trip Macau dan Hong Kong ini juga disponsori oleh salah satu online travel agent internasional. Bantuan yang diberikan signifikan banget buat menekan biaya perjalanan. Baru kali ini gue bisa dapet sponsor buat perjalanan ke luar negeri yang gue rancang sendiri.


Kita flashback sedikit ya. Tanggal 9 Juli 2018 malam, saat gue menunggu pengumuman pemenang kompetisi blog Vizitrip yang molor, gue tiba-tiba tenggelam dalam momen kontemplasi.

Saat itu gue merasa sangat bodoh sudah memaksakan perjalanan demi perjalanan tanpa mempertimbangkan keadaan. Padahal, setelah gue ingat-ingat, begitu banyak berkat-berkat perjalanan yang Tuhan berikan. Beberapa perjalanan full board (tiket berangkat PP, akomodasi, uang saku, makan) yang pernah gue terima adalah:

  • Perjalanan ke Pangandaran dan Green Canyon (2013) dalam rangka trip kantor (saat itu gue bekerja sebagai freelance social media officer, masih kuliah)
  • Perjalanan ke Sumatera Utara (Agustus 2016) dalam rangka freelance job
  • Perjalanan ke Singapura dan Kuala Lumpur (Agustus 2016) dalam rangka freelance job sebagai tour guide
  • Perjalanan ke Kuala Lumpur (Februari 2017) setelah memenangkan undian Coca Cola
  • Perjalanan ke Semarang-Kendal (Mei 2018) dalam rangka famtrip―ini terjadi 2 minggu sebelum ke Phuket, tapi baru gue tahu setelah melakukan pembelian tiket ke Phuket, makanya gue semakin menyesali keputusan trip ke Phuket karena ternyata akan ada trip naik pesawat terbang di bulan yang sama.

Melalui berkat-berkat di atas, Tuhan mengizinkan gue buat bisa naik pesawat Garuda Indonesia dan Garuda Indonesia Explore, bisa naik Batik Air (yang juga sama-sama pesawat full service), bisa menginap di Tune Hotel KL, dan bisa jalan-jalan hingga ke Sumatera Utara. Perjalanan ke Green Canyon tersebut malah menjadi kunci kemenangan gue sebagai Juara 1 RajaKamar Blog Competition di tahun 2013. Terbaik, bukan? Setiap rancangan-Nya sempurna. Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan kehendak-Nya dan biarkan Dia yang menuntun kita meraih berkat-berkat yang nggak pernah kita duga.

Selain itu, beberapa berkat perjalanan half-board yang pernah gue dapatkan adalah:

  • Perjalanan Thailand-Kamboja-Vietnam (biaya untuk membeli tiket pesawatnya gue dapat dari hadiah lomba blog yang tadi gue ceritakan, lalu selama di sana gue menemukan warga lokal host Couchsurfing yang bersedia diinapi)
  • Perjalanan ke Palembang tahun 2015 (gratis pesawat PP dan hotel, lalu mendapat host Couchsurfing yang bersedia mengantar ke mana-mana hehe)
  • Perjalanan ke Pontianak tahun 2017 (menginap di Hotel HARRIS, lalu nggak keluar biaya transportasi karena mendapat host Couchsurfing yang baik banget dan fasilitas antar jemput dari hotel)
  • Perjalanan ke Bangka tahun 2017 (pesawat PP dan hotel dari salah satu OTA)
  • Perjalanan ke Cirebon tahun 2018 (kereta api eksekutif PP dan hotel) setelah menang kuis dari Ibis Budget Jakarta Tanah Abang.

Makasih banget buat Heru Prasetyo (host gue di Palembang) dan Yongky (host gue di Pontianak). Kalian adalah perpanjangan tangan Tuhan, sungguh. Sementara itu, udah nggak terhitung lagi berkat-berkat hotel gratis yang gue dapat di Bandung dan Jakarta.

Setelah sadar betapa baiknya Tuhan selama ini, betapa Dia itu adalah Bapa yang mengenal gue, paham gue ini suka jalan-jalan, gue “terbangun” dan mendapati sebuah pesan di salah satu grup WhatsApp yang berbunyi, “Selamat ya, Gi,” disertai sebuah tautan post Instagram.

Gue jadi Juara 1 Vizitrip Blog Competition dengan hadiah paket perjalanan ke Bangkok.

Aku mbrebes miliii. Tuh ‘kan, Gi, makanya nggak usah maksain jalan-jalan kalau nggak ada uang. Tuhan bakal ngasih berkat-Nya di waktu yang tepat. Selalu ada jalan buat jalan-jalan untuk seorang pejalan.


Hingga bulan September 2019 ini, puji Tuhan gue masih terus melunasi tagihan kartu kredit, memberikan perpuluhan, dan memberikan persembahan setiap bulan―dan gue mau seterusnya begitu. Gue nggak mau lagi jatuh ke lubang yang sama. Ada 5 rekening bank yang saat ini menjadi wadah gue menyimpan pundi-pundi uang itu. Kelimanya adalah Mandiri (rekening utama dan payroll kantor), BCA (rekening untuk pendapatan dari blog, karena banyak klien yang meminta rekening BCA), Jenius (untuk menabung), CIMB Niaga (saat ini semata-mata sebagai saluran membayar tagihan kartu kredit), dan Bank Danamon yang gue buka akhir Agustus lalu karena tertarik program cashback dari Traveloka.

Sehari-hari, gue biasanya jarang banget jajan kecuali pengen banget, ngafe paling seminggu sekali saat hari Sabtu. Malah ada masa-masa di mana gue bisa sarapan tiap hari dengan roti tawar (dioles mentega dan meses, tentu) lalu makan malam dengan roti panggang lagi (tapi tanpa meses) dan telur dadar. Seminggu nggak sampai habis Rp200.000,00 buat makan. Mantep, kan? Tapi karena timbul kebosanan, kadang sarapan sama telur juga terus makan malamnya cari menu lain. Sesekali gue bikin mi instan goreng atau masak nasi goreng sendiri. Untuk makan siang, puji Tuhan sudah disediakan kantor. Kalau pas ada sisa, gue bisa makan lagi untuk dinner. Di beberapa weekend, gue bisa nggak ngafe sama sekali dan cuma berdiam diri di kost sepanjang hari. Semua itu harus dilakukan agar gue punya tabungan buat traveling, menikah, rumah, dan kejadian tak terduga.

Jelang paragraf terakhir ini, gue berharap supaya kamu jangan sampai terlibat masalah yang sama kayak gue. Apalagi kalau kamu cowok, berusia 25 tahun ke atas, dengan keluarga dari latar belakang menengah sama kayak gue. Mulailah menabung dari sejak di bangku kuliah. Tinggalkan rokok dan semua keterikatan lainnya. Abaikan pergaulan hedonis. Bodo amat sama tren dan konten Instagram.

Mohon dukungan doa, semangat, dan ilmunya supaya gue bisa meneruskan jejak yang baik ini, bahkan bisa semakin baik lagi. Sekarang kamu tau bagaimana perjuangan gue di balik setiap foto Instagram yang gue unggah itu. Di usia saat ini, gue memang sudah seharusnya mapan secara finansial dan bukannya dalam fase memulai. Tapi lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali, toh muka gue juga awet muda hehe.

Makasih banget buat yang udah kuat baca tulisan absurd sepanjang lebih dari 3.400 kata ini. Gue bergumul berat sebelum memutuskan untuk membiarkan cerita ini terbang ke udara, dan entah di mana ia akan bermuara. Beberapa di antara kamu mungkin menganggap tulisan ini sebagai sebuah tulisan tidak layak karena sudah mengumbar aib pribadi. Tapi nggak apa-apa, biar gue aja yang menanggung malu, yang penting Tuhan dimuliakan. Sampai jumpa pada perjalanan-perjalanan berikutnya, and keep learning by traveling~

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *