Pertama Kali Staycation Saat Pandemi di Hotel ASTON Pasteur Bandung

booking.com untuk melakukan reservasi. Lalu apa yang membuat gue memantapkan hati untuk staycation di hotel?

Gue adalah orang yang cenderung berhati-hati, antisipatif, dan nggak mengambil risiko. Apalagi, ini nyawa taruhannya. Di awal pandemi, gue udah cerita di tulisan ini gimana gue sampe beli kompor, teko listrik, peralatan masak, dan meja-kursi kerja agar gue nyaman dan bisa survive di dalam kamar sendiri. Selama sekitar 3 bulan, gue hampir selalu masak untuk makan sehari-hari dan hanya sesekali dalam seminggu memesan makanan via GOJEK atau membeli dari warung. Gue nggak berani ke mana-mana dan menghindari bertemu apalagi sampe kontak fisik dengan orang lain.

Sebelum mantap memesan kamar di hotel ASTON Pasteur Bandung, gue hubungi dulu akun Instagram-nya untuk menanyakan protokol kesehatan yang mereka terapkan. Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan, barulah gue lakukan proses reservasi. Oh iya, ini murni menginap dengan bayar sendiri, sama sekali bukan karena endorsement atau kerjasama dengan hotel terkait. Karena lama nggak staycation, feed Instagram gue jadi berantakan dan jelek, jadi gue sadar diri hahaha.

Check-In Hotel ASTON Pasteur Bandung

Sekitar jam 12:00-an gue udah sampe di hotel ASTON Pasteur dengan berjalan kaki dari kost. Udah lama nggak ke hotel, gue lupa-lupa inget jam check-in untuk hotel bintang 4, di lembar reservasi juga nggak ada infonya. Kalau hotel bintang 3 ke bawah kan jam 14:00, seingat gue hotel bintang 4 jam check-in-nya lebih cepat. Apalagi ini masih masa pandemi, bayangan gue okupansinya belum banyak.

Protokol kesehatan hotel ASTON Pasteur benar-benar diterapkan dari sebelum tamu memasuki gedung. Ada petugas hotel yang siap untuk memeriksa suhu tubuh tamu dengan thermo-gun, lalu pintu akan dibukakan petugas lainnya. Begitu sudah berada di dalam lobi… JREEENGGG! Ternyata rame bangeeettt.

Gue nggak tau apakah karena pas lagi ada acara atau emang dasarnya hotelnya udah rame, tapi hampir seluruh seating area di lobi hotel ASTON Pasteur sudah ditempati orang-orang, sebagian di antaranya tentara. Gue melakukan proses check-in dan membayar dengan kartu debit. Seluruh front desk officer memakai masker dan ada glass shield yang membatasi petugas dengan tamu. Ternyata waktu check-in tetap jam 14:00, jadi gue diminta menunggu lebih dulu. Tau gini gue nggak usah buru-buru tadi. Gue merasa nggak terlalu nyaman duduk di dalam satu ruangan ber-AC bersama manusia-manusia itu.

Thankfully, nggak sampe 1 jam kemudian gue udah dipanggil, jadi gue bisa masuk ke dalam kamar. Ternyata di luar sana orang-orang udah santai dan udah jelong-jelong lagi ya.


Fasilitas Kamar Deluxe Hotel ASTON Pasteur Bandung

Sesuai request gue saat memesan online, gue diberi kamar di lantai tinggi (tepatnya lantai 9) dan menghadap ke arah timur ke arah matahari terbit, yang sebenernya kemudian agak gue sesali hehe.

Best Western Premier La Grande Bandung atau Brits Hotel Karawang, nyatanya meja dan kursi kerjanya nggak proporsional banget. Kursinya menggunakan sofa rendah, mejanya juga meja rendah sederhana dari material logam dan kaca.
  • Area kerja ditata serong membelakangi sudut jendela city view, jadi gue nggak bisa menikmati pemandangan kota sambil bekerja seperti yang gue bayangkan.
  • Tutup teko listriknya sudah copot, jadi kalo gue membuka tutup dengan sedikit tenaga ekstra, teko akan terbuka sepenuhnya dari atas.
  • Masuk ke area kamar mandi, nggak ada hand towel. Melihat dari lingkaran logam yang kosong itu, kayaknya harusnya ada hand towel.
  • Selanjutnya ini masalah selera aja sih. Lantainya polos aja, nggak dilapisi karpet atau parket.


    Kamar Mandi Hotel ASTON Pasteur Bandung

    Dua keunggulan dari kamar mandi di hotel ASTON Pasteur: luas dan dibalut material marmer/pualam yang menghadirkan kesan mewah dan elegan. Kamar mandi dilengkapi dengan sabun cair, sabun bar, shampoo, peralatan menggosok gigi, gelas berkumur, dan hair dryer. Area basah dan area kering dibatasi dengan sekat kaca. Lighting-nya juga bagus, cakep buat foto-foto hehe.

    Breakfast in Bed Hotel ASTON Pasteur

    Salah satu protokol kesehatan yang gue cari adalah layanan breakfast in bed, dan thank God hotel ASTON Pasteur menyediakannya. Males akutu berbaur dengan manusia-manusia yang nggak jelas kesehatannya itu hehe. Tapi kalo mau breakfast in bed, harus bilang dari hari sebelumnya. Setelah itu, petugas akan menanyakan menu dan jam pengantaran. Gue selalu memilih jam 8 pagi, dan dua-duanya petugas selalu sudah nyampe sebelum jam 8.

    Ada 3 menu yang bisa dipilih, yaitu English Breakfast, American Breakfast, dan Indonesian Breakfast yang masih dibagi lagi jadi Nasi Goreng dan Mie Goreng, yang lalu masih ada opsi lagi untuk topping-nya. Pagi pertama gue memilih Nasi Goreng dengan English Breakfast, sementara besoknya gue memilih Mie Goreng. Oh iya, karena satu kamar dihitung 2 tamu, jadi gue bisa pesen 2 menu. Kalo gue nginep berdua, ya masing-masing cuma bisa makan satu menu a la carte hehe.

    Sesuai pilihan gue, nasi gorengnya disajikan dengan telur ceplok, ayam goreng, dan beef yakiniku. Mantep sih! English Breakfast-nya hadir dengan sepasang roti panggang, omelet, bacon,  potato wedges, dan sosis, sudah termasuk mentega dan beberapa selai. Mie goreng diisi suwiran ayam dan telur dadar besar. American Breakfast hampir sama dengan English Breakfast, cuma bedanya ada buah. Errr, gue nggak tau apakah yang disajikan buat gue di pagi kedua itu beneran American Breakfast sesuai pesanan gue, karena kalo nggak salah harusnya ada pancake.

    RedDoorz near Bandung Station (d’Sovia Hotel) aja menyertakan kopi dalam paket sarapannya. Gue sempet minta, tapi lalu diarahkan buat ambil sendiri di bawah hihi.


    Selain restoran, hotel ASTON Pasteur juga punya ruang gym dan kolam renang. Tapi karena masih pandemi, jadi nggak gue eksplor kayak biasanya.

    Gue udah berniat mencicipi room service-nya. Pilihan menunya nggak banyak dan harganya agak mahal, tapi kayaknya worth the price dengan porsi yang besar dan saat itu gue males keluar beli makan. Mau sekalian foto-foto dan review makanannya. Setelah gue telfon, ternyata bayarnya harus saat itu juga kecuali titip deposit atau open card di resepsionis. Ya ampun kok ribet ya, gue saat itu nggak ada cash sama sekali, alhasil gue jadinya pesen makan dari GOFOOD.

    Kesimpulan: Hotel ASTON Pasteur Bandung, Recommended?

    Hotel ASTON Pasteur ya nggak jelek juga, harganya masih oke, lokasinya juga strategis, cuma servis dan furniturnya nggak sesuai ekspektasi gue aja. Selama ini gue selalu puas dengan hotel-hotel Archipelago International seperti Favehotel dan Nomad Hostel Kemang (yang sekarang kayaknya udah ganti nama). Favehotel itu buat gue one of the best 3-star hotels in Indonesia! Fasilitas dan servisnya value for money banget, lalu lokasinya selalu sangat strategis. Klik untuk membaca ulasan gue tentang Favehotel Melawai dan Favehotel Palembang.

    Tags:

    Add a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *