Petualangan di Purwokerto #2

Usai mandi dan tidur-tidur ayam, gue dengan bersemangat melanjutkan petualangan gue di kota yang berjuluk Kota Satria ini. Mengenakan kaos oblong dan celana selutut yang bikin penampilan makin kayak bocah SMA, gue melenggang santai melalui Jl. Gatot Subroto yang mulus, diapit oleh trotoar yang rapi di kedua sisinya. Tak terlalu banyak kendaraan yang melintas, membuat gue semakin menyukai suasana kota ini. Tenang, bersih, cocok untuk sedikit melipir dari hiruk pikuk kota besar yang membosankan. Gue lalu berbelok ke kiri, masuk ke Jl. Masjid yang membujur lurus hingga ke Alun-Alun — tujuan petualangan gue malam ini. Ada banyak warung makan dan beberapa cafe yang gue jumpai di sepanjang jalan, semakin mengukuhkan pernyataan temen gue yang mengatakan bahwa ada banyak cafe anak muda di Purwokerto.

 Sebuah tempat makan ayam-ayaman (bukan cabe-cabean) di kiri jalan mengundang perhatian gue. Warung makan bernama Niki Sae itu terlihat ramai oleh pengunjung, yang membuat gue menarik kesimpulan: ini adalah sebuah tempat makan yang cukup dikenal warga Purwokerto. Rumah makan itu terdiri atas dua bagian: bagian luar dan bagian dalam. Bagian luarnya diisi oleh hanya beberapa set meja, meja pemesanan (sekaligus pembayaran), dan dapur. Pengunjung memilih sendiri daging ayam mana yang akan dia santap, yang lalu akan diolah sesuai selera dan keinginan pemesan juga. Gue memilih sepotong paha yang gue minta untuk diolah dengan kremesan. Mbak-mbaknya tanya gue mau pakai sambel terasi atau enggak, dan gue iyakan dengan mantap.

 Tiba saatnya main hitung-hitungan dengan bapak-bapak kasir, sang empunya warung, beretnis Tiong Hoa. Harganya setara dengan kelezatannya sih, sekitar Rp 23.000,00. Jadi gue ya rela-rela aja ngeluarin uang segitu, karena emang enak banget! Bahkan buat sambel terasinya pun, ehem, gue yakin ada harganya sendiri. Buat yang suka pete, dicocol sama pete enak banget deh kayaknya, seperti yang dilakukan oleh beberapa pengunjung.

 Selesai dengan makan malam, gue segera beranjak menuju Alun-Alun.

 Seperti alun-alun yang lain, alun-alun Purwokerto berbentuk persegi, dengan beberapa pohon beringin di salah satu sisinya. Mengelilingi alun-alun, ada kantor Bupati Banyumas, masjid raya, dan Jl. Jenderal Sudirman. Beberapa penjual makanan menggelar lapak-lapak mereka di tepi alun-alun, seperti jagung bakar, ronde, dan makanan ringan lainnya, sementara pengunjung dapat menikmati santapan di atas sebuah tikar. Beberapa penyewa mobil-mobilan dan otoped juga ikut berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang dengan menempati sisi alun-alun yang berbatasan dengan Jl. Jenderal Sudirman, mengingatkan gue dengan Jl. Kartini, Salatiga (baca di sini). Sayangnya, entah karena mendung atau memang udah biasa kayak gitu, nyaris nggak ada yang bermain-main dengan wahana itu. Ada juga penjaja sepeda tandem dengan hiasan lampu berwarna-warni seperti di alun-alun kidul Yogyakarta, yang sama-sama kesepian menunggu pelanggan, sama kesepiannya dengan penantian gue akan jodoh yang tak kunjung datang #fakkk

Beberapa menit duduk menunggu dan berjalan-jalan ingin mengetahui keadaan (sampai disamperin tukang minta-minta, kali ini dengan alasan mau pulang kampung), temen gue dateng. Kami lalu ngobrol selama beberapa saat di bawah salah satu pohon beringin sambil menikmati suasana kota. Sekitar pukul setengah sepuluh, kami memutuskan untuk menyudahi obrolan. Tadinya gue berniat menuju Gang Sadar alias GS, lokalisasi populer di Purwokerto. Tapi karena gue takut ditawar sama tante-tante girang atau om-om senang, gue buang jauh-jauh niat itu *nggak tahu diri* *ditimpuk sendal sekontainer*

Gue kembali berjalan melalui jalanan yang tadi gue lintasi, kali ini tampak semakin sepi. Bahkan ada momen-momen sunyi saat gue melewati Jl. Jenderal Gatot Subroto, saat benar-benar tak ada kendaraan yang melintas atau sekedar menyorotkan lampu depannya dari kejauhan. Padahal ini baru sekitar jam setengah sepuluh loh. Tapi, gue menikmati banget suasana lengang seperti ini. Menikmati jalanan yang mulus, trotoar yang bersih, tata kota yang rapi, tanpa ada banyak noise. Nanti, saat gue punya kesempatan buat ngetrip ke luar negeri, gue pengen menyempatkan diri buat jalan-jalan atau bersepeda dan menikmati keindahan kota dalam kesunyian. Mungkin bisa pas di Brunei atau Malaysia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *