Petualangan di Purwokerto #3: Alun-Alun dan Pasar Wage

Petualangan gue di Kota Satria ini belum berakhir.

Matahari yang bersinar cerah berhasil membangunkan gue pagi itu. Gue membuka pintu kamar, dan menemukan dua porsi sarapan sudah tertata rapi di atas sebuah baki. Sarapan pagi itu — mungkin juga pagi-pagi biasanya — adalah sepiring nasi goreng telor ceplok dan segelas teh tawar panas yang dituang sendiri dari teko. Gue berharap dapet kopi atau teh manis sih, tapi yang ini juga udah lumayan banget buat mencukupi energi tubuh seharian.

Usai mandi, gue bergegas keluar dari hotel dengan mengenakan setelan kaos oblong dan celana selutut yang bikin penampilan gue semakin kayak bocah SMA. Cahaya matahari pagi itu setrong banget ya. Dalam sekejap, tubuh gue yang tadinya seger abis mandi, udah langsung basah dan mengkilap oleh pembersih sepatu kiwi keringat.

Tujuan gue hari itu agak nggak jelas sebenernya. Gue cuma pengen ke tempat-tempat di kota Purwokerto yang belum pernah gue kunjungi pada hari sebelumnya. Tak berapa lama setelah keluar dari hotel dan menyusuri Jl. Gatot Subroto yang agak lengang, gue berbelok ke kanan — masuk ke dalam Jalan Gereja. Gue melenggang santai menyusuri jalan yang tak begitu lebar ini, hingga akhirnya menemukan sebuah gereja besar dengan arsitektur unik di sisi kiri jalan yang beraran Gereja Katedral Kristus Raja atau Paroki Kristus Raja.

Gue kembali mengayunkan langkah, melalui sekolah lokal dan warga yang tengah beraktivitas dan berinteraksi di pinggir jalan. Ah, gue seneng banget saat-saat seperti ini, melalui jalanan kecil yang bersih, tenang, dan melihat warga kotanya beraktivitas. Tak berapa lama kemudian gue menemukan sebuah kali yang bersih, rapi, mengalir melalui sebuah sekolah menengah negeri. Senangnya gue menemukan sebuah kali yang bersih mengalir membelah peradaban seperti ini :3

Keluar dari Jl. Gereja, gue memasuki Jalan Dr. Angka yang berukuran lebih besar dan menjadi salah satu jalan protokol di kota Purwokerto. Katanya sih di sini ada banyak cafe dan tempat makan, namun saat itu gue nggak melihat satu pun cafe tuh. Mungkin ada di sisi yang lain kali ya. Gue cuma melewati Rumah Sakit Dr. Margono sebelum akhirnya berbelok ke kiri, masuk ke Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Rasa letih sudah mulai menggelayuti raga yang semakin berumur ini, sementara baju juga sudah basah oleh keringat yang lengket. Namun kaki ini masih belum kehilangan semangatnya untuk terus melangkah. Semangat itu kembali terisi saat gue menemukan sebuah taman kecil yang menempati sepetak lahan di samping rumah sakit.

Dengan rute gue yang berjalan memutar seperti ini, logikanya gue akan memasuki Jalan Masjid yang membujur lurus hingga ke alun-alun. Beberapa menit kemudian, gue lantas menemukan sebuah persimpangan yang jika gue mengambil arah lurus — gue akan memasuki Jalan Masjid. Gue terus berjalan lurus, hingga gue kembali mencapai alun-alun. Memang gue udah mengunjungi tempat ini tadi malem, tapi gue tetep ingin ke alun-alun lagi untuk menikmati suasana berbeda yang ditawarkan.

Alun-alun saat pagi menjelang siang ini tak seramai kala malam, tapi bukan berarti nggak ada kegiatan sama sekali ya. Alun-alun itu diapit oleh Kantor Bupati Banyumas di satu sisi dan Masjid Agung Baitussalam Purwokerto di sisi yang lain. Sebuah bangunan kecil menarik perhatian gue, terletak di sisi yang berseberangan dengan masjid. Bangunan dengan dominasi warna putih dan bergaya klasik itu bernama Rumah Batik Alun-Alun. Awalnya, gue kira itu adalah sebuah museum. Lumayan banget ‘kan kalau nemu objek wisata gratisan. Ternyata bangunan itu difungsikan sebagai semacam butik -_____-

Dari Rumah Batik Alun-Alun, gue berjalan menghampiri sudut depan alun-alun yang berbatasan dengan Jl. Jend. Sudirman. Beberapa warga lokal tampak mengerumuni dua buah papan yang berdiri berjajar, dengan lembar-lembar surat kabar lokal dan nasional yang diletakkan di balik kaca. Gue bergabung bersama kerumunan warga, membaca beberapa berita yang dipampang di surat kabar. Feel like a local banget nih!

Dari alun-alun, gue berencana untuk mendatangi Pasar Wage — pusat perniagaan tradisional di kota Purwokerto. Perjalanan menuju Pasar Wage berlangsung dengan cukup lancar menggunakan sarana angkutan kota yang melaju dengan kecepatan “wajar” dan tidak terlalu banyak ngetem. Angkot di Purwokerto memiliki warna seragam — warna oranye ngejreng — sementara beberapa angkutan yang merupakan angkutan Kabupaten Banyumas berwarna hijau.

Pasar Wage terdiri atas satu gedung utama denga ruko-ruko yang berjajar di sekitarnya, atau penjual-penjual “independen” yang menggelar lapaknya di pinggir jalan. Meskipun sudah memiliki gedung modern — dibuat dari batu bata, bukan bambu atau batu nisan #pffft — tapi isi di dalamnya ya agak semrawut khas pasar tradisional. Para penjual mengisi setiap sudut pasar dengan komoditi dagangannya, tampak sibuk menyelesaikan transaksinya dengan para pembeli.

Meski sempet tergoda dengan makanan dan jajanan pasar khas Jawa, tapi gue sama sekali nggak melakukan kegiatan jual beli di pasar. Gue murni jalan-jalan dan cuci mata, hehe. Penasaran dengan bagaimana keadaan di lantai 2, gue lantas bergerak ke atas menggunakan tangga berjalan yang berderak dengan lambat. Ternyata, nyaris tak ada apa-apa di lantai 2 Pasar Wage. Bagian itu tampak agak lesu, tak semeriah lantai bawah, dengan hanya beberapa pedagang yang melayani segelintir pembeli langganannya.

Ternyata, tidak hanya atmosfer lokal yang gue dapat dari observasi gue di Pasar Wage ini. Di sini pun gue menemukan nuansa multikultural yang mewarnai denyut kehidupan kota Purwokerto. Vihara Hok Tik Bio tetap berdiri tenang di salah satu sisi pasar, sama sekali tak terganggu dengan segala hiruk pikuk pasar dan warga pribuminya 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *