[Photo Essay] Asa, Rasa, dan Masa di Pecinan Jakarta

Welcome to Jakarta’s Chinatown!

Aroma dupa kian pekat menyergap seiring dengan langkahku yang semakin dalam menyusuri Jalan Pancoran, Jakarta. Dipandu oleh koh Donny, kami berjalan beriringan menyeruak keramaian massa di satu hari jelang Imlek 2567, di bawah lentera merah yang bergelayut manja di atas kepala.

The busy Pancoran Street

Jalanan padat dengan lalu lalang warga dan kendaraan bermotor, berjalan tersendat meski tak sampai macet merambat. Kedua sisi jalan terisi dengan lapak-lapak penjual yang meramaikan pekan hari raya, mengadu peruntungan dengan menjajakan kebutuhan warga Tionghoa. Lentera, lilin, hio, makanan persembahan, dan komoditi lainnya.

Haisom (teripang), harga 250 gram untuk hari itu adalah Rp 250.000,00

Bicara soal Glodok, konon nama ini terbentuk dari suara air “grojok-grojok”, merujuk bahwa kawasan Glodok ini dulunya adalah tempat peristirahatan kuda-kuda pemanggul beban. Kuda-kuda diberi minum air segar yang berlimpah di kawasan ini pada zaman dahulu kala. Hal ini cukup masuk akal, mengingat nama Jalan Pancoran yang juga berasal dari kata “pancuran”. Namun, sejarawan lain mengungkapkan, nama “Glodok” diambil dari gerobak-gerobak yang ditarik kuda yang disebut “golodok”. Yah, tak jauh juga pendapatnya, masih seputar kuda, gerobak, dan air.

Gang-gang kecil pun tetap ramai!

Browsing for daily needs

Kodon menggiring langkahku memasuki sebuah gang yang menjadi anak Jalan Pancoran. Meski lebarnya jelas lebih sempit, namun keriuhan pun tak lepas dari gang kecil ini, bahkan warga semakin berdesakan berjalan. Berbelok masuk ke gang berikutnya, ia menunjukkanku rumah-rumah tua warga peranakan yang berdiri berhimpitan, sementara segelintir penjual menggelar lapaknya di tepi jalan gang, menjaga dagangannya dengan sayu tanpa banyak berkoar merayu kami yang melintas di hadapan mereka.

Rumah-rumah tua peranakan

Kembali ke Jalan Pancoran, kami lalu berjalan dengan lebih aman melalui trotoar yang padat bernaungkan atap-atap toko.

Bersesakan di trotoar sempit

Tiba di ujung jalan, kami beristirahat sejenak dan menenggak sekantong plastik es tebu, mengabaikan suasana kumuh yang ada di sekeliling kami.

Menuju Petak Sembilan

Usai rehat, kami masuk ke dalam Jalan Toko Tiga menuju Petak Sembilan, nama yang selama ini sudah sering kudengar dari rekan-rekan pejalan. Namun belum sampai di Petak Sembilan yang dituju, kami tak sengaja menemukan Klenteng Dharma Jaya atau Toa Se Bio di Jalan Kemenangan III. Aku sama sekali tak tahu menahu tentang keberadaan klenteng ini sebelumnya, tak sadar bahwa klenteng ini merupakan salah satu klenteng paling bersejarah di Jakarta selain Klenteng Dharma Bhakti.

Memasuki Vihara Dharma Jaya (Klenteng Toa Se Bio)

Vihara Dharma Jaya (Klenteng Toa Se Bio) Jakarta

Gelandangan dan warga kurang mampu duduk berdesakkan di pelataran klenteng yang sempit. Aku melenggang masuk ke dalam, sekedar menengok interior klenteng dan mengambil foto tanpa (sebisa mungkin) mengganggu peribadatan atau ibadah apapun di dalamnya.

Lentera-lentera merah di bawah atap

Dupa persembahan

Altar sembahyang Vihara Dharma Jaya (Toa Se Bio)

Dari petunjuk seorang pemuda di ujung gang, kami melanjutkan langkah sesuai arah yang ditunjukkan dan berhasil menemukan Pasar Petak Sembilan. Sebenarnya, Pasar Petak Sembilan sedikit berada di bawah ekspektasiku yang mengharapkan sebuah pasar besar yang gegap gempita dengan berbagai dekorasi Tionghoa. Namun Pasar Petak Sembilan tak tampak terlalu bersemarak siang itu. Mungkin karena kami datang kesiangan, atau mungkin kami bukan berada di pusat keramaian pasar.

Petak Sembilan Market

Berjalan melalui Pasar Petak Sembilan, kami masuk ke dalam Vihara Dharma Bhakti atau Klenteng Jin de Yuan yang semalam tak seramai ini. Halaman luasnya dipadati dengan gelandangan dan warga kurang mampu yang mengharapkan cipratan sedekah dari jemaat yang datang beribadat. Asap pembakaran kertas mengepul kuat memenuhi udara, membuatku harus mengibas-ngibaskan tangan dan memicingkan mata agar asapnya tak membuat mataku pedas.

Warga kurang mampu di pelataran vihara

Lilin-lilin besar

Klenteng Jin De Yuan, yang berarti Kuil Kebajikan Emas ini, dibangun pada 1650 dengan nama Kwan Im Teng sebagai tempat pemujaan untuk sang Dewi Welas Asih, Boddhisatva Avalokitesvara, Dewi Kwan Im / Guan Yin. Konon, dari nama “Kwan Im Teng” inilah muncul nama “klenteng” untuk merujuk kepada tempat beribadah kaum tridharma — Buddha, Konghucu, dan Tao — di Indonesia.

Setting up a big candle

Kuil terbesar di Jakarta dengan luas mencapai 1.200 meter persegi ini pernah dibakar saat peristiwa Geger Pecinan pada 1740. Kala itu, puluhan ribu etnis Tionghoa dibunuh Belanda dan darahnya memenuhi Kali Angke hingga sungai itu berubah warna menjadi merah. Konon, dalam bahasa Tiongkok, “angke” memang berarti “sungai merah”. Bisa kau bayangkan betapa ngerinya peristiwa itu?

Menyalakan dupa dengan lilin raksasa

Api yang membumihanguskan kuil saat itu tak menyisakan apapun selain sebuah meja sembahyang bertanggal 1724, menjadi artefak peradaban Tionghoa tertua yang ditemukan di Jakarta. Awal Maret 2015 silam, kuil sempat kembali terbakar. Maka tak heran bila saat aku datang melawatnya bulan lepas, rangka kayunya yang hitam karena terbakar mewarnai pemandangan di atas kepala.

Beribadah bersama umat

Kami pertama memasuki kuil yang berada di sayap kanan. Di dalam, altar sembahyang diisi dengan lilin-lilin merah raksasa yang berdiri berbalutkan plastik pembungkus, di bawah rangka kayu kuil yang berwarna hitam bekas hangus terbakar. Setelah itu, kami beranjak keluar untuk sebentar mengamati ritual warga di halaman klenteng. Berlutut dengan lidi-lidi hio yang terjepit di antara kedua telapak tangannya. Berdoa dengan lilin-lilin merah yang tergenggam erat seiring kedua lutut yang bertelut tunduk.

Vihara Dharma Bhakti (Klenteng Jin de Yuan), Jakarta

Berlutut menghadap Sang Pencipta

Masuk ke dalam kuil yang lebih besar, altar sembahyang-nya berselimut asap yang cukup tebal hingga membuatku tak kuat berlama-lama berada di dalamnya.

Asap beterbangan terhembus angin

Menerobos rintik gerimis, aku dan kodon berlari-lari kecil keluar dari klenteng menuju Gereja Katolik Santa Maria de Fatima sebagai destinasi terakhir kami hari itu.

The facade of Gereja Katolik Santa Maria de Fatima

Di dalam Gereja Katolik Santa Maria de Fatima

Gereja unik berarsitektur oriental, bekas rumah seorang Lieutenant der Chinezen dari Marga Tjiu yang lalu menjual rumahnya pada 1949 kepada Serikat Yesus. Hingga sekitar tahun 1953 hingga 1955, bekas rumah itu pun resmi dibuka sebagai sebuah gereja katolik yang hingga saat ini masih berdiri tegar ditopang rangka bangunnya yang tak lagi muda.

 

Pecinan Jakarta sejatinya tak kalah dengan pecinan di Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Pecinan Jakarta juga memiliki kuil-kuil sembahyang, rumah-rumah tua warga peranakan, bangunan lawas yang berdiri di sudut-sudut jalan, hingga ragam kuliner yang menggoda selera. Bahkan, pecinan Jakarta patut berbangga, memiliki sebuah gereja katolik dengan sentuhan budaya Tionghoa yang kuat! Namun, perawatan dan promosi perlu ditingkatkan untuk memperkenalkan daya tarik pecinan Jakarta kepada dunia.

Tulisan ini memang sedikit terlambat, karena Festival Cap Go Meh sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Namun, biarlah semangat kerukunan antar suku dan antar umat beragama tetap membara di seluruh pelosok nusantara. Indonesia indah bukan karena alamnya, Indonesia indah karena persatuan umatnya yang berbeda.

Salam satu Indonesia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *