RAGISTORY 1: Ara dan Nugi Berjumpa di Parijs van Java

Bandung dilihat dari Pasar Baru Square Hotel

Kamis, 17 Desember 2020, adalah hari yang mendebarkan buat kami, gue dan Ara. Bagai kuali, berbagai emosi bercampur aduk di dalam hati. Setelah lebih dari 9 bulan dalam penantian, hari itu kami akan berjumpa.

“Mas, aku jadinya naik bus, nanti turun Batununggal.

Katanya udah deket dari hotel, jadi nanti langsung ketemu di hotel aja kali ya.”

Begitu pesan Ara yang terbaca di WhatsApp gue. Sontak pikiran gue bergejolak.

“Ha? Kenapa dia naik bus, bukannya travel? Kalo naik travel kan turun langsung depan gang kosan gue. Deket? Batununggal itu daerah pinggiran, Zeyeeeng. Ke hotel kita aja jaraknya 10 kilo lebih, apalagi dari kosan gue. Kenapa nggak konsul sama gue dulu sih? Jadi kamu lebih mentingin hotel daripada gue? Ini kenalan baru kamu tukang tipu apa gimana sik? Apa dia cuman mau kamu temenin aja?”

Selama beberapa saat, gue menimbang-nimbang apakah gue jemput dia atau enggak. Satu sisi diri gue berkata, “Jemput dong, tunjukin diri lo sebagai pacar yang baik dan perhatian.” 

Sementara sisi lainnya berkata, “Dia naik bus karena pilihannya sendiri, turun jauh dari hotel juga konsekuensi pilihannya. Mana jauh banget dan motor lo lagi nggak bisa dipake. Ban dua-duanya kempes dan plat udah mati. Mau habis berapa kalo naik taksi online dari kost ke situ lalu masih disambung dari Batununggal ke hotel?

Ada juga pemikiran, “Kalo gue jemput, ada kemungkinan dia harus nunggu sendirian saking jauhnya kosan gue dari Batununggal. Better gue minta dia langsung naik kendaraan apa pun yang paling cepet yang bisa dia temukan. Nanti ongkosnya gue yang ganti.”

Namun akhirnya, gue putuskan buat segera berangkat ke hotel lebih dulu. Perkara jemput apa enggak, itu gampang. “Yang penting aku udah lebih deket sama kamu,” begitu kata gue ke dia.

Tepat saat gue selesai bersiap-siap, hujan mengguyur Bandung dengan deras. Otomatis, gue harus memesan taksi online buat ke hotel. 

Tiba di Pasar Baru Square Hotel, gue check-in dan masuk ke salah satu kamar. Ada 2 kamar yang gue pesen. Satu buat Ara, satu lagi buat gue dan Mahul, rekan instagrammer yang beberapa bulan terakhir selalu gue ajak staycation buat bantuin foto-foto. Hasil bidikannya alus pisan, euy!

Check-in di Pasar Baru Square Hotel Bandung, difoto oleh Mahul
Di dalam kamar di Pasar Baru Square Hotel Bandung

Sedikit review untuk Pasar Baru Square Hotel Bandung, lokasinya strategis banget di kawasan Pasar Baru. Deket sama Stasiun Bandung, Braga, Asia-Afrika, Alun-Alun, dan Masjid Raya Bandung. Saat itu rate-nya cuma Rp350 ribu aja kok per malam, udah sama sarapan. Aksesnya bisa dari Jalan Pasar Baru (sebelah selatan KFC, masuk ke dalam pusat perbelanjaan Pasar Baru Square), tapi gue lebih suka masuk dari Jalan Pecinan Lama. Begitu masuk gedung, langsung pilih L untuk ke lobby. Untuk sebaliknya, pilih lantai D dari lobby ke area pasar modern itu.

Lobinya cukup megah dan elegan, di atas ekspektasi gue. Ada banyak seating area, surat kabar, vending machines minuman, bahkan piano dan pohon Natal yang besar. Pada salah satu sisi dindingnya, terpajang foto para pria-pria tampan Mister ini dan Mister itu dari beberapa negara yang pernah menginap di hotel itu dalam sebuah ajang ketampanan. Hand-sanitizer tersebar dari area lift bawah, lift lobi, lift lobi yang mau ke kamar, dsb. Atribut yang dikenakan front officer juga cukup baik. Lobi terhubung dengan semacam bar yang sayangnya lagi tutup selama pandemi. Dari bar, kita bisa menikmati pemandangan kota Bandung dari (agak) tinggi.

Lobi di Pasar Baru Square Hotel Bandung
Area bar Pasar Baru Square Hotel Bandung

Fasilitas kamarnya ada coffee & tea maker facilities, working area, toiletries, dan fasilitas standar lainnya. Yang gue suka, model shower-nya menyerupai rainforest shower, bukan hand shower yang melelahkan itu.

Setelah beberes, cek-cek notifikasi, dan sedikit membereskan koordinasi kerjaan dan Ara masih jauh, gue putuskan buat jemput dia di Komplek Batununggal. Gue berpikir, penting rasanya buat dia segera ada dalam jangkauan gue, dalam lindungan gue. Jadi gue kesampingkan biaya taksi online bolak-balik yang melambung tinggi dari anggaran kebutuhan gue sehari-hari.

Lift menuju ke kamar di Pasar Baru Square Hotel Bandung
Shower area di kamar Pasar Baru Square Hotel Bandung

Senja itu, gadis pinggiran Sungai Musi yang hidup dengan hawa panas itu langsung “dihajar” dengan cuaca Bandung yang semakin dingin setelah hujan deras. Ara tiba pas setelah gue selesai menyantap sepiring nasi goreng dadakan dan secangkir kopi panas untuk menghangatkan badan. Singkat cerita, kami lalu memesan taksi online dan beristirahat di hotel.

Malam pertama di Bandung kami habiskan dengan beristirahat, mandi, dan quality time sambil bertukar cerita. Ini pertama kalinya gue nginep di daerah Pasar Baru, dan ternyata di daerah sana kalo malem nggak ada tempat makan dooonggg. KFC aja udah beberes mau tutup meski waktu baru menunjukkan sekitar jam 8 malam, pandemi membuat jaringan tempat makan nggak boleh beroperasi terlalu malam.

Kami kembali ke hotel dan Ara lebih memilih pesan makan via GOFOOD daripada beli makan dari restoran hotel. Dia memilih… sate padang, yang lalu dia sesali karena rasanya yang memuakkan, jauh dibandingkan sate padang di daerah asalnya.

Ara dan Nugi berjumpa di Parijs van Java

Insider Tips:

Naik bus atau travel? Perbedaan harga keduanya nggak terlalu signifikan, sekian puluh ribu aja. Kalo rumah kamu memang deket banget sama dropping point bus, atau ada yang jemput, naik bus nggak masalah. Tapi kalo masih harus dilanjutkan dengan naik ojol atau taksol, maka lebih baik naik travel karena dropping point-nya lebih banyak. Katakanlah, selisih harga bus dan travel itu adalah ganti ongkos ojol atau taksol dan “admin fee” untuk kenyamanan/kepraktisan.

Sebagai yang belum sering bepergian (meski ada impian begitu), wajar bila Ara belum banyak pertimbangan. Nanti setelah dia banyak malang melintang makan asam garam perjalanan, gue yakin ada masanya dia mengunggulkan kenyamanan dan mengesampingkan biaya.

Akhirnya kita bisa jalan bareng, beb

Ternyata…

Setelah bercerita dengan lebih rinci, rupanya “teman baru” Ara itu nggak salah. Dia sudah menawarkan pada Ara bahwa ada beberapa jurusan untuk bus, tinggal dipilih mana yang paling sesuai dengan tujuannya. Well, memang dasarnya Ara yang mau ngikut temen barunya aja, dasar ekstrovert tulen. Jadi ketika “temen baru” itu bilang udah deket, gue paham maksudnya.

Ara: “Tapi udah deket sama hotelnya kan?” (semacam gini nanyanya)

Dia: “Yah, kalo udah sama-sama di kota mah udah deket kok, naik taksol juga bisa.” 

Deket dalam artian udah nggak usah naik-naik bus lagi, udah dalam satu wilayah. Ara sempet bilang bahwa ini karena mereka sama-sama suka ngebolang, jadi jarak begini juga rasanya deket. Well, beb, setelah denger cerita lengkapnya gue juga sepaham. Kalo gue jadi dia, gue juga akan bilang begitu ke kamu wkwkwk.

Gue sendiri kayaknya ambivert, meski hasil tes MBTI menunjukkan gue adalah seorang ENFJ. Namun, ada saatnya ketika gue menjadi independen atau perlu menjauh dari interaksi manusia.

Udah kayak aktor Bangladesh belom?

Saat itu, Ara bercerita, bus yang mau mereka naiki sudah akan segera berangkat, makanya dia udah nggak ada waktu buat ngabarin atau konsultasi sama gue.

Ngomong-ngomong, di tengah perjalanan naik taksi online, Ara bertanya, “Masih jauh nggak?” Rupanya dia nggak terlalu betah di dalam mobil lama-lama. Saat mobil mendekati pusat kota Bandung, dia udah teler dan pusing, mabok di dalam mobil. Saat itu yang bisa gue lakukan hanya menggenggam tangannya, membelai-belai punggungnya, membuka kaca jendela, dan berharap pak sopir segera menyampaikan kami di tempat tujuan.


“Pre-Wedding” Photo Session

Esoknya, kami bangun pagi-pagi karena mau foto-foto di sekitar hotel. Ada banyak jalan-jalan instagramable kayak Jalan ABC, Jalan Pecinan Lama, dan sekitarnya. Kawasan Pasar Baru memang dikenal sebagai kota tua dan Chinatown-nya Bandung. Sambil menahan kantuk, kami bertiga melenggang keluar hotel, wangi dan seger tanpa lupa memakai masker.

Siap sedia menunggu calon manten

Tadinya, gue mau pake kemeja denim gue karena rasanya cocok buat konsep street photography kayak gini. Gue yakin udah gue masukin ke dalam tas, eh ladhalah ternyata baru perasaan gue doang. Akhirnya gue pake sweater turtleneck warna terakota itu, yang lalu gue syukuri karena jadi well matched dengan baju yang Ara pake.

Gue memang sengaja mengajak Mahul ikut nginep buat bantuin kami foto-foto, hehe. Sejago-jagonya gue bermain dengan tripod dan timer, tetap nggak mengalahkan kualitas difoto langsung seorang fotografer. Walaupun belum sah memegang ijazah, namun keterampilan Mahul udah nggak diragukan. Selalu suka hasil jepretannya! Bisa dicek di foto-foto gue saat staycation di U Janevalla Hotel Bandung dan Grand Tebu Hotel Bandung. Oh, tentu kali ini gue kasih tanda jasanya :))

Where you gonna take me, beb? Doesn’t matter. I’m in.
Jalan Pecinan Lama, dekat Pasar Baru Bandung

Keputusan tepat, karena ternyata kamera gue lagi rusak, tombol shutter-nya seringkali bermasalah dan nggak bisa dipencet. Fungsinya krusial banget buat mengontrol fokus dan mengambil gambar. Mungkin sudah saatnya ganti kamera DSLR atau mirrorless biar bisa travel-vlogging sekalian.

Sebagai “talent”, kami manut dengan arahan Mahul. Gimana posenya, gimana ekspresinya, di mana fotonya. Gue juga belum pernah foto-foto bareng cewek, jadi masih kagok juga gimana posenya. Gue nggak nyangka Mahul juga bakal se-prepared itu sampe bawa-bawa properti! Inisiatifnya patut diteladani. Alhasil, niat yang sebenernya mau foto-foto biasa, jadi tampak seperti pre-wedding photo session. Puji Tuhan, nanti nggak harus foto-foto pre-wedding lagi hahaha (lalu ditoyor Ara).

Nggak nyangka Mahul sampe bawa properti bunga
Kalo yang ini ide foto gue hehe
Sebagian jepretan yang menggambarkan lika-liku Ara dan Nugi :))
Nuhun pisan udah fotoin, Hul! Yang mau kontak dia, monggo ke Instagram @a_mahul

Kami mulai foto sekitar jam 7 pagi, yang sebenernya udah agak kesiangan karena jadwal awalnya sebelum jam 7 agar kondisi jalan masih aman dari keramaian. Sesi foto nggak berlangsung lama kok, hanya sekitar 1 jam, tapi kesannya lama karena banyaknya foto yang kami buat. Selesai foto, kami kembali ke kamar masing-masing untuk sarapan.


Sarapan di Pasar Baru Square Hotel Bandung

Karena kebijakan di masa pandemi, sarapan dengan buffet ditiadakan. Staf hotel akan mengantarkan sarapan dengan menu a la carte ke kamar tamu sesuai dengan menu dan waktu yang diinginkan. Berbeda dengan U Janevalla Hotel yang menelfon sehari sebelumnya, staf Pasar Baru Square Hotel baru menanyakan menu sarapan di pagi harinya. Gue lebih suka yang ditelfon sehari sebelumnya.

Ada 3 menu yang ditawarkan selama 3 pagi kami menginap di sana: Nasi Goreng, Mie Goreng, dan Kentang Sosis. Di pagi pertama, gue memilih Mie Goreng, lalu Nasi Goreng di pagi kedua. Pagi ketiga kami memilih sarapan di luar yang akan gue ceritakan kemudian. Masing-masing datang dengan satu set buah, jus, dan teh hangat jika mau. Sama dengan U Janevalla Hotel, nggak ada kopi. WAE GEURO WAAAEEE?! (ala ala drakor)

Sarapan di Pasar Baru Square Hotel Bandung selama pandemi
Difotoin Mahul di area Pasar Baru Square Hotel Bandung

Puji Tuhan rasanya enak dan porsinya mengenyangkan. Mie Goreng dan Nasi Goreng disajikan dengan ayam goreng, telor ceplok, dan tentu saja potongan bakso dan sosis. Setelah lihat foto sarapan gue di WhatsApp, Ara yang memesan kentang sosis jadi merasa salah pilih. Mahul juga memesan kentang sosis karena takut nggak habis kalo terlalu berat.


Jalan Braga dan Jalan Asia-Afrika Bandung

Malamnya, gue mengajak Ara menengok Jalan Braga. Tentu dengan berjalan kaki melalui gang pemukiman warga sejauh kurang lebih hampir 1 km dari hotel. Motor yang lagi nggak bisa dipake memang membatasi mobilitas kami. Kata Ara, di Palembang nggak akan bisa jalan kaki sendirian malem-malem melalui gang-gang dan jalan-jalan sepi.

Malam minggu di Jalan Braga Bandung

Kami nggak terlalu lama di Braga. Jalan wara-wiri, Ara jajan cilok kuah (kayak bakso cuanki tapi tanpa mie), mampir minimarket, lalu makan malam di… angkringan. Bingung mau makan di mana lagi, Ara was starving. Tempat makan lainnya antara rame banget (kami nggak sabar ngantri) atau udah mau tutup. Sekali lagi, karena pandemi, restoran dan cafe tutup lebih awal.

Namun malam itu cukup menyenangkan. Kami duduk-duduk di salah satu bangku umum yang banyak tersedia di sepanjang trotoar Jalan Braga, mengamati anak-anak muda dan pengendara yang lalu lalang. Sekelompok musisi jalanan menunjukkan bakatnya secara apik, semakin menghidupkan suasana malam itu.

Besok malamnya, malam minggu, kami kembali ke sana, melalui rute yang sama. Bedanya, dari Jalan Braga gue ajak Ara terus berjalan kaki hingga ke Jalan Asia-Afrika. 

Ara yang foto di papan nama JalanBraga Bandung
Di depan salah satu bangunan ikonik Jalan Asia-Afrika yang kini digunakan sebagai kantor Bank OCBC NISP

Braga dan Asia-Afrika adalah kawasan favorit gue di Bandung. Jalan diapit dengan bangunan-bangunan tua Belanda bergaya art-deco, trotoarnya lebar dan rapi sehingga sangat nyaman untuk berjalan kaki. Senja itu, langit lembayung tanpa noda awan-awan mendung membuat Braga dan Asia-Afrika semakin anggun. Berbekal kamera smartphone Taiwan yang sudah berusia lebih dari 3 tahun, gue mengabadikan sudut-sudut cantik kota Bandung.

Kami terus berjalan kaki melalui pelaku-pelaku cosplay, menghampiri Alun-Alun dan Masjid Raya Bandung. Saat itu, suasana jalan di sekitar alun-alun sudah sepi, bersih dari kendaraan bermotor. Gue pikir, “Oh, ini lagi car free night kali ya.” Kami lalu duduk-duduk di sebuah bangku di trotoar depan gedung kantor pusat BRI Bandung. Setelah memelajari kondisi di sekitar kami, kami baru tersadar bahwa yang ada di hadapan kami, di seberang jalan itu, adalah sekelompok polisi dengan “kendaraan tempur” mereka.

Dengan toa sebagai pengeras suara, para polisi (atau Satpol PP? Semacam itulah, gue nggak paham) mereka menghimbau warga yang ada di sekitar Alun-Alun dan Masjid Raya Bandung untuk tidak berkumpul dan kembali ke rumah masing-masing. Mendengar itu, Ara langsung merasa tidak enak dan gusar, padahal sebenernya warga lain yang nggak menghiraukan para polisi juga masih banyak dengan kondisi yang lebih banyak dan lebih berdekatan dengan orang lainnya.

Kata Ara, Bandung adalah kota yang romantis
Jalan Asia-Afrika Bandung saat senja
Malam minggu yang lengang saat kami diusir Satpol PP

Gue berkali-kali menenangkan dia dan meyakinkannya, karena sebenernya gue mau ngajak Ara mampir bentar ke alun-alun. Nggak usah lama-lama, yang penting Ara lihat rumput sintesis Alun-Alun Bandung dan menengok lebih dekat Masjid Raya Bandung. Namun karena Ara berkeras, akhirnya kami segera kembali ke hotel dengan berjalan kaki.

___

Bersambung ke bagian berikutnya: rapid test antigen, Cuanki Serayu, Gedung Sate, dan perjalanan kereta api ke Yogyakarta.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *