#RagiStory: Nekad Perjalanan Darat dari Jogja ke Palembang via Bandung

Malam masih di kereta, pagi sudah di Bandung

“HA? KE PALEMBANG VIA DARAT?” protesku keras ketika pertama kalinya Ara melemparkan gagasan itu. Hasil tes swab PCR yang positif membuyarkan semua rencana yang sudah rapih disiapkan. Tiket sudah dibeli, bahkan sudah mendapatkan surat izin bepergian dari kantor kelurahan.

Tidak, tidak, ini terlalu berisiko, pikirku saat itu. Pertama, aku akan sangat kelelahan. Dan kalau sudah kelelahan, daya tahan tubuh melemah, berarti aku akan lebih mudah tertular COVID-19 lagi. Kedua, akan ada banyak celah di mana aku berbaur, bahkan bersinggungan, dengan keramaian. Apalagi, moda transportasi bus dan kapal lebih longgar keamanannya dibandingkan kereta api dan pesawat terbang.

Malam itu, aku dan Ara hanyut dalam emosi masing-masing. Kami berbeda pendapat. Ara mau aku segera ke Palembang untuk mempersiapkan lamaran dan, tentu saja, menumpas rindu. Sementara aku menghadapi kondisi dengan lebih tenang. Kalau memang lagi susah ke mana-mana, bahkan udah berencana pun masih tidak terlaksana, ya sudah tahan dulu. Tunggu, pikirku saat itu.

Akhir Juli 2021, tes swab PCR masih menunjukkan hasil positif. Padahal, 6 Juli lalu aku sudah dinyatakan negatif dengan tes antigen. Ternyata benar, PCR tidak bisa membedakan antara virus hidup dan virus mati. Sebagian dari kami, para penyintas COVID-19, bisa berbulan-bulan masih dinyatakan positif meski sebenarnya sudah sembuh.

Beberapa hari berikutnya, aku menggunakan waktuku untuk berpikir dan berdoa. Kataku kepada Bapa di Surga, “Bapa, kalau memang aku harus melakukan perjalanan ini, tolong kuatkan dan teguhkan hatiku. Aku yakin Kau Tuhan yang bertanggungjawab atas kesehatan dan keselamatanku.”

Aku tidak meminta tanda. Tanda terlalu rawan untuk disalahartikan. Aku minta hatiku dikuatkan, diberikan damai sejahtera.

Seiring dengan emosi yang mereda dan suasana hati yang membaik, Tuhan seperti mengingatkanku dengan salah satu mimpi perjalananku. “Eh, gue dulu kan pengen bisa menyeberangi Selat Sunda. Gue bahkan udah sempat membuat itinerary dengan naik kereta api dari Jakarta, udah ngontak blogger-blogger dan hotel-hotel di Lampung.”

Mungkin ini cara Tuhan agar mimpi kecil itu terwujud?

Ketika akhirnya sampai juga di Palembang

Singkat cerita, aku dengan bulat memutuskan melakukan perjalanan darat ke Palembang. Saat kuceritakan rencana ini pada bapak, beliau pun menanggapinya dengan tenang dan memberikan izin. Padahal beberapa hari sebelumnya, bapak sangat syok mendengar kabar hasil tes swab PCR-ku. Saking syoknya, bapak sampai terpaku beberapa detik. Itu kali pertama aku melihat bapak sekaget itu.

Sementara Ara, suasana hatinya langsung berubah drastis begitu kukabari rencanaku hahaha. Dia kembali menjadi Ara yang biasa, yang ceria.

Agar tidak kelelahan, juga lebih antusias melakukan perjalanan, maka aku akan beristirahat di Bandung dulu. Staycation barang semalam dua malam di salah satu hotel di pusat kota. Kost masih ada, tapi terlalu malas ke kost hanya untuk waktu singkat. Nggak kebayang seberapa banyak debu dan kotoran yang harus dibersihkan dulu, hiiii…

Pilihanku jatuh pada Gas Inn at Gas Block Braga, yang akan aku ulas di tulisan berikutnya.

Alright. Let the journey begins!

Etape 1: Yogyakarta – Bandung dengan Kereta Api

It’s been ages since the last time I took a train, makanya seneng banget ketika bisa keretaan lagi. Nggak usah yang mahal-mahal, cukuplah naik Kereta Api Kahuripan seharga Rp80 ribu dengan rute Kiaracondong-Lempuyangan. Berangkat jam 21:42, tiba jam 6:00 keesokan paginya.

Stasiun Lempuyangan Yogyakarta bersama ransel dan headset kesayangan

Aku sudah mempersiapkan surat keterangan dokter dari rumah sakit yang sama dengan lokasi tes antigen (saat positif dan negatif). Surat ini adalah pengganti sertifikat vaksin. Isinya menyatakan bahwa aku tertular COVID-19 pada tanggal sekian sekian sehingga aku belum bisa divaksin.

Setibanya di Stasiun Lempuyangan, aku tes antigen dulu yang juga dilayani oleh pihak Kereta Api Indonesia untuk para pelanggannya. Harganya saat itu Rp30 ribuan, baru buka pukul 17:00 WIB sampai pukul 21:00 WIB. Puji Tuhan negatif. Langkahku menaiki kereta api pun lancar dengan semua dokumen yang kubawa. Suasana tempat tes dan stasiun nggak terlalu ramai juga.
Yah, seperti biasa, hanya tidur-tidur ayam sepanjang perjalanan. Aku menghabiskan waktu dengan nonton Netflix, chatting, scroll-scroll Instagram, dan ngopi sambil ngemil. Memang kadang nggak enak jadi orang yang susah tidur di jalan.

Hawa dingin Bandung menyambut kedatanganku di Stasiun Kiaracondong pagi itu. Dengan setengah menggigil, aku berjalan menyusuri peron menuju pintu keluar stasiun.

Tiba dengan kedinginan di Stasiun Kiaracondong Bandung

Singkat cerita, aku lalu naik Gojek sampai Braga. Tapi karena hotelnya belum buka (bener-bener masih ditutup dari pintu depannya), aku sarapan di warung nasi kuning pinggir jalan terus ngopi di sebuah kedai kopi kecil. Namanya Little Space, menyempil di sudut pertigaan Jalan Braga. Eh, nggak taunya disamperin salah satu temen kantor, Aldo, yang lihat postingan-ku di IG Stories dan kebetulan dia lagi ada di sekitaran Braga. Aldo dan aku adalah mitra sobat lembur hahaha. Dia sebagai art director dan aku sebagai content director kadangkala berjibaku dengan deadline untuk mengirimkan konten ke klien. What a way to start the day!

Untuk mengistirahatkan badan juga hati, perjalananku ke Palembang sejenak berhenti di Bandung. Aku menginap selama 1 malam di Gas Inn at Gas Block Braga dan baru melanjutkan perjalanan esok harinya. Ulasan hotelnya aku tulis terpisah biar nggak kepanjangan ya.


Tuhan tahu cara mengangkat suasana hatiku. Tak hanya Aldo, hari itu aku bertemu orang-orang yang membuatku merasa bahwa aku masih punya keluarga di Bandung. Masih punya “rumah” di Bandung.

Disamperin Aldo di Little Contrast, Bandung
Ketemu kak Winda di Kedai Kopi Djawa

Sore harinya, ci Vania, salah satu teman gereja, mengirimiku beberapa produk kedai kopinya yang diantar oleh Fandy, temen gereja juga, yang menjalankan usaha kedai kopi itu. Lalu malamnya, aku bersua dengan kak Winda. Kolega yang satu ini juga salah satu temen kantor terdekat, kami ngobrol-ngobrol di Kopi Djawa usai dia mengantarkan pesanan buah pelanggannya dengan bersepeda. Lady Bike! Kak Winda ini posisinya Project Manager, jadi sering tektokan juga di kantor. Dari dulu saat aku masih jadi copywriter biasa, sampai sekarang jadi content director, kak Winda yang mengawal agar pengerjaan konten yang timku lakukan berjalan sesuai timeline dan arahan.

Esok paginya usai sarapan, dengan sehat dan segar aku berangkat menuju Bumame Farmasi untuk swab test antigen. Perjalanan singkat itu terasa begitu menyenangkan karena aku menikmati suasana Sabtu pagi kota Bandung, berpapasan dengan rombongan pesepeda di Jalan Braga.

Suasana pagi Bandung di sisi depan Gas Inn at Gas Block Braga

Ini juga dari rekomendasi ci Vania. Prosesnya cepat dan mudah, dari registrasi sampai bayar bisa contactless. Tiap pelanggan diberikan test kit sendiri yang lalu dibawa ke bilik pengambilan sampel. Hasilnya bisa ditunggu, lalu dicetak di konter. Puji Tuhan negatif. Oh iya, lokasinya strategis, persis di seberang mal Bandung Indah Plaza (BIP). Yang di Jalan Setiabudhi juga ada.

Etape 2: Bandung – Palembang dengan Bus (dan Kapal)

Sekembalinya di hotel, aku beristirahat sebentar dan berkemas lalu checkout. Aku naik Gojek lagi menuju pool bus PO Lorena yang ada di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, like most Sumatera-bound buses do.

Untuk perjalanan Bandung-Palembang itu, ongkosnya standar Rp350 ribu. Bus berangkat jam 12 dan, kalau sesuai estimasi, akan menempuh waktu selama 16 jam. Tujuan akhir bus Lorena ini sebenarnya juga bukan Palembang, namun Pekanbaru. Busnya baru aku book via telepon kemarin sore hahaha.

Selain Lorena, beberapa operator bus jurusan Palembang yang sempat kulirik adalah Yoanda Prima, Kramat Djati, dan EPA Star.

Lelah tapi senang di atas kapal, meski perjalanannya lama tapi kata Ara mood-ku terjaga

Lalu bagaimana impresiku dengan armada bus Lorena ini sendiri? Biasa saja. Bahkan, below my expectation. Kursinya biasa saja, AC nggak sejuk, kabin biasa saja, juga nggak ada fasilitas kayak air mineral. Bus-bus Bandung Express yang notabene masih di dalam Pulau Jawa aja masih lebih bagus dari itu. Ditambah lagi, nggak ada kebijakan physical distancing. Bus dalam kondisi penuh! Bahkan, nggak ada pemeriksaan hasil tes dan sertifikat vaksin oleh petugas.

Perjalanan nggak terlalu menyenangkan karena bus banyak berhenti menaikturunkan penumpang dan banyak pedagang asongan yang naik-turun bus. Kalau malam mungkin mending, masalahnya ini siang hari yang terik hahaha. Perjalanan Bandung-Merak yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 4 jam perjalanan dengan mobil, molor menjadi sekitar 6 jam. Bus juga sempat melalui dalam kota Purwakarta, jadi nggak jalan toll seluruhnya.

Ketika bola angkasa itu berubah warna menjadi jingga, lautan Selat Sunda menyembul malu-malu dari balik nyiur pohon kelapa dan bedengan pertokoan pinggir jalan. Aku melongok dari balik jendela, mengabadikan momen indah dan langka itu dengan gawai baru yang tak lagi membuatku cemas dengan keterbatasan memori. Sayangnya, rupanya aku hanya mengabadikan momen itu dalam rupa video, sehingga mohon maaf belum bisa ditampilkan di sini.

Saat akhirnya pelan-pelan meninggalkan Merak

Entah karena apa, bus terhenti beberapa saat sebelum memasuki pelabuhan. Awak bus lalu mengumpulkan seluruh hasil tes swab antigen dari seluruh penumpang. Ketika bus sudah memasuki area pelabuhan, lajunya tersendat lagi. Penumpang yang tidak bisa menunjukkan hasil tes dan/atau vaksin diminta turun dan berhadapan dengan seorang petugas polisi. Aku curi-curi dengar ketika mereka sudah kembali naik, mereka diharuskan membayar “uang penyelesaian” kepada petugas 😂 Dasar Indonesia.

Bus akhirnya merapat ke geladak. Aku mengikuti para penumpang yang turun dari bus lalu naik ke atas dek.

Sudah lama sekali aku tidak naik kapal seperti ini. Dari semua moda transportasi umum, transportasi air adalah yang paling jarang bersinggungan. Terakhir kali aku naik kapal justru saat di Malaysia. Di tahun 2014 itu, aku menyeberang dari Butterworth menuju Georgetown di Pulau Penang. Kalau terakhir kali naik kapal di Indonesia malah lebih lama lagi: saat study tour ke Bali di masa SMA.

Akhirnya bisa naik kapal lagi setelah sekian lama
Di atas salah satu tikar itulah aku menghabiskan waktu di kapal penyeberangan Merak-Bakauheni

Menit-menit awal kuhabiskan dengan berdiri di dek bawah, memandang laut lepas dari balik pagar pengaman. Laut dan pulau-pulau di sekitarnya tampak gelap, hanya beberapa kerlip cahaya dari Pelabuhan Merak yang semakin lama semakin menjauh seiring kapal yang mendekat ke Bakauheni.

Aku lalu tersadar bahwa aku belum ke dek atas, dan ada bagian-bagian kapal yang belum kujelajahi. Maka selama beberapa saat kemudian, aku membunuh waktuku dengan berkeliling kapal. Ada ruang ber-AC yang nyaman banget tapi sayangnya jadi nggak leluasa menikmati pemandangan laut lepas, ada musholla dan ruang menyusui, beberapa tukang jualan keliling hilir mudik menjajakan dagangannya tanpa terganggu dengan konter penjual jajanan dari kapal.

Karena keasyikan, aku ketinggalan sesi briefing dari awak kapal. Saat aku memasuki ruangan, seluruh penumpang sudah duduk nyaris memenuhi ruangan. Petunjuk keselamatan dan peraturan dibawakan dengan riang dan jenaka, aku tak bosan menyimaknya. Awak kapal lalu membagikan semacam minyak tawon kepada seluruh penumpang, kami tinggal menadahkan telapak tangan dan awak kapal memberikan 2-3 kecrotan, eh tetes. Minyak yang kuoleskan pada dahi, leher, dan perut itu langsung terasa panasnya!

Ruang penumpang di dalam kapal ferry Merak-Bakauheni
Sesi briefing oleh nahkoda dan awak kapal saat naik kapal ferry dari Merak ke Bakauheni

Sesi briefing selesai, aku dan seluruh penumpang dipersilakan keluar (atau tetap di dalam bagi yang mau). Karena bosan dan lelah berdiri, aku dengan lugunya duduk di atas salah satu tikar. Hanya ada seorang anak kecil yang bermain-main di tikar itu. Aku pun nggak duduk-duduk banget, karena sepatu tetap kupakai di luar area tikar. Tau lah ya gaya duduk seperti ini. Si bocah dan ibunya pergi, lalu beberapa menit kemudian seorang mas-mas menghampiriku. Dia meminta uang sewa sebesar Rp15 ribu. Ya sudahlah, yang penting bisa duduk dengan nyaman. Satu tikar itu pun aku kuasai sendiri.

Penyeberangan singkat itu pun menemui akhirnya. Kapal merapat, penumpang kembali ke bus masing-masing, beberapa saat kemudian Lorena sudah melaju di atas jalanan Lampung, Pulau Sumatera. Tak butuh waktu lama untuk kami tiba di titik peristirahatan, sebuah rumah makan besar bertipe prasmanan dengan kedai makanan kecil seperti yang banyak kujumpai di Pulau Jawa. Bedanya, karena ini Sumatera, restorannya adalah rumah makan padang. Puji Tuhan, bisa makan dan ngopi-ngopi.

Rumah makan tempat kami singgah malam itu
Pop Mie dan kopi, teman di larut malam itu

Karena di kapal sudah makan roti dan nasi bungkus Rp10 ribu yang kubeli dari pedagang asongan sesaat sebelum bus memasuki pelabuhan, aku hanya membeli Pop Mie dan secangkir kopi hitam panas. Rasanya perut masih agak kenyang, segelas Pop Mie cukuplah untuk sumber energi sampai pagi.

Terlambat Tiba di Palembang

Menit demi menit terus bergulir, namun kami tak kunjung dipanggil masuk kembali ke dalam bus. Mesin bus juga belum dinyalakan. Rupanya bus kami mengalami kerusakan, dan harus menunggu armada pengganti.

Di tengah antah berantah, tak banyak yang bisa dilakukan

Tak banyak yang bisa kami lakukan, aku tenggelam dalam rasa bosan dan kantuk. Sesekali stretching, mencuci muka, atau berbincang dengan penumpang sebelahku. Pemuda yang sekarang namanya sudah tak kuingat itulah yang meminjamkan uang Rp10 ribu saat aku membeli nasi bungkus di dalam bus, berhubung denominasi uangku terlalu besar dan penjualnya tak punya kembalian. Dia menuju Palembang untuk urusan pekerjaan. Usianya jauh lebih muda di bawahku, 20an awal, masih bebas untuk menjelajah. Biar mudah diceritakan, mari kita sebut dia dengan Nabil.

Armada pengganti datang dan kami masuk ke dalam bus baru menempati nomor kursi yang sama. Nggak ada petugas yang mengatur, jadi kejujuran masing-masing. Karena sudah ada uang kecil, aku kembalikan uang Nabil. Malu lah bok, harusnya aku sebagai tetua yang jajanin dia hahaha.

Saat dini hari, bus merayap mendekati kota Palembang menembus jalanan berkabut.

Bela-belain ke Palembang untuk ketemu yang dipinang

Kira-kira pukul 6 pagi (kalau tak salah ingat), aku tiba di Palembang. Aku menunggu selama beberapa saat, sebelum Ara datang menjemputku sekitar jam 7 pagi dengan peluk mesra dan kecup rindu yang menghangatkan pagi itu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *