Review Hostel: 98SG, Singapura

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 5

Dibutuhkan ketelitian ekstra untuk dapat menemukan Hostel 98SG yang beralamat di Lorong 27 nomor 96, Geylang, ini. Tak ada papan nama besar atau mencolok, hanya sebuah tulisan “98SG” dengan ukuran yang biasa-biasa saja di atas sebuah pintu. Iya, di atas sebuah pintu, hostel ini terletak di atas sebuah ruko yang ditempati oleh usaha yang lain. Dari Stasiun MRT Aljunied, silakan keluar melalui Exit A lalu berbelok ke kiri. Kamu akan melalui kawasan pertokoan dan warung makan. Hostel 98SG ada di sudut pertigaan kedua, di samping toko Mayflower. Hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk mencapainya dari stasiun, jadi kalau kamu udah jalan jauh dan nggak nemu-nemu, berarti mungkin kamu kebablasan.

Kami membuka pintu dengan sedikit ragu. Melangkah masuk ke dalam, kami kemudian dihadapkan dengan sebuah tangga yang suram, lembab, dan berbau apak. Ewww, hostel macam apa ini? Batin gue, takut kalau-kalau kami memesan hostel yang salah. Kami menemukan sebuah pintu lain di ujung tangga, dengan sepatu dan sendal yang berserakan di depannya. Gue menekan tombol. Sebentar kemudian pintu terbuka, di mana seorang pemuda chinese dan berkacamata melongok dari balik daun pintu.

Saat itu baru sekitar pukul 12.00 siang, belum tiba saatnya untuk check-in. Tapi syukur banget, kami sudah diperbolehkan untuk check-in dan tidak dikenakan biaya apapun. Baiknya lagi, staff hotel itu — namanya Franky — meng-upgrade kamar kami dengan memberikan sebuah asrama 4 kamar, bukan 6 kamar, dan sekali lagi tanpa ada biaya tambahan.

Franky lantas memberikan sedikit penjelasan kepada kami di ruang tengah, sambil meminta gue untuk mengisi sebuah form. Dia memberikan tiga buah kunci, masing-masing untuk hostel, kamar, dan loker. Deposit sebesar 30 SGD diberikan untuk loker dan akan dikembalikan saat check-out. Karena kami akan check-out besok pagi sekitar pukul 09.00, kami harus mengembalikan kunci malam ini. Awalnya gue agak jengkel dengan peraturan itu, kenapa harus buru-buru mengembalikan kunci malam ini kalau baru besok pagi check-out? Tapi gue lalu sedikit maklum karena dia harus terjaga hingga pukul 3 pagi yang artinya — dia baru bangun tidur pada siang hari. Jadi, total biaya yang harus kami berdua keluarkan untuk menginap semalam di 98SG adalah 29.5 SGD, atau 14.25 SGD per orang. Per orang membayar biaya ekstra 3 SGD di luar biaya yang tertera di internet (12 SGD). Harusnya sih jadi 15 SGD ya, tapi entah kenapa biaya totalnya jadi sedikit lebih murah.

Kamar kami memang tidak berjendela, tapi tetap nyaman karena ada fasilitas pendingin ruangan / AC. Isinya tidak lebih dari dua buah ranjang bertingkat, loker, dan terminal colokan listrik yang sudah disesuaikan dengan tipe colokan listrik di Indonesia. Setiap kasur dilengkapi dengan bantal dan selimut tebal yang nyaman.

Ruang tengah yang besar itu dibedakan menjadi 3 bagian. Bagian yang pertama terletak di depan kamar kami, di ujung ruangan. Sebuah sofa besar berhadapan dengan sebuah televisi layar datar yang juga berukuran besar, lengkap dengan speaker dan colokan listrik tipe Singapura. Bagian selanjutnya diisi dengan sebuah meja dan beberapa kursi yang mengitarinya, biasa dipakai penghuni hostel untuk ngobrol atau sarapan. Yang terakhir adalah satu set meja-kursi dengan satu buah komputer yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni yang membutuhkan.

Hostel sudah dilengkapi dengan fasilitas wifi dan sudah tersambung dengan komputer tersebut. Untuk pengaturan dengan smartphone kamu, coba minta tolong sama Franky deh. Kami kesulitan mengkoneksikan smartphone kami dengan wifi hostel dan baru bisa berhasil setelah diutek-utek Franky.

Dapur tersedia di sisi ruang tengah. Hostel ini memang nggak menyediakan sarapan, tapi ada sereal dan kopi-kopian yang bisa dikonsumsi bebas oleh penghuni hostel. Jangan lupa untuk membersihkan piring atau gelas kotor masing-masing ya. Nggak ada dispenser, adanya water heater. Kalau mau diisikan ke botol minum kamu, ya harus didinginin dulu, hehe. Di dapur juga ada mesin cuci besar. Butuh biaya ekstra juga kalau mau menggunakan jasa laundry mereka.

Setelah dapur, ada kamar mandi dan wastafel. Kamar mandinya kecil, tapi nggak terlalu masalah buat gue. Airnya suam-suam kuku, tapi nggak apa-apa deh daripada nggak sama sekali. Tipe kamar mandinya standar hostel-hostel murah dengan shower dan pintu geser. Ada yang hanya shower, ada yang dengan kakus. Catatan: kamar mandi paling ujung difungsikan sebagai gudang.

Artikel Terkait:

Rekomendasi 4 Hostel Murah di Singapura

Memahami Transportasi Publik di Singapura: MRT, LRT, Bus, Sentosa Express

Hostel ini cukup gue rekomendasikan buat kamu yang mau backpacker-an ke Singapura. Pertama, harganya murah, nggak sampai Rp 150.000,00 kok (sementara standar hostel di Singapura adalah Rp 200.000,00-an). Kedua, deket banget sama stasiun MRT Aljunied. Ada Ananas Cafe di situ, yang terkenal sebagai warung makan serba 2 SGD. Ketiga, banyak warung makan murah di sekitar hostel yang bisa kamu jadikan alternatif. Keempat, hostel-nya nyaman dan bersih kok (meskipun dari luar tampak tidak meyakinkan). Yang kelima dan terakhir, staf hostel-nya ramah dan asyik, mungkin karena masih sama-sama muda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kebetulan gue dan Aska nginep di 98SG bersamaan dengan dua kelompok turis Indonesia lainnya. Cocok buat gue yang kadang minder kalau isi hostelnya hanya ada backpacker-backpacker bule yang tinggi dan besar, hahaha. Pemesanan bisa dilakukan via Hostelworld atau langsung email ke [email protected]. Gue pernah coba email langsung untuk menanyakan masalah harga total, tapi nggak dibales. Mungkin Franky sibuk karena harus melakukan semuanya seorang diri, jadi lebih baik via Hostelworld saja. Cheers!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *