Review KRL Jogja Solo, Sebagus di Jakarta?

Aku dan KRL Jogja-Solo

Sebagai pecinta kereta api dan transportasi umum, sudah lama gue memimpikan kehadiran MRT, LRT, atau minimal trem di kampung halaman Yogyakarta. Gue harap, koridor Wates-Yogyakarta-Solo yang sibuk itu bisa di-upgrade menjadi MRT. Impian gue sekarang sudah selangkah lebih dekat. Meski belum menjadi MRT, namun jalur dari Yogyakarta-Solo sudah dielektrifikasi. Yang semula dilayani KRD Prameks (Prambanan Ekspres), sekarang dilayani oleh KRL atau Kereta Listrik.

Maka beberapa minggu setelah KRL mulai beroperasi, apalagi gue sekarang memang sedang mendekam di rumah keluarga di Jogja, tentu gue nggak menyia-nyiakan kesempatan itu! Oh, gue ingat, saat itu pas gue mau staycation ke Solia Zigna Laweyan Solo. Jadi, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Sabtu siang itu di penghujung bulan Februari, gue tiba di Pintu Selatan Stasiun Yogyakarta, makasih buat Ipul yang udah share akses KRL di Stasiun Tugu itu. Dari arah pintu masuk, gue mengikuti papan petunjuk menuju jalur akses KRL di sebelah kanan (timur) pintu masuk utama yang digunakan untuk kereta api jarak jauh. Lorongnya persis di depan ruangan yang melayani tiket kereta api jarak dekat.

Papan petunjuk untuk layanan KRL di Stasiun Yogyakarta
Ticketing gate menuju peron KRL di Stasiun Yogyakarta

Kepada petugas yang bersiaga, gue bertanya apakah bisa menggunakan Flazz BCA, dan syukurlah bisa. KRL Jogja-Solo melayani pembayaran dengan kartu e-money bank-bank Indonesia. 

Ticketing gate-nya kayak yang ada di KRL Jabodetabek. Tinggal tap kartu, dan melangkah masuk setelah mesin mendeteksi kartu. Ongkosnya flat rate Rp8.000,00 sama kayak Prameks. Kalo nggak ada e-money, harus beli kartu single trip atau multi trip yang ada di loket. Harganya kalo nggak salah Rp30 ribu, udah termasuk saldo senilai Rp10 ribu.

Kereta datang setiap sekitar setengah jam sampai satu jam sekali. Memang belum serapat KRL Jabodetabek sih. Gue harap ke depannya KRL Jogja-Solo bisa berangkat setiap 15-30 menit sekali. Kereta paling malem biasanya sekitar jam 7 malem, jadi jangan sampe terlena dengan waktu. Jadwal normalnya adalah sebagai berikut ini.

Bayar KRL Jogja-Solo bisa dengan Flazz BCA

Sudah tersedia ruang tunggu khusus penumpang KRL. Akses menuju peron ditutup dengan partisi supaya penumpang nggak memenuhi peron yang dikhawatirkan bisa mengacaukan alur keluar-masuk penumpang. Setelah kereta datang dan seluruh penumpangnya keluar, barulah partisi dibuka dan calon penumpang KRL masuk ke dalam gerbong.

Video lengkapnya bisa dicek di sini:


Seperti namanya, buat sekarang KRL baru melayani koridor Jogja-Solo, sementara perjalanan Kutoarjo-Jogja masih dengan Prameks. Jadi kalo kamu mau naik kereta dari Kutoarjo ke Solo, kamu harus transit di Yogyakarta. Jadwalnya pun semakin berkurang hahaha, buat bulan Mei 2021 aja cuma ada 4 keberangkatan pulang-pergi.

Ada 11 stasiun yang dilalui KRL Jogja-Solo, yaitu: Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo (Bandara Adi Sucipto), Brambanan (akses ke Candi Prambanan), Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, dan Solo Balapan. Panjang jalurnya sekitar 60 km lho! Pemandangan selama perjalanan, juara. Kereta melintas jalur di sisi hamparan persawahan yang dibayangi oleh bentang pegunungan, melalui stasiun-stasiun yang walaupun kecil namun tetap bersih dan terawat.

Kiri: ruang tunggu KRL di Stasiun Yogyakarta | Kanan: Stasiun Purwosari Solo

Kalo mau ke Yogyakarta International Airport, baca review gue aja di: Kereta Bandara Yogyakarta

Gue berharap jumlah stasiunnya bertambah, supaya lebih banyak warga di kawasan Jogja-Solo yang terlayani, sampai orang yang dulunya nggak pernah naik kereta buat kegiatan sehari-hari jadi pengguna setia KRL.


Perjalanan dari Jogja ke Solo dan sebaliknya menggunakan KRL ditempuh selama kurang lebih 68 menit, sedikit lebih cepat dari Prameks.

Ada 2 armada kereta api yang digunakan: KRL buatan PT INKA dan KRL eks Tokyo Metro yang mirip dengan armada KRL Jabodetabek. Keduanya tampil senada dengan aksen merah dan motif batik pada bodi. Masing-masing dilengkapi dengan fasilitas standar kereta jarak dekat, yaitu: bangku memanjang berhadapan, handrail dan hand-grip di lorong untuk penumpang berdiri, AC, infografis peta rute, dan pintu otomatis. Ada passenger announcement, tapi masih manual, belum otomatis.

Baca juga: Review MRT Jakarta dan Review LRT Jakarta

Armada KRL Jogja-Solo buatan PT INKA di Stasiun Yogyakarta
Suasana Stasiun Purwosari di Solo dan armada KRL Jogja-Solo dari eks Tokyo Metro

Puji Tuhan, dalam perjalanan Jogja-Solo ini, gue merasakan dua-duanya. Berangkat ke Solo dengan kereta INKA, balik ke Jogja dengan kereta Jepang. Kalo ditanya mana yang lebih suka, tentu lebih suka kereta Jepang. Alasannya adalah perjalanan yang lebih mulus. Suara mesin dan klaksonnya halus, nyaman didengar. Sementara yang kereta INKA itu bunyi klaksonnya berisik banget. Mungkin karena melalui banyak pemukiman dan masih menggunakan shared track, jadi klakson rutin digaungkan tiap beberapa menit sekali.

Peraturan di dalam KRL Jogja-Solo juga mirip dengan peraturan di KRL Jabodetabek, MRT, LRT, dan kereta bandara Soetta. Di antaranya adalah nggak boleh makan dan minum, dilarang membawa benda berbau tajam, dilarang merokok, juga nggak boleh membawa binatang peliharaan. Khusus selama pandemi, ada peraturan tambahan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak, bangku penumpang diberi jeda bertanda X agar tidak berdempetan.

Apakah KRL Jogja-Solo bisa penuh? Bisa banget. 

Suasana KRL Jogja-Solo saat perjalanan dari Yogyakarta ke Solo
Suasana KRL Jogja-Solo saat perjalanan dari Solo ke Yogyakarta

Dari Stasiun Yogyakarta, kereta berangkat dalam kondisi dengan keterisian sedang. Gue melihat paspampres hilir mudik di dalam dan luar kereta, dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang kayaknya pejabat pemerintah. Sebagian dari mereka tampak seperti mengecek dan melihat-lihat. Malamnya gue baru tahu, bahwa hari itu KRL Jogja-Solo diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo. Ealah, pantes.

Semakin ke timur, kereta semakin penuh! Banyak penumpang naik di Stasiun Lempuyangan dan Maguwo. Mereka terpaksa berdiri nyaris berdempetan, hanya dibatasi dengan jarak yang rapat. Petugas harus membantu mengatur penumpang agar mereka berdiri di lokasi yang bijak. Tau sendiri yekan, suka ada penumpang yang nggak mau masuk ke tengah lorong, dan akhirnya bikin penumpang lain kemruyuk di kedua ujung gerbong, padahal itu seharusnya clear area karena dekat akses keluar-masuk.

Desain interior dan fasilitas KRL Jogja-Solo
Handrail dan hand-grip, KRL Jogja-Solo

Begitu pun saat balik dari Solo ke Jogja. Karena kesamaan desain interiornya, sekilas suasananya kayak yang biasa kita temui di KRL Jabodetabek pada jam-jam tanggung. Nggak lowong, tapi juga nggak sampe padet. 

Baca juga ulasan transportasi kereta lainnya ini:

Review LRT Palembang
Review Kereta Bandara Solo Ekspres

Review MRT dan LRT Singapore
Review LRT, Monorail, KTM Komuter, dan KLIA Ekspres Malaysia
Review MRT Kuala Lumpur
Review BTS/Skytrain dan MRT Bangkok
Review MTR dan Tram Hong Kong
Review Kereta Cepat Hainan China

Ticketing gate KRL di Stasiun Purwosari Solo

Ada yang pernah atau biasa naik KRL Jogja-Solo saat jam-jam sibuk berangkat dan pulang kerja? Share dong di kolom komentar.

Semoga review ini membantu, ya. Buat kamu yang di luar Jogja, nanti cobain KRL Jogja-Solo saat kalian ke sini lagi ya. Buat yang udah cobain, share pendapatmu di kolom komentar yuk. Dukung gue untuk terus membuat ulasan transportasi seperti ini, keep learning by traveling~

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *