Seharian Jelajah Nanggulan: Spot Foto Selokan Mataram, Sate Mbah Margo, dan Kopi Klotok Menoreh

Daerah Nanggulan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta

Sabtu, 20 Februari 2021, ada yang berbeda dalam keseharian Nugi di Jogja. Setelah berminggu-minggu cuma di rumah aja (well, kalo pun pergi cuma di sekitaran rumah dan nggak lama), hari Sabtu itu gue berpetualang menuju kawasan Nanggulan di kabupaten Kulonprogo. Ada beberapa spot di sana yang memancing rasa ingin tahu, seperti “spot foto pohon kelapa di selokan mataram”, Sate Kambing Mbah Margo, dan Kopi Ampirono.

Sebetulnya sudah lama gue merencanakan perjalanan ini, tepatnya setelah gue membaca cerita perjalanan mas Nasirullah Sitam sebulan lalu. Gue juga udah menghubungi mas Sitam melalui aplikasi perpesanan untuk meminta informasi rute menuju tempat itu. Udah mencoba mencari sendiri rutenya di Google Maps, tapi gagal hehe.

Didorong oleh rasa kebosanan dan rasa rindu akan berpetualang, hari Sabtu itu gue hempaskan kemalasan dan bulatkan tekad. Jelang jam makan siang, gue giring si Mirah, Mio merah, keluar gang untuk melakukan perjalanan ke barat mencari kitab suci spot foto pohon kelapa.

Baca juga: Sehari Berpetualang di Pantai Sadeng dan Bukit Pengilon Yogyakarta


Dari rumah di bilangan Kadipiro, jarak yang harus gue tempuh adalah sekitar 18 kilometer. Rute yang gue pilih adalah menyusuri Jalan Godean teruuusss sampai habis, lalu masuk ke Jalan Ngapak-Kentheng, belok kanan ke Jalan Nanggulan-Mendut dan warung ada di sisi kanan.

Di area Nanggulan memang banyak persawahan (diambil dari Kopi Klotok Menoreh)

Yang biasanya membuat gue malas motoran adalah kondisi lalu lintas yang macet, jadi sampai tujuan dalam kondisi lelah dan udah hilang mood duluan. Maklum, tempat-tempat wisata alam di Bandung jauh-jauh dengan kondisi jalan yang padat, makanya gue juga males motoran jauh-jauh di Bandung dan sekitarnya. Puji Tuhan Jogja belum kayak Bandung. Sepertiga perjalanan memang agak ramai karena kondisi lalu lintas Jalan Godean. Namun setelah itu, jalan dalam kondisi lengang sehingga berkendara jadi leluasa!

Nggak susah menemukan Warung Sate Mbah Margo. Warung makannya memang sederhana, tapi luas dan bersih. Gue memesan seporsi sate kambing dengan teh manis panas, lalu memilih duduk di area depan yang sepi. Ada satu keluarga kecil dan beberapa pengunjung lain di area dalam.

Seporsi sate kambing tanpa tusuk datang, lengkap dengan bumbu kecap, irisan kol, dan bawang merah. Nasinya disajikan dalam 1 wakul, boleh tambah sepuasnya dari situ, cocok buat yang datang beramai-ramai. Ya ampun, rasanya nikmat banget. Standar rasa gue memang nggak tinggi, seporsi sate kambing pun tandas lengkap dengan irisan kol dan bawang merahnya.

Seporsi nasi dengan sate kambing dan teh manis panas di Warung Sate Mbah Margo Nanggulan

Buat temen-temen yang masih belum familiar, di Jogja memang biasa dengan penyajian sate kambing tanpa tusuk. Umumnya warung atau kedai seperti ini juga melayani tongseng dan gulai. Kalau kamu jalan-jalan menuju kawasan Pantai Parangtritis, mendekati pantai kamu akan banyak menemukan jajaran warung sate/tongseng/gulai kambing di kanan-kiri jalan. Jangan khawatir, ada menu ayam juga buat yang nggak suka daging kambing.

Sambil bersantap dan minum teh manis panas, gue menikmati horizon yang berbeda di depan mata. Ada rumah warga, warung kelontong, dan jalan pemukiman yang rasanya begitu damai. Jalan raya di depan pun terbilang sepi, ada saat-saat hening tanpa ada satu pun kendaraan yang melintas sama sekali.

Total harga yang gue bayar adalah Rp33 ribu, jadi gue berasumsi kalau harga nasi dan satenya aja Rp30 ribu.


Sejujurnya, gue udah melupakan spot foto pohon kelapa ini. Saat gue membaca lagi petunjuk arah yang diberikan mas Sitam, ada satu tempat bernama Puncak Kleco yang disebutkan. Pas gue cek kawasan sekitar di Google Maps, gue juga melihat itu. Ya udah, dari Warung Sate Mbah Margo, gue lanjutkan perjalanan menuju Puncak Kleco.

Berbekal peta daring, gue melesat melalui jalanan berliku yang naik-turun dengan beberapa tikungan tajam. Untunglah saat itu kondisi lalu lintasnya lengang, meski beberapa kali berpapasan dengan truk sehingga harus menyalip. Jalanannya mengingatkan gue dengan kondisi jalanan menuju Gunung Kidul. Oke, dengan begini gue tau, kalo nanti gue harus motoran ke rumah saudara di Gunung Kidul, gue udah cukup menguasai medannya.

Walaupun harus sesekali berhenti untuk memastikan gue tetap berada di jalan yang benar, perjalanan gue terbilang lancar. Nggak ada acara nyasar atau kebablasan ngonoo.

Setelah melalui jalanan di tengah hutan, gue bertemu kembali dengan pedesaan. Mendekati tempat tujuan, mata gue dihadapkan dengan panorama persawahan dan pegunungan hijau yang membayangi di kedua sisi jalan. Tak mau menyia-menyiakan momen indah ini, gue sempatkan berhenti di salah satu sudut jalan yang aman dan mengabadikan bentangan alam di hadapan.

Panorama jelang Puncak Kleco, Nanggulan, Kulonprogo

Sebentar kemudian, gue melanjutkan perjalanan. Mata gue dengan sigap menangkap papan bertuliskan “Puncak Kleco” di sisi kiri jalan. Gue lalu berbelok ke kiri memasuki jalan kecil itu, meski agak keblandang hehe. Jadinya sebelum belok harus mundur dikit dulu.

Jalanan desa yang gue masuki itu lalu melintang menjadi sebuah jembatan kecil di atas pertemuan dua sungai, bersisian dengan sawah yang terhampar luas dan pegunungan yang mengepung dari berbagai penjuru. “Gilaaaaaakkk cakep banget! Pemandangan kayak gini nih yang emang gue cari-cari,” kata gue kepada diri sendiri. Gue menghela nafas takjub, lalu mengambil foto dari berbagai arah.

Sungai di sisi kanan
Sungai di sisi kiri
Foto panorama, spot foto pohon kelapa di Nanggulan, Kulonprogo, Yogyakarta

Namun gue juga nggak berlama-lama, karena fokus gue saat itu masih Puncak Kleco. Gue tunggangi si Mirah lagi, membangkitkan nyala mesinnya, dan kembali berkendara.

Damn, gue motoran di tengah jalanan desa yang sempit diiringi hembusan angin sejuk yang menjadi alunan musik hidup. Sawah di sisi kiri, sungai kecil di sisi kanan di mana rumah-rumah warga menghadap padanya, menuju perbukitan di depan sana yang entah menuju ke mana.

Eh tunggu.

Jalan kecil, sawah, kali di salah satu sisi, INI KAN SPOT SELOKAN MATARAM YANG TADINYA MAU GUE CARI!

Jauh-jauh sampai Nanggulan Kulonprogo tapi seneng!

Tanpa sengaja dan tanpa sadar, gue ditibakan Tuhan di tempat yang memang gue mau. Singkat cerita, gue terus melalui jalanan itu sampai sekitar 2 atau 3 kilometer kemudian dan gagal menemukan Puncak Kleco. Kemungkinan gue salah belok karena salah memahami arah dari papan petunjuk. Yang jelas kalo melihat dari Google Maps, gue sudah melenceng jauh. Gue putar balik dan kembali ke titik pertemuan 2 sungai tadi.

Gue memarkirkan si Mirah pada lahan berumput yang menjadi trotoar alami di sisi jalan, lalu duduk di atas rumput sambil menikmati angin yang bertiup sepoi. Mengamati aliran air sungai di bawah sana. Berbicara dengan diri sendiri. Memuja perbukitan yang gagah terbentang jauh di sana. Bertegursapa dengan warga desa yang sesekali hilir mudik. 

Menikmati panorama yang nggak bisa tiap hari gue lihat

Angin berhembus semakin sejuk sampai keringat gue bener-bener hilang. Semakin sejuk, semakin dingin, semakin kencang…

Tunggu. Ini sudah terlalu kencang.

Gue tersadar bahwa awan mendung yang gelap sudah menggantung di atas kepala. Tak mau terlalu lama kehujanan, gue segera starter si Mirah menuju kawasan kedai kopi tepi sawah.

Baca juga: 5 Tempat Wisata Jogja Instagrammable dan Anti-Mainstream


Tah bener, saat udah mau sampai Kopi Ampirono, hujan tiba-tiba mengguyur deras, nggak ada waktu buat menepi dan memakai jas hujan dengan anggun. Nggak ada tempat berteduh juga karena kanan-kiri hanyalah sawah. Jadi biar pun gue udah berhasil memakai jas hujan, gue tetap kebasahan.

Anehnya, gue sama sekali nggak kesel, seakan-akan gue udah menerima banget kehujanan. Ah, udah lama banget gue nggak kayak gini, motoran sendirian kehujanan.. kedinginan.. Sensasi yang udah gue rindukan setelah 2 bulan mendekam di rumah dan hampir setahun terjebak pandemi.

Tadinya gue mau ke Kopi Ampirono yang lagi hits itu, yang juga diulas di blognya mas Sitam. Karena kayaknya lagi penuh banget, gue memutarbalik dan melipir ke Kopi Klotok Menoreh. Syukurlah di kawasan ini memang ada beberapa pilihan kedai kopi serupa yang sama-sama menawarkan kopi tubruk dan pemandangan sawah. Tipikal kedai kopi ala lokal Jogja, kudapan pendampingnya bukan cake and bakery, tapi gorengan, jajanan pasar, atau menu makanan rumahan. Gue lebih suka yang kayak gini karena udah bosen dengan coffee shop bernuansa western.

Area depan Kopi Klotok Menoreh, Yogyakarta
Menyesap kopi sambil mengamati rinai hujan
Isi energi dan suasana hati dulu di Kopi Klotok Menoreh

Area Kopi Klotok Menoreh ini luas. Ada rumah joglo utama yang banyak diisi oleh grup-grup keluarga dan anak-anak muda, ada taman dan kolam ikan di area depan yang berbatasan dengan lahan parkir. Gue memilih duduk di area pojok depan yang terdapat bar seating area, jadi satu dengan konter pembuatan kopi, cocok buat yang datang sendirian kayak gue.

Makanan disajikan secara prasmanan di pondok joglo utama, gue hanya mengambil pecel dan tempe. Selain karena masih kenyang dengan sate kambing Mbah Margo, nasinya juga pas habis. Sambil membayar di kasir, gue memesan segelas kopi tubruk hitam. Gue lupa total harganya hahaha, tapi kalo nggak salah Rp20 ribuan. Metode pemesanan kayak gini jamak ditemukan di kedai-kedai kopi Jogja, contohnya di Asram Edupark yang gue sambangi bulan sebelumnya.

Area belakang Kopi Klotok Menoreh, Yogyakarta
Kopi Klotok Menoreh yang dikelilingi oleh persawahan

Setelah makanan dan kopi sudah habis, handphone juga udah cukup terisi (yes, ada stop kontak di hampir semua tempat duduk pengunjung), gue sempatkan menjelajah tempat makan itu sebelum beranjak pulang. Cuaca masih dingin dan mendung, tapi setidaknya hujan sudah (hampir) reda.

Ternyata ada area yang cukup luas di belakang pondok utama, ada satu pondok bertingkat dan area terbuka dengan beberapa set tempat duduk. Area terbuka itu dikelilingi oleh lahan persawahan dari tiga sisi. Saat pagi atau sore hari dengan cuaca cerah, tempat itu akan menjadi titik menarik untuk berfoto. Sayangnya saat itu mendung dan gue sendirian huhuhu.

Setelah cukup mengambil foto, gue bergegas pulang karena waktu juga sudah sore.


Suasana dan pemandangan Kopi Klotok Menoreh yang bikin betah

Selesai sudah petualangan sehari gue di Nanggulan, Jogja. Lain kali gue mau ke sini lagi ah sama bebeb Ara, ada beberapa tempat lain yang menarik buat dikunjungi. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat kalian yang mau eksplor Jogja ya, keep learning by traveling~

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *