Siapa Bilang Gak Bisa Jalan-Jalan Sendiri ke Hainan? Ini Panduan dan Buktinya!

Mendarat di Haikou Meilan Airport dengan Scoot

Maskapai Jetstar yang mengantarkan gue dari Haikou ke Singapore

Akhirnya dengan pertimbangan yang akan gue ceritakan di tulisan berikutnya, gue ambil penerbangan ke Hainan itu. Rute gue adalah sebagai berikut:

  • Jumat, 1 November 2019     : Jakarta – Singapore dengan Jetstar jam 21:55
  • Sabtu, 2 November 2019     : Singapore – Haikou dengan Scoot jam 6:25
  • Rabu, 6 November 2019      : Haikou – Singapore dengan Jetstar jam 12:15
  • Rabu, 6 November 2019      : Singapore – Jakarta dengan AirAsia jam 21:55.

Mau nggak mau gue harus balik ke Singapore dari Haikou juga karena nggak ada penerbangan murah dari Sanya ke Singapore atau KL. Review penerbangan Singapore – Haikou bisa dibaca di: [Flight Review] SCOOT Singapore – Hainan + Panduan Transportasi Bandara Meilan


Gue nggak menampik fakta bahwa hostel di Hainan itu dikit bangeeettt! Di Booking.com (platform pemesanan hotel internasional favorit gue), cuma ada satu hostel di Haikou yang namanya Banana International Youth Hostel. Selebihnya adalah hotel dengan harga yang lumayan mahal. Hostel di Sanya ada beberapa, tapi gue jatuhkan pilihan pada BlueSky International Youth Hostel yang paling murah. Tarif di dua hostel ini sama, 90 CNY buat 2 malam atau sekitar Rp180.000,00 tanpa sarapan. Murah, ‘kan?

Communal area di Banana Hostel Haikou, Hainan

BlueSky Hostel Sanya, Hainan

Pembayaran dilakukan secara langsung saat check-in dengan cash, nggak bisa pake kartu kredit. Depositnya beragam, Banana Hostel di Haikou minta deposit cuma 20 CNY, sementara BlueSky Hostel di Sanya minta deposit 100 CNY. Dua-duanya hostel recommended! Kasurnya empuk dengan kamar yang nyaman. Keduanya punya communal area macam café instagrammable, bisa pesan kopi atau makanan dengan harga di kisaran 30 CNY. Banana Hostel di Haikou malah lokasinya juga bagus banget, bisa jalan kaki ke Haidian River, Qilou Old Street, dan People’s Park. Ulasan lebih detil tentang dua hostel ini akan gue hadirkan di tulisan terpisah.


Kabarnya, pemegang paspor Indonesia bebas visa ke Hainan selama mengambil paket tur dari agen wisata. Nah, karena gue traveling sendiri dan email gue ke Kedubes China juga nggak dibales, gue nggak yakin apakah gue masih perlu apply visa China atau enggak. Tapi karena gue anaknya suka cari aman, akhirnya gue apply aja visa China itu.

Syarat pengajuan visa China ini nggak ribet kok. Cuma tinggal isi form yang disediakan, menyerahkan pas foto sesuai ketentuan, dan membayar biaya sekitar Rp500.000-an. Nggak perlu melampirkan fotokopi buku tabungan atau slip gaji. Tapi karena gue tinggal di Bandung dan kalau 2 kali naik kereta PP Bandung-Jakarta akan menambah biaya jadi Rp900.000-an, akhirnya gue bikin visa China melalui agen lokal, dalam kasus ini adalah HIS Travel karena kantornya deket kantor gue. Biayanya sekitar Rp700.000-an dengan lama pengerjaan 7-10 hari kerja.

Dokumen tambahan yang gue sertakan adalah:

  • Bukti seluruh pemesanan pesawat terbang
  • Bukti seluruh pemesanan hostel
  • Surat keterangan bekerja dari kantor dan fotokopi NPWP (karena status di KTP gue masih mahasiswa)
  • Fotokopi kartu keluarga (yang ini adalah permintaan dari HIS Travel).

Salah satu pengalaman baru yang mau gue dapatkan dari perjalanan di Hainan ini adalah pengalaman naik kereta cepat. Ada dua kota yang mau gue kunjungi di Hainan, Haikou dan Sanya. Keduanya terhubung dengan jalur kereta cepat.

Jaringan kereta cepat Hainan
(source: haikouhostel.com)

Highspeed Railway, Hainan, China

Ada 2 online travel agent yang gue pake buat membeli tiket kereta cepat Cina secara online. Kereta cepat ini baru bisa dibeli sekitar sebulan sebelum keberangkatan, jadi nggak usah terlalu terburu-buru. Kalau misalnya pas kamu browsing tiket dan ternyata nggak ada jadwal kereta cepat yang keluar, atau kok seluruh kursi sudah habis, jangan panik, berarti tiket di tanggal yang kamu mau belum tersedia. Coba lagi beberapa hari kemudian. Setelah jadwal kereta sudah keluar, lakukan langkah sebagai berikut:

  1. Order, kayak kalau kamu pesan online kereta di Indonesia
  2. Selesaikan pembayaran
  3. Pihak Trip.com atau TravelChinaGuide akan membelikan tiketnya buat kamu
  4. Setelah tiket terbeli, mereka akan mengirimkan email berisi pick-up number
  5. Ingat-ingat nomor kursi dan gerbong yang tertera di email, karena nggak akan tercantum di tiket dari loket stasiun
  6. Bawa pick-up number dan paspor kamu ke loket tiket di stasiun
  7. Petugas memberimu tiket kereta yang valid
  8. Masuk ke dalam stasiun melalui pintu VIP yang nggak ada automatic gate (warga Cina masuk dengan scan KTP di gate)
  9. Perhatikan informasi peron dan pintu check-in kereta kamu yang ada di layar
  10. Boarding gate biasanya dibuka 10 menit sebelum keberangkatan
  11. Masuklah ke peron melalui gate tanpa scanner KTP Cina, biasanya ada di ujung
  12. Lakukan tips serupa saat kamu tiba di stasiun tujuan, pilih gate manual untuk keluar.
Interior Sanya Railway Station dari lantai atas (check-in 2)

Tiket kereta Hainan High Speed Railway China (semua kelas sama aja)

Rute pertama, Haikou East – Sanya kursi kelas 2 untuk keberangkatan hari Senin jam 12:20, gue beli di Trip.com. Sementara rute kedua, Sanya – Meilan kursi kelas 1 untuk keberangkatan hari Rabu jam 7:15, gue beli di TravelChinaGuide. Dua-duanya punya metode yang sama, tapi TravelChinaGuide punya semacam personal contact yang akan memandu pemesanan kita via email. Jadi di antara keduanya, gue lebih recommend TravelChinaGuide. Lembar pick-up number dari mereka juga menyertakan kalimat sederhana dalam aksara Cina untuk membantu petugas loket memahami maksudmu.


Belakangan ini, gue lebih suka sewa modem wifi alias mifi daripada beli SIM Card lokal. Praktis, gue nggak perlu gonta-ganti SIM Card di handphone yang berpotensi merusak fisik hape atau kartunya. Selain itu, modem JavaMifi ini bisa diantar langsung ke alamat kita sebelum traveling, gratis! Kalau udah selesai dipake juga bisa dijemput lagi sama petugasnya. JavaMifi bisa provide 2 negara sekaligus, jadi gue nggak mati gaya saat transit lama di Bandara Changi Singapore.

Kemasan modem wifi Javamifi yang elegan

Paket Javamifi sudah termasuk kabel charger, adapter, dan buku petunjuk

Mifi sudah termasuk charger, adapter, dan buku petunjuk yang dikemas dalam pouch dengan bahan elegan dan kuat. KLIK DI SINI buat pesan JavaMifi sekarang juga!


Nggak ada garbarata yang menghubungkan kami dengan gedung bandara sesaat setelah mendarat. Kami naik shuttle bus ke gedung Bandara Haikou. Begitu masuk gedung, langsung dihadapkan dengan imigrasi yang jumlah loketnya juga nggak banyak, ruangannya juga cuma seukuran ruang kelas. Kita diminta mengisi form imigrasi (kayak di Thailand) dan melakukan perekaman sidik jari sendiri di mesin. Akan ada petunjuk dalam bahasa Inggris dari mesin. Setelah selesai, mesin akan mencetak struk untuk kita bawa dan serahkan di loket imigrasi. Simpan baik-baik bagian Arrival Card yang kita simpan dari kartu imigrasi tadi.

Panduan tentang Bandara Haikou juga bisa disimak di podcast berikut:

Lobi Terminal Internasional Bandara Meilan Haikou, Hainan

Mbak-mbak tourism center yang nggak bisa bahasa Inggris

Lepas imigrasi, melalui baggage belt yang juga cuma seuplik, lalu aula memanjang yang nggak ada apa-apa, terus udah deh pintu keluar. Nggak ada tempat makan apa pun atau bahkan convenience store! Men, Bandara Bandung aja masih lebih berisi dari ini, ini mah cuma kayak Bandara Macau. Ada booth tourism center, tapi mbak-mbak petugasnya nggak bisa bahasa Inggris, kami berkomunikasi dengan bantuan mesin penerjemah.

:ngakak::ngakak:

Free Shuttle Bus di Haikou Meilan Airport

Kiri: modem wifi javamifi di Bandara Haikou
Kanan: papan rute bus di Ground Traffic Center

Dari depan gedung terminal internasional Bandara Haikou itu, gue naik free shuttle bus yang warnanya kuning ngejreng menuju gedung terminal domestik. Jarak keduanya deket, cuma 800 meter, jadi kita juga bisa jalan kaki kalau mau. Kalau jalan kaki tinggal lurus aja ke arah kiri, sementara kalau naik bus rutenya memutar. Nah, di terminal domestik itulah stasiun suburban train Haikou dan stasiun kereta cepat berada. Posisinya ada di sebelah kanan pintu masuk setelah turun dari bus. Tadinya gue mau cobain suburban train-nya. Tapi karena nggak ada opsi bahasa Inggris di mesin tiketnya (gue nyerah di tahap terakhir) dan pembayarannya nggak bisa cash, akhirnya gue masuk aja ke dalam gedung terminal domestik.

You know what? Gedung terminal domestik Bandara Haikou ini jauh lebih bagus dari terminal internasionalnya! Lebih luas, modern, dan elegan. Yang pasti, ada McD dan Burger King di situ. Saat itu, gue cuma beli latte di McD seharga 24 CNY supaya gue ada uang kecil buat naik bus. Sementara di hari Rabunya, saat gue mau flight balik ke Singapore, gue beli paket burger di Burger King seharga 49 CNY. Kenyang! Mbak-mbak Burger King bisa sedikit bahasa Inggris, at least bisa ngomong “Spicy?” dan “Here?”

McD at Domestic Terminal, Haikou Meilan Airport

Haikou Meilan Airport’s Domestic Terminal, ada Burger King di sebelah kanan

Selesai ngopi, gue keluar bandara mengikuti pintu dan papan petunjuk. Gue menyeberang jalan sampai tiba di sebuah gedung multifungsi bernama Ground Traffic Center. Dari situ, gue naik bus K4 menuju Banana Hostel dengan ongkos 6 CNY atau sekitar Rp12.000,00 untuk sekitar 1 jam perjalanan. Gue tahu rute bus ini dari email-emailan dengan pihak hostel. Kalau kamu mau ke Haidian River, Qilou Old Street, Evergreen Park, dan sekitarnya, kamu juga bisa naik bus ini dari bandara.


Belum ada metro atau MRT di Hainan, bus kota masih menjadi andalan transportasi umum di Haikou dan Sanya. Jalurnya banyak, haltenya ada di mana-mana, busnya sudah ber-AC. Ada informasi jalur bus dengan masing-masing pemberhentiannya di halte, sayangnya informasi ini ditulis dengan aksara kanji.

Penjelasan tentang transportasi umum di Hainan ini juga bisa disimak di podcast berikut:

Bus kota di Haikou, Hainan

Interior bus kota di Haikou, Hainan

Untuk menyiasatinya, buka Google Maps dan lihat bagaimana nama tempat itu ditulis dengan aksara kanji. Hafalkan satu karakter yang paling mudah, lalu cari di papan informasi halte. Kalau udah nemu yang karakternya sama, baru cocokkan lagi dengan seluruh karakternya. Cara kedua yang lebih simpel, adalah sapa warga lokal di halte dengan “Ni hao!” lalu tunjukkan peta tempat yang mau kamu tuju. Untungnya di dalam bus udah ada passenger announcement dalam bahasa Inggris, minimal bisa menjaga kita dari kebablasan.

Pembayaran bisa dilakukan dengan cash (uang pas), AliPay, dan WeChat Pay. Di Haikou, ongkos bus kotanya 1 CNY doang kecuali rute-rute tertentu, muraaahhh. Di Sanya ongkosnya bervariasi tergantung jarak. Ada mbak-mbak kondektur yang menanyakan tujuan dan narikin ongkos dari setiap penumpang. Bus pasti berhenti di setiap halte, jadi nggak perlu menekan tombol kalau mau turun.

Sebuah halte bus (kiri) di Sanya, Hainan

Bus kota di Sanya, Hainan, dan lautan sepeda motor yang hendak menyeberang

Selain bus kota, ada ojek dan taksi. Kehadiran ojek ini nggak sengaja gue sadari saat setiap kali jalan kaki atau mau menyeberang jalan di Haikou, ada aja bapak-bapak naik skuter listrik yang berseru ke gue atau bahkan sampai berhenti di samping gue. Di Haikou, ojek-ojek itu gue abaikan. Di Sanya, akhirnya gue menyerah dengan tawaran mereka karena saat itu udah mau hari terakhir dan masih ada sisa uang lebih dari 200 CNY.

Gue dua kali naik ojek di Sanya. Pertama, dari Linchunling Forest Park ke hostel seharga 20 CNY atau Rp40.000,00. Saat itu gue udah capek bangeeettt dan nggak tau harus naik bus apa. Kedua, dari hostel ke Sanya Railway Station seharga 35 CNY atau Rp70.000,00. Saat itu masih jam 5:30 pagi, bus kota belum ada dan taksi bakal mahal banget.

Motor listrik di Haikou, Hainan, berjalan di lajur terujung dan trotoar

Akses ke Haikou Suburban Train dan kereta cepat di Haikou Meilan Airport

Menurut gue, ojek ini adalah sebuah pengalaman lokal yang harus dicoba minimal satu kali! Ongkosnya juga nggak mahal. Ibarat cobain tuktuk aja di Thailand. Motor listrik ini beda lho sama motor biasa di Indonesia, mesinnya nyaris nggak bersuara. Terus, motor listrik di Hainan ini boleh melalui trotoar. Makanya, kudu hati-hati banget kalo jalan kaki di Hainan. Selalu perhatikan kanan, kiri, dan belakang, apalagi kalo mau belok atau menyeberang jalan. Mereka nggak ada lampu sen kayak di Indonesia.

Sebagian besar warga Hainan bepergian dengan motor listrik atau sepeda listrik. Tiap kali gue jalan kaki dan melihat laju gesit mereka, gue membatin, “Enak banget ya naik motor listrik itu.” Puji Tuhan gue bisa merasakannya sendiri, dan memang enak banget hehe.

Halte bus dan tram di depan Sanya Railway Station

Sanya Tram yang masih dalam tahap public trial

Di Sanya, jalur tram sepanjang 6 kilometer udah jadi, menghubungkan Sanya Railway Station dan Jiefang Street. Begitu keluar stasiun, langsung terlihat sepasang armada tram dan stasiun kecilnya. Sayangnya Sanya Tram ini belum beroperasi, masih uji coba terbatas. Padahal kalo udah beroperasi, kehadiran tram ini bakal nambah pengalaman baru gue di Hainan. Berbeda dengan Hong Kong Tram yang klasik, Sanya Tram ini modern seperti yang biasa kita lihat di negara-negara Eropa. Selain itu, kalo udah ada tram, gue juga nggak bingung-bingung lagi cari bus dari Stasiun Sanya ke Jiefang Street. Mudah-mudahan pas kamu ke sana, Sanya Tram udah beroperasi ya.

UPDATE! Sejak Oktober 2020, jalur tram di kota Sanya sudah beroperasi penuh sepanjang 8.4 km dari Sanya Railway Station hingga Jiangang Road dengan rute sebagai berikut.

Sanya Tram route map by Urbanrail.net


Sebeumnya monmaap nih, gue nggak bisa memastikan apakah makanan yang gue santap selama di Hainan itu halal apa enggak. Yang jelas, gue nggak makan babi. Tapi apakah mengandung minyak babi apa enggak, I had no idea. Rata-rata biaya makan di Hainan adalah 20-30 CNY, bisa lebih mahal kalo di restoran.

Black noodle yang enak bangeeettt di tea house lokal, Haikou

Nasi Hainan di Haikou, atau yang di sana disebut Wenchang Ji

Ini adalah riwayat kegiatan memamah biak selama di Hainan

  1. Hari 1              : late lunch 25 CNY di sebuah tea house besar, no dinner
  2. Hari 2              : mampir toko pastry buat sarapan 9 CNY, makan siang di hostel 20 CNY, makan malam nasi Hainan 50 CNY
  3. Hari 3              : mampir toko pastry buat sarapan 9 CNY, makan siang di McD 41 CNY, makan malam 18 CNY
  4. Hari 4              : sarapan sama sisa roti kemarin, makan siang di Nanshan Cultural Tourism Zone 30 CNY, makan malam mi instan dari minimarket 17 CNY
  5. Hari 5              : sarapan dengan roti yang dibeli dari minimarket semalem, makan siang di Burger King bandara 49 CNY.

Perhatikan agenda makan siang di hari 1 dan makan malam di hari 2. Gue bisa makan di tea house lokal karena lagi ditemenin host Couchsurfing, hehe. Kami pesen semacam black noodle, chicken wing guedee, ceker ayam, sama roti dengan total harga 50 CNY udah termasuk teh seteko. Dibayarin pula, huahahaha. Besoknya gue meet up sama host CS yang lain lagi, makan nasi Hainan yang dalam bahasa setempat disebut Wenchang Ji. Kali ini bayar sendiri.

Paket burger di McD Sanya, Hainan

Makan di malam kedua di Sanya, wkwk

Makan adalah hal yang cukup menantang di Hainan karena semua informasi ditulis dalam aksara kanji. Makanya gue sering makan di pastry sama fast food restaurant karena gampang buat pesen, tinggal tunjuk-tunjuk. Pastry di hari 2 sama hari 3 itu beda ya, kebetulan aja total harganya sama-sama 9 CNY. Harga segitu bisa dapet 2 macam roti. Di hari keempat malam, harga 17 CNY itu udah mencakup cup noodle berukuran besar, roti, dan air mineral 600 ml. Cuma karena nggak ada struk belanja, gue juga jadi nggak tau rincian harganya. Harga air mineral di Hainan berkisar di 2-3 CNY buat kemasan 600 ml.


Ternyata ada lebih banyak hal buat dieksplor di Sanya. Jadi saran gue, sediakan lebih banyak waktu di Sanya. Waktu efektif gue di Sanya cuma 2 malam dan 1 hari. Udah gitu lokasinya jauh-jauh, nggak kayak Haikou yang lokasinya berdekatan dan bisa dibabat sekaligus.

Karena udah terlalu panjang, cerita tentang tempat wisata Hainan akan gue tulis dalam pos terpisah. Yang jelas, gue banyak buang waktu di jalan buat jalan kaki karena nggak tau harus naik bus apa, hahaha. Keterbatasan bahasa membuat gue males banyak berinteraksi sama warga lokal. Dari seabrek tempat wisata yang udah gue bikin di itinerari, gue cuma berhasil ke Qilou Old Street, Haidian River, People’s Park & West Lake, Nanshan Cultural Tourism Zone, dan Linchunling Forest Park. Jadi, pantau terus blog thetravelearn.com buat tulisan selanjutnya tentang Hainan. Keep learning by traveling~

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *