Suka Duka 12 Tahun Tinggal di Bandung

Kira-kira berapa lama lagi gue ada di kota ini? [photo by @a_mahul]

Lebih dari satu dekade tinggal di Bandung, ternyata gue belom pernah sama sekali menuliskan kesan dan perasaan gue tinggal di Kota Kembang ini. Buat yang belum familiar, Bandung adalah ibukota provinsi Jawa Barat yang juga termasuk jajaran kota besar Indonesia. Dari Jakarta, Bandung bisa dicapai dalam waktu 3 jam perjalanan kereta api.

Sama seperti semua hal di dunia, Bandung pun memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada karakteristiknya yang gue suka, juga ada yang gue nggak suka.

Tulisan ini dibuat sama sekali tidak untuk menjelek-jelekkan atau mengagung-agungkan Bandung. Murni sebagai sarana menumpahkan cerita di blog ini sembari menunggu pandemi terhenti. Oh ya, karena gue lahir dan besar di Jogja, jadi beberapa poin di bawah ini mungkin akan gue bandingkan dengan Yogyakarta. So, shall we? Mari kita mulai dengan hal yang gue nggak suka dari Bandung.


As many cities in Indonesia do, Bandung’s public transportation sucks. Sorry to say, they’re really not reliable. Transportasi umum utama di Bandung adalah angkot, alias angkutan perkotaan. Jalurnya memang banyak, tapiii naik angkot di Bandung itu suka bikin kesel. Pertama, mereka suka ngetem. Kedua, cara berkendara sopir angkot suka ugal-ugalan, apalagi kalo udah ketemu angkot saingan dengan rute yang sama. Belum lagi jalurnya yang muter-muter dan nggak efektif.

Kota seukuran Bandung ini minimal punya 1 jalur subway (underground MRT) atau monorel yang menghubungkan titik-titik vitalnya seperti bandara, stasiun, dan kawasan turisme seperti LRT Palembang. Nah, sekarang kita bahas stasiun dan bandara Bandung yok.

Sukajadi, salah satu kawasan padat angkot di Bandung (difoto dari rooftop Zest Bandung)

Stasiun Bandung ada di tengah kota dan dilalui banyak rute angkot. Bandara Husein Sastranegara Bandung juga terhitung masih di dalam kota Bandung, tapi sayangnya nggak ada angkot yang bener-bener sampai di depan gedung bandara. Kita harus jalan kaki dulu sekitar 200-300 meter sampai ke jalan raya, jadi lokasi bandara ini di dalam komplek Angkatan Udara. Kalau nggak banyak gembolan nggak terlalu masalah.

Mau naik ojol atau taksol dari bandara? Sama aja, kudu ke jalan raya dulu hahaha. Kalo drop-off aja boleh. Taksi Primkopau bandara? Googling sendiri deh review-nya hehe.

Untungnya bandara ini nggak jauh dari kost. Kalo berangkat subuh naik ojol, 20 menit juga udah nyampe. Yang bikin agak lama karena harus melalui jalan komplek yang banyak polisi tidur dan persimpangan. Tapi sekarang konon sebagian penerbangan sudah dialihkan ke Bandara Internasional Kertajati yang jaraknya 2 jam perjalanan naik travel atau Damri. Zzzzz mending gue ke Soetta sekalian deh.

Konektivitas Bandara Adi Sucipto Jogja udah bagus banget, terhubung sama bus TransJogja dan kereta lokal Prambanan Ekspres. Sekarang udah dialihkan juga ke New Yogyakarta International Airport yang bisa dijangkau dengan kereta dan shuttle car karena jalur kereta di dalam bandara belum rampung. Ulasan dan ceritanya bisa dibaca di:

Pengalaman Naik Kereta Bandara Yogyakarta International Airport
Kereta Bandara Yogyakarta di Stasiun Tugu

Bandung ada kereta lokal, tapi armadanya menggunakan kereta api ekonomi jarak jauh, jadi pengalamannya nggak semenarik naik KRL Commuter Line atau Prameks-nya Jogja. Bisa dijadikan alternatif buat commuting jarak jauh, misalnya ke/dari Rancaekek, Cicalengka, Padalarang, dsb. Kalo buat jarak dekat, tetap boros waktu, meski memang ongkosnya murah banget.


Kata siapa Bandung cuma macet saat weekend gara-gara orang-orang Jakarta? Tiap hari Bandung itu udah macet kok. Nggak cuma di jam-jam tertentu karena waktunya sungguh unpredictable dan titik macetnya banyak tersebar. Di jam yang sama saat gue pulang kantor, kadang lancar cuma 15 menit kadang macet sampe satu jam!

Jalan Aceh di area pusat kota Bandung
Versi panorama Jalan Aceh Bandung dari U Janevalla Hotel

Bandung ada bus kota seperti Damri dan Trans Metro Bandung (TMB), tapi monmaap nih, Bandung jalannya banyak yang kecil, belak-belok, dengan banyak persimpangan. Bus-bus itu punya badan bongsor yang seringkali malah menghambat mobilitas pengendara yang lain. Harusnya pilih bus yang seukuran TransJogja, bukan yang segede TransJakarta. Atau modernisasi aja angkot-angkot itu. Dibuat angkot stop dengan one payment kayak BRT.

Gue itu memang nggak suka naik motor jauh-jauh dengan kondisi padat apalagi macet. Capek, bos! Lebih suka naik kendaraan umum atau mobil sekalian, lama tapi nyaman dan adem. Sayangnya gue belum punya mobil hehe. Itulah kenapa gue itu jarang eksplor wisata alam Bandung karena jauh dan macet, sukanya nongkrong di dalam kota aja. Ini juga yang membuat gue lebih suka ngebolang ke negara-negara tetangga yang transportasi umumnya lebih baik.


Dua hal itu aja sih yang menjadi kekurangan tinggal di Bandung buat gue. Beberapa waktu lalu gue sempat lempar pertanyaan soal apa yang nggak kamu suka dari Bandung. Ternyata banyak juga yang keluhannya seputar lalu lintas dan transportasi. Hal lainnya yang gue nggak suka tentu ada, tapi masih bisa gue tolerir atau gue nggak peduli hehe.

Sekarang kita masuk ke hal-hal yang gue suka dari Bandung.

Karena letaknya berada di kisaran 768-800an meter dari permukaan laut, Bandung itu sejuuukkk! Gue itu lebih suka dingin daripada panas hehe. Walaupun memang ketahanan gue bergantung pada imun gue saat itu. Kalo lagi fit banget, sedingin apapun di Bandung nggak masalah, bisa jalan keluar tanpa jaket. Kalau lagi nggak fit, dingin dikit langsung pilek wkwk. Makanya gue lebih suka ke gunung daripada pantai.

Panorama kota Bandung yang dikelilingi pegunungan
Bandung terletak pada ketinggian sekitar 800 mdpl

Cuaca dingin itu justru membuat gue semangat buat produktif. Kalo panas, gue malah jadi males-malesan dan nggak nyaman ngapa-ngapain. Pengennya kalo nggak tidur, ya ngomel-ngomel hahaha. Gara-gara udah kelamaan di Bandung, gue kadang jadi susah adaptasi saat mudik ke Jogja saat musim kemarau karena panasnyaaaa nggak ketulungan.

Satu lagi kenapa gue suka dingin. Hawa dingin itu sempurna buat menikmati secangkir kopi panas, atau minuman hangat lainnya. Gue nggak mau dan nggak bisa keseringan minum es. Kalo dingin kan tinggal menghangatkan diri, kalo panas dan nggak ada AC itu ribet. Harus buka baju, kipas-kipas, minum es, dsb.

Satu sisi yang asyik saat cuaca panas di Bandung adalah sunset yang indah

Bukan berarti Bandung nggak pernah panas. Ada bulan-bulan tertentu, yang semakin unpredictable, di mana Bandung itu gerah banget. Ada lagi masa-masa di mana cerah tapi dingin, kering, dan angin bertiup kencang. Kalo udah panas dan atau gerah banget kayak gitu, gue jadi boros karena harus beli es kopi sebagai mood booster.


Bandung adalah sebuah kota berbukit-bukit yang dikelilingi pegunungan. Di titik mana pun kamu berada, selama nggak terhalang oleh bangunan, kamu akan bisa melihat pegunungan yang membentengi Bandung dari berbagai penjuru.

U Janevalla Hotel, salah satu viewing point di Bandung [photo by @a_mahul]

Ada banyak viewing point di Bandung untuk menikmati pemandangan dari ketinggian, baik tempat alami maupun buatan. Contohnya adalah kawasan Bukit Moko / Bukit Bintang, Dago Atas, dan Ciumbuleuit. Untuk bangunan tingginya, contohnya adalah rooftop Zest Hotel Bandung Sukajadi, Best Western Premier La Grande Bandung, U Janevalla Hotel Bandung, Morning Glory Rooftop Cafe di atas Hotel Mitra, dan INAP at Capsule Hostel. Klik aja masing-masing nama tempatnya buat baca ulasan terkait di blog ini.

Di dalam kotanya sendiri, ada beberapa ruas jalan yang menyenangkan karena teduh diapit pepohonan tua yang rindang, konturnya naik-turun, dan hanya memiliki 2 lajur. Contohnya adalah sepanjang Jalan Cipaganti, Jalan Siliwangi, Jalan Taman Sari bagian atas dekat kampus ITB, Jalan Ir. H. Djuanda (Dago Bawah) dan sekitarnya, jalan-jalan yang dinamakan sesuai nama daerah di Indonesia di kawasan Bandung tengah (Jl. Ambon, Jl. Lombok, Jl. Sumbawa, dsb), kawasan jalan dengan nama dokter (Jl. Dr. Otten, Jl. Dr. Curie, Jl. Dr. Rajiman, Jl. Dr. Cipto, dsb).

Menikmati panorama kota Bandung dari Best Western Premier La Grande

Kawasan-kawasan yang gue sebutkan di atas asyik buat jalan kaki, jogging, bersepeda, atau cafe-hopping.


Kamu suka ngerasa kasian nggak sih kalo liat orang yang ngopi sendiri? Kalo iya, bisa dikurang-kurangi, karena sesungguhnya kami ini cukup kuat buat ngopi sendirian, memanjakan diri, menyibukkan diri, tanpa harus maksa-maksa orang lain ikutan. We are independent.

Cafe dan coffee shop di Bandung tetep tersebar di pusat kota

Jadi gue ini memang suka nongkrong sendirian. Bukan karena nggak ada temen (well, ini bukan seluruh faktornya wkwkwk), gue mau ngopi ya ngopi aja, malah nggak kepikiran buat ngajak orang. Ngapain? Bisa sambil kerja, nulis, internetan, streaming, sama foto-foto makanan-minumannya. 

Bersyukur di Bandung banyak cafe atau coffee shop berbagai rupa, berbagai harga, berbagai selera. Kawasan utama konsentrasi cafe ada di pusat kota, yaitu Jl. R.E. Martadinata aka Jalan Riau dan sekitarnya, Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) dan sekitarnya, serta area kampus kayak Jalan Dipati Ukur dan Jalan Tamansari. But basically selama di area kota, nggak akan susah cari cafe. Kalo udah daerah pinggiran, terutama yang ke arah timur, barat, dan selatan, baru mungkin cafe-nya jarang.

Gue juga syukurnya bukan pakar kopi idealis atau yang standar rasanya tinggi. Asal edible, drinkable, tempatnya nyaman, meja dan kursinya oke, harganya wajar, dan nggak crowded, gue nggak akan masalah ngopi di situ. Gue malah suka cafe-cafe tenang, entah itu pas sendiri atau pas ngobrol sama temen. Jadi kalo ke gue nanyanya jangan, “Di mana aja cafe yang lagi hits?” tapi, “Mana aja cafe deket tempatmu?” I’m more to a local explorer, ehehe.

Terus, kalo udah nyaman sama satu cafe atau coffee shop, gue akan berkali-kali ke situ hahaha, jadi langganan, karena memang tujuannya bukan buat menjelajah tapi me-time. Contoh cafe di deket kost yang jadi langganan adalah Diskus, Yellowtruck Surya Sumantri, Morning Glory Setrasari, Titik Teduh, dan tentunya Starbucks hehe.


Namanya juga di Indonesia, trotoar yang nggak ramah pejalan kaki itu udah jadi hal lumrah. Makanya seneng banget saat kita ketemu satu kawasan, bahkan satu jalan, yang trotoarnya walkable kayak di kota-kota negara tetangga.

Di Bandung, trotoar walkable ini ada di, tetep, kawasan pusat kota. Jalan Asia Afrika, Jalan Merdeka, Jalan Braga, Jalan Ir. H. Djuanda, Jl. R.E. Martadinata, dan sekitarnya. Nggak cuma ada trotoar yang cukup lebar, cukup rapi, banyak tempat “mampir”, tapi juga rindang dan mata akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda.

Daerah tempat tinggal gue, Sukagalih kecamatan Sukajadi, udah nggak ramah pedestrian sih ehehe.


Gue amazed ketika tau fakta bahwa Bandung adalah kota dengan bangunan art-deco terbanyak di… ah, gue lupa entah di Indonesia atau Asia. Kalo kamu suka arsitektur kayak gue, Bandung will be a heaven! Bangunan-bangunan ini tersebar luas di jalan-jalan yang gue sebut di atas, bahkan di seantero kota. Sebagian besar masih hidup, berfungsi sebagai cafe, coffee shop, bank, toko, factory outlet, kantor pemerintah, dsb. 

Bangunan-bangunan art-deco melimpah di Bandung
Panorama kota Bandung

Lebih rapi dan terawat daripada bangunan-bangunan tua di kota tua Jakarta atau kota lama Semarang, to be honest. Menjelajahinya nggak ada kesan sedih atau muram, tapi malah senang! Ah, rasanya udah lama banget gue nggak keluar jalan-jalan random menyapa bangunan-bangunan itu.


Apakah gue bosen dengan Bandung? Jujur bosen. Perkembangan atau pembangunan infrastruktur umum di Bandung itu kurang dinamis dibandingkan dengan ibukota provinsi lainnya kayak Jogja atau Palembang, bahkan menurut gue masih kalah dari Solo. Setelah sekian lama, baru-baru ini aja Stasiun Bandung berbenah dengan renovasi peron, membuat tunnel, dan membuat pedestrian bridge

Gedung Best Western Bandung dan panorama kota Bandung dari U Janevalla Hotel
Sunset dari rooftop Zest Hotel Kota Bandung

Gimana dengan taman dan trotoar di kota Bandung yang direnovasi kang Ridwan Kamil? Sebagian besar menurut gue adalah “mempercantik”, means tadinya trotoar dan taman itu udah okay, tapi lalu estetiknya ditambah, contohnya adalah Jalan R.E. Martadinata. Trotoarnya memang udah lebar, material lamanya masih oke, tapi lalu diganti batu granit.

Dua terobosan kang Emil yang paling gue suka adalah renovasi area Balai Kota (kalinya dibersihkan, sebagian dinding pembatas dihilangkan, taman dipercantik dan lebih difasilitasi) dan renovasi sungai menjadi Teras Cikapundung BBWS. Sebagai pecinta sungai, gue suka sungainya dibersihkan, dirapikan, dan dipercantik, meski hanya di satu kawasan itu. Nggak gampang buat merombak dua tempat itu, terutama kawasan sungai, karena ada beberapa rumah warga yang perlu direlokasi termasuk bekas kontrakan gue hehe. Well, meski belum ada kemajuan yang sesuai sama concern utama gue, I really appreciate what kang Emil has done for Bandung. Minimal ada perubahan yang lebih baik dari Bandung.

Gimana, setelah baca tulisan ini ada yang jadi pengen pindah ke Bandung? Atau ada yang pandangannya berubah tentang Bandung?

Catatan kaki: kecuali disebutkan lain, seluruh foto di atas diambil dari Zest Hotel Bandung Sukajadi dan U Janevalla Hotel, seluruh potret diri diambil oleh @a_mahul.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *