[SUPERTRIP #3] Bandara Hong Kong, Sebuah Pengalaman Tak Terlupakan dan Ucapan Sampai Jumpa

Sekitar jam 6 petang hari Minggu itu, gue sudah berada di dalam kereta Airport Express yang akan mengantarkan gue kembali ke Bandara Internasional Hong Kong. Sedih rasanya udah harus meninggalkan kota ini. Dua hari dua malam memang terasa kurang. Gue nggak sempet ke Kuil 10.000 Patung Buddha, nggak sempet menyusuri tepian Sungai Shing Mun yang membelah Shatin, bahkan nggak sempet mampir ke satu pun taman umumnya.

Tapi gapapa. Gue udah seneng banget bisa menjejakkan kaki di kota ini, di sebuah negara baru, salah satu negara paling berpengaruh di dunia! Setidaknya dalam 3 hari 2 malam, gue udah bisa merasakan syahdunya naik bus menyeberang laut dari Macau ke Hong Kong, capeknya naik turun MTR di stasiun-stasiun bawah tanah Hong Kong, romantisnya naik tram tua menyusuri Wan Chai, deg-degan naik kereta gantung Ngong Ping yang melayang di atas kepulauan, dan megahnya bangunan-bangunan tinggi yang merobek langit Hong Kong di Tsim Sha Tsui.

Ulasan soal MTR bisa dibaca di: Memahami MTR, Tram, Bus, dan Kapal Ferry Hong Kong

Kenangan indah selama 3 hari ke belakang itu lalu buyar saat kereta merapat di perhentiannya. Saat itu sekitar pukul 18:35. Gue melangkah keluar dengan backpack terpanggul, lalu perlahan bergerak menuju aula check-in sambil sesekali berhenti untuk mengambil foto, mengabadikan menit-menit terakhir berada di Hong Kong.


Terminal 1 Bandara Internasional Hong Kong

Nggak susah untuk membuat gue terpukau dengan arsitektur Hong Kong International Airport. Lepas dari peron kereta bandara, gue disambut dengan sebuah dinding kaca lengkung yang menyatu dengan atapnya, diperkokoh dengan rangka-rangka putihnya. Gue lalu berjalan melalui sebuah jembatan pejalan kaki sebelum akhirnya berjalan turun menghampiri lorong-lorong check-in di aula keberangkatan.

Alighting from Hong Kong Airport Express train

A pretty futuristic-looking airside of Hong Kong International Airport

Aula keberangkatan Terminal 1 Bandara Hong Kong luas dan megah dengan lantai mengilap, langit-langit lengkung, dan deretan konter maskapai yang panjang. Dari salah satu mezzanine, kita bisa melihat langit biru senja yang tampil kontras dengan pendar lampu keemasan dari bangunan bandara.

Dari informasi yang ada di papan elektronik bandara, konter check-in AirAsia Bandara Hong Kong ada di lorong P. Tapi gue udah berjalan lorong demi lorong, gue titi satu per satu lorong memastikan nggak ada yang terlewat, tapi nggak ada lorong P. Gue cek papan informasinya lagi, dan ternyata… GUE SALAH TERMINAL, SODARA-SODARA!

Terminal 1 Hong Kong International Airport, main hub of Cathay Pacific airlines

The blue sky at dusk seen from Hong Kong Airport

Karena di bandara gue harus mengembalikan modem wifi ke konter Pocket Wifi Rental yang ada di terminal 1, gue sama sekali nggak kepikiran bahwa maskapai gue mungkin bukan di terminal ini. Ya udah, gue buru-buru ngacir ke terminal 2 mengikuti petunjuk arah di bandara. Untung terminal 2 masih ada di bangunan yang sama, nggak perlu naik kereta atau bus dulu.


Terminal 2 Bandara Internasional Hong Kong

Ternyata nggak kalah keren juga dengan terminal 1. Langit-langitnya memang rendah, namun ia tampil manis dengan bentuk bergelombang seperti permukaan air. Selain AirAsia, maskapai lain yang beroperasi di terminal ini adalah SCOOT, Jetstar, Malindo Air, VietJet, Philippine Airlines, dan THAI Airways. Jadi ternyata nggak seluruhnya maskapai budget. Gue dengan mudah menemukan jajaran konter AirAsia.

The connecting lane of the 2 terminals, Hong Kong Airport

Sebetulnya, gue udah melakukan web check-in. Namun karena gue nggak yakin apakah bisa masuk boarding room HKIA dengan boarding pass yang dicetak sendiri dan saat itu adalah kali pertama gue take off dari HKIA, maka gue memastikan dulu dengan menghampiri konter check-in AirAsia. Gue segera memilih konter ujung yang saat itu paling sepi nggak ada antrean, konter-konter di sebelahnya udah penuh dengan antrian. Setelah melihat boarding pass gue, petugasnya berkata, “I’ll print it for you.” Jadi konter itu memang bukan konter check-in reguler sih, makanya sepi hehe.

Kalo di KLIA, kita bisa langsung masuk boarding gate dengan berbekalkan boarding pass print-an sendiri, selama bagasi kabin kita nggak overweight ya.

Departure Hall, Terminal 2 Hong Kong Airport

Check-in counters, Terminal 2 Hong Kong Airport

Karena saat itu udah lebih dari jam 7 malam, setelah boarding pass di tangan gue langsung melenggang menuju imigrasi yang juga lengang. Gue kira petugasnya ngomong sesuatu ke gue, ternyata dia lagi ngobrol sama petugas lain di sebelahnya tanpa saling mengalihkan pandangan dari komputer. Santai banget kayaknya dua petugas cowok muda itu.


Naik Skytrain Dua Kali di Dalam Bandara Hong Kong

Dari imigrasi, gue mengikuti papan petunjuk menuju All Boarding Gates. Ternyata gue diarahkan buat naik automated people-mover (APM), yang kalo di Bandara Jakarta dan Singapore disebut Skytrain. Jadi biar lebih mudah dipahami, APM di bandara ini gue sebut Skytrain aja ya. Sebagaimana sistem LRT atau APM modern lainnya, Skytrain ini sudah dilengkapi dengan automatic platform screen doors (PSD). Nggak ada tempat duduk di dalam Skytrain, keretanya juga dijalankan tanpa masinis alias driverless.

After clearing immigration, Hong Kong International Airport

Going down to the Skytrain platform, Hong Kong Airport

Setelah tiba di gedung tujuan, gue mengikuti kerumunan massa menuju ruang-ruang tunggu. Pihak AirAsia belum memberi informasi boarding gate buat penerbangan gue, jadi gue mau cari makan malam dulu karena gue laper dan capek bangeeettt.

Strategi gue untuk makan di boarding gate ternyata salah besar! Gue pikir bakal kayak di bandara Jakarta, Bandung, KL, atau Singapore yang tempat makannya berlimpah sampe ke boarding gate, ternyata enggak. Ada sih tempat makan, tapi dikiiittt dan udah pada penuuuhhh. Gue jalan wara-wiri, naik-turun eskalator, dan sama sekali nggak menemukan satu pun tempat makan yang bisa diduduki. Bahkan sekadar 7 Eleven atau minimarket pun nggak ada. Kaki gue udah pegel banget serasa mau copot karena dari tadi jalan dan berdiri memanggul backpack 60L.

Jadi, buat kamu yang mau terbang dari Terminal 2 Bandara Hong Kong, pastikan kamu udah makan atau minimal bawa bekal makan sebelum masuk ke boarding gate, kecuali kamu siap buat menahan lapar.

Beberapa menit kemudian, boarding gate buat penerbangan gue udah tertera di papan informasi bandara. Gue mengikuti petunjuk arah, dan… I had to take another skytrain.

Cuma di Hong Kong International Airport inilah, gue harus 2 kali naik Skytrain buat bisa ke boarding gate. Setelah sampe pun, gue masih harus berkali-kali naik eskalator hingga tiba di boarding gate yang dituju. HKIA ternyata adalah sebuah bandara yang terdiri atas gedung-gedung kecil yang berjauhan. Soekarno-Hatta aja nggak gini-gini amat lho. Walaupun ketiga terminalnya memang berjauhan, tapi boarding gate nggak terpisah dari departure hall. Pas di KLIA1 juga harus naik Aerotren buat ke boarding gate, tapi cuma sekali aja sih. Jadi catatan penting buat kamu, jangan mepet-mepet datang ke Bandara Hong Kong!


Ruang Tunggu Penerbangan yang Megah!

Seolah ingin mengobati rasa lelah setelah perjalanan yang panjang dari konter check-in yang salah sampai akhirnya tiba di boarding gate yang benar, Bandara Hong Kong menyuguhkan sebuah ruang tunggu bandara termegah yang pernah gue jumpai! Saking megahnya, gue sampai kehabisan kata-kata buat menggambarkannya.

Langit-langit lengkung yang diguyur warna putih dengan motif geometri menaungi sebuah aula luas denga tata pencahayaan futuristik. Dua lajur pejalan kaki yang lebar mengilap, sesekali diisi dengan baris-baris travelator, diapit area berlapis karpet tebal dengan nuansa warna biru. Di atas karpet, ditempatkan bangku-bangku panjang tempat para calon penumpang menunggu panggilan.

Welcomed by the luxurious boarding gate, Hong Kong Airport

Overlooking my boarding gate from an indoor bridge, Hong Kong Airport

Masih ada waktu untuk makan malam, namun di boarding room itu pun minim sekali tempat makannya. Kalo pun ada, tempatnya udah penuh dan harganya mahal. Satu-satunya harapan gue adalah sebuah minimarket Mannings yang memang ada banyak tersebar di seantero Hong Kong. Pilihan makanannya nggak sebanyak 7 Eleven sama Wellcome sih, tapi lumayan buat sebentar menenangkan perut. Dengan sisa saldo Octopus Card, gue hanya sanggup membeli sebuah Nutella Go dan air mineral. Eh, jangan salah, dollar Hong Kong gue masih ada 500 HKD. Jadi ini memang mau habisin saldo Octopus Card aja karena gue udah memesan on-board meals di penerbangan gue.

Akhirnya, gue bisa duduk santai meluruskan kaki dan melepaskan jeratan backpack dari bahu sejenak. Gue biarkan keringat yang membasahi sekujur badan menguap ditelan udara pendingin ruangan.

Akhirnya, tiba saatnya mengucapkan sampai jumpa pada Hong Kong. Gue berjalan melalui garbarata memenuhi panggilan untuk penerbangan AK131 rute Hong Kong – Kuala Lumpur pukul 21:25. Ya, gue masih harus menghabiskan waktu beberapa jam di dalam dinginnya KLIA2 sebelum bertolak ke Bandung keesokan paginya. Sama sekali tak ada prosedur menimbang barang bawaan saat boarding meski berkali-kali digaungkan melalui pelantang suara.

Enjoying my last refreshment in Hong Kong Airport

Gue duduk di kursi 22B di antara dua orang penumpang muda-mudi. Penerbangan malam itu gue isi dengan menikmati Roasted Chcken with Black Pepper Sauce yang gue pesan sebelum penerbangan seharga 24 HKD saja, sudah termasuk secangkir kopi panas.


Semalam di KLIA2

Sekitar 4 jam setelah lepas landas, atau jam 1:25 dini hari, pesawat mendarat di landasan pacu KLIA2. Gue sempat cemas dan malas membayangkan harus keluar imigrasi dulu, lalu kembali berhadapan dengan timbangan maut jelang memasuki boarding gate. Namun dalam perjalanan melalui lorong-lorong remang KLIA2, gue berpikir, “Hey, penerbangan gue ke Bandung ‘kan jam 6:30, cuma 4 jam dari waktu mendarat. Gimana kalo gue nggak usah keluar imigrasi kayak dulu pas naik Malaysia Airlines dari Jakarta ke Phuket via KLIA?”

Maka, alih-alih berbelok ke kanan mengikuti petunjuk arah ke aula imigrasi seperti penumpang yang lain, gue berjalan lurus ke arah International Transfer atau Pertukaran Antara Bangsa. Gue celingak-celinguk sebentar saat sampai di pemeriksaan keamanan, lalu seorang petugas menghampiri. Gue jelaskan kondisi gue, dia melakukan pemeriksaan singkat, kemudian… voila! Gue sudah berada di boarding area, nggak usah bolak-balik imigrasi apalagi ketemu timbangan sialan itu.

A night in KLIA2

Suasana sangat sepi. Konter-konter tempat makan tutup, beberapa di antaranya digunakan untuk tempat terlelap atau membaringkan badan. Beberapa pramuniaga terkantuk-kantuk menjaga tokonya. Life is hard, dude. Semangat yak! Gue nggak lihat ada bangku panjang dengan permukaan lapang yang nyaman untuk alas berbaring, maka gue secara acak memilih sebuah bangku lalu duduk di situ. Kedua kaki lurus bertopang pada bahu kursi di depan, backpack tergeletak di kursi di samping dengan posisi miring ke atas, menjadi alas yang nyaman bagi bahu dan kepala. Posisi gue cukup nyaman, nyaris berbaring sempurna dengan backpack sebagai alas yang cukup empuk, namun tetap gue nggak bisa nyenyak tidur.

Sekitar jam setengah 5 pagi, gue beranjak dari kursi untuk mencari early breakfast. Setelah muter-muter sebentar mencari tempat makan yang udah buka, mata gue tertumbuk pada… TOAST BOX. Ya Lord, Toast Box menjadi salah satu kenangan khas dalam SuperTrip kali ini. Menu Toast Box di KLIA2 pun disesuaikan dengan kearifan lokal, nggak ada sup makaroni atau menu haram lainnya, hehe. Gue memilih paket roti dengan taburan abon ayam, disajikan dengan telur rebus setengah matang (gara-gara ini, gue merasa salah pesen) dan secangkir kopi panas.

Nggak di Hong Kong nggak di KL, sarapannya tetep aja Toast Box

Nggak berapa lama setelah selesai sarapan, gue berjalan turun menuju boarding room. Sempet agak cemas dengan pemeriksaan X-ray sebelum masuk lorong-lorong boarding room, namun puji Tuhan berjalan lancar sampai masuk ruangan.

For real this time, gue ucapkan sampai jumpa pada perjalanan ini. Penerbangan AK416 gue jalani pagi itu tanpa on-board meals, tanpa kursi pilihan, tanpa mandi. Namun tulisan ini bukan tulisan terakhir perjalanan ini. Gue masih akan menulis tentang transportasi umum, akses ke Disneyland Resort, dan rangkuman budget-tips-itinerary. Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya. Doakan autumn ini gue bisa menjejak sebuah negara 4 musim. Keep learning by traveling~

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *