[SUPERTRIP #3] Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau, Melihat Sisi yang Tak Terduga

Sesaat setelah gue melangkahkan kaki ke luar gedung Macao International Airport, gue disambut dengan hembusan angin yang cukup kencang. Kata aplikasi di smartphone, suhu Macau saat itu adalah 26°. Kurang lebih sama kayak cuaca sehari-hari di Bandung, tapi versi lebih berangin. Tahun 2014 lalu, gue pernah mengikuti sebuah lomba blog dengan hadiah perjalanan ke Macau yang saatnya saat itu nggak membuahkan kemenangan. Siapa sangka, 5 tahun kemudian, gue bisa benar-benar mewujudkan mimpi ke Macau dengan uang gue sendiri.

Baca cerita sebelumnya: Persiapan Solo Traveling 4 Hari 3 Malam di Hong Kong dan Macau

Ada dua halte di depan bandara. Halte tempat naik bus MT4 adalah halte yang berada di sebelah depan kiri, sementara halte yang persis di depan pintu keluar adalah tempat naik bus AP1 menuju Passengers Ferry Terminal. Kalo ragu, cek aja daftar nomor rute bus yang ada di halte. Bus MT4 inilah yang digunakan kalo kamu mau turun di Hou Kong Hotel (kayak gue), Macau Masters Hotel, Best Western, Manva Hotel, Sanva Hotel, Vila Universal, Sofitel Macau Ponte 16, 5footway Inn Ponte 16, Kameng Vila, dan beberapa hotel kecil lainnya. Nama haltenya adalah Rua das Lorchas (火船頭街) yang berada persis di depan Macau Masters Hotel.

Nah, daerah tempat Bandara Macau ini berada adalah Taipa. Kasino-kasino dan resor ternama kayak The Venetian, City of Dreams, Parisian Macau, dan Galaxy Macau ada di kawasan Cotai Strip yang deket sama bandara. Itinerary idealnya, gue eksplor kasino-kasino itu dulu sebelum check-in ke hotel, apalagi saat itu kondisinya udah malem, di mana gemerlap kasino dan hotel mewah Macau menunjukkan keindahannya. Tapi karena saat itu udah jam 9 malem dan gue udah capek banget, besok rencananya mau bangun pagi-pagi buat eksplor Macau, maka gue memilih buat langsung menuju ke hotel malam itu. Jadi, gue hanya menikmati keindahan gedung-gedung itu dari balik jendela kaca bus 😭😭😭

Baca Juga: Tips, Budget, dan Itinerary Jalan-Jalan di Hong Kong dan Macao


Perjalanan Naik Bus Dari Bandara Macau Menuju Hou Kong Hotel

Busnya agak lama datengnya. Begitu dateng, gue masuk dari pintu depan, setor kencrengan 6 MOP ke dalam kotak, dan duduk di barisan kursi yang agak tinggi. Biaya naik bus jauh dekat di Macau adalah 6 MOP atau sekitar Rp12.000,00. Warga lokal biasanya punya kartu Macau Bus Pass yang tinggal di-tap saat masuk dan keluar. Busnya nyaman, bersih, dan ber-AC. Kekhawatiran gue akan turun di halte yang salah terpatahkan karena ada passenger announcement di dalam bus dalam bahasa Inggris, Cantonese, Mandarin, dan dialek lain yang gue nggak paham. Pokoknya ada banyak bahasa dari PA di dalam bus. Kalo nggak salah ada bahasa Portugis juga.

Armada bus di Macau yang nyaman dan modern

Macau is where old meets new

Gue pikir nggak banyak orang yang naik angkutan umum di Macau, karena gue kira warganya kaya-kaya. Apalagi dari depan bandara cuma ada 2 penumpang lain yang naik bareng gue. Kondisi di dalam bus pun sepi, masih banyak kursi kosong. Tapi ternyata mendekati pusat kota, khususnya saat bus berhenti di halte-halte dekat kasino atau resor terkenal, eh banyak warga lokal sama turis Tiongkok yang naik. Bus pun lama-lama jadi penuh sampe pada berdiri penuh sesak.

Perjalanan menuju Hou Kong Hotel di pusat kota Macau ternyata lama juga, mungkin sekitar 40 menit. Selain gedung-gedung kasinonya, gue juga perhatikan jalur LRT  yang sedang dibangun.  Stasiun-stasiun dan jalur layangnya udah keliatan bentuknya. Ini artinya Macau bakal semakin ramah buat wisatawan rendah biaya! Gue juga banyak melihat jembatan penyeberangan dengan eskalator. Ternyata infrastruktur yang dibangun pemerintah di Macau udah sangat baik.

:good::good:

Jembatan penyeberangan di dekat Hou Kong Hotel, Macau

Melihat jalanan Macau dari atas jembatan penyeberangan

Saat gue tiba di halte Rua das Lorchas, gue sempet kebingungan beberapa menit buat mencari Hou Kong Hotel. Gue udah insert Worldwide SIM Card yang gue beli dari Passpod, tapi sinyal internetnya belum terdeteksi. Hanya ada huruf R (roaming) di atas indikator sinyal seluler. Udah gue coba restart dan utak-atik pengaturan internet, tapi nggak berhasil. Beberapa saat kemudian baru gue temukan caranya, akan gue ceritain di bawah.

Karena saat itu belum terhubung sama internet, maka satu-satunya yang gue andalkan adalah tuntunan langsung dari Tuhan. Gue coba masuk ke dalam Macau Masters Hotel buat nanya ke resepsionis, tapi sama sekali nggak ada orang. Kemudian, ada dorongan buat melihat sekeliling.

Eh, itu tulisannya Hou Kong bukan? Batin gue, tertarik dengan sebuah bangunan di seberang jalan.

Gue lalu menyeberang melalui zebra cross. Sebetulnya ada jembatan penyeberangan, tapi sedikit lebih jauh hehe. Sebagai rakyat negara berflower bernama Indonesia, biasalah yaaa, sebelum nyeberang gue jalan dulu timik-timik sampai nggak ada lagi kendaraan dalam jarak dekat. Saat itu, gue mau nunggu satu sepeda motor buat lewat lebih dulu. Ternyata apa, sodara-sodara? Motornya melambatkan lajunya, tau kalo gue ini mau nyeberang jalan. Terpujilah kau, wahai warga Macau yang sangat menghargai pejalan kaki! Gue pun menyeberang jalan dengan aman sampai tiba di tempat tujuan.

Ternyata benar, bangunan itu adalah Hou Kong Hotel.

:wow::wow:

Hou Kong Hotel Macau tampak depan
(source: Agoda)

Gue percaya, bukan kebetulan jika saat di bandara Tuhan memberi hikmat untuk bertanya pada petugas Macau Tourism Center. Bukan kebetulan bila saat tiba di halte, gue melihat ke arah yang tepat dan menemukan hotel tanpa bantuan Google Maps atau bertanya sama warga lokal. Matur nuwun, Gusti Yesus. Kau menyertai perjalananku 😇😇😇


Keluyuran di Malam Hari, Melihat Sisi Macau yang Lain

Satu sisi hati ini berkata, “Gie, malem ini udah capek banget. Istirahat aja lah, bodo amat nggak eksplor Macau di malam hari.” Sementara sisi lainnya bilang, “Hey, lo cuma semalem di Macau dan nggak tau kapan bisa ke sini lagi. Ayolah, jalan dulu aja bentar, sesanggupnya, daripada nanti nyesel.”

Saat itu, kata hati kedualah yang gue menangkan.

Maka setelah check-in, naroh bawaan di kamar, dan ganti baju, gue semangati diri sendiri buat keluar menjelajah daerah sekitar hotel.

Saat di dalam kamar itulah gue berhasil menemukan cara buat mengaktifkan internet. Caranya adalah dengan mengaktifkan opsi Connect to Data Services When Roaming. Fyi, hape gue ini hape murah seharga Rp 1,7 juta yang belum 4G, gue beli tahun 2017. Mungkin kalo hape kamu 4G, bisa langsung konek ke internet dengan SIM card ini. Worldwide SIM Card dari Passpod ini harganya Rp120.000,00 dengan kuota 2 GB per hari buat 7 hari! Mantep, kan?

SIM card dari Passpod gue terima beberapa hari sebelum keberangkatan gue ke Macau. Nggak ada biaya pengiriman lho, alias free delivery. Worldwide SIM Card ini bisa dipake di lebih dari 80 negara dengan kecepatan 4G LTE, tsay. Nggak perlu aktivasi atau register ina inu, tinggal dimasukin terus enak. Enak internetan maksudnya. Kartunya juga udah diatur supaya gampang dipotong dalam bentuk sim biasa, micro sim, atau nano sim. Jarum buat menekan slot sim card juga ada di dalam paket.

Kelengkapan Worldwide SIM Card dari Passpod

Ada diskon 10% buat pembaca setia blog ini dengan memasukkan kode NUGI23 di atas. Berlaku buat pembelian SIM Card sampai Agustus 2019, periode perjalanan kapan aja! Merasa teberkati dengan diskon ini? Share artikelnya ya.

Sesuai itinerary yang gue bikin sendiri, malam itu gue berencana buat jalan kaki sampai ke Nam Van Lake dan Macau Tower. Karena di Macau ini banyak gang dan jalan kecil, terus Google Maps juga nggak terlalu akurat, gue kebingungan membaca rute ke Nam Van Lake. Tapi gue berusaha memahaminya, dan berjalanlah gue ke arah Sofitel. Gue sempat naik ke atas jembatan penyeberangan untuk mengambil foto jalanan kota. Hasilnya nggak mengecewakan, gue cukup puas dengan hasil jepretan diri sendiri. Gue juga berhasil mengabadikan momen saat Rua das Lorchas dalam keadaan lengang: salah satu potret jalanan di kota-kota Asia yang senang gue nikmati. Gimana menurut kamu?

Rua das Lorchas, Macau, yang sedang lengang

Mengintip jalanan Macau dari jembatan penyeberangan

Sofitel Macau at Ponte 16 dari jembatan penyeberangan

Sofitel Macau at Ponte 16 dari dekat

Fasad Sofitel Macau at Ponte 16 yang megah bak kuil Yunani

Macau tampak bersahaja saat itu. Sepeda-sepeda motor matic berjalan berseliweran bersama mobil dan bus-bus kota. Hotel-hotel mewah berdiri berdampingan, atau berhadap-hadapan, dengan rumah-rumah susun lusuh yang terkikis usia. Gue terus berjalan hingga tiba di sebuah jalan kecil dengan tempat-tempat makan rakyat di sisi kiri dan gedung parkir bertingkat di sisi kanan. Saat itulah gue sadar bahwa gue salah araaahhh! Nam Van Lake ternyata berada di arah sebaliknyaaa.

Gue berbalik arah. Ketemu lagi sama Sofitel Ponte 16, lewat lagi di depan Macau Masters Hotel, lalu gue menyeberang jalan dan sampai di sebuah taman bernama Praca de Ponte e Horta (柯邦迪前地). Taman ini diapit oleh jalan kecil berlapis batu dalam bentuk persegi. Trotoarnya lebar, bersih, dan rapi, juga berlapis batu namun dalam balutan warna cerah yang dihiasi motif lengkung. Melihat lanskap ini, didukung dengan pencahayaan dari lampu yang temaram, membuat gue seolah berada di sebuah kota di Portugal atau negara-negara Mediterania lainnya.

Taman di Macau yang nggak sengaja ditemukan, romantis ya?

Hotel & kasino Grand Lisboa yang megah sebagai latar taman

Suasana jalanan memang lengang, namun beberapa warga lokal bersantai di taman. Ada kolam memanjang di tengah taman, dari titik itu gue bisa melihat Grand Lisboa yang berdiri megah dengan lampu-lampunya yang gemerlap di balik rumah-rumah susun warga.

Gue berjalan melalui taman mengikuti panduan Google Maps menuju Nam Van Lake. Lepas dari mantan taman, gue terpana melihat lanskap yang ada di depan gue. Bukan, bukan lanskap yang spektakuler. Hanya sebuah jalan 2 lajur yang menanjak, rapi, bersih, dan lengang, di antara kawasan pemukiman warga. Entah kenapa, kalo gue nonton film atau serial Jepang dan Korea, gue selalu suka jika ada scene di tempat-tempat seperti ini. Bingung sama selera gue? Sama gue juga 😅😅😅

Jalan kecil Macau yang menanjak, maaf blur

Area pemukiman Macau yang sepi dan temaram di malam hari

Gue terus berjalan menyusuri jalanan kampung selebar 2 lajur itu, yang kadang naik kadang turun, kadang berkelok. Namun yang pasti, jalan dan trotoarnya dalam kondisi rapi dan bersih, nggak seperti di area sebelumnya yang nggak terlalu bersih. Nggak banyak orang lain yang hilir mudik, namun gue sama sekali nggak merasa was-was meski pencahayaan juga temaram. Gue merasa seperti blusukan di kampung-kampung Jogjakarta yang sepi lepas jam 10 malam, apalagi saat ketemu area parkir sepeda motor.

MONMAAP, INI MACAU APA BELAKANG MALIOBORO?

Orang Macau ternyata banyak yang pake sepeda motor matic

Suasana Macau larut malam yang menyenangkan untuk ditelusuri

Saat waktu udah menunjukkan jam 11 malam dan gue masih cukup jauh dari tujuan, gue memutuskan untuk berjalan balik ke Hou Kong Hotel. Di tengah perjalanan, gue masuk ke sebuah swalayan dan membeli air mineral 1 liter seharga 3,5 MOP atau sekitar Rp7.000,00. Muraaahhh! Mosok yang 600 ml harganya 3 MOP, ya mending nambah dikit dapet yang seliter. Air ini penting karena pihak hotel nggak menyediakan air minum, baik di kamar atau di communal room. Ada, tapi harus beli dan muahaaalll 🙄🙄🙄

Gapapa nggak sampe Nam Van Lake, gapapa gagal ke Macau Tower, malam itu Macau menampilkan sisi lain dirinya yang selama ini nggak pernah gue pikirkan, memberikan cerita yang nggak akan gue lupakan. Meski capek dan pegel, gue berjalan gembira menuju Hou Kong Hotel. Gue membuat keputusan yang tepat malam itu. Andai gue memilih bersantai di hotel, potret-potret di atas nggak akan gue dapati. Gara-gara penemuan tak terduga ini, gue jadi pengen ke Macau lagi buat benar-benar eksplor Macau (bukan hanya sebagai stopover sebelum ke Hong Kong). Ah, Macau, malam itu kau sungguh membuat gue terpukau…

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *