[SUPERTRIP #3] Menikmati Tsim Sha Tsui, Hong Kong, di Malam dan Pagi Hari

Tsim Sha Tsui neighborhood, Hong Kong

Dari awal, gue udah atur di itinerary yang gue bikin bahwa malam pertama di Hong Kong akan gue habiskan dengan menikmati Tsim Sha Tsui. Rencananya, gue akan ke sana naik MTR, lalu balik ke hostel dengan jalan kaki. Namun, rencana tinggallah rencana karena ujung-ujungnya, gue bolak balik Jordan – Tsim Sha Tsui naik MTR.

Baca cerita sebelumnya: Perjalanan Naik Kereta Airport Express dari Bandara Hong Kong ke Pusat Kota

Tsim Sha Tsui (dibaca: Chim Sha Chui) adalah sebuah area di bagian selatan Kowloon dengan waterfront atau promenade yang menghadap laut dan gedung-gedung pencakar langit Hong Kong Island. Gue selalu suka tempat-tempat kayak gini! Di mana jalur pejalan kaki yang nyaman, perairan yang bersih, dan gedung-gedung modern berada dalam satu kawasan. TST ini kayak Merlion Park-nya Singapura, Sisowath Quay-nya Phnom Penh, atau The Bund-nya Shanghai.


Makan Dulu di Four Seasons Clay Pot Rice

Tapi sebelum ke TST, gue cari makan dulu karena perut udah laper nggak ketulungan! Dari hasil blogging ke babang Mark Wiens Migrationology, ada satu tempat makan recommended bernama Four Seasons Clay Pot Rice di daerah Yau Ma Tei, nggak terlalu jauh dari Ladies Market. Kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia, clay pot rice ini artinya: nasi masak kuali. Sounds tempting, right?

Dari hostel gue di Pandora After 80s Jordan, gue jalan kaki ke Four Seasons Clay Pot Rice. Dari sini, kebayang ‘kan betapa strategisnya lokasi hostel gue? Berada di antara Ladies Market sama Tsim Sha Tsui, Temple Street Night Market pun tinggal jalan kaki. Berkat tuntunan Google Maps, Four Seasons gue temukan dengan mudah. Ternyata suasananya rame banget, khas tempat-tempat makan femes. Gue nyaris berpindah hati ke tempat makan lain yang ada banyak di sekitar situ, udah kepoin daftar menu dan harganya yang dipajang di depan, tapi lalu gue balik lagi ke Four Seasons. Mosok udah jauh-jauh ke sini terus nggak jadi? Coba masuk dulu aja deh.

Claypot rice with pork chop, Four Seasons, Hong Kong

Four Seasons Claypot Rice Hong Kong

Oleh pelayan rumah makannya, gue diarahin buat duduk bareng 3 cewek Chinese, entah warga lokal atau turis. Gue udah tau kalo budaya makan warga Hong Kong itu kayak gini, so I’m prepared for this. Di beberapa café di Indonesia, konsep sharing table ini udah mulai diterapkan saat diperlukan. Ternyata harga makanan di Four Seasons ini lumayan, euy. Gue akhirnya pesen Clay Pot Rice with Pork Chop seharga 65 HKD.

Makanannya nggak sesuai ekspektasi. Potongan-potongan daging babinya kurang banyak dan kurang bervariasi, ada bagian tulangnya pun. Nasinya emang banyak, tapi menurut gue teksturnya kering. Daging babinya bisa gue habisin, tapi gue terpaksa menyisakan ¼ porsi nasinya. Ketiga cewek yang semeja sama gue cabut lebih dulu. Mereka malah lebih parah, nasinya sisa banyaaakkk, bahkan side dish yang mereka pesen (semacam gorengan, rasanya pengen gue comot) juga nggak abis. Dari rasa dan kekenyangan, Four Seasons nggak memuaskan. Gue lalu ngomong sama diri gue sendiri, “Oke, Gie. Bodo amat sama tempat makan femes. Lo makan aja di tempat mana pun yang sesuai budget, yang penting makanan lokal.”

:sigh::sigh:

Four Seasons Clay Pot Rice ternyata udah deket sama salah satu pintu masuk Stasiun MTR Yau Ma Tei.


Perjalanan Menuju Tsim Sha Tsui Promenade

Dari Yau Ma Tei ke Tsim Sha Tsui cuma 2 stasiun MTR, melewati Stasiun Jordan di mana hostel gue berada. Gue nggak cari tau dulu exit mana yang harus gue ambil. Jadi sesampainya di Stasiun MTR Tsim Sha Tsui, gue take some minutes buat mempelajari tiap exit dan mengira-ngira exit mana yang pas buat gue. Gue memilih Exit E karena ada keterangan Clock Tower dan Star Ferry Pier.

Ulasan tentang MTR Hong Kong dapat dibaca di: Memahami Transportasi Umum di Hong Kong

Perjalanan gue dari Jordan ke Tsim Sha Tsui (versi besok paginya) bisa disimak di video berikut ini.

Pintu keluar Stasiun MTR Tsim Sha Tsui

Kok nyebrangnya sendirian aja, bang?

Begitu keluar dari stasiun bawah tanah, gue dibuat amazed dengan suasana di depan mata. Rame bangeeeeeettt! Chungking Mansions yang tersohor di kalangan backpacker itu berdiri di depan mata. Sebuah zebra cross besar menjadi area penyeberangan puluhan orang dari kedua sisi Nathan Road yang lebar itu. Di waktu bersamaan, rambu untuk menyeberang di Peking Road (sebuah jalan kecil di sisi Nathan Road) juga menyala. Beberapa orang menyeberang dari Nathan Road ke Peking Road dan sebaliknya. Kebayang betapa ramenya nggak? Coba tonton video ini biar lebih kebayang.

Gue mengabadikan momen langka itu sesaat. Gue kerahkan smartphone dan kamera DLSR, dalam bentuk foto juga video. Meeennn, Tsim Sha Tsui aja udah kayak gini, apa kabar Shibuya Crossing di Tokyo?

Hong Kongers ready to cross the street

Hong Kong crossing at Tsim Sha Tsui

Gue lalu bergabung dengan keriaan itu, menyeberang ke sisi Nathan Road yang lain lalu masuk Mody Road. Saat berjalan kaki menyusuri Mody Road itu, gue melalui Holiday Inn, sebuah mall bernama K11, menyeberang sebuah jalan besar, lalu ketemu Starbucks di seberang jalan. Di posisi gue saat itu (yang berarti di seberang Starbucks) juga ada pintu stasiun MTR, tapi kalo gue keluar melalui pintu itu, fenomena sosial tadi nggak akan gue liat, kan? 😉😉😉

Gue terus berjalan di sisi kanan Mody Road sampai ketemu Tapas Bar, sebuah taman kecil, dan jembatan pejalan kaki. Jembatan itu melintang di atas Mody Road dan Salisbury Road, menghubungkan Starbucks (Mirror Tower) dengan Tsim Sha Tsui Promenade. Jembatan kemudian memanjang di atas Salisbury Road yang bersisian dengan promenade. Duh, jembatannya bagus, sayang nggak ada yang bisa dimintain foto.

Pintu keluar stasiun MTR yang lebih dekat dengan Tsim Sha Tsui Promenade

Hello, Starbucks Hong Kong

A small garden near Tapas Bar, Hong Kong

Enjoying the bar scene below, lining the Salisbury Road Hong Kong

Gue bahagia melihat panorama kota yang tersaji dari jembatan―lalu lintas Salisbury Road yang lebar dengan ketujuh lajurnya, gedung-gedung pencakar langit di kejauhan, keramaian Tapas Bar dan bar-bar elit lainnya di sepanjang Salisbury Road, hingga lalu lalang orang di Tsim Sha Tsui Promenade. Oke, saatnya menjejak bumi.


Menikmati Tsim Sha Tsui Promenade di Malam Hari

Karena lelah, anak sultan duduk-duduk dulu di salah satu bangku yang ada di sepanjang Tsim Sha Tsui Promenade. Promenade-nya lebar dan bersih, tapi ternyata agak bau air laut hehe. Sebagian duduk-duduk santai kayak gue, sebagian berdiri di tepi promenade sambil berfoto, sebagian jalan-jalan, dan sebagian lagi menikmati TST dengan running atau jogging―meski nggak sebanyak yang gue lihat di Merlion.

A pedestrian bridge near Tsim Sha Tsui, Hong Kong

A skyscraper seen from the bridge, Tsim Sha Tsui Hong Kong

Overlooking Salisbury Road from the bridge, Hong Kong

The opposite direction, Salisbury Road Hong Kong

Suhu saat itu sebenernya nggak dingin-dingin banget, cuma 26°, tapi karena hembusan anginnya kenceng, rasanya jadi sembribiiittt! Tapi sembribit yang enak, bukan angin bawa penyakit, jadi gue bisa tetep sehat-sehat aja meski nggak pake jaket. Itung-itung ngilangin keringet karena seharian nggak mandi.

:ngakak::ngakak:

Gue sedikit takjub dengan pemandangan gedung-gedung itu. Baru kali itu, gue melihat langsung dengan mata kepala gue sendiri puncak gedung-gedung pencakar langit yang tersamarkan bahkan tersembunyi di balik kabut dan awan mendung. Kesannya… magis.

Sitting, walking, or running at Tsim Sha Tsui Hong Kong

Stairway to the pedestrian bridge, Tsim Sha Tsui Hong Kong

How Hong Kong makes climbing fun

Going down

View of central Hong Kong skyscrapers from Tsim Sha Tsui promenade

A nice walk along Tsim Sha Tsui promenade, Hong Kong

Watching the pedestrian from the bridge, Tsim Sha Tsui Hong Kong

Tsim Sha Tsui is a great place to spot Hong Kong’s skyscrapers

Setelah udah cukup berisirahat, gue lanjut buat menyusuri Tsim Sha Tsui Promenade ke arah kanan. Sisi yang saat itu gue nikmati bukanlah spot terbaik buat berfoto, hehe. Gue terus berjalan melalui Avenue of Stars, sempet satu kali naik turun sebuah jembatan, hingga tiba di Hong Kong Cultural Center dengan gedungnya yang berbentuk balok. Itulah spot terbaik menikmati gedung-gedung jumawa di Hong Kong Island, di mana kita bisa melihat menara dua International Finance Center (IFC) yang tampil jumawa setinggi 415 meter, menjadi bangunan tertinggi kedua seantero Hong Kong!

Ada pertunjukkan A Symphony of Lights yang bisa dinikmati dari titik itu setiap hari jam 20:00. Tapi gue melewatkan ini, lha wong nyampe TST aja udah jam 9 malem. Tapi gapapa, gue jadi lebih menikmati perjalanan gue dan nggak diburu waktu.

Does anyone know what skyscraper it is?

Pretty umbrella along Tsim Sha Tsui promenade, Hong Kong

Hong Kong Cultural Center near Tsim Sha Tsui

A covered pedestrian lane, Hong Kong

On my way back, Tsim Sha Tsui MTR station

Ketika waktu udah menunjukkan sekitar jam 11 malem, gue menyudahi petualangan gue malam itu dan berjalan menuju pintu stasiun MTR terdekat melalui sebuah koridor di belakang Hong Kong Cultural Center. Gue sampe di kamar hostel, pendinginan selama beberapa menit, lalu tidur.


Sarapan di Toast Box JD Mall

Gue bangun cukup pagi keesokan harinya, jam 7 pagi. Kali ini gue mandi kok, hehe. Meskipun sempit, tapi shower kamar mandi Pandora After 80s Jordan berfungsi baik. Semburannya pas dan tingkat panasnya mudah diatur. Gue juga boker dengan nyaman karena ada water gun. Suara-suara ajaib saat boker berusaha gue redam dengan nyalain air, hihi.

Masih dari rekomendasinya Mark Wiens Migrationology (dan blog-blog lainnya), gue berencana buat sarapan di Australia Dairy Company. Lokasinya within walking distance dari hostel. Tapi begitu sampe, walaaahhh udah ngantri panjang euy! Males gue nungguin, udah laper banget, terus lagi pengen sarapan dengan damai. Setelah scanning area sekeliling, gue tertarik sama sebuah kedai bernama Toast Box di dalam JD Mall. Setelah masuk ke dalam mall, tempat makannya langsung bisa ditemui di sisi kiri. Gue pelajari menu dan harganya, ternyata cocok!

Toast Box, JD Mall, Hong Kong

Gue pesen paket macaroni soup yang harganya cuma 40 HKD, udah termasuk sama kopi. Sistemnya adalah order di konter, bayar, lalu pengunjung dikasih sebuah kepingan hitam yang akan menyala dan berdering saat makanan siap. Thank God gue udah pernah ketemu sistem kayak gini saat gue ke Plaza Senayan bulan Februari lalu, jadi nggak bingung. Rancangan Gusti Yesus memang terbaik! Makanannya nggak diambil di konter itu, tapi di konter dekat area makan yang lebih luas, menuruni beberapa undakan, tapi masih bagian dari Toast Box. Sementara kopi dan bakinya langsung dikasih di konter pertama.

Sup makaroni ini memang jadi menu sarapan khas warga Hong Kong. Gue tau fakta ini dari acara traveling yang gue tonton dari saluran TV kabel pas gue staycation di hotel. Ya ampun, kejadian-kejadian di hidup gue nyambung lagi di siniii. Memang ya, nggak ada yang kebetulan, semua sudah dirancang dengan sempurna sama Tuhan.

:calm::calm:

Had my breakfast at JD Mall, Hong Kong

My macaroni soup, Toast Box JD Mall, Hong Kong

Ternyata porsinya banyak bangeeettt! Sup disajikan sama telor ceplok dan… ham? Rasa supnya memang ringan, nggak senendang makanan-makanan Indonesia, mungkin karena nggak pake micin? Makanya kehadiran ham itu jadi penambah rasa. Saat gue seruput kopinya, ya ampuuunnn tingkat pait dan manisnya paaasss. This is heaven! Kenyang, enak, murah, dan diakhiri kopi panas, gue puas sama Toast Box.

Udah mandi, udah makan, saatnya lanjut jalaaannn!


Menikmati Tsim Sha Tsui di Pagi Hari

Gue menempuh rute MTR yang sama dan rute jalan kaki yang sama ke Tsim Sha Tsui Promenade. Saat udah sampe di promenade, gue non-stop jalan kaki sampe tiba di Star Ferry Terminal. Sempat turun hujan yang membuat gue akhirnya membuka payung, tapi sebentar kemudian udah reda. Cuaca TST pagi itu panas dan lembab, nggak kayak semalem yang sejuk berangin.

Tsim Sha Tsui panoramic view, Hong Kong

Tower 2 International Finance Center dominates the frame, Hong Kong

Avenue of Stars (Bruce Lee statue), Tsim Sha Tsui Hong Kong

Fellow foreigners enjoyed the view at Tsim Sha Tsui, Hong Kong

Saat hampir sampe tujuan, gue naik ke atas dek obsevasi di depan Hong Kong Cultural Center yang gue lewati semalem. Dari dek itu, gue baru tau kalo Victoria Clock Tower berdiri persis di sampingnya, di tengah sebuah taman. Selain di Hong Kong ini, Victoria Clock Tower dalam ukuran yang lebih kecil pernah gue jumpai di Penang, Malaysia. Star Ferry Pier berada persis di samping dek. Jadi sebenernya, semalem itu gue udah hampir sampe di Star Ferry Pier. Menyiasati dinding pagar sebagai tripod alami, gue akhirnya bisa foto-foto juga di dek itu.

Akhirnya bisa foto-foto di Tsim Sha Tsui Hong Kong hehe

The boat and the skyscrapers, Hong Kong

Curious visitors at Tsim Sha Tsui, Hong Kong

The so-called observation deck and Victoria Clock Tower, Hong Kong

Tanpa berlama-lama di dek observasi, gue menuruni undakan buat masuk ke dalam Star Ferry Pier. Yay, di hari kedua ini gue bakal naik kapal, naik bus ke Victoria Peak, naik tram, sama naik Mid-Levels Escalator! Klik Next buat baca cerita selanjutnya. Keep learning by traveling~

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *