[SUPERTRIP #3] Persiapan Solo Traveling 4 Hari 3 Malam di Macau dan Hong Kong

Pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan AK186 mendarat dengan mulus di atas landasan pacu Bandara Internasional Makau malam itu. Dari balik jendela mungil pesawat, gue melihat huruf balok berukuran besar berbunyi, “AEROPORTO INTERNACIONAL DE MACAO,” menyambut kedatangan gue pada Kamis malam, 23 Mei 2019. Setelah sekitar setengah tahun dari terakhir kali naik pesawat terbang, sekitar setahun terakhir dari traveling mandiri terakhir, dan sekitar 2 tahun dari traveling terakhir gue ke sebuah negara baru, gue diliputi perasaan bahagia malam itu 😭😭😭

Persis 2 bulan sebelumnya, gue membeli tiket penerbangan Bandung – Kuala Lumpur, Kuala Lumpur – Macao, Hong Kong – Kuala Lumpur, dan Kuala Lumpur – Bandung dari maskapai penerbangan AirAsia. Sungguh sebuah malam yang impulsif karena keputusan membeli tiket itu terjadi hanya dalam hitungan menit! Iya, Hong Kong memang udah lama menjadi destinasi impian traveling gue, tapi gue sama sekali nggak kepikiran bahwa pada Jumat malam itu gue akan membeli tiket penerbangan ke sana untuk 2 bulan ke depan.

Berawal dari gue yang sendirian internetan di dalam kamar, lalu iseng cek harga tiket ke sejumlah destinasi impian, mata gue yang lebar kayak orang India itu kemudian melihat harga menggiurkan yang ditawarkan AirAsia. Gue lalu berpikir, “Total harganya nggak sampai 3 juta, cukup lah tabungan gue!” Maka kotak email gue malam itu pun berisik menyambut lembar-lembar tiket elektronik yang merangsek masuk ke dalamnya.

TERUS BEBERAPA HARI KEMUDIAN, OTW-NYA TIKETCOM NGASIH HARGA NGGAK SAMPE 2 JUTA BUAT PP KE HONG KONG. NYESEK NGGAK LO, HAH?

:wait:

Awalnya gue nyesek banget sampe pengen makan guling sendiri, tapi gue lalu menghibur diri bahwa promonya nggak tersedia di periode waktu yang gue mau. Ddu du ddu du ddu du ddu du~

Kenapa nggak beli tiket jauh-jauh hari?

Jujur, gue agak trauma dengan membeli tiket jauh-jauh hari, kak! Kayak nggak jodoh gitu. Gagal ke Bali, gagal ke Brunei, gagal ke Melaka, cuma pas pertama kali ke KL tahun 2014 aja yang berhasil terlaksana. Lalu, mungkin sekitar sejak April 2017 saat gue ke Pontianak, gue lebih suka beli tiket dadakan yang jeda waktunya berkisar dari 2 bulan hingga cuma 2 minggu sebelumnya, nyahahahaha! Dua bulan menurut gue adalah waktu yang cukup aman untuk memprediksikan keadaan finansial dan pekerjaan saat hari pelaksanaan.


Persiapan 1: Memesan On-Board Meal, Memilih Kursi, dan Membeli Bagasi

Sampai sejauh ini, Kuala Lumpur – Macao dan Hong Kong – Kuala Lumpur (4 jam perjalanan) adalah rute penerbangan terlama yang pernah gue rasakan. Karena gue adalah orang yang bosenan dan susah tidur di dalam perjalanan kecuali lagi ngantuk banget, dan ini adalah penerbangan dengan maskapai AirAsia yang nggak punya in-flight entertainment kecuali pramugarinya #eh, gue berpikir gue harus mengumpulkan sebanyak mungkin alat pengusir kebosanan untuk 2 penerbangan itu.

Jelas, cara pertama yang gue temukan adalah dengan memesan on-board meals alias makanan di dalam penerbangan. Sebulan sebelum penerbangan, gue memesan Nasi Lemak Pak Nasser untuk penerbangan Kuala Lumpur – Macao. Ini adalah pertama kalinya gue beli makanan di AirAsia, dan gue kaget ternyata harganya murah bangeeettt! Cuma 10 MYR alias sekitar Rp35.000 dan bebas tambah kopi tanpa tambahan biaya. Padahal harga makanan rakyat di KL aja di atas 10 MYR lho. Sementara buat penerbangan Hong Kong – Kuala Lumpur, gue memesan Roasted Chicken with Black Pepper Sauce yang harganya juga cuma 24 HKD, jauh di bawah standar harga makanan di Hong Kong yang berkisar antara 40-50 HKD.

On-board meals AirAsia for Hong Kong – Kuala Lumpur flight

AirAsia’s roasted chicken with blackpepper sauce

Jadi, kalo kamu sekiranya akan terbang dengan AirAsia di jam-jam makan, atau kayaknya bakal kelaparan di jalan, atau bosenan kayak gue, jangan ragu buat pesan makanan. Worth the price banget! Beli langsung juga bisa dengan harga yang sedikit lebih mahal. Contohnya adalah yang 10 MYR jadi sekitar 15 MYR, tapi tetep murah juga sih.

Berkaca dari spion motor orang pengalaman terbang ke Bangkok tahun 2018 lalu dengan maskapai Thai Lion Air di mana gue harus memasukkan tripod ke dalam bagasi saat check-in di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kali ini gue mempersiapkan diri dengan memesan bagasi online untuk rute Bandung – Kuala Lumpur. Kenapa cuma rute ini aja? Karena cuma bandara Indonesia aja yang melarang tripod masuk ke kabin. Harganya lumayan, opsi termurah adalah 20 kg seharga Rp270.000,00 padahal gue cuma butuh bagasi 5-7 kg aja. Jadi kalo buat bagasi AirAsia, enaknya kalo kita bisa sharing sama travelmate untuk mengurangi beban tagihan. Kalo tau ada maskapai LCC yang punya opsi bagasi kecil, share di kolom komentar dong.

:good:

Persiapan terakhir yang gue lakukan adalah memilih kursi untuk penerbangan Kuala Lumpur – Macao. Gue berencana mau bikin video flight report di sini, jadi gue mempersiapkan diri dengan memilih kursi di sisi jendela. Kalo nggak dipilih, sistem akan otomatis menempatkan kita di tengah-tengah (lajur B atau E). Harganya masih masuk akal, 10.9 MYR aja.


Persiapan 2: Memesan Hotel di Makau dan Hostel di Hong Kong

Sekitar sebulan sebelum keberangkatan, gue melakukan pemesanan untuk penginapan gue di Hong Kong via Bookingcom. Dari segelintir hostel yang masuk budget, cuma Pandora After 80s @Jordan aja yang paling mending dari sisi lainnya (skor review dan lokasi). Harganya 200 HKD untuk 8-bed dorm, nggak ada sarapan.

Baca Juga: Tips, Budget, dan Itinerary Jalan-Jalan di Hong Kong (+Macao)

Pandora After 80s Jordan, there is another property in Causeway Bay

Thank God the front desk officer is an expatriate

Hostel-hostel di Hong Kong ini nggak kayak hostel-hostel kota besar lainnya di Asia Tenggara. Mereka biasanya cuma menyediakan fasilitas dasar aja kayak bed, shower, dan air minum. Pandora Inn @Jordan ini udah mending masih punya communal room. Selain itu, mereka juga biasanya nggak menerima free cancellation atau possible reservation without credit card. Jadi harus pake kartu kredit saat reservasi dan akan dikenakan biaya full booking bila dibatalkan. Ulasan soal hostel ini akan gue buat terpisah. Seperti kita #eh 🤭🤭🤭

Hotel di Macao baru gue book pada minggu pertama Mei 2019 via Traveloka. Gue pilih Traveloka karena harganya paling murah dibandingkan Bookingcom, hostelworld, dan hostelbookers. Ada kode promo pula. Kalo menurut kamu harga penginapan di Hong Kong udah bikin rekening kempes, nah di Makau ini luwih nggilani meneeehhh! Nggak ada yang namanya hostel, atau mungkin ada tapi masih jarang banget dan nggak terdeteksi radar situs pemesanan online.

Satisfied with Hou Kong Hotel, Macau

Salah satu hotel termurah yang gue temukan adalah Hou Kong Hotel di dekat Senado Square. Itu pun harganya sekitar Rp700.000. Makanya, kalo kamu ke Makau dan harus banget menekan budget, cari travelmate aja biar bisa berbagi biaya hotel. Ternyata hotelnya oke juga. Untuk informasi lengkap soal pariwisata Makau, kunjungi website resmi Macao Government Tourism Office (MGTO) Indonesia:

https://jelajahmacao.com/artikel/5-destinasi-wajib-di-macau-bagi-wisatawan-yang-baru-pertama-kali-berkunjung


Persiapan 3: Membeli Online Airport Express & MTR Travel Pass, Octopus Card, Sewa Modem, dan Tiket Cable Car Ngong Ping 360

Gue adalah seorang traveler terencana. Gue menemukan keseruan dan merasakan keberhasilan saat gue berhasil melaksanakan apa yang gue rencanakan. Gue nggak bisa sering-sering traveling, jadi ketika bisa menjejakkan kaki di sana, gue harus pastikan bahwa gue mengunjungi tempat-tempat yang tepat dengan cara yang tepat. Meski begitu, gue nggak terpaku pada jadwal spesifik dan sangat terbuka dengan perubahan rencana.

Keempat item di atas gue beli online di KKDay pada tanggal 9 dan 16 Mei. Octopus Card gue beli dengan harga Rp99.887 tapi initial stored value-nya cuma 10 HKD. Kenapa gue pilih beli Octopus Card di KKDay, karena lokasi pengambilannya jelas banget dari Arrival Hall-nya, terminalnya, nomor konternya, nama konternya, sampai ada foto konternya! Octopus Card ini semacam EZ Link-nya Singapura atau TnG-nya Malaysia, bisa dipake buat transportasi umum, minimarket, tempat makan, apa pun!

Octopus Card can be used on any modes of public transportation in Hong Kong, including ferries and trams

Airport Express & MTR Travel Pass offers unlimited MTR rides for 3 days + single trip or round trip ride for Airport Express

Airport Express & MTR Travel Pass gue beli di KKday dengan harga sekitar Rp614.293 untuk kereta bandara pulang pergi. Harganya sedikit lebih murah daripada beli langsung atau OTA sebelah, hehe. Kartu sakti ini bisa dipake buat naik MTR dan Light Rail sepuasnya selama 3 hari, jadi emang pas banget buat durasi perjalanan gue di Hong Kong.

Baca tulisannya di: Memahami Transportasi Umum di Hong Kong (MTR, Tram, Bus, dan Kapal Ferry)

Modem wifi (atau yang disebut portable wifi di OTA) gue beli di KKday dengan harga Rp47.641 karena bakal gue pake di Hong Kong aja. Ada opsi buat Hong Kong & Makau dan HK – Makau – Cina. Kuotanya? Unlimited dooonggg dengan jaringan 4G, beb! Gue pilih beli di KKday karena baterainya lebih tahan lama dari mifi di OTA sebelah hehe. Keterangannya sih bisa dipake sekitar setengah hari, tapi pada prakteknya bisa gue pake 2 hari dari pagi sampe malem. Josss! Mifi ini juga cocok buat kamu yang traveling bareng-bareng karena bisa dipake buat 5 device sekaligus. Praktis, nggak harus gonta ganti SIM Card, tinggal nyalain dan cuuusss eksis di Instagram!

Modem wifi / router / portable wifi for Hong Kong

Round trip crystal cabin for Ngong Ping 360 cable car, Hong Kong

Terakhir adalah tiket kereta gantung (cable car) Ngong Ping 360 sebagai transportasi untuk mengakses Tian Tan Buddha (The Big Buddha) dan Ngong Ping Village di Lantau Island dari Stasiun MTR Tung Chung. Gue pilih yang crystal cabin round trip buat menantang diri gue sendiri yang seringkali takut ketinggian ini hehe. Harganya nggak mahal-mahal amat kok, di KKday cuma Rp425.457. Lalu gimana pengalaman gue naik kereta gantung tembus pandang ini? Pantau terus blog ini!

Baca ceritanya di: Berdebar-Debar Naik Crystal Cable Car Ngong Ping 360 Hong Kong

Nah, karena kamu udah mampir sampai sini dan gue adalah cowok ganteng yang baik hati, gue mau kasih kupon KKday buat kamu.

Kupon berlaku buat semua pembelian, di semua platform, tanpa minimum pembelian. Tinggal masukkan kode “TRAVELEARN” saat check-out. Periode pemesanan dari SEKARANG sampai 30 September 2019, untuk periode perjalanan dari SEKARANG sampai 31 Desember 2019. Enjoy!


Persiapan 4: Penukaran Mata Uang Hong Kong Dollar

Dulu, gue biasa menukar uang di Dolarasia dengan alasan semata-mata karena lokasinya deket sama kost. Setelah gue pelajari bahwa nilai tukar mata uangnya agak mahal, sejak November 2018 (saat itu gue mau ke Singapura) gue beralih ke Golden Money Changer, money changer besar yang salah satu kantornya ada di Jalan Ir. H. Djuanda (Jalan Dago), 10 menit berkendara dari kantor di dekat TELKOM Gasibu.

Sebelum jam 8:30 (yang bahkan GMC-nya sendiri belum buka), gue udah sampe. Karena masih sepi, jadi nggak perlu berlama-lama menunggu panggilan. Dengan modal Rp2.500.000,00, gue mendapatkan 1.340 HKD ditambah kembalian beberapa belas ribu Rupiah. Makau memang ada mata uang sendiri bernama Pataca atau MOP, tapi HKD bisa digunakan di Makau. Sebaliknya, MOP nggak bisa dipake di Hong Kong.

Warga Negara Indonesia diperbolehkan memasuki Hong Kong dan Makau tanpa visa selama 30 hari, jadi nggak perlu apply visa Cina kalo cuma mau ke HK sama Makau.


Persiapan 5: Berkemas!

Akhirnya, hari yang dinanti-nanti itu tiba! Sebelumnya, hari-hari terasa lambat bangeeettt. Mungkin karena gue udah nggak sabar banget menunggu momen ini. Rabu malam tanggal 22 Mei malam setelah 3 hari yang sangat padat, gue berkemas buat perjalanan gue selama 4 hari 4 malam di Makau dan Hong Kong. Gue sampe pinjam timbangannya temen kantor gue buat memastikan kalo gue nggak akan kena cegat pas mau boarding 😂😂😂

Gue mempersiapkan backpack TRACKER 60 L yang meskipun murah ternyata awet dipake dari 2014, backpack WATERFLY AW1784 32 L, dan sling bag EIGER. Barang bawaan gue adalah 1 celana panjang, 4 kaos, 4 celana dalam, 1 celana pendek, mantel hujan, payung, kamera DSLR Canon EOS 1000D dan charger-nya, action camera BRICA BPRO Alpha Edition 4K dan beberapa asesorisnya yang sekiranya mau dipake, sandal, charger smartphone, powerbank kecil, termos kecil, alat mandi, kosmetik sekadarnya, tongsis, tripod kecil, dan beberapa printilan kecil lainnya. Tadinya mau bawa laptop dan tripod besar, tapi berat backpack gue jadi hampir 10 kg dong! Mau nggak mau tripod dan laptop gue tinggal, sambil kenceng-kenceng berdoa nggak ada maling yang merangsek masuk ke dalam kamar.

KLIK DI SINI untuk membaca review produk-produk tas di atas dan 5 tas lainnya yang gue miliki. Siapa tau ada yang lagi cari-cari rekomendasi tas/backpack/carrier.

Senado Square, Macau, with my TRACKER backpack 60L

Tsim Sha Tsui, Hong Kong, with my WATERFLY backpack 32L

Biasanya gue packing cepet, tapi malam itu gue baru bisa tidur lepas tengah malam karena galau memilih kamu atau dia barang mana aja yang harus gue relakan di kamar. Padahal jam 4:30 harus udah bangun, huahahaha. Jas hujan dan payung gue bawa sebagai antisipasi bila terjadi hujan badai yang sering melanda Hong Kong saat musim panas.

Next time, gue kayaknya harus pake maskapai full service. Naik AirAsia lagi cuma untuk short trip 2-3 hari atau trip yang hanya butuh 2 penerbangan PP. Ternyata 7 kg itu dikit banget, sekadar buat perlengkapan basic. Blogger sekaligus vlogger dan pekerja digital marketing kayak gue yang harus bawa kamera DSLR, tripod, dan laptop sebaiknya punya fasilitas kabin atau bagasi 10 kg biar nggak usah pusing packing, leluasa beli oleh-oleh, dan nggak kucing-kucingan sama petugas timbangan AirAsia di KLIA.

Dengan waktu tidur yang sangat terbatas, gue bersyukur pagi itu gue bisa tetap bangun dengan segar. Gue mandi, berpakaian, touch up sikit-sikit, dan nggak lupa memohon restu pada Tuhan. Nggak lama kemudian, abang GOJEK sudah tiba di depan gerbang rumah nomor 16. Gue panggul backpack, pakai sepatu, dan berjalan menuruni tangga menyambut perjalanan yang terhadang di depan mata. Dari sini, let the SUPERTRIP #3 begins! Pantau terus thetravelearn.com untuk lanjutan kisah perjalanannya yang dibuat berseri dan naratif. Keep learning by traveling~

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *