[#SUPERTRIP 3] Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata Macau

Selamat pagi, Macau! Hari Jumat itu, 24 Mei 2019, gue berhasil mendisiplinkan diri gue sendiri dengan bangun jam 7 pagi. Eh, ini udah prestasi banget lho mengingat malam sebelumnya gue kurang tidur, bangun jam setengah lima pagi, berada dalam perjalanan sampai jam 9 malem, lalu masih jalan kaki keluyuran sampai tengah malem. Syukurlah meski kasurnya keras, kamar Hou Kong Hotel yang gue tempati punya kamar mandi juara! Luas, dinding dan lantainya dilapisi dengan ubin, dilengkapi air panas yang mengucur deras dari rainforest shower.

Baca cerita sebelumnya: Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau, Menemukan Sisi yang Terduga

Setelah menggosok gigi dan ganti baju, gue langsung turun ke bawah dan keluar. Ya kalo gue mandi normal, bisa-bisa 1 jam kemudian baru keluar. Lagipula semalem juga tengah malem baru mandi kok.

Sama seperti semalem, gue sempet bingung membaca rute yang ditunjukin Google Maps dari hotel ke Senado Square. Beberapa menit pertama gue habiskan dengan berputar-putar di gang-gang sekeliling hotel. Setelah mencoba mencocokkan bangunan yang dilihat dengan peta dari Google Maps, barulah gue paham ke arah mana gue harus berjalan. Padahal jarak dari Hou Kong Hotel ke Senado Square cuma sekitar 500 meter aja lho.


Check Point 1: Senado Square

Setelah sebentar menyusuri gang, gue tiba di sebuah jalan raya bernama Avenida de Almeida Ribeiro. Nah, Senado Square ada di salah satu sudut jalan ini. Saat berjalan di trotoar Av. de Almeida Ribeiro, gue melihat ada beberapa penjual media massa cetak yang menggelar lapaknya. Senang menemukan satu sudut di bumi ini di mana media massa cetak masih diminati.

Senado Square Macau yang masih sepi di pagi hari

Municipal Affairs Bureau (Leal Senado Building) Macau

Senado Square atau Largo do Senado (議事亭前地) adalah sebuah plaza atau semacam alun-alun (minus pohon beringin kembar dan lapangan berumput) yang dikelilingi tempat makan, pertokoan, dan institusi yang menempati bangunan-bangunan tua Portugis dalam balutan warna-warna cerah khas Mediterania seperti kuning dan merah muda. Beberapa bangunan itu adalah Pastelaria Koi Kei (gedung berwarna merah muda itu, tempat beli egg tart dan oleh-oleh terkenal lainnya), Macau Business Tourism Center (gedung berwarna kuning), Holy House of Mercy (gedung berwarna putih), Macau Post Office, dan Municipal Affairs Bureau / Leal Senado Building (gedung megah persis di seberang Senado Square). Nah, Pastelaria Koi Kei ini ada banyak banget cabangnya, kalo di Bandung mungkin kayak Amanda Brownies. Jadi kalo kamu nggak sempet mampir di cabang ini, nggak usah khawatir. Di Av. de Almeida Ribeiro yang masih deket Senado Square aja masih ada cabang lagi.

Pagi itu, Macau masih basah karena kayaknya hujan turun saat dini hari tadi. Suasana Senado Square juga masih kondusif tanpa terlalu banyak wisatawan. Jadi kalo kamu mau menikmati suasana Senado Square yang sepi, datanglah pagi-pagi. Ini juga alasan gue bangun pagi-pagi. Saat gue ke sini lagi sekitar jam 12 siang aja, rakyat jelata udah memenuhi setiap sudut.

Pastelaria Koi Kei di Senado Square, Macau

Macau Post Office, Senado Square

Lancar internetan di Macau berkat Worldwide SIM Card Passpod

Karena sadar bahwa waktu gue terbatas, sangat sangaaattt terbatas, gue menahan diri buat nggak jalan-jalan berkeliling area seperti yang biasa gue lakukan di setiap tempat wisata atau landmark yang gue kunjungi. Jadi setelah cukup berfoto-foto di sekitar titik utama, gue langsung move on ke agenda berikutnya: makan egg tart di Margaret’s Café e Nata.


Check Point 2: Margaret’s Café e Nata

Ke Macau terasa nggak lengkap tanpa mengudap egg tart. Karena tempat makan egg tart ini ada banyak dan deket dengan tempat-tempat wisata, jadi misi ini gue masukkan ke dalam itinerary. Dari hasil browsing, tempat makan egg tart yang recommended sekaligus deket Senado Square adalah Margaret’s Café e Nata (瑪嘉烈蛋撻店). So, here we go.

Kesibukan Macau di pagi hari saat jam berangkat kerja

Sebuah jalan di Macau yang hijau

Berjalan-jalan saat pagi di hari kerja ternyata punya keseruannya sendiri. Gue jadi bisa melihat bagaimana warga lokal Macau memulai aktivitasnya sehari-hari. Pada satu persimpangan besar menuju Margaret’s Café, gue melihat warga lokal menyeberang jalan melalui zebra cross dari berbagai arah. Nggak seramai di Hong Kong, tapi tetap menarik diamati. Videonya bisa dilihat di highlight Instagram gue di @nugisuke. Sama seperti kota-kota beradab lainnya, jalanan Macau sudah dilengkapi dengan traffic lights untuk pejalan kaki. Menyeberang jadi aman, pengendara pun jadi nyaman.

Lokasi Margaret’s Café ini ada di dalam gang, jadi perlu kejelian dan kemampuan navigasi yang baik untuk menemukannya. Kedainya buka jam 8:30, tapi gue udah sampe beberapa menit sebelumnya bersama beberapa calon pembeli. Gue lalu duduk di atas kursi bar, menghadap ke jendela kedai. Pikir gue, pembelian akan dilakukan di situ. Beberapa menit kamudian, pintu dibuka dan seorang pemuda gempal membuka jendela di depan gue. Saat gue tengok ke arah orang-orang, ya elaaahhh mereka udah rapi ngantri di depan pintu. Salah strategi, eyke! Akhirnya gue bergabung dalam antrian 1 lajur itu. Gue jadi keduluan sama orang lain yang sebetulnya dateng belakangan. Seb naseb.

Ngantri beli egg tart di Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Kesibukan di dalam Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Selain egg tart, Margaret’s Cafe e Nata juga menjual beberapa kue

Para petugasnya melayani pembeli dengan gesit. Simbok yang di belakang meja bertugas sebagai kasir, sekaligus nyuruh-nyuruh orang lain buat bawain pesenan pelanggan. Selesai bayar membayar, dia segera beralih ke pembeli berikutnya tanpa repot-repot nunggu pembeli sebelumnya cabut dari situ. Saat sampai giliran, gue segera bilang dengan lugas, “Two egg tarts.” Gue menyerahkan uang, menerima kembalian, dan menerima 2 buah egg tart dalam kantung kertas dari mbak-mbak petugas. Ngantrinya 5 menit, transaksinya 5 detik!

Harga 1 buah egg tart adalah 10 MOP atau hampir Rp20.000,00. Buat yang pengen sekadar mengobati rasa penasaran kayak gue, 2 bijik juga cukup. Tekor kalo beli banyak-banyak, cuy! Selain egg tart, Margaret’s Café juga menjual macam-macam kue basah dan kering lainnya. Lalu kek mana sih egg tart itu? Seperti namanya, egg tart ini adalah semacam kue dengan isian telur. Renyah di luar, lembut di dalam. Gurihnya ada, manisnya ada. Sayang Margaret’s Café nggak ada kopi panas, cocok banget padahal.

Egg tart from Margaret’s Cafe e Nata Macau

Queueing at Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Customers enjoying egg tart at Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Sambil menikmati hasil buruan di salah satu bangku, gue update video di IG Stories biar netizen gue di tanah air bisa ikut ngerasain serunya perjalanan gue di Macau. Gue bisa tetep eksis berkat Worldwide SIM Card dari Passpod! Harganya cuma Rp120.000, dapet kuota internet 2 GB per hari selama 7 hari. Jadi total dapet 14 GB buat seminggu cuy! Buat yang mau beli di Passpod juga, gue ada kode kupon 10% buat kamu: NUGI23. Berlaku buat pembelian SIM Card di Passpod sampai 31 Agustus 2019, periode perjalanannya kapan aja.


Check Point 3: Ruins of St. Paul’s

Selain Senado Square, obyek wisata wajib lainnya di Macau adalah Ruins of St. Paul’s (大三巴牌坊). Secara singkat, cukuplah gue katakan kalo Ruins of St. Paul’s ini adalah sisa-sisa reruntuhan St. Paul Church (Gereja Santo Paulus), sebuah gereja kuno peninggalan Portugis, yang tinggal bagian depannya (fasad) aja. Ternyata lokasinya itu mblusuk-mblusuk, bukan di pinggir jalan raya kayak Senado Square. Dari jalan raya, Google Maps menggiring gue memasuki jalan-jalan kecil yang naik turun dan berkelok-kelok seperti semalam, lalu lanskapnya berubah lagi menjadi jalanan kecil berlapis batu, juga diapit trotoar berlapis batu. Pertokoan dan rumah-rumah susun penduduk berjajar di kedua sisinya. Aduh, pokoknya jalanan menuju Ruins of St. Paul’s ini cantik! Sayang saat itu gue sendiri dan nggak bawa tripod.

Memasuki jalan-jalan kecil menuju Ruins of St. Paul’s, Macau

Plaza kecil, air mancur, dan salib

A closer look

What a pretty neighborhood next to the cathedral, Macau

Sebelum sampai di Ruins of St. Paul’s, gue menemukan sebuah plaza kecil dengan air mancur, salib, dan jalanan kecil berlapis batu yang berkelok-kelok di sampingnya. Setelah gue melihat sekeliling, ternyata plaza itu berada di samping sebuah katedral bernama Cathedral of The Nativity of Our Lady (聖母誕辰主教座堂). Gue sempet masuk ke dalam, berdoa, mengagumi arsitekturnya, dan mengambil foto panorama dengan hape karena nggak mau mengganggu jemaat yang sedang berdoa. Tapi seperti yang gue bilang, seluruh foto hape gue di hari pertama dan setengah hari kedua terhapus, jadi silakan cek foto-foto di Google Maps di atas aja, ya.

Saat gue tiba, Ruins of St. Paul’s udah cukup cendol. Gue mencoba nyari alas datar buat naroh kamera sebagai tripod alami, tapi semuanya dalam keadaan basah. Ya udah, gue mengikhlaskan diri dengan mengambil foto bangunannya aja tanpa ada gue di situ. Tapi justru sesaat sebelum gue meninggalkan tempat itu, gue melihat ada bapak-bapak Chinese dengan kamera berlensa tele bersama anak gadisnya (kayaknya sih). Gue hampiri bapak itu, dan ternyata dia bisa berbahasa Inggris cukup baik. Hasil fotonya bagus dan bapaknya baik hati karena mau fotoin gue lagi setelah percobaan pertama.

Shops around Ruins of St. Paul’s Macau

Ruins of St. Paul’s Macau yang sudah riuh

Ini juga yang gue lakukan saat gue ke Senado Square lagi sekitar jam 12 siang. Gue melihat ada sepasang muda mudi Chinese yang lagi saling foto-foto dengan kamera mirrorless. Mereka juga ternyata bisa gue mintain tolong buat ambil foto. Yang fotoin gue yang cowok, tapi mbak-mbak di sampingnya memberi semacam panduan angle.

Inilah cara gue meminta pertolongan foto saat solo traveling: cari orang lain yang sama-sama bawa kamera DSLR atau mirrorless. Diusahakan bule, tapi kalo enggak pun gapapa. Pertama, itu berarti mereka (harusnya) bisa foto, minimal nggak miring deh, dan udah tau cara pake kamera DSLR. Kedua, membawa kamera berarti (menurut gue) mereka adalah traveler atau warga lokal yang travel enthusiast. Harapannya mereka bisa berbicara bahasa Inggris. Nah, di Macau ini gue jarang banget liat turis bule, hampir semuanya adalah turis etnis Tionghoa.

Hasil foto di Ruins of St. Paul’s Macau

Hasil foto di Senado Square, Macau

Petunjuk arah di Macau tersaji dalam 3 bahasa


Gue sampai Hou Kong Hotel sekitar jam 10 pagi dalam kondisi kaki pegal-pegal dan sekujur badan yang lengket oleh keringat. Bagian belakang kaos yang gue pake sampai basah kuyup! Cuaca Macau lembab pagi itu. Tapi meski capek, gue seneng banget seluruh itinerary gue di hari kedua di Macau itu terlaksana dengan baik. Senengnya lagi, gue masih ada waktu buat mandi berlama-lama, packing santai, dan gegoleran guling-guling sebelum waktu check-out jam 12:00. Sebelum beranjak turun, gue makan siang dulu dengaaannn―mie instan ABC cup. Bhaique.

Saat check-out, gue menerima kembali deposit 200 HKD yang gue serahkan saat check-in semalem. Kali ini front officer-nya adalah dedek-dedek cewek yang lebih ramah daripada kokoh-kokoh semalam. Sama seperti yang gue lakukan di Bandara Macau kemarin malem, gue konfirmasikan lagi rute menuju HZMB Macau Port sama petugas hotel itu. Gue tunjukin di Google Maps biar ada aksara Tionghoa-nya, in case dia nggak paham kalo cuma gue bilang nama dalam bahasa Inggris. Benar, nomor busnya adalah 101X, dan gue bisa naik dari halte di Av. de Almeida Ribeiro. Yay, tinggal jalan dikit dan nggak perlu naik bus 2 kali seperti hasil googling gue!

Pretty pedestrian street at Macau Historic Center near Ruins of St. Paul’s

Melalui jalan-jalan kecil Macau yang naik turun

Patung sejoli di Ruins of St. Paul’s Macau

Jangan ketinggalan lanjutan cerita perjalanan ini. Gue bakal cerita gimana perjalanan gue menyeberang ke Hong Kong naik bus melalui Hong Kong – Zhuhai – Macau Bridge (HZMB), sebuah cara yang terbilang baru dan unik di saat sebagian besar traveler memilih kapal ferry. Keep learning by traveling…

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *