SUPERTRIP2: Sebuah Perjalanan Menuju Tiga Negeri

Gue terbelalak kaget membaca sebuah pesan singkat dari pihak Malindo Air yang mengatakan bahwa penerbangan OD 301 menuju Kuala Lumpur (KUL) yang seharusnya pukul 14.10 ditunda hingga pukul 18.50. Apa-apaan ‘nih?! Amarah menggelegak di dalam dada. Cemas merayap di ubun-ubun. Saat itu gue udah ada di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung, terus gue ngapain aja selama 4 jam di sini? Nyapu landasan pacu?!

 

Pagi itu, 3 Oktober 2015, gue bangun kesiangan. Buru-buru mandi dan packing, lalu bergegas ke money changer dulu karena gue belum menukarkan Rupiah ke USD untuk digunakan di Kamboja. Kelar urusan tukar menukar mata uang, gue masih harus mampir ke tempat temen gue di Dipati Ukur untuk meminjam lensa. Panjang deh ceritanya kenapa lensa gue nggak bisa dipakai.

Gue putuskan menggunakan ojek untuk mengejar waktu kembali ke kost di kawasan Pasteur. Ongkosnya Rp 20.000,00. Saat itu sudah jam 12.00. Sampai di kost, gue ngebut ganti baju dan ambil backpack, lalu ngacir lagi keluar dan ngojek Rp 25.000,00 ke bandara. Ah, kenapa gue sering banget buru-buru kalau mau jalan?

Melalui jalan pintas di Kuburan Pandu, gue berhasil tiba di bandara di waktu yang sangat aman untuk check-in di konter. Saat gue dateng, ada pengumuman di layar konter bahwa penerbangan ditunda selama 1 jam. Oke, masih bisa ditolerir, gue bisa menggunakan waktu yang ada buat istirahat dan menghilangkan keringat.

Setelah beberapa saat duduk di dalam boarding room Bandara Husein Sastranegara yang sempit dan disesaki pakcik makcik Malaysia, gue mendapatkan notifikasi via SMS bahwa penerbangan kembali ditunda pukul 16:50. Kaget sih, karena gue udah bela-belain dua kali ngojek hari itu, tapi kesabaran gue masih bisa maklum dengan penundaan itu.

Hingga kemudian ada notifikasi kedua bahwa penerbangan ditunda sampai pukul 18:50.

Lhah, ini sebenernya jadi terbang nggak sih? Gue ngedumel di dalam hati.

Gue udah seneng bisa mendapatkan penerbangan siang hari. Dengan pencahayaan yang lebih baik, gue harap penerbangan akan berjalan lebih lancar saat harus melayang menerobos kabut asap Sumatera. Sementara itu, gue juga mencemaskan connecting flight ke Bangkok pada keesokan harinya pukul 07:00 pagi. Plis, Tuhan, gue udah lama memimpikan perjalanan ini, dan gue berat menerima nasib jika penerbangan dibatalkan atau ditunda terlalu lama hingga tak dapat mengejar connecting flight.

“Saat kau menginginkan sesuatu, percayalah bahwa seisi semesta akan berpadu mewujudkannya.”

Gue udah mati gaya di dalam boarding room. Bolak-balik dari ruang satu ke ruang dua. Jeprat jepret pemandangan apapun yang dapat dilihat. Chatting di whatsapp sampai baterai hape gue nyaris sekarat.

Setelah sekitar 3 jam terlunta-lunta, para calon penumpang yang resah ditenangkan dengan setangkup burger dan segelas air mineral. Tak lama kemudian, sekotak makanan ringan kembali dibagikan kepada para calon penumpang. Lumayan untuk mengganjal perut yang merintih kelaparan dan mengobati kebosanan.

Notifikasi terakhir yang gue dapat mengatakan bahwa penerbangan di-reschedule menjadi pukul 17:50. Namun, pada akhirnya, penerbangan tetap terjadwal pada pukul 18:50.

Empat jam lebih terlunta-lunta di boarding room Bandara Husein Sastranegara Bandung yang dingin seorang diri, gue meluapkan segenap kelegaan dan berjalan penuh kebahagiaan menuju pesawat Malindo Air yang sudah terparkir gagah di landasan.

 

SUPERTRIP 2 Episode 1: Perjalanan Menuju Tiga Negeri

 

Memasuki kabin pesawat, gue disambut dengan sepasang pramugari rupawan yang mengenakan seragam kebaya seperti yang biasa ditemukan pada maskapai-maskapai full service. Gue lalu dibuat takjub dengan interior pesawat Malindo Air yang mulus, elegan, modern. Sophisticated! Kekecewaan gue karena penerbangan yang tertunda selama 4 jam pun menguap begitu saja ke awang-awang.

Gue duduk manis di kursi 21F yang, syukurnya, berada di dekat jendela pesawat. Nggak ada siapa-siapa yang duduk di kursi 21E dan 21D. Ada sebuah layar LCD yang berada di hadapan setiap kursi penumpang. Wow! Ini keren, maskapai low cost dengan rasa full service!

Para pramugari lalu memperagakan tindakan darurat dan keamanan seperti yang biasa dilakukan pada awal penerbangan. Berkat adanya layar LCD di setiap kursi, peragaan pun ditampilkan di layar tersebut. Lebih jelas, lebih paham, tanpa susah-susah mendongak ke arah pramugari peraga seperti yang biasanya ada di maskapai-maskapai berbudget rendah.

Tak cukup sampai di situ, pramugari kemudian membagikan seperangkat makanan ringan kepada setiap penumpang. Meski hanya sebungkus biskuit dan sebotol kecil air mineral, tapi lumayanlah untuk pengganjal perut dan penghilang dahaga. Apalagi kalau ada penumpang yang lupa bawa air minum atau bekal minumnya disita pihak bandara. #curhat

Ada 4 menu utama yang disajikan di dalam layar LCD, yakni Hiburan, Game, Tentang, dan Discover. Gue sendiri memilih menu Hiburan, yang masih dibagi lagi ke dalam beberapa sub menu seperti film dan serial televisi. Untuk eksplorasi perdana ini, gue pilih Film. Wah, rupanya ada beberapa film dari Hollywood, Bollywood, Tiongkok, dan Indonesia. Pilihan akhir pun dijatuhkan pada “PK”, sebuah film Bollywood yang masih tergolong baru, dibintangi aktor populer Amir Khan. Jadi, sepanjang penerbangan ini, gue nonton “PK” dong!

Kalau mau cari tahu informasi wisata seputar Malaysia, bisa pilih menu Discover. Bisa juga cek posisi real time pesawat saat itu dengan memilih menu Flight di sisi kanan atas pada tampilan muka.

Tak terasa, pesawat sudah akan mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 yang berselimut kabut. Padahal gue belum selesai nonton “PK”. Saat itu sekitar jam 22.00 waktu setempat. Rencana untuk bermalam mingguan di Petaling Street pun kandas karena penerbangan yang tertunda. Akhirnya gue putuskan untuk langsung bermalam di KLIA2.

Baca Juga: Selayang Pandang Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2

Selesai urusan imigrasi, gue berjalan menuju titik Baggage Claim untuk mengambil ransel 60L gue. Sebenernya nggak perlu masuk bagasi sih, bisa masuk kabin. Tapi karena ada bagasi gratis dari Malindo Air, jadi gue coba manfaatkan keuntungan itu untuk pertama kalinya.

Karena baru pertama memakai jasa penyimpanan bagasi, gue katrok banget. Gue cari-cari ransel gue di beberapa belt, tapi nggak ketemu. Mulai panik, gimana kalau ternyata ransel gue hilang atau ketinggalan seperti yang dialami mas Fahmi Anhar? Tapi akhirnya gue melihat sebuah papan informasi yang mendata lokasi belt bagasi untuk setiap penerbangan. Oalah! Gue cari di belt yang salah, pantas lah nggak ketemu. Ransel gue ada di belt yang lain, jauh dari belt-belt yang gue cari-cari sebelumnya. Nah, berkat pengalaman ini, akhirnya gue tahu deh prosedur pengambilan bagasi di bandara.

Ada fasilitas wifi gratis yang disediakan pihak KLIA2, dua utamanya adalah freewifiklia2 dan gatewayklia2. Sambil makan malam di KFC bandara, gue coba mengaktifkan wifi gatewayklia2 karena hanya itu wifi gratis yang tersedia di KFC. Tapi, entah kenapa, meski sudah connected dan sign in, tapi koneksi internet tidak berjalan. Gue nggak bisa menghubungi Dicky, rekan perjalanan kali ini yang berangkat dari Palembang dan sudah sampai beberapa jam yang lalu. Ini aneh, padahal freewifiklia2 dapat langsung digunakan sejak memasuki bandara. Sayangnya wifi tersebut tidak tersedia di KFC.

Ya udah, akhirnya gue kelarin makan malam di KFC sambil menunggu handphone terisi penuh. Setelah itu, gue berjalan menuju sebuah lapak lesehan dan bangku-bangku panjang yang ada di samping Old Town White Coffee dan Celcom. Ada banyak calon dan mantan penumpang yang beristirahat di situ. Dari yang sekedar duduk-duduk ganteng sambil memainkan gadget, sampai yang tidur ngampar di atas karpet dan udah nggak peduli gimana rupanya.

Di situ, freewifiklia2 terdeteksi. Begitu mendapat koneksi internet, mengabaikan ribuan notifikasi grup-grup whatsapp yang berjejalan masuk, gue mengirimkan pesan kepada Dicky melalui whatsapp bahwa gue sudah tiba di KLIA2. Singkat cerita, kami pun bertemu di lapak lesehan di samping Celcom. Kami lalu berjalan menuju mal, dan beristirahat di bangku-bangku panjang tak bersekat yang berjajar di tengah konter-konter mall. Sebagian besar bangku sudah diisi oleh orang-orang yang menggunakannya sebagai tempat menginap gratis, namun untungnya masih ada dua bangku kosong yang tersedia bagi kami.

Bangkunya keras. Gue gunakan ransel sebagai bantalan kepala, menyamankan diri di tengah situasi yang ada. Untuk pertama kalinya, gue tidur di bandara. Backpacker banget nggak?

 

Keesokan paginya, gue terbangun pukul 5.00 dan mendapati Dicky sudah tak lagi berada di bangkunya. Mungkin dia sudah lebih dulu bangun dan bersiap-siap. Dengan fasilitas wifi gatewayklia2, gue membuka aplikasi perpesanan dan membaca pesan Dicky bahwa dia berpindah tempat di lantai 1. Katanya, bangkunya terlalu keras hingga dia tidak bisa tidur. Lah, menurut ngana gue bisa tidur?!

Oh iya, akhirnya gue bisa menggunakan wifi gatewayklia2 dengan lancar. Rupanya, saat sign in, gue harus menekan tombol Log In yang ada di laman. Lokasi tombolnya sedikit membingungkan, tepat di bawah sebuah banner program aktivasi Gateway, jadi ya tadi gue pikir itu Log In untuk peserta kontes.

Masih ada waktu untuk membersihkan diri sebelum pesawat take off pukul 7.00. Gue masuk ke dalam shower gratis yang ada di lantai 3, di samping musholla. Sekedar menggosok gigi dan mencuci muka, karena terlalu ribet untuk mandi. Lalu, dengan menunda sarapan, gue check in di konter Malindo Air dan masuk ke dalam boarding room sampai semua penumpang dipanggil memasuki kabin dan pesawat lepas landas menuju Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok.

 

Satu jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di Don Mueang International Airport, Bangkok. Bandara Don Mueang sendiri tidak terlalu megah, tapi setidaknya tetap bersih dan rapi, itu sudah cukup. Untuk melalui proses imigrasi Thailand, wisatawan harus mengisi form imigrasi dan melakukan pas foto di konter imigrasi. Sudah ada sebuah kamera kecil yang terpasang pada setiap konter.

Gue bertemu Dicky kembali di Arrival Hall, seperti yang gue katakan melalui whatsapp sebelumnya. Setelah Dicky mengambil uang di ATM Bandara, kami kemudian berjalan keluar bandara.

Nah, dari Bandara Don Mueang menuju pusat kota ada 2 cara: naik bus kota, atau naik kereta komuter dari stasiun di seberang bandara. Namun katanya kereta hanya berangkat satu jam sekali. Jadi kami naik bus A1 dari depan bandara, seperti yang diinstruksikan pihak bandara pada papan informasi di depan gedung. Busnya sudah agak tua, namun pendingin ruangan dan pintu otomatis masih berfungsi dengan baik. Ada seorang petugas yang akan meminta ongkos. Kemampuan bahasa Inggrisnya? Sangat terbatas! Ongkos dari bandara sampai Mochit adalah 30 THB.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Bangkok (BTS / Skytrain, MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus)

“Sawaddee krap, Krung Thep. Pengalaman apa yang akan kau berikan padaku?”

Dari Mochit, kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus menuju Khaosan Road. Kalau mau naik BTS / Skytrain dan MRT (subway), juga bisa dari Mochit ini. Sepanjang jalan, gue nggak bisa melepaskan perhatian dari jendela bus, mengamati kota dari balik kaca.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *